Foto Artikel STA 4

Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026

Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat. Namun, inovasi di sektor jasa keuangan tidak hanya membutuhkan kesesuaian dengan kebutuhan pasar, tetapi juga perlu memahami dan berjalan selaras dengan kerangka regulasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan OJK Fintech Startup Accelerator 2026, sebuah program yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara Product Market Fit dan Policy Market Fit. Program ini memberikan dukungan kepada startup melalui pemahaman regulasi, penguatan produk, validasi model bisnis, jejaring strategis, serta peluang untuk terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan di industri jasa keuangan. Baca Juga : Satuplatform dan OJK Bahas Akselerasi Inovasi Digital  Dalam rangkaian program tersebut, Satuplatform menjadi salah satu startup yang terpilih untuk mengikuti OJK Fintech Startup Accelerator 2026. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari perjalanan Satuplatform dalam mengembangkan solusi teknologi di bidang carbon dan ESG management serta memperluas kontribusinya terhadap transformasi digital dan praktik keberlanjutan di Indonesia. Satuplatform Hadir Membawa Solusi Carbon & ESG Management Satuplatform merupakan end-to-end Carbon, ESG & Sustainability Management Partner yang mengembangkan solusi untuk membantu perusahaan mengelola data keberlanjutan, menghitung emisi karbon, memantau kinerja ESG, hingga mendukung proses pelaporan keberlanjutan. Melalui pendekatan berbasis teknologi, Satuplatform berupaya menjawab salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini, yaitu kebutuhan untuk mengelola data ESG dan emisi secara lebih terstruktur, terukur, dan terintegrasi. Pengembangan solusi tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk memahami dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas bisnisnya. Data yang lebih terorganisasi juga dapat membantu perusahaan dalam menentukan strategi keberlanjutan dan mengambil keputusan berbasis data. Keikutsertaan dalam OJK Fintech Startup Accelerator memberikan ruang bagi Satuplatform untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai pengembangan inovasi teknologi yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan pengguna, tetapi juga memperhatikan aspek regulasi dan tata kelola. Menjembatani Product Market Fit dan Policy Market Fit OJK menjelaskan bahwa Fintech Startup Accelerator merupakan bagian dari upaya membangun innovation pipeline, mulai dari tahap ideasi, pendampingan, regulatory sandbox, hingga implementasi. Program ini juga mencakup business assessment, market validation, product strategy, financial modelling, regulatory clinic, dan mentoring. Bagi startup seperti Satuplatform, proses tersebut memberikan kesempatan untuk melihat inovasi dari perspektif yang lebih menyeluruh. Produk tidak hanya perlu memiliki nilai bagi pasar, tetapi juga perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan konteks regulasi dan kebutuhan ekosistem jasa keuangan. Hal tersebut menjadi penting bagi inovasi ESG dan carbon management karena pengelolaan informasi keberlanjutan semakin berkaitan dengan kebutuhan transparansi, tata kelola, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan perusahaan. Satuplatform di Demo Day OJK Fintech Startup Accelerator 2026 Puncak dari rangkaian pendampingan tersebut diwujudkan melalui Demo Day, yang menjadi kesempatan bagi startup peserta untuk memperkenalkan inovasi, model bisnis, serta potensi pengembangan solusi kepada berbagai pemangku kepentingan. Dalam kesempatan ini, Satuplatform membawa perspektif mengenai bagaimana teknologi carbon dan ESG management dapat menjadi bagian dari transformasi bisnis yang lebih terukur dan berkelanjutan. “Bagi Satuplatform, mengikuti OJK Fintech Startup Accelerator bukan hanya tentang memperkenalkan produk, tetapi juga tentang memastikan bahwa inovasi yang kami kembangkan dapat relevan dengan kebutuhan industri, memahami konteks regulasi, dan memberikan value yang nyata bagi ekosistem. Kami melihat carbon dan ESG management sebagai bagian penting dari perjalanan perusahaan menuju bisnis yang lebih terukur, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Bunga Asih Pratiwi, Event & Sustainability Partnership Manager, sebagai perwakilan Satuplatform. Sertifikat Penghargaan dan Langkah Berikutnya Setelah melalui rangkaian program, Satuplatform berhasil meraih sertifikat penghargaan sebagai bagian dari OJK Fintech Startup Accelerator 2026. Pencapaian ini menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus milestone bagi Satuplatform dalam mengembangkan inovasi teknologi di bidang carbon dan ESG management. Bagi Satuplatform, pencapaian tersebut bukan menjadi titik akhir. Pengalaman selama program menjadi bagian dari proses untuk terus menyempurnakan produk, memperkuat pemahaman terhadap kebutuhan pasar dan regulasi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. “Kami percaya bahwa inovasi yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi. Karena itu, pengalaman bersama OJK menjadi momentum bagi kami untuk terus belajar, beradaptasi, dan membangun solusi yang dapat membantu lebih banyak perusahaan mengintegrasikan sustainability ke dalam strategi bisnisnya,” tambah Erik Eka Putra (CTO Satuplatform). Ke depan, Satuplatform akan terus mengembangkan solusi Carbon, ESG & Sustainability Management berbasis teknologi yang unggul untuk mendukung perusahaan dalam perjalanan keberlanjutannya. Melalui kolaborasi antara startup, regulator, industri, dan berbagai pemangku kepentingan, inovasi teknologi di bidang keberlanjutan diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi terhadap ekosistem bisnis dan keuangan digital Indonesia yang lebih transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca …

9

Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon

Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim karena dapat meningkatkan emisi karbon sekaligus mengurangi kemampuan hutan dalam menyerap karbon dari atmosfer. Hutan memiliki peran penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami. Namun, ketika kawasan hutan terbakar, karbon yang tersimpan dalam vegetasi, serasah, dan tanah dapat dilepaskan ke atmosfer dalam jumlah besar. Kondisi tersebut menjadikan karhutla sebagai salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pengendalian emisi dan pencapaian target keberlanjutan. Karhutla dan Peningkatan Emisi Karbon Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan berbagai jenis emisi, termasuk karbon dioksida (CO₂), yang merupakan salah satu gas rumah kaca utama. Ketika pepohonan dan vegetasi terbakar, karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa dilepaskan ke atmosfer. Besarnya emisi karbon dari karhutla bergantung pada berbagai faktor, seperti luas area yang terbakar, jenis vegetasi, kondisi lahan, durasi kebakaran, serta apakah kebakaran terjadi di kawasan dengan kandungan karbon tinggi seperti lahan gambut. Lahan gambut menjadi perhatian khusus karena menyimpan karbon dalam jumlah besar di dalam tanah. Ketika gambut mengalami pengeringan dan terbakar, proses pelepasan karbon dapat menjadi jauh lebih signifikan. Selain menghasilkan emisi, kebakaran pada lahan gambut juga dapat meninggalkan kerusakan ekologis yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Baca Juga : Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan  Ancaman terhadap Hutan Konservasi Hutan konservasi memiliki fungsi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, melindungi habitat satwa, menjaga tata air, serta mempertahankan keseimbangan ekosistem. Karhutla yang terjadi di sekitar maupun di dalam kawasan konservasi dapat mengganggu berbagai fungsi tersebut. Api dapat menghancurkan vegetasi, mengurangi kualitas habitat, dan mengancam keberadaan berbagai spesies. Bahkan setelah api padam, dampaknya dapat terus berlangsung melalui perubahan struktur ekosistem, degradasi tanah, dan berkurangnya sumber makanan bagi satwa. Kerusakan hutan konservasi juga memiliki konsekuensi terhadap kemampuan alam dalam menyerap karbon. Semakin banyak vegetasi yang hilang akibat karhutla, semakin berkurang pula kapasitas ekosistem untuk menyerap CO₂ dari atmosfer. Ketika Hutan Kehilangan Kemampuan Menyerap Karbon Hutan yang sehat berfungsi sebagai carbon sink, yaitu ekosistem yang menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya. Pohon menyerap CO₂ melalui proses fotosintesis dan menyimpan karbon di dalam biomassa, akar, serta tanah. Karhutla dapat mengganggu siklus tersebut. Hilangnya tutupan vegetasi berarti berkurangnya kapasitas penyerapan karbon. Pada saat yang sama, kebakaran justru melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan. Situasi ini menciptakan tantangan ganda dalam pengendalian perubahan iklim: emisi karbon meningkat sementara kemampuan alam untuk menyerap karbon menurun. Karena itu, perlindungan hutan tidak dapat dipandang hanya sebagai upaya konservasi keanekaragaman hayati. Menjaga hutan juga merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan emisi karbon dan mitigasi perubahan iklim. Mencegah Karhutla untuk Menjaga Serapan Karbon Pencegahan karhutla membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pengawasan kawasan rawan kebakaran, pengelolaan lahan berkelanjutan, sistem peringatan dini, hingga peningkatan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha. Pemantauan kondisi tutupan lahan dan potensi titik panas juga dapat membantu mempercepat respons terhadap risiko kebakaran. Di sisi lain, restorasi ekosistem yang telah terdegradasi dapat membantu mengembalikan fungsi ekologis sekaligus meningkatkan kembali kemampuan kawasan dalam menyerap karbon. Bagi perusahaan, risiko karhutla juga relevan dalam pengelolaan emisi karbon dan ESG. Aktivitas bisnis yang memiliki keterkaitan dengan penggunaan lahan, komoditas berbasis sumber daya alam, maupun rantai pasok dapat mempertimbangkan risiko lingkungan tersebut dalam proses identifikasi, pengukuran, dan pelaporan keberlanjutan. Menjaga Hutan untuk Mengendalikan Emisi Karbon Karhutla menunjukkan bahwa perlindungan ekosistem dan pengendalian perubahan iklim merupakan dua agenda yang saling berkaitan. Hutan yang terbakar tidak hanya kehilangan pohon dan habitat, tetapi juga kehilangan sebagian fungsi pentingnya sebagai penyerap karbon. Upaya mencegah karhutla menjadi langkah strategis untuk menjaga hutan konservasi, melindungi keanekaragaman hayati, dan mengurangi potensi emisi karbon. Dengan pengelolaan hutan yang lebih kuat, pemantauan risiko yang lebih baik, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, fungsi hutan sebagai penyimpan dan penyerap karbon dapat terus dipertahankan. Pada akhirnya, menjaga hutan bukan sekadar tentang mencegah kebakaran. Ini juga merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung upaya Indonesia menuju pembangunan yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim? Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

7

Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim

Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah menghitung jejak karbon untuk mengetahui jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan operasional maupun rantai nilai perusahaan. Menghitung jejak karbon bukan sekadar memenuhi kebutuhan pelaporan keberlanjutan. Data emisi dapat membantu perusahaan memahami sumber emisi terbesar, menentukan prioritas pengurangan emisi, serta menyusun strategi bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan. Apa Itu Jejak Karbon? Jejak karbon atau carbon footprint merupakan total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan secara langsung maupun tidak langsung dari suatu aktivitas, individu, produk, organisasi, atau perusahaan. Emisi biasanya dinyatakan dalam satuan ton CO₂ ekuivalen (tCO₂e). Dalam konteks perusahaan, sumber emisi dapat berasal dari penggunaan bahan bakar, konsumsi listrik, perjalanan bisnis, aktivitas operasional, hingga rantai pasok. Karena sumbernya beragam, perusahaan membutuhkan metode yang sistematis untuk mengidentifikasi dan mengukur emisi tersebut. Baca Juga : Cara Menghitung Jejak Karbon Perusahaan: Panduan Lengkap untuk Memulai Pengukuran Emisi  Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah GHG Protocol, yang mengelompokkan emisi perusahaan ke dalam Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Memahami Scope 1, 2, dan 3 Pemahaman terhadap Scope 1, 2, 3 menjadi bagian penting dalam proses menghitung jejak karbon perusahaan. Scope 1 mencakup emisi langsung yang berasal dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan. Contohnya adalah penggunaan bahan bakar pada kendaraan operasional, boiler, genset, atau fasilitas perusahaan. Scope 2 merupakan emisi tidak langsung yang berasal dari konsumsi energi yang dibeli perusahaan, terutama listrik, steam, heating, dan cooling. Meskipun emisi tersebut terjadi di fasilitas penyedia energi, penggunaannya tetap menjadi bagian dari jejak karbon perusahaan. Sementara itu, Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya yang berasal dari aktivitas dalam rantai nilai perusahaan, baik dari aktivitas hulu maupun hilir. Contohnya meliputi pembelian barang dan jasa, perjalanan bisnis, commuting karyawan, transportasi dan distribusi, penggunaan produk, hingga pengelolaan limbah. Scope 3 sering kali menjadi tantangan karena perusahaan perlu memperoleh data dari berbagai aktivitas dan pihak dalam rantai nilainya. Bagaimana Cara Menghitung Jejak Karbon? Secara umum, proses menghitung jejak karbon dimulai dengan menentukan batas organisasi dan periode pelaporan. Perusahaan kemudian mengidentifikasi sumber emisi berdasarkan kategori Scope 1, 2, dan 3. Tahap berikutnya adalah mengumpulkan data aktivitas atau activity data. Data tersebut dapat berupa konsumsi listrik dalam kWh, penggunaan bahan bakar dalam liter, jarak perjalanan dalam kilometer, volume limbah, atau data aktivitas lainnya. Data aktivitas kemudian dikalikan dengan faktor emisi yang sesuai untuk menghasilkan estimasi emisi dalam satuan CO₂e. Secara sederhana, perhitungannya dapat digambarkan sebagai: Emisi GRK = Data Aktivitas × Faktor Emisi Hasil perhitungan dari berbagai sumber emisi kemudian dikompilasi untuk mendapatkan total jejak karbon perusahaan. Mengapa Perusahaan Perlu Menghitung Jejak Karbon? Data jejak karbon memberikan gambaran mengenai sumber emisi terbesar dalam kegiatan perusahaan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan area yang memiliki peluang pengurangan emisi paling besar. Misalnya, apabila konsumsi listrik menjadi sumber emisi dominan, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, atau perubahan perilaku penggunaan listrik. Jika emisi terbesar berasal dari perjalanan dan transportasi, perusahaan dapat mengevaluasi kebijakan perjalanan bisnis, penggunaan kendaraan, atau sistem logistik. Dengan demikian, menghitung jejak karbon membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar menetapkan target pengurangan emisi tanpa mengetahui kondisi awalnya. Jejak Karbon dan Strategi Menghadapi Perubahan Iklim Upaya menghadapi perubahan iklim membutuhkan kontribusi dari berbagai sektor, termasuk dunia usaha. Perusahaan memiliki peran penting dalam mengurangi emisi dari kegiatan operasional dan rantai nilainya. Pengukuran emisi menjadi fondasi untuk menyusun strategi dekarbonisasi. Setelah mengetahui baseline emisi, perusahaan dapat menetapkan target pengurangan, menentukan inisiatif yang diperlukan, serta memantau perkembangan dari waktu ke waktu. Data tersebut juga dapat mendukung kebutuhan ESG dan pelaporan keberlanjutan, terutama ketika perusahaan perlu menunjukkan kinerja lingkungan kepada investor, regulator, pelanggan, maupun pemangku kepentingan lainnya. Dari Mengukur hingga Mengurangi Emisi Menghitung jejak karbon seharusnya tidak berhenti pada angka dalam laporan. Data emisi perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk mengurangi dampak lingkungan. Perusahaan dapat memulai dari langkah sederhana seperti meningkatkan efisiensi energi, mengurangi penggunaan bahan bakar, mengoptimalkan transportasi, mengelola limbah, hingga bekerja sama dengan pemasok untuk mengurangi emisi Scope 3. Dengan memahami Scope 1, 2, 3, perusahaan dapat melihat jejak emisinya secara lebih menyeluruh. Pengukuran yang dilakukan secara konsisten juga memungkinkan perusahaan mengevaluasi efektivitas program pengurangan emisi dari tahun ke tahun. Pada akhirnya, menghitung jejak karbon bukan hanya tentang mengetahui berapa banyak emisi yang dihasilkan perusahaan. Ini merupakan langkah awal untuk memahami dampak bisnis, menentukan prioritas, membangun strategi dekarbonisasi, dan mengambil peran nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Semakin akurat perusahaan memahami jejak karbonnya, semakin terarah pula langkah yang dapat dilakukan untuk menuju operasional yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang …

5

Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi berbagai risiko akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Peningkatan suhu, perubahan pola hujan, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan menjadi tantangan yang semakin penting untuk diperhatikan. Fenomena tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan, infrastruktur, dan keberlangsungan aktivitas bisnis. Karena itu, memahami sumber emisi dan menghitung jejak karbon menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung upaya pengendalian emisi. Apa Hubungan Pemanasan Global dengan Perubahan Iklim? Pemanasan global mengacu pada peningkatan suhu rata-rata bumi dalam jangka panjang yang terutama dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) dapat menahan panas di atmosfer dan berkontribusi terhadap perubahan sistem iklim. Sementara itu, perubahan iklim memiliki cakupan yang lebih luas. Perubahan iklim mencakup perubahan jangka panjang pada pola suhu, curah hujan, angin, serta berbagai kondisi sistem iklim lainnya. Dampaknya dapat muncul dalam berbagai bentuk. Di Indonesia, risiko tersebut dapat berkaitan dengan cuaca ekstrem, banjir, longsor, kekeringan, kenaikan muka laut, serta kebakaran hutan dan lahan. Tingkat dampaknya tentu berbeda berdasarkan wilayah, kondisi lingkungan, dan faktor lainnya. Mengapa Aktivitas Manusia Berpengaruh? Berbagai aktivitas manusia menghasilkan emisi gas rumah kaca. Penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi dan energi, aktivitas industri, perubahan penggunaan lahan, pengelolaan limbah, serta berbagai aktivitas dalam rantai pasok dapat menjadi sumber emisi. Perusahaan juga memiliki jejak emisi yang berasal dari kegiatan operasional maupun rantai nilainya. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengetahui dari mana emisi tersebut berasal sebelum menentukan strategi pengurangannya. Di sinilah proses menghitung jejak karbon menjadi penting. Menghitung Jejak Karbon untuk Mengetahui Sumber Emisi Jejak karbon atau carbon footprint merupakan total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh suatu aktivitas, individu, produk, maupun organisasi. Emisi biasanya dinyatakan dalam satuan karbon dioksida ekuivalen atau CO₂e. Bagi perusahaan, menghitung jejak karbon dapat membantu memberikan gambaran mengenai jumlah emisi yang dihasilkan dari aktivitas bisnis. Perhitungan dapat mencakup penggunaan listrik, bahan bakar kendaraan dan mesin, perjalanan bisnis, konsumsi bahan bakar, pengelolaan limbah, hingga aktivitas dalam rantai pasok. Salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam penghitungan emisi perusahaan adalah GHG Protocol, yang mengelompokkan emisi menjadi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan. Scope 2 berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, seperti listrik. Sementara Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya yang berasal dari rantai nilai perusahaan. Dengan mengetahui sumber emisi tersebut, perusahaan dapat menentukan area yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Baca Juga : Pemanasan Global dan Suhu Dingin Ekstrem: Memahami Keterkaitannya Data Karbon Menjadi Dasar Strategi Pengurangan Emisi Menghitung jejak karbon bukan sekadar menghasilkan angka untuk laporan. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan strategi pengurangan emisi. Misalnya, apabila penggunaan listrik menjadi salah satu sumber emisi terbesar, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi energi atau penggunaan energi terbarukan. Jika emisi berasal dari transportasi, perusahaan dapat mempertimbangkan optimalisasi perjalanan, efisiensi logistik, atau alternatif transportasi dengan emisi lebih rendah. Pendekatan berbasis data memungkinkan perusahaan menetapkan target pengurangan emisi yang lebih terukur. Perusahaan juga dapat membandingkan kinerja emisi dari satu periode ke periode berikutnya untuk melihat perkembangan program dekarbonisasi. Menghadapi Perubahan Iklim Dimulai dari Pengukuran Upaya menghadapi perubahan iklim membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Perusahaan dapat mengambil peran melalui pengelolaan energi yang lebih efisien, pengurangan emisi, penggunaan sumber energi yang lebih rendah emisi, serta pengelolaan rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Namun, langkah tersebut akan lebih terarah ketika perusahaan mengetahui kondisi awalnya. Karena itu, menghitung jejak karbon dapat menjadi langkah awal untuk memahami dampak lingkungan dari aktivitas bisnis. Pengukuran juga dapat mendukung kebutuhan ESG dan pelaporan keberlanjutan, sekaligus membantu perusahaan berkomunikasi secara lebih transparan mengenai kinerja lingkungannya. Saatnya Mengubah Data Menjadi Aksi Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan tantangan jangka panjang yang membutuhkan tindakan berkelanjutan. Perusahaan tidak dapat mengurangi sesuatu yang belum diketahui atau diukur dengan baik. Dengan menghitung jejak karbon, perusahaan dapat memahami sumber emisinya, menentukan prioritas pengurangan, menetapkan target, dan memantau kemajuan dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, menghitung jejak karbon bukan hanya tentang mengetahui jumlah emisi yang dihasilkan. Lebih dari itu, proses ini merupakan fondasi untuk membangun strategi bisnis yang lebih efisien, rendah emisi, dan adaptif terhadap risiko perubahan iklim. Semakin baik perusahaan memahami jejak karbonnya, semakin terarah pula langkah yang dapat dilakukan untuk berkontribusi dalam mengurangi emisi dan menghadapi tantangan pemanasan global. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak …

19

Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya

Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang tinggal di kota-kota besar, sensasi udara yang terasa lebih panas dan gerah, bahkan pada malam hari, bukan sekadar perasaan subjektif. Data resmi BMKG menunjukkan bahwa kota-kota di Indonesia memang memanas lebih cepat dibanding wilayah sekitarnya, dan salah satu penyebab utamanya adalah fenomena yang disebut Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan. Apa Itu Urban Heat Island? Menurut definisi yang dipakai United States Environmental Protection Agency (EPA) dan dirujuk BMKG, Urban Heat Island terjadi ketika permukaan buatan manusia seperti beton, aspal, dan bangunan menyerap panas matahari sepanjang siang, lalu melepaskannya kembali secara perlahan. Akibatnya, suhu udara di kawasan perkotaan bisa 1 hingga 4°C lebih tinggi dibanding daerah pedesaan atau area hijau di sekitarnya, dan efek ini tetap terasa bahkan setelah matahari terbenam, karena permukaan kota melepaskan panas yang tersimpan sepanjang malam. Data yang Menunjukkan Kota-Kota Indonesia Kian Panas Catatan Iklim Indonesia 2024 yang diterbitkan BMKG mencatat suhu rata-rata nasional meningkat sekitar 0,9°C selama periode 1981-2024, dengan 2024 tercatat sebagai tahun terpanas sejak pencatatan dimulai, anomali suhunya sekitar 0,8°C di atas rata-rata periode 1991-2020. BMKG juga menyebutkan bahwa Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar termasuk dalam 20% kota dengan nilai Land Surface Temperature (LST) tertinggi secara global. Sebagai gambaran, Semarang pernah mencatatkan LST setinggi 39,4°C pada 2019, sementara Surabaya mencapai 38,5°C pada 2021. Data terbaru pada 2026 juga memperlihatkan pola yang konsisten: suhu harian Kota Bekasi dan Palembang sempat menjadi yang tertinggi secara nasional di angka 34,0°C, beberapa derajat di atas rata-rata nasional saat itu, dengan suhu rata-rata harian kedua kota tersebut naik lebih dari 1°C hanya dalam 87 tahun terakhir (1940-2026). Bukan Hanya Perubahan Iklim Global, Tata Kota Ikut Berperan Yang menarik, perubahan iklim global bukan satu-satunya penyebab kota semakin panas. Pertumbuhan kota yang pesat mengubah kawasan hijau menjadi permukiman, jalan, dan pusat bisnis. Berkurangnya vegetasi membuat kota kehilangan kemampuan alaminya untuk mendinginkan udara, sementara aktivitas perkotaan, mulai dari kendaraan bermotor hingga penggunaan pendingin udara menghasilkan panas tambahan. Kombinasi antara pemanasan global dan perubahan tata guna lahan inilah yang membuat suhu di kawasan perkotaan meningkat lebih cepat dibanding wilayah di sekitarnya, dan efeknya makin kuat pada kota yang padat bangunan namun minim ruang terbuka hijau. Baca Juga : Optimasi Potensi Sumber Energi Biomassa dengan Carbon & ESG Management Satuplatform Dampak UHI terhadap Bisnis dan Pelaporan ESG Bagi perusahaan yang berkantor atau berproduksi di kawasan perkotaan, UHI bukan sekadar isu kenyamanan. Suhu kota yang terus meningkat mendorong konsumsi energi pendingin ruangan yang lebih besar, yang pada akhirnya menambah emisi Scope 2 dari penggunaan listrik. Pekerja lapangan seperti kurir, petugas keamanan, atau tim konstruksi juga menghadapi risiko heat stress yang lebih tinggi, sementara biaya operasional gedung cenderung naik seiring kebutuhan pendinginan yang lebih besar. Karena itu, risiko iklim fisik akibat UHI semakin relevan untuk dimasukkan ke dalam analisis risiko dan laporan keberlanjutan perusahaan, khususnya bagi bisnis dengan aset atau karyawan yang terkonsentrasi di kota-kota besar. Langkah Mitigasi yang Bisa Dilakukan Fenomena Urban Heat Island menunjukkan bahwa kota bukan hanya korban dari perubahan iklim global, tetapi juga turut memperparah dampaknya melalui cara kota tersebut dibangun dan dikelola. Bagi perusahaan, memahami data suhu perkotaan ini menjadi langkah awal untuk menyusun strategi adaptasi yang lebih tepat, sekaligus melengkapi laporan ESG dengan gambaran risiko iklim yang lebih menyeluruh. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim? Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

17

Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?

Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa krisis iklim kini bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang dampaknya sudah terasa langsung di berbagai wilayah Indonesia. Data resmi BMKG memperlihatkan pola yang konsisten: suhu makin panas, hujan makin ekstrem, dan wilayah pesisir makin rentan. Artikel ini merangkum apa yang sebenarnya ditunjukkan data tersebut, dan mengapa hal ini relevan bagi dunia usaha. Data Suhu: Indonesia Semakin Panas dari Tahun ke Tahun BMKG mencatat 2024 sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5°C, sementara 2025 menempati posisi keenam terpanas sepanjang sejarah pengamatan nasional dengan rata-rata 27,04°C. Kedua angka ini berada di atas rata-rata klimatologis periode normal 1991-2020, menunjukkan tren pemanasan yang konsisten, bukan fluktuasi sesaat. BMKG memproyeksikan seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6°C pada periode 2021-2050, sejalan dengan anomali suhu global yang telah melampaui ambang 1,5°C dibandingkan era pra industri. Pola Hujan Berubah: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi Selain suhu, pola curah hujan di Indonesia juga bergeser. BMKG memproyeksikan wilayah utara Indonesia akan menjadi lebih basah hingga 8%, sementara wilayah selatan justru lebih kering hingga minus 9%, memperbesar jarak antara musim basah dan kering. Dampaknya, kejadian hujan ekstrem yang dulu tergolong langka kini diperkirakan jauh lebih sering: hujan berintensitas 250 mm yang sebelumnya berulang sekali dalam 100 tahun, diproyeksikan bisa terjadi setiap kurang dari 20 tahun. Fenomena ini bukan sekadar proyeksi di atas kertas, akhir 2025, Siklon Tropis Senyar yang melanda Sumatera tercatat menghasilkan curah hujan dasarian tertinggi sejak 1991, sebuah rekor baru yang dikaitkan BMKG dengan tren pemanasan global yang terus berlangsung. Indikator Lain: Es Abadi Mencair dan Permukaan Laut Naik Perubahan iklim juga terlihat dari indikator jangka panjang lain. Tutupan es di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya gletser tropis Indonesia, telah menyusut sekitar 98% sejak 1988, dan BMKG memperkirakan es tersebut akan hilang sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027. Di sisi lain, kenaikan muka laut di perairan Indonesia tercatat mencapai 4,36 millimeter per tahun, yang secara bertahap meningkatkan risiko banjir rob dan abrasi di kawasan pesisir, termasuk area padat penduduk dan kawasan industri di pesisir utara Jawa. Mengapa Perusahaan Perlu Memperhatikan Ini Bagi perusahaan, rangkaian data ini bukan sekadar informasi cuaca, melainkan sinyal risiko iklim fisik (physical climate risk) yang berpotensi mengganggu operasional. Pabrik atau gudang di kawasan pesisir menghadapi risiko banjir rob yang meningkat setiap tahun, rantai pasok dan logistik lebih rentan tertunda akibat cuaca ekstrem yang lebih sering, sementara premi asuransi properti di wilayah rawan bencana cenderung naik seiring bertambahnya klaim. Kerangka pelaporan keberlanjutan global seperti TCFD dan ISSB kini juga secara eksplisit meminta perusahaan mengungkapkan eksposur risiko iklim fisik ini dalam laporan ESG mereka, bukan hanya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Langkah Praktis Perusahaan Merespons Data Iklim Data BMKG menegaskan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia bukan kejadian acak, melainkan bagian dari tren perubahan iklim yang terukur dan terus berlangsung. Perusahaan yang mulai memasukkan risiko ini ke dalam strategi dan pelaporan keberlanjutannya akan lebih siap menghadapi dampaknya, sekaligus menunjukkan akuntabilitas yang makin dituntut investor dan regulator. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Baca Juga : Perubahan Iklim dan Kebutuhan Data Lingkungan yang Akurat Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim? Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

15

Berapa Banyak Emisi Karbon yang Dilepas Saat Karhutla?

Setiap musim kemarau, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu menjadi berita utama di Indonesia mulai dari kabut asap lintas provinsi hingga sekolah yang terpaksa diliburkan. Namun dibalik dampak yang terlihat kasat mata itu, ada angka lain yang jarang dibahas publik secara luas: berapa sebenarnya jumlah karbon yang dilepas ke atmosfer setiap kali karhutla terjadi, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap krisis iklim yang lebih luas? Skala Emisi Karhutla Indonesia dari Tahun ke Tahun Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa emisi karbon dari karhutla sempat mencapai titik tertinggi pada 2019, yaitu sekitar 624 juta ton CO2, seiring meluasnya kebakaran lahan gambut saat kemarau panjang. Angka ini kemudian turun drastis menjadi sekitar 40 juta ton CO2 pada 2020 dan sekitar 29,6 juta ton CO2 hingga Agustus 2021, sebelum kembali naik ke sekitar 183 juta ton CO2e pada 2023 saat fenomena El Nino memicu kekeringan lebih panjang. Pada 2026, lembaga non-pemerintah Walhi memperkirakan karhutla sepanjang Januari hingga awal September telah melepas sekitar 31 juta ton CO2 setara dengan total emisi gas rumah kaca tahunan sebuah negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa seperti Kuba. Mengapa Angka Emisi Karhutla Bisa Berbeda-beda Antar Lembaga Menariknya, tidak semua lembaga sepakat pada satu angka yang sama. Masih untuk periode yang sama di 2026, layanan pemantauan bumi milik Uni Eropa, Copernicus, memperkirakan emisi karhutla Indonesia justru delapan kali lebih tinggi dari estimasi Walhi, yaitu sekitar 239 juta ton CO2. Perbedaan besar ini umumnya terjadi karena metode pengukuran yang berbeda serta pemantauan berbasis satelit yang menghitung intensitas radiasi api (fire radiative power) cenderung menangkap area terbakar yang lebih luas dan lebih banyak titik api dibanding metode berbasis survei lapangan atau data resmi pemerintah. Bagi perusahaan yang ingin memasukkan risiko karhutla ke dalam laporan keberlanjutannya, penting untuk memahami bahwa rentang estimasi ini adalah hal wajar dalam sains iklim, bukan indikasi data yang tidak dapat dipercaya. Mengapa Kebakaran Gambut Melepas Karbon Jauh Lebih Besar Tidak semua lahan yang terbakar melepas jumlah karbon yang sama. Penelitian emisi karhutla berbasis tutupan lahan menunjukkan variasi yang cukup lebar, dari sekitar 11 ton CO2 per hektar pada hutan sekunder tua hingga lebih dari 950 ton CO2 per hektar pada lahan semak belukar kering, tergantung jenis vegetasi dan kandungan bahan organik yang terbakar. Yang membuat kebakaran di Indonesia sering kali jauh lebih besar dampaknya adalah keberadaan lahan gambut. Gambut menyimpan karbon organik yang terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun; ketika terbakar, karbon yang tersimpan itu ikut terlepas ke atmosfer dalam waktu singkat, jauh melampaui emisi dari kebakaran vegetasi permukaan biasa. Inilah sebabnya kebakaran di provinsi dengan lahan gambut luas seperti Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan kerap menjadi penyumbang emisi terbesar setiap musim kemarau. Baca Juga : Erupsi Gunung Berapi vs Emisi Industri Mempengaruhi Laporan ESG dan Carbon Footprint? Kaitan Karhutla dengan Krisis Iklim dan Rantai Pasok Perusahaan Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan lokal, ia terhubung langsung dengan rantai pasok banyak perusahaan global. Analisis Greenpeace International pada periode 2015-2018 menemukan bahwa kebakaran yang terjadi di lahan konsesi melepas sekitar 427 juta ton CO2, dengan sekitar 200 juta ton berasal dari lahan sawit dan 227 juta ton dari lahan hutan tanaman industri (pulp dan kertas), dua komoditas yang menjadi bahan baku ribuan produk konsumen sehari-hari. Bagi perusahaan yang menggunakan sawit, pulp, atau turunannya sebagai bahan baku, emisi dari karhutla di area pemasoknya berpotensi masuk sebagai emisi Scope 3 (rantai pasok) dalam laporan carbon footprint, meski kejadiannya berada jauh di luar operasional langsung perusahaan. Karhutla yang berulang juga mengancam target iklim nasional Indonesia, termasuk komitmen FOLU Net Sink 2030 di sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Langkah Praktis bagi Perusahaan dalam Merespons Risiko Karhutla Memahami skala emisi karhutla membantu perusahaan menempatkan isu ini secara proporsional dalam laporan ESG, bukan hanya sebagai berita musiman, tetapi sebagai risiko iklim dan rantai pasok yang terukur dan bisa dikelola. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim? Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

13

Erupsi Gunung Berapi vs Emisi Industri Mempengaruhi Laporan ESG dan Carbon Footprint?

Ketika Gunung Lewotobi atau Merapi meletus dan menutupi langit dengan abu vulkanik, reaksi publik biasanya tertuju pada evakuasi dan kualitas udara. Namun dibalik itu, ada pertanyaan yang mulai sering muncul di meja tim sustainability perusahaan: apakah emisi dari bencana alam seperti ini perlu dihitung dalam laporan ESG dan carbon footprint? Dan bagaimana perbandingannya dengan emisi yang dihasilkan oleh aktivitas industri sehari-hari? Artikel ini mengulas keduanya, sekaligus bagaimana perusahaan sebaiknya menyikapinya dalam pelaporan keberlanjutan. Gunung Berapi vs Aktivitas Industri Secara ilmiah, kontribusi gunung berapi terhadap emisi karbon global jauh lebih kecil dibanding yang banyak dikira orang. Berdasarkan kajian United States Geological Survey (USGS), seluruh gunung berapi di dunia baik yang ada di darat maupun di bawah laut diperkirakan melepaskan sekitar 0,2 hingga 0,3 miliar ton CO2 per tahun. Sebagai perbandingan, aktivitas manusia (bahan bakar fosil, deforestasi, industri, dan transportasi) menghasilkan lebih dari 35 miliar ton CO2 per tahun, atau sekitar 100 kali lipat lebih besar. Bahkan letusan besar seperti Gunung St. Helens pada 1980 yang melepaskan sekitar 10 juta ton CO2 dalam hitungan jam, hanya setara dengan emisi global manusia dalam waktu 2-3 jam saja. Data ini penting agar perusahaan tidak salah menempatkan prioritas: sumber emisi terbesar tetap datang dari operasional industri, bukan dari fenomena alam. Mengapa Bencana Alam Tetap Relevan bagi Laporan ESG Meski kontribusi emisinya kecil, bencana alam seperti erupsi vulkanik tetap punya dampak nyata terhadap laporan ESG perusahaan, bukan lewat angka emisi gas rumah kaca, melainkan lewat gangguan operasional dan rantai pasok. Abu vulkanik dapat menutup jalur distribusi, memaksa pabrik berhenti produksi, atau mengalihkan transportasi ke jalur yang lebih jauh dan boros bahan bakar. Semua ini berpotensi menaikkan emisi Scope 1 dan Scope 3 perusahaan secara tidak langsung, meskipun sumbernya adalah kejadian force majeure. Di sinilah kerangka pelaporan seperti GHG Protocol menjadi penting. Emisi geogenik (dari proses alam seperti gunung berapi) umumnya dikategorikan terpisah dari emisi antropogenik dan tidak dimasukkan ke dalam neraca karbon perusahaan. Namun, dampak turunannya seperti kenaikan konsumsi energi darurat, rute logistik alternatif, atau pemulihan pasca-bencana tetap wajib dicatat sebagai bagian dari jejak karbon operasional perusahaan yang terdampak. Baca Juga : Cara Mengurangi Jejak Karbon Perusahaan dengan Carbon Footprint Calculator  Implikasi terhadap Carbon Footprint dan Manajemen Risiko Iklim Bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah rawan bencana geologis seperti Indonesia, mengintegrasikan risiko bencana alam ke dalam laporan ESG bukan sekadar formalitas kepatuhan, tetapi bagian dari manajemen risiko iklim (climate risk disclosure) yang makin dituntut investor dan regulator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: Menyederhanakan Pelaporan ESG di Tengah Ketidakpastian Iklim Perbandingan antara emisi gunung berapi dan emisi industri menunjukkan satu hal penting: tantangan terbesar dalam pengelolaan carbon footprint tetap datang dari aktivitas manusia yang bisa dikendalikan, bukan dari fenomena alam yang di luar kendali. Namun, kejadian force majeure tetap perlu tercatat rapi agar laporan ESG perusahaan tetap kredibel dan dapat diaudit. Di sinilah platform manajemen ESG seperti satuplatform berperan. Dengan sistem pencatatan emisi terintegrasi, perusahaan dapat memisahkan dengan jelas antara emisi operasional rutin dan dampak insidental dari kejadian force majeure, sekaligus menyusun laporan keberlanjutan yang selaras dengan standar GHG Protocol dan kebutuhan pelaporan ESG terkini. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat… Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting? Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi… Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang… Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim? Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

3

Tren Lari dan Perubahan Iklim: Ketika Cuaca Ekstrem Mengancam Hobi Baru

Trend lari berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya komunitas lari, berbagai ajang marathon, hingga kehadiran runfluencer di media sosial membuat olahraga ini semakin populer dan mudah diikuti. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada tantangan yang semakin nyata: perubahan iklim. Suhu yang semakin panas, gelombang panas, polusi udara, serta cuaca ekstrem dapat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan orang yang berolahraga di luar ruangan. Bahkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelari, tetapi juga mulai mengancam industri olahraga secara lebih luas. Tren Lari Semakin Populer Olahraga ini relatif sederhana, tidak membutuhkan fasilitas khusus, dapat dilakukan hampir di mana saja. Perkembangan media sosial turut mempercepat popularitasnya. Pelari dapat membagikan catatan jarak, kecepatan, rute, hingga pencapaian pribadi melalui berbagai platform digital. Di sisi lain, runfluencer ikut membentuk tren baru dengan membagikan pengalaman, rekomendasi perlengkapan, program latihan, maupun gaya hidup yang berkaitan dengan olahraga lari. Fenomena ini membuat lari berkembang dari aktivitas individual menjadi sebuah ekosistem sosial dan ekonomi. Ada komunitas, penyelenggara lomba, produsen sepatu dan pakaian olahraga, penyedia aplikasi kebugaran, hingga sektor pariwisata yang ikut mendapatkan manfaat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga. Tetapi, semakin besar sebuah industri, semakin besar pula dampak yang berpotensi ditimbulkannya ketika kondisi lingkungan berubah. Perubahan Iklim Mulai Mengubah Pengalaman Berlari Salah satu dampak perubahan iklim yang paling mudah dirasakan pelari adalah peningkatan suhu. Berlari dalam kondisi panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil. Jika kondisi tersebut disertai kelembapan tinggi, kemampuan tubuh untuk melepaskan panas melalui keringat juga dapat terganggu. Baca Juga : Perubahan Iklim dan Kebutuhan Data Lingkungan yang Akurat Bagi pelari, kondisi ini bukan hanya persoalan kenyamanan. Cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika seseorang berolahraga dalam durasi dan intensitas tinggi. Masalahnya, kondisi panas ekstrem semakin menjadi perhatian dalam penyelenggaraan olahraga. Dengan kondisi tersebut, jadwal olahraga luar ruangan berpotensi semakin sulit ditentukan. Waktu penyelenggaraan dapat perlu disesuaikan untuk menghindari suhu paling panas, sementara beberapa pertandingan atau kompetisi dapat menghadapi risiko penundaan maupun pembatalan ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem. Maraton Menghadapi Tantangan Suhu yang Semakin Panas Lari jarak jauh menjadi salah satu cabang olahraga yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Maraton membutuhkan waktu berjam-jam untuk diselesaikan. Pelari harus mempertahankan aktivitas fisik dalam durasi panjang, sementara tubuh terus berhadapan dengan kondisi suhu dan kelembapan lingkungan. Kondisi panas yang ekstrem juga telah menjadi tantangan dalam sejumlah ajang lari. Perubahan iklim juga mempengaruhi sebuah lomba lari dirancang dan diselenggarakan, bukan hanya bagaimana seseorang berlari.  Tren Lari dan Tantangan Sustainability Pertumbuhan tren lari membuka peluang untuk mendorong gaya hidup yang lebih sehat sekaligus lebih berkelanjutan. Lari merupakan olahraga yang dapat dilakukan tanpa kendaraan bermotor dan tanpa konsumsi energi dalam jumlah besar. Berlari ke taman atau menggunakan transportasi publik menuju lokasi latihan, misalnya, dapat menjadi bagian dari gaya hidup rendah emisi. Namun, sustainability dalam olahraga tidak berhenti pada aktivitas berlarinya. Event lari berskala besar tetap menghasilkan berbagai dampak lingkungan. Peserta perlu melakukan perjalanan menuju lokasi, panitia menggunakan energi untuk operasional acara, sementara perlengkapan lomba seperti pakaian, nomor peserta, kemasan makanan dan minuman, hingga medali dapat menghasilkan limbah. Karena itu, pertumbuhan tren lari juga perlu diikuti dengan perhatian terhadap sustainable sport. Bagaimana Masa Depan Tren Lari di Tengah Perubahan Iklim? Trend lari kemungkinan masih akan terus berkembang. Komunitas baru bermunculan, event semakin banyak, dan media sosial terus membuat olahraga ini semakin mudah diakses oleh masyarakat. Namun, perubahan iklim dapat mengubah cara tren tersebut berkembang. Pelari mungkin perlu semakin memperhatikan kondisi cuaca sebelum berolahraga. Penyelenggara event perlu memasukkan risiko iklim dalam perencanaan. Kota juga perlu menyediakan ruang publik yang lebih nyaman dan aman untuk aktivitas fisik. Ruang terbuka hijau, jalur pedestrian yang baik, pepohonan, serta area yang terlindung dari panas dapat menjadi bagian penting dari kota yang mendukung gaya hidup aktif sekaligus beradaptasi terhadap perubahan iklim. Artinya, keberlanjutan tren lari tidak hanya bergantung pada antusiasme masyarakat, tetapi juga pada kemampuan kota dan penyelenggara olahraga untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah. Menjaga Tren Lari Tetap Berkelanjutan Tren lari menunjukkan bahwa aktivitas sederhana dapat berkembang menjadi gerakan sosial dan industri yang besar. Namun, perubahan iklim menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Cuaca panas ekstrem, polusi, dan kejadian cuaca yang semakin sulit diprediksi dapat mempengaruhi kenyamanan, kesehatan, hingga keberlangsungan event olahraga. Karena itu, pertumbuhan olahraga lari perlu berjalan beriringan dengan upaya membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan. Bagi pelari, bisa dimulai dari kebiasaan kecil seperti memilih waktu berlari yang lebih aman, menggunakan transportasi rendah emisi, membawa botol minum yang dapat digunakan kembali, dan menghindari konsumsi perlengkapan olahraga secara berlebihan. Sementara bagi penyelenggara, sustainability bisa mulai diterapkan melalui pengelolaan sampah, efisiensi energi, penggunaan sumber daya secara bijak, serta pengukuran dampak lingkungan dari setiap event. Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat tren lari tetap populer, tetapi bagaimana memastikan olahraga tersebut dapat terus dilakukan di tengah dunia yang semakin terdampak perubahan iklim. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026 Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan… Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga… Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami …

1

Mengenal 3 Desa di Indonesia yang Mulai Menerapkan Transisi Energi

Transisi energi sering dipahami sebagai proyek besar dengan investasi triliunan rupiah, seperti pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan atau infrastruktur berskala nasional. Padahal, transisi energi juga bisa dimulai dari tingkat desa dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di sekitar masyarakat. Sejumlah desa di Indonesia telah menunjukkan bahwa upaya menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan tidak harus menunggu proyek besar dari pemerintah pusat. Ada yang mengubah sampah rumah tangga menjadi biogas, ada yang menjaga ekosistem gambut untuk mencegah pemborosan sumber daya, dan ada pula yang mengembangkan ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang lebih ramah lingkungan. 1. Desa Wonocoyo, Trenggalek: Mengubah Sampah Dapur Menjadi Biogas Contoh sederhana transisi energi dapat ditemukan di Desa Wonocoyo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sejak 2019, kelompok perempuan di desa ini mulai mengolah sampah dapur menjadi sumber energi untuk kebutuhan memasak. Inovasi tersebut menggunakan teknologi bioreaktor yang dikenal sebagai bioreaktor “kapal selam” atau submarine. Teknologi ini memanfaatkan proses fermentasi anaerob untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi biogas. Selain biogas, proses tersebut juga menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.  Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya hanya menjadi persoalan lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Bagi rumah tangga, manfaatnya cukup sederhana tetapi penting. Biogas dapat digunakan untuk memasak sehingga ketergantungan terhadap LPG maupun kayu bakar dapat dikurangi. Pada saat yang sama, volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir juga berkurang. Artinya, satu inovasi dapat memberikan manfaat ganda: menyediakan energi sekaligus mengurangi persoalan sampah. Teknologi tersebut dikembangkan setelah pemerintah Desa Wonocoyo melakukan studi lapangan ke Kabupaten Pati pada 2020. Pembelajarannya kemudian didukung melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) daerah. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat desa sebenarnya memiliki ruang untuk memulai transisi energi dari tingkat lokal.  2. Kabupaten Siak, Riau: Menjaga Gambut untuk Menghemat Energi dan Anggaran Transisi energi bukan hanya persoalan mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Perlindungan lingkungan dan pengelolaan lanskap juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Kabupaten Siak, Riau, memberikan contoh bagaimana perlindungan ekosistem gambut dapat menjadi bagian dari aksi iklim. Wilayah ini memiliki kawasan gambut yang selama bertahun-tahun menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika musim kemarau.  Ketika kebakaran terjadi, pemerintah harus mengeluarkan sumber daya yang tidak sedikit untuk melakukan pemadaman. Mobil pemadam, helikopter, logistik, hingga personel membutuhkan bahan bakar dan anggaran. Sejak 2021, desa-desa di Siak mendapatkan insentif untuk melakukan upaya pencegahan, seperti patroli rutin, pembangunan embung, serta penyediaan peralatan pemadam kebakaran awal. Pendekatan tersebut membantu menekan kebutuhan terhadap operasi pemadaman darurat yang jauh lebih mahal.  Baca Juga : 5 Rekomendasi Tempat Wisata Edukasi Alam Pelajaran dari Siak menunjukkan bahwa transisi energi tidak bisa dilepaskan dari perlindungan ekosistem. Menjaga gambut tetap basah dan mencegah kebakaran berarti mengurangi penggunaan energi dan biaya yang diperlukan untuk menangani bencana. Artinya, menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari membangun ketahanan energi. 3. Desa Tukamasea, Maros: Ekowisata sebagai Alternatif Ekonomi Contoh berikutnya datang dari Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan Wonocoyo yang memanfaatkan sampah untuk menghasilkan biogas, Tukamasea menunjukkan sisi lain dari transisi energi, yakni pentingnya membangun ekonomi alternatif yang tidak bergantung pada aktivitas ekstraktif.  Desa Tukamasea mengembangkan ekowisata Dolli dengan memanfaatkan potensi alam dan lanskap karst di sekitarnya. Pengembangan ini didukung melalui kombinasi Dana Desa dan insentif Transfer Anggaran Kabupaten/Kota Berbasis Ekologi (TAKE). Pendanaan tersebut antara lain mencakup Dana Desa sebesar Rp200 juta, insentif TAKE Rp110 juta, serta tambahan insentif Rp62 juta.  Ekowisata kemudian tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Pengembangan tersebut dilaporkan mampu memberdayakan 23 tenaga kerja lokal dan menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp60 juta pada tahun pertamanya.  Manfaatnya bahkan meluas ke bidang pendidikan. Pendapatan dari sektor tersebut turut mendukung pendidikan bagi 240 anak dari keluarga kurang mampu sepanjang 2021–2024. Desa Tukamasea sendiri memiliki sejumlah potensi wisata alam dan budaya, termasuk kawasan wisata Dolli. Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan perlindungan alam dengan peningkatan ekonomi lokal.  Transisi Energi Tidak Harus Dimulai dari Proyek Besar Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa transisi energi memiliki bentuk yang jauh lebih luas daripada sekadar mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Di Wonocoyo, masyarakat mengubah sampah menjadi biogas. Di Siak, perlindungan gambut menjadi strategi untuk mencegah pemborosan sumber daya akibat kebakaran. Sementara di Tukamasea, masyarakat membangun alternatif ekonomi melalui ekowisata sekaligus menjaga lingkungan. Ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi mempunyai prinsip yang sama: memanfaatkan potensi lokal untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat. Hal ini juga menunjukkan pentingnya peran pemerintah daerah. Kebijakan dan insentif berbasis ekologi dapat memberikan ruang bagi desa untuk menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Mengapa Transisi Energi di Tingkat Desa Penting? Ada beberapa alasan mengapa desa dapat menjadi bagian penting dalam agenda transisi energi Indonesia. Pertama, desa memiliki sumber daya lokal yang beragam. Limbah pertanian, sampah rumah tangga, peternakan, hutan, lahan gambut, hingga potensi wisata dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan. Kedua, skala desa memungkinkan masyarakat terlibat secara langsung. Transisi energi tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah, tetapi juga menjadi praktik sehari-hari yang dapat dilakukan oleh rumah tangga dan komunitas. Ketiga, transisi energi yang baik seharusnya memberikan manfaat ekonomi. Masyarakat tidak cukup hanya diminta mengurangi penggunaan energi fosil atau menjaga lingkungan. Mereka juga membutuhkan sumber penghidupan yang memungkinkan perubahan tersebut bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, perlindungan lingkungan, ketahanan energi, dan ekonomi alternatif perlu berjalan secara bersamaan. Desa Bisa Menjadi Titik Awal Transisi Energi Pengalaman Wonocoyo, Siak, dan Tukamasea menunjukkan bahwa aksi iklim tidak selalu harus menunggu proyek berskala nasional. Transisi energi dapat dimulai dari desa, dari sampah yang ada di dapur, dari upaya menjaga lahan gambut agar tidak terbakar, maupun dari keputusan masyarakat untuk membangun ekonomi yang tidak merusak lingkungan. Tidak semua desa memiliki kapasitas anggaran, teknologi, maupun sumber daya manusia yang sama. Koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pendamping juga masih perlu diperkuat. Namun, tiga contoh tersebut memberikan satu pelajaran penting: perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari langkah yang sederhana dan sesuai dengan kondisi lokal. Pada akhirnya, transisi energi bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana masyarakat mengelola sumber daya, menjaga …