Iklim di bumi pada dasarnya telah mengalami perubahan berkali-kali sejak waktu yang lama. Terjadi dalam kurun waktu ratusan bahkan hingga ribuan tahun. Baca Juga: Sejauh Mana Upaya Indonesia Melawan Krisis Perubahan Iklim?
Akan tetapi, ilmuwan meyakini bahwa laju perubahan iklim semakin terus mengalami percepatan dalam beberapa dekade terakhir. Kenaikan suhu global mempercepat peningkatan permukaan laut, penyusutan es abadi dan gletser, juga salah satunya meningkatkan potensi terjadinya cuaca esktrem.
Meningkatnya fenomena perubahan iklim memaksa masyarakat dan organisme bumi beradaptasi terhadap kondisi yang ada agar dapat bertahan dari kepunahan. Berinovasi dalam teknologi menjadi satu dari sekian upaya untuk mengatasi krisis iklim.

Teknologi diyakini memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Baca Juga: Upaya Uni Eropa Melawan Perubahan Iklim
Berikut adalah beberapa teknologi yang diciptakan berbagai peneliti dan ilmuwan dunia dalam membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghadapi tantangan perubahan iklim:
Table of Contents
Toggle1. Carbon Capture and Storage (CCS) Atasi Perubahan Iklim
Meningkatnya suhu rata-rata bumi menjadi salah satu pengaruh utama terjadinya krisis iklim. Menurut para ilmuwan, utamanya disebabkan oleh produksi emisi gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer.
Salah satu gas rumah kaca yang paling signifikan adalah karbon dioksida (CO2). Konsentrasinya saat ini telah meningkat hampir 50% sejak dimulainya revolusi industri.
Teknologi CCS dapat membantu menangkap karbon dioksida dari sumber-sumber besar emisi seperti pembangkit listrik dan pabrik industri. Kemudian menyimpannya di bawah tanah atau menggunakan untuk tujuan yang berguna seperti injeksi CO2 dalam produksi minyak bumi.
Karbon yang tersimpan di wilayah aman jauh di bawah tanah tidak lagi berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Namun, penerapannya harus melalui assesment dan didukung fasilitas yang baik untuk mencegah kebocoran yang berdampak bagi lingkungan.
2. Teknologi Efisiensi Energi untuk Atasi Perubahan Iklim
Berbagai aktivitas manusia sehari-hari umumnya masih sangat bergantung pada energi yang bersumber dari bahan bakar fosil.
Bahan bakar fosil pun, termasuk batu bara, minyak, dan gas, telah dan terus memainkan peran dominan dalam sistem energi global. Sayangnya, ketergantungan yang besar ini menciptakan dampak negatif, salah satunya yakni memperparah terjadinya perubahan iklim global.
Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, dunia didorong untuk dapat segera mengurangi porsi penggunaan bahan bakar fosil dan mulai menerapkan efisiensi energi. Ditambah juga dengan mulai beralih ke sumber energi yang rendah karbon.
Teknologi efisiensi energi seperti bangunan yang hemat energi, sistem transportasi yang efisien, dan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca.
Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana, penerapan efisiensi energi sebesar 20% setara dengan menghemat energi listrik sebanyak 13,8 Terra Watt hour (TWh).
Dengan mengoptimalkan inovasi teknologi terkait efisiensi energi, dunia dapat bersama-sama mewujudkan dekarbonisasi dan mencapai target net zero emission.
3. Teknologi Energi Terbarukan Kurangi Perubahan Iklim
Saat ini, harapan akan ketersediaan energi terbarukan berkembang pesat. Didorong oleh kemajuan teknologi dan kebutuhan mendesak untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Terdapat sejumlah teknologi berbeda yang digunakan untuk menghasilkan energi terbarukan. Mulai dari pengembangan dan penggunaan energi terbarukan seperti energi surya, angin, hydro, dan geotermal, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi karbon.
Namun, dibalik manfaatnya dalam mengatasi perubahan iklim, masih hadir persepsi terkait risikonya tinggi investasi di bidang renewable energy technology sehingga akses terhadap pendanaan menjadi sebuah permasalahan. Meskipun pendanaan tersedia, biayanya menjadi lebih tinggi.
Kolaborasi antara teknologi, kebijakan, investasi berkelanjutan dalam riset dan pengembangan, serta partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, diharapkan dapat membantu mencapai tujuan mengatasi krisis iklim. Juga menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi planet kita.
Anda juga dapat turut berpartisipasi dalam upaya mengatasi perubahan iklim dengan mengukur dan melaporkan emisi gas rumah kaca (GHG) yang dihasilkan untuk mengidentifikasi area-area di mana emisi dapat dikurangi.
Hal tersebut bisa dimulai dengan melakukan simulasi pengukuran emisi yang dihasilkan perusahaan Anda melalui platform all-in-one dari Satuplatform. Dapatkan DEMO GRATIS di sini!
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

