1

Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya?

Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial, mulai dari penggunaan sumber daya yang besar, limbah tekstil, hingga pola konsumsi yang semakin cepat. Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai pendekatan untuk menciptakan industri fashion yang lebih berkelanjutan, dua di antaranya adalah sustainable fashion dan circular fashion. Sustainable dan circular fashion sering digunakan secara berdampingan. Keduanya memang memiliki tujuan yang serupa, yaitu mengurangi dampak negatif industri fashion terhadap lingkungan dan menciptakan sistem yang lebih bertanggung jawab. Namun, keduanya memiliki fokus yang berbeda. Apa Itu Sustainable Fashion? Sustainable fashion atau fashion berkelanjutan merupakan pendekatan yang bertujuan mengurangi dampak negatif industri fashion terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi dalam seluruh siklus produksinya. Konsep ini tidak hanya membahas bahan yang digunakan untuk membuat pakaian, tetapi juga mencakup bagaimana pakaian dirancang, diproduksi, didistribusikan, digunakan, hingga akhirnya tidak lagi digunakan. Dalam penerapannya, sustainable fashion dapat mencakup berbagai hal, seperti: Dengan demikian, sustainable fashion memiliki cakupan yang luas karena mempertimbangkan aspek lingkungan sekaligus aspek sosial dalam industri fashion. Apa Itu Circular Fashion? Sementara itu, circular fashion merupakan pendekatan yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular atau circular economy ke dalam industri fashion. Jika model fashion konvensional umumnya mengikuti pola linear: Take → Make → Use → Dispose circular fashion berusaha menciptakan siklus yang lebih panjang: Design → Make → Use → Reuse → Repair → Resell → Recycle Tujuan utamanya adalah mempertahankan nilai produk dan material selama mungkin sehingga pakaian tidak langsung berakhir menjadi limbah setelah digunakan. Beberapa contoh penerapan circular fashion antara lain: Dengan pendekatan tersebut, circular fashion berupaya mengurangi ketergantungan pada sumber daya baru sekaligus mencegah material berakhir sebagai limbah. Baca juga: 3 Isu Greenwashing yang Kerap Menghantui Industri Fashion Perbedaan Sustainable Fashion dan Circular Fashion Perbedaan utamanya terletak pada fokus pendekatannya. Sustainable fashion memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu menciptakan industri fashion yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan manusia. Sementara circular fashion lebih berfokus pada bagaimana produk dan material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin.  Keduanya bukan konsep yang saling bertentangan. Justru, circular fashion dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mencapai tujuan sustainable fashion. Sustainable Fashion vs Circular Fashion Aspek Sustainable Fashion Circular Fashion Fokus utama Mengurangi dampak lingkungan dan sosial Menjaga produk dan material tetap berada dalam siklus penggunaan Cakupan Luas, mencakup lingkungan, sosial, dan ekonomi Lebih spesifik pada siklus hidup produk dan material Pendekatan Produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab Reuse, repair, resale, rental, upcycling, dan recycling Tujuan Industri fashion yang lebih berkelanjutan Meminimalkan limbah dan penggunaan sumber daya baru Contoh Bahan ramah lingkungan, produksi efisien, fair labor Take-back, thrift, repair, rental, upcycling Mengapa Sustainable dan Circular Fashion Penting? Perubahan pola produksi dan konsumsi menjadi semakin penting karena industri fashion menghasilkan dampak lingkungan di berbagai tahap rantai nilainya. Produksi bahan baku membutuhkan sumber daya. Proses manufaktur membutuhkan energi dan air. Distribusi membutuhkan transportasi. Setelah digunakan, pakaian yang tidak lagi dibutuhkan berpotensi menjadi limbah. Di sinilah pendekatan sustainable dan circular fashion dapat berperan. Sustainable fashion mendorong pelaku industri untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial sejak tahap desain hingga produk sampai kepada konsumen. Sementara itu, circular fashion membantu memperpanjang masa pakai produk dan mengurangi material yang berakhir sebagai limbah. Jika diterapkan secara konsisten, kedua pendekatan tersebut dapat membantu industri fashion bergerak dari model produksi dan konsumsi yang bersifat linear menuju sistem yang lebih bertanggung jawab. Contoh Penerapan Sustainable Fashion 1. Memilih Material dengan Lebih Bertanggung Jawab Pemilihan bahan merupakan salah satu aspek penting dalam sustainable fashion. Industri dapat mempertimbangkan material dengan dampak lingkungan yang lebih rendah, termasuk material daur ulang atau material yang berasal dari sumber yang dikelola secara lebih bertanggung jawab. Namun, pemilihan material sebaiknya tidak hanya berdasarkan label “ramah lingkungan”. Seluruh siklus hidup material juga perlu diperhatikan. 2. Memproduksi Pakaian yang Lebih Awet Pakaian dengan kualitas yang baik dan desain yang tidak mudah ditinggalkan tren dapat digunakan lebih lama. Semakin panjang masa penggunaan suatu pakaian, semakin besar peluang untuk mengurangi kebutuhan membeli produk baru secara terus-menerus. 3. Meningkatkan Efisiensi Produksi Penggunaan air, energi, dan bahan kimia dalam proses produksi dapat menjadi bagian dari upaya sustainability. Perusahaan dapat mengevaluasi proses produksi untuk menemukan cara yang lebih efisien sekaligus mengurangi limbah. 4. Memperhatikan Aspek Sosial Sustainable fashion juga tidak dapat dipisahkan dari manusia yang berada di balik proses produksi. Kondisi kerja yang aman, upah yang layak, serta perlindungan terhadap hak pekerja merupakan bagian penting dari fashion yang benar-benar berkelanjutan. Contoh Penerapan Circular Fashion Memperbaiki pakaian yang rusak dapat memperpanjang umur produk. Begitu pula dengan menggunakan kembali pakaian yang masih layak daripada langsung membuangnya. Pakaian yang sudah tidak digunakan oleh pemilik pertama masih dapat memiliki nilai bagi orang lain. Sistem resale dan thrifting membantu memperpanjang masa hidup pakaian sekaligus memberikan alternatif terhadap pembelian produk baru. Dalam proses upcycling, pakaian atau material lama diolah menjadi produk baru yang memiliki fungsi atau nilai berbeda. Pendekatan ini dapat menjadi cara kreatif untuk mengurangi limbah tekstil. Material tekstil tertentu dapat diproses menjadi serat atau material baru. Namun, proses recycling memiliki tantangan tersendiri, terutama karena pakaian sering terdiri dari campuran berbagai jenis serat dan komponen. Karena itu, aspek circularity idealnya sudah dipertimbangkan sejak tahap desain. Menuju Industri Fashion yang Lebih Berkelanjutan Pada akhirnya, sustainable fashion dan circular fashion bukanlah dua konsep yang harus dipilih salah satunya. Sustainable fashion memberikan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana industri fashion dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperhatikan aspek sosial. Sementara itu, circular fashion menawarkan pendekatan untuk mengurangi limbah dengan mempertahankan produk dan material agar tetap memiliki nilai selama mungkin. Keduanya dapat berjalan beriringan. Industri dapat mulai dari merancang produk yang lebih tahan lama, memilih material secara lebih bertanggung jawab, meningkatkan efisiensi produksi, membangun sistem take-back, menyediakan layanan repair atau resale, hingga menciptakan sistem recycling yang efektif. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang …

3

Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan adalah mangrove. Bagi sebagian orang, mungkin hanya terlihat sebagai kumpulan pohon yang tumbuh di wilayah pesisir. Namun, di balik keberadaannya, mangrove menyimpan fungsi ekologis yang sangat penting, mulai dari melindungi garis pantai, menjadi habitat berbagai jenis biota, hingga menyerap dan menyimpan karbon. Mangrove dan Perannya bagi Lingkungan Mangrove merupakan ekosistem yang berkembang di wilayah pesisir, terutama di kawasan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Kemampuannya beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem membuat mangrove menjadi salah satu ekosistem penting bagi kawasan pesisir. Akar yang kompleks dapat membantu menahan sedimen dan mengurangi energi gelombang. Dengan demikian, keberadaannya dapat membantu melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan dampak gelombang yang lebih kuat. Tidak hanya itu, kawasan mangrove juga menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi berbagai organisme. Ikan, kepiting, udang, burung, dan berbagai jenis biota lainnya memanfaatkan ekosistem ini sebagai tempat mencari makan, berlindung, maupun berkembang biak. Artinya, ini memiliki peran yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. Mangrove sebagai Penyimpan Karbon Salah satu alasan semakin mendapat perhatian dalam pembahasan perubahan iklim adalah kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon. Melalui proses fotosintesis, pohon mangrove menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Karbon tersebut kemudian disimpan dalam biomassa tanaman, termasuk batang, daun, dan akar, serta dalam sedimen di sekitarnya. Karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir seperti mangrove dikenal sebagai blue carbon. Konsep ini mengacu pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove, padang lamun, dan rawa asin. Kemampuan menyimpan karbon menjadikannya sebagai salah satu ekosistem alami yang berpotensi mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Namun, fungsi tersebut tidak berarti mangrove dapat menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi perubahan iklim. Pengurangan emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia tetap menjadi langkah utama. Pelestarian mangrove berperan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Ketika Mangrove Rusak, Dampaknya Tidak Hanya bagi Pesisir Kerusakan mangrove dapat menimbulkan berbagai konsekuensi ekologis dan sosial. Ketika hilang atau terdegradasi, perlindungan alami terhadap abrasi dan gelombang juga dapat berkurang. Habitat berbagai biota ikut terdampak, sementara masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya alam tersebut dapat menghadapi risiko ekonomi. Di sisi lain, karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa dan sedimen mangrove berpotensi kembali dilepaskan ke atmosfer ketika ekosistem mengalami kerusakan. Karena itu, kehilangan bukan hanya persoalan hilangnya pepohonan, tetapi sebuah sistem ekologis yang menjalankan berbagai fungsi sekaligus. Menanam Saja Tidak Cukup Program penanaman mangrove sering menjadi salah satu bentuk aksi lingkungan yang paling mudah terlihat. Namun, keberhasilan restorasi tidak dapat hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Mangrove membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat tumbuh dan membentuk ekosistem yang sehat. Karena itu, restorasi perlu diawali dengan memahami kondisi ekologis suatu kawasan, termasuk hidrologi, jenis tanah, pasang surut, dan faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Pemilihan jenis juga perlu disesuaikan dengan karakteristik lokasi. Setelah penanaman dilakukan, pemantauan dan pemeliharaan menjadi bagian penting untuk memastikan tanaman dapat bertahan dan berkembang. Dengan kata lain, restorasi bukan sekadar kegiatan menanam, melainkan proses memulihkan fungsi ekosistem. Baca juga: Potensi Jejak Karbon dari Degradasi Lahan Gambut  Dari Mangrove, Kita Belajar tentang Keberlanjutan Mangrove mengajarkan bahwa keberlanjutan bukanlah sebuah tujuan yang dicapai dalam satu kegiatan. Sustainability merupakan proses menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kemampuan alam untuk terus menyediakan manfaatnya. Di tengah perubahan iklim, menjaga ekosistem seperti mangrove menjadi semakin relevan. Ia membantu melindungi kawasan pesisir, menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati, mendukung kehidupan masyarakat, sekaligus menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, menjaga mangrove juga berarti melihat persoalan lingkungan secara lebih menyeluruh. Restorasi ekosistem perlu berjalan beriringan dengan pengurangan emisi, perlindungan habitat, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta perubahan pola konsumsi dan produksi. Menjaganya hari ini berarti menjaga kemampuan generasi mendatang untuk hidup di lingkungan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

5

Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial?

Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih dari separuh produk domestik bruto global diperkirakan bergantung, secara moderat maupun tinggi, pada alam dan jasa ekosistem yang dihasilkannya. Ketika biodiversitas menurun, rantai pasok, produktivitas, hingga akses pembiayaan perusahaan dapat ikut terganggu. Inilah sebabnya risiko biodiversitas kini semakin dipandang sebagai bagian nyata dari risiko finansial, bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan. Bagaimana Biodiversitas Terhubung dengan Kinerja Finansial? Hampir seluruh sektor usaha, mulai dari pertanian, perikanan, kehutanan, hingga manufaktur dan energi, bergantung pada jasa ekosistem seperti penyerbukan, ketersediaan air bersih, kesuburan tanah, dan kestabilan iklim mikro. Ketika ekosistem yang menopang jasa-jasa tersebut mengalami degradasi, dampaknya dapat langsung terasa dalam bentuk kenaikan biaya produksi, penurunan hasil panen, gangguan pasokan bahan baku, hingga meningkatnya biaya asuransi dan pembiayaan. Risiko ini disebut sebagai risiko fisik terkait alam (nature-related physical risk), yang secara langsung dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Bukan Hanya Risiko Fisik, Ada Juga Risiko Transisi dan Regulasi Selain risiko fisik, perusahaan juga menghadapi risiko transisi terkait alam, yaitu risiko yang muncul akibat perubahan kebijakan, regulasi, maupun preferensi pasar menuju praktik yang lebih ramah biodiversitas. Regulasi seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) mewajibkan produk yang masuk ke pasar Eropa, termasuk komoditas kelapa sawit, kopi, kakao, dan kayu, untuk dibuktikan bebas dari deforestasi. Di tingkat nasional, Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 turut mengukuhkan posisi biodiversitas dalam kerangka hukum karbon Indonesia. Perusahaan yang gagal beradaptasi terhadap perubahan regulasi semacam ini berisiko kehilangan akses pasar, menghadapi sanksi, atau mengalami penurunan valuasi akibat dianggap tidak siap secara sustainability. Mengenal Kerangka TNFD Untuk membantu perusahaan mengukur dan mengelola risiko ini, hadir kerangka Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD), yang terinspirasi dari kerangka pengungkapan risiko iklim TCFD. TNFD menyediakan metodologi bagi perusahaan dan lembaga keuangan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengungkapkan ketergantungan serta dampak operasional mereka terhadap alam, termasuk keanekaragaman hayati. Sejak diluncurkan penuh pada 2023, kerangka ini telah diadopsi oleh ratusan organisasi dan lembaga keuangan global, dan terus berkembang seiring meningkatnya tekanan regulasi serta ekspektasi pemangku kepentingan terhadap pengungkapan risiko terkait alam. Baca Juga : Hilangnya Mangrove di Cisadane, Ancaman Serius bagi Pesisir dan Biodiversitas Dampak Risiko Biodiversitas bagi Perusahaan Langkah yang Dapat Diambil Perusahaan Risiko biodiversitas bukan lagi sekadar isu lingkungan yang berjarak dari dunia usaha, melainkan risiko finansial nyata yang dapat mempengaruhi operasional, rantai pasok, reputasi, hingga akses pembiayaan perusahaan. Dengan semakin kuatnya dorongan regulasi seperti EUDR dan kerangka pengungkapan seperti TNFD, perusahaan yang proaktif mengintegrasikan risiko alam ke dalam strategi bisnis akan lebih siap menghadapi perubahan lanskap regulasi sekaligus menjaga keberlanjutan usahanya dalam jangka panjang. Mengidentifikasi dan mengelola risiko biodiversitas membutuhkan data lingkungan yang terintegrasi dan mudah dipantau. Satuplatform membantu perusahaan mengelola data ESG, memetakan risiko terkait alam, dan menyusun pelaporan keberlanjutan sesuai standar yang berlaku. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

7

Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya?

Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak pada bagaimana perusahaan menyusun strategi pembiayaan, memilih instrumen keuangan, hingga menyusun laporan keberlanjutan. Memahami perbedaan mendasar antara keduanya menjadi penting, terutama di tengah dorongan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang semakin mengarahkan sektor jasa keuangan Indonesia menuju praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Apa Itu Green Finance? Green finance atau keuangan hijau merujuk secara spesifik pada pembiayaan dan instrumen keuangan yang dialokasikan untuk kegiatan usaha berwawasan lingkungan, seperti energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, hingga konservasi alam. Contoh instrumen green finance yang umum dijumpai di Indonesia antara lain green bond atau obligasi hijau, yang diatur melalui POJK Nomor 60/POJK.04/2017, serta green loan atau kredit hijau yang disalurkan perbankan kepada debitur dengan proyek berbasis lingkungan. Fokus utama green finance adalah pada dimensi lingkungan (environmental) dari suatu kegiatan usaha. Apa Itu Sustainable Finance? Sustainable finance atau keuangan berkelanjutan memiliki cakupan yang lebih luas dibanding green finance. Berdasarkan definisi yang digunakan OJK, keuangan berkelanjutan merujuk pada dukungan menyeluruh dari sektor jasa keuangan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan kepentingan sosial dan lingkungan hidup. Artinya, sustainable finance tidak hanya mempertimbangkan aspek lingkungan, tetapi juga aspek sosial dan tata kelola (ESG) secara menyeluruh. Kerangka ini diatur melalui Peraturan OJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik, yang mewajibkan pelaku jasa keuangan menyusun Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB). Baca Juga : Green Finance and ESG Performance Perbedaan Utama Green Finance dan Sustainable Finance Mengapa Perbedaan Ini Penting bagi Perusahaan? Bagi perusahaan yang tengah menyusun strategi pembiayaan proyek berkelanjutan, memahami perbedaan ini membantu menentukan instrumen dan pendekatan yang tepat. Perusahaan yang fokus membiayai proyek lingkungan spesifik, misalnya pembangkit energi terbarukan, dapat memanfaatkan skema green finance seperti green bond. Sementara itu, perusahaan yang ingin mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola secara menyeluruh dalam strategi bisnis dan pelaporannya perlu mengacu pada kerangka sustainable finance yang lebih komprehensif, termasuk dalam penyusunan laporan keberlanjutan dan pengungkapan risiko ESG kepada investor maupun regulator. Green finance dapat dipahami sebagai bagian dari sustainable finance yang berfokus secara spesifik pada pembiayaan proyek ramah lingkungan, sementara sustainable finance mencakup pendekatan yang jauh lebih luas dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola secara menyeluruh. Bagi pelaku usaha dan lembaga keuangan di Indonesia, memahami perbedaan ini penting untuk menyusun strategi pembiayaan yang tepat sasaran sekaligus memenuhi ketentuan regulasi keuangan berkelanjutan yang terus berkembang. Baik untuk kebutuhan green finance maupun sustainable finance, penyusunan data dan pelaporan ESG yang akurat menjadi kunci keberhasilan strategi keberlanjutan perusahaan. Satuplatform membantu perusahaan mengelola data ESG, memantau kinerja keberlanjutan, dan menyusun laporan yang sesuai standar secara terintegrasi. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

1

Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri

Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset, hingga gangguan rantai pasok. Selama ini, penanganan banjir banyak mengandalkan infrastruktur abu-abu (grey infrastructure) seperti drainase, kanal, dan pompa air. Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan, terutama ketika curah hujan ekstrem makin sering terjadi akibat perubahan iklim. Di sinilah nature-based solutions (NbS) atau solusi berbasis alam hadir sebagai pendekatan komplementer yang semakin dilirik oleh sektor industri. Apa Itu Nature-Based Solutions? Nature-based solutions adalah pendekatan yang memanfaatkan fungsi dan proses ekosistem alami untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial, termasuk risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir. Berbeda dengan infrastruktur abu-abu yang bersifat struktural dan cenderung mengalihkan air secepat mungkin, NbS bekerja dengan meniru cara alam menyerap, menahan, dan mengalirkan air secara bertahap, sehingga risiko genangan dan luapan air dapat ditekan sekaligus memberi manfaat tambahan bagi ekosistem sekitar. Mengapa Kawasan Industri Perlu Mempertimbangkan NbS? Kawasan industri umumnya memiliki tutupan lahan keras yang luas berupa bangunan, jalan, dan area parkir, sehingga daya serap air ke dalam tanah menjadi sangat rendah. Ditambah dengan intensitas hujan ekstrem yang meningkat, risiko banjir di kawasan seperti ini menjadi lebih tinggi dibanding area dengan tutupan vegetasi yang memadai. Baca Juga : Agroforestry : A Nature-Based Climate Solution Penerapan NbS dapat menjadi strategi adaptasi yang menekan risiko tersebut, sekaligus mendukung komitmen keberlanjutan dan pengelolaan risiko iklim yang kini menjadi bagian penting dari penilaian ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan. Contoh Penerapan Nature-Based Solutions untuk Kawasan Industri Manfaat NbS bagi Industri, Bukan Hanya soal Banjir Tantangan dalam Penerapannya Meski menjanjikan, penerapan NbS di kawasan industri bukan tanpa tantangan. Diperlukan perencanaan tata ruang yang matang sejak awal, dukungan regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah, serta pemahaman bahwa manfaat NbS umumnya bersifat jangka menengah hingga panjang, bukan solusi instan. Kombinasi antara infrastruktur abu-abu dan solusi berbasis alam (hybrid approach) sering kali menjadi pendekatan paling realistis, di mana keduanya saling melengkapi dalam satu sistem pengelolaan risiko banjir yang terintegrasi. Nature-based solutions menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam mengurangi risiko banjir di kawasan industri, tanpa mengesampingkan peran infrastruktur konvensional yang sudah ada. Bagi perusahaan, investasi pada solusi berbasis alam bukan hanya langkah mitigasi risiko fisik, tetapi juga bagian dari strategi keberlanjutan dan tata kelola risiko iklim yang semakin menjadi perhatian investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya. Mengintegrasikan strategi mitigasi risiko iklim seperti nature-based solutions ke dalam pelaporan keberlanjutan perusahaan menjadi lebih mudah dengan dukungan platform digital yang tepat. Satuplatform membantu perusahaan mengelola data ESG, memantau kinerja keberlanjutan, dan menyusun pelaporan yang sesuai standar secara terintegrasi. Kunjungi satuplatform.com untuk informasi layanan lebih lanjut. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

3

Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang memperpanjang periode kering di berbagai wilayah Indonesia. Kejadian ini tidak hanya menghanguskan ratusan ribu hektare lahan, tetapi juga menimbulkan kabut asap tebal yang berdampak luas terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, bahkan hingga lintas negara. Bagi dunia usaha, dampak karhutla juga menjadi bagian penting dari risiko lingkungan yang perlu dikelola secara serius. Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus seperti PM2.5, gas karbon monoksida, serta berbagai senyawa polutan lain yang secara signifikan menurunkan kualitas udara ambien. Di sejumlah wilayah seperti Riau dan Kalimantan Selatan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat mencatat status berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru bahkan mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui ambang batas aman. Kondisi udara yang memburuk ini juga menurunkan jarak pandang, mengganggu aktivitas penerbangan, serta menyebar hingga ke wilayah tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat Paparan asap karhutla dalam konsentrasi tinggi berisiko besar terhadap sistem pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan jantung dan paru-paru. Kementerian Kesehatan mencatat adanya ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setiap minggunya akibat dampak karhutla pada musim kemarau tahun ini. Di beberapa daerah terdampak, angka kasus ISPA bahkan mencapai ribuan dalam satu wilayah kerja puskesmas saja. Pemerintah pun mengambil langkah antisipasi seperti penutupan sekolah sementara dan penerapan pembelajaran jarak jauh guna melindungi anak-anak dari paparan asap berkepanjangan. Baca Juga : Bagaimana Proyek Carbon Offsett Inovatif Melindungi Hutan, Lautan, dan Komunitas Dampak terhadap Lingkungan dan Ekosistem Mengapa Ini Penting bagi Dunia Usaha? Selain berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, karhutla juga membawa konsekuensi bagi keberlangsungan bisnis, mulai dari gangguan operasional akibat kualitas udara buruk, penurunan produktivitas pekerja, hingga risiko reputasi bagi perusahaan yang beroperasi di sekitar area rawan kebakaran, khususnya sektor perkebunan dan kehutanan. Risiko ini semakin relevan dalam konteks pelaporan keberlanjutan, karena pengelolaan risiko kebakaran lahan dan kualitas udara kini menjadi bagian dari indikator lingkungan dalam kerangka ESG (Environmental, Social, and Governance) yang dipantau investor dan regulator. Langkah Mitigasi yang Dapat Dilakukan Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar bencana musiman, melainkan risiko lingkungan dan kesehatan yang berdampak luas serta berpotensi lintas batas negara. Penurunan kualitas udara akibat karhutla mengancam kesehatan masyarakat, merusak ekosistem, sekaligus menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan bisnis di sektor yang berkaitan dengan lahan dan kehutanan. Pemantauan dini, pencegahan, serta pengelolaan risiko lingkungan yang terintegrasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak karhutla di masa mendatang. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

1

Satuplatform dan OJK Bahas Akselerasi Inovasi Generasi Baru melalui FGD “Accelerating the Next Generation of Innovators”

Perkembangan teknologi digital di Indonesia terus membuka peluang baru bagi startup untuk menciptakan solusi inovatif di berbagai sektor. Namun, pertumbuhan tersebut juga diiringi tantangan, mulai dari kesiapan model bisnis, tata kelola dan kepatuhan, hingga akses pasar, skalabilitas, dan integrasi dengan ekosistem yang lebih luas.  Dalam upaya memperkuat ekosistem inovasi digital nasional, Satuplatform turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) “Accelerating the Next Generation of Innovators” yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 23 Juli 2026 di OJK Infinity, Gedung Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta. Satuplatform tercatat sebagai salah satu startup yang diundang dalam forum tersebut bersama startup dan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) lainnya.  Mendorong Startup yang Inovatif dan Berkelanjutan FGD ini merupakan bagian dari kolaborasi OJK Fintech Startup/ITSK Accelerator dan OJK Infinity Accelerator. Kedua program tersebut dirancang untuk mendukung lahirnya startup dan ITSK yang inovatif, berdaya saing, serta mampu menghadapi dinamika industri dan perkembangan regulasi digital di Indonesia.  Melalui kegiatan ini, OJK mempertemukan startup, regulator, perusahaan teknologi, dan pelaku industri untuk bertukar wawasan mengenai perkembangan teknologi, peluang inovasi, serta strategi membangun bisnis yang mampu tumbuh secara berkelanjutan. Bagi Satuplatform, keterlibatan dalam forum ini menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif mengenai bagaimana accelerating technology startup tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kemampuan menciptakan nilai dan dampak yang berkelanjutan. “Scaling with Purpose” sebagai Fokus Diskusi “Bagi saya, scaling with purpose berarti memastikan bahwa pertumbuhan startup tidak hanya diukur dari seberapa cepat bisnis berkembang, tetapi juga dari seberapa besar nilai dan dampak positif yang dapat diciptakan. Teknologi seharusnya menjadi enabler untuk membangun solusi yang scalable, relevan dengan kebutuhan industri, dan tetap memiliki sustainability sebagai bagian dari pertumbuhan jangka panjang.” — Bunga Asih Praiwi (Event & Sustainability Partnership Manager, Satuplatform) Salah satu agenda utama dalam FGD adalah panel discussion bertajuk “Scaling with Purpose: Building High-Growth Startups that Create Lasting Impact.” Sesi ini membahas bagaimana startup dapat mengembangkan bisnis secara scalable tanpa kehilangan fokus terhadap penciptaan nilai dan dampak bagi masyarakat. Diskusi juga memberikan perspektif strategis mengenai inovasi yang relevan, pengembangan bisnis berkelanjutan, serta pentingnya kolaborasi antara startup dengan regulator dan pelaku industri.  Panel menghadirkan sejumlah praktisi dan pemimpin industri dengan pengalaman di bidang pengembangan bisnis, transformasi digital, fintech, blockchain, dan pengelolaan organisasi digital. Perspektif yang dibagikan mencakup bagaimana membangun produk berdasarkan permasalahan nyata, meningkatkan skalabilitas tanpa kehilangan dampak, memanfaatkan data untuk menentukan prioritas inovasi, hingga mengidentifikasi teknologi yang memiliki nilai bisnis nyata.  Pentingnya Kolaborasi dalam Ekosistem Digital Salah satu pesan penting dari FGD ini adalah bahwa pertumbuhan startup tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara regulator, pemerintah, startup, perusahaan teknologi, asosiasi, dan pelaku industri untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi. Baca Juga : Cara Melakukan Materiality Assessment untuk Laporan Keberlanjutan OJK juga menekankan bahwa forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman dan wawasan, tetapi dapat menjadi titik awal lahirnya kolaborasi strategis yang mendorong pertumbuhan startup yang inovatif, berkelanjutan, dan memberikan kontribusi nyata terhadap sektor jasa keuangan serta ekonomi digital Indonesia.  Dengan jumlah peserta sekitar 40 orang yang berasal dari 20 startup/ITSK dari berbagai program akselerasi dan ekosistem digital, forum ini juga menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi baru.  Satuplatform Terus Memperkuat Ekosistem Inovasi Sebagai perusahaan teknologi yang bergerak dalam solusi carbon management dan sustainability, Satuplatform melihat perkembangan teknologi sebagai bagian penting dalam mendorong transformasi bisnis yang lebih berkelanjutan. Keterlibatan dalam FGD bersama OJK menjadi momentum bagi Satuplatform untuk terus memperluas wawasan, membangun jejaring dengan berbagai stakeholder, serta memahami dinamika ekosistem teknologi dan inovasi di Indonesia. Lebih dari sekadar mengikuti perkembangan teknologi, Satuplatform berkomitmen untuk terus mengembangkan solusi yang dapat membantu perusahaan mengelola data karbon, ESG, dan sustainability secara lebih terukur. Ke depan, kolaborasi antara startup, regulator, dan pelaku industri menjadi semakin penting untuk memastikan inovasi teknologi tidak hanya menghasilkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga menciptakan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat dan ekosistem Indonesia. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Lingkungan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026, seiring munculnya fenomena El Nino yang kuat serta…

3

5 Ruang Terbuka Hijau di Jakarta Bebas Emisi

Jakarta identik dengan gedung tinggi, lalu lintas padat, dan aktivitas urban yang tidak pernah berhenti. Di tengah dinamika tersebut, ruang terbuka hijau (RTH) menjadi bagian penting dari kota yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat. Bagi para profesional yang sehari-hari berkutat dengan isu bisnis, sustainability, ESG, maupun lingkungan, keberadaan RTH dapat menjadi pengingat bahwa keberlanjutan juga perlu hadir dalam ruang hidup perkotaan. Namun, perlu diluruskan bahwa istilah “ruang bebas emisi karbon” dalam artikel ini lebih tepat dimaknai sebagai ruang yang mendorong aktivitas rendah emisi, bukan berarti lokasi tersebut benar-benar memiliki emisi karbon nol. Pengunjung tetap dapat menghasilkan emisi dari perjalanan menuju lokasi, konsumsi energi, maupun aktivitas lainnya. Lalu, di mana saja RTH di Jakarta yang menarik untuk dikunjungi? 1. Tebet Eco Park Tebet Eco Park merupakan salah satu contoh bagaimana ruang publik dapat dikembangkan dengan pendekatan ekologis sekaligus menjadi ruang interaksi masyarakat. Area ini memiliki berbagai ruang hijau dan fasilitas publik yang memungkinkan masyarakat beraktivitas, berolahraga, maupun sekadar menikmati suasana terbuka. Konsep eco park membuat kawasan ini menarik bagi masyarakat yang ingin mengambil jeda dari aktivitas perkotaan tanpa harus meninggalkan Jakarta. Tips rendah emisi: manfaatkan transportasi umum atau berjalan kaki/bersepeda jika memungkinkan untuk mengurangi emisi perjalanan. 2. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu Berada di kawasan Blok M, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu menawarkan kombinasi ruang hijau, ruang publik, dan aktivitas literasi. Lokasinya yang berada di kawasan yang terhubung dengan berbagai moda transportasi publik menjadikannya pilihan menarik bagi profesional yang ingin menikmati ruang terbuka tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Baca Juga : Manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Perkotaan Selain menjadi tempat bersantai, taman ini menunjukkan bagaimana ruang publik dapat mendukung gaya hidup urban yang lebih terhubung dengan transportasi publik. 3. Taman Menteng Terletak di pusat Jakarta, Taman Menteng menjadi salah satu ruang terbuka yang cukup populer untuk berolahraga dan bersantai. Keberadaan taman di tengah kawasan perkotaan menunjukkan pentingnya ruang hijau dalam menciptakan keseimbangan antara pembangunan, aktivitas ekonomi, dan kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik. Bagi profesional yang bekerja di sekitar pusat Jakarta, taman ini dapat menjadi pilihan untuk mengambil short break sekaligus menikmati ruang terbuka. 4. Taman Suropati Taman Suropati merupakan salah satu ruang hijau yang berada di kawasan Menteng. Pepohonan yang cukup rindang membuat taman ini terasa berbeda dari lingkungan perkotaan di sekitarnya. Ruang seperti ini memiliki fungsi penting dalam menghadirkan area hijau di tengah kawasan dengan aktivitas perkotaan yang tinggi. Menariknya, menikmati taman tidak harus selalu dikaitkan dengan aktivitas besar. Berjalan kaki, membaca, atau sekadar menghabiskan waktu di ruang hijau juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sadar terhadap lingkungan. 5. Hutan Kota GBK Hutan Kota GBK menawarkan pengalaman ruang hijau yang cukup unik karena berada di tengah kawasan bisnis dan aktivitas urban Jakarta. Kawasan ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk menikmati pepohonan dan area terbuka dengan latar gedung-gedung perkotaan. Bagi profesional, keberadaan ruang seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan kawasan urban dan ruang hijau tidak harus selalu menjadi dua hal yang berlawanan. Dengan perencanaan yang tepat, keduanya dapat hadir secara berdampingan. Ruang Terbuka Hijau dan Gaya Hidup Rendah Emisi Keberadaan ruang terbuka hijau memang tidak otomatis membuat sebuah kawasan menjadi zero carbon. Namun, RTH dapat menjadi bagian dari ekosistem kota yang lebih berkelanjutan. Selain menyediakan ruang hijau, taman kota dapat mendorong aktivitas berjalan kaki, bersepeda, interaksi sosial, hingga penggunaan transportasi publik ketika lokasinya terintegrasi dengan sistem mobilitas perkotaan. Dari perspektif sustainability, hal ini menarik karena pengurangan emisi tidak hanya berbicara mengenai teknologi atau industri. Pilihan mobilitas dan aktivitas sehari-hari masyarakat juga memiliki peran. Karena itu, jika ingin menikmati ruang bebas emisi karbon, kita juga perlu memperhatikan emisi dari perjalanan menuju lokasi. Memilih transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda ketika memungkinkan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi jejak karbon pribadi. Menjadikan Ruang Hijau sebagai Bagian dari Kota Berkelanjutan Ruang hijau merupakan salah satu elemen yang mendukung kualitas lingkungan perkotaan. Namun, dampak keberlanjutan sebuah kota membutuhkan lebih dari sekadar penambahan taman. Diperlukan integrasi antara ruang hijau, transportasi rendah emisi, pengelolaan sampah, efisiensi energi, tata kelola kota, dan pengukuran dampak lingkungan. Pada akhirnya, menikmati RTH bukan hanya tentang mencari tempat untuk melepas penat. Ini juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah kota berusaha menciptakan keseimbangan antara aktivitas ekonomi, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan terhadap …

5

10 Strategi Efisiensi Energi yang Bisa Mulai Diterapkan di Perusahaan

Efisiensi energi semakin menjadi bagian penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Bukan hanya karena dapat membantu menekan biaya operasional, tetapi juga karena penggunaan energi berkaitan langsung dengan emisi karbon, target ESG, dan upaya perusahaan menuju Net Zero Emission. Bagi ESG professional, memahami cara efisiensi energi bukan lagi sekadar persoalan teknis. Efisiensi energi perlu dilihat sebagai bagian dari strategi bisnis yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Lalu, apa saja strategi yang bisa mulai diterapkan perusahaan? 1. Lakukan Audit Energi Langkah pertama dalam meningkatkan efisiensi adalah mengetahui bagaimana energi digunakan. Audit energi dapat membantu perusahaan mengidentifikasi sumber konsumsi energi terbesar, peralatan yang boros energi, serta peluang penghematan. Data hasil audit dapat menjadi baseline untuk menentukan target efisiensi energi yang realistis. 2. Tetapkan Baseline dan Target Energi Setelah mengetahui kondisi awal, perusahaan perlu menetapkan energy baseline dan target pengurangan konsumsi energi. Misalnya, perusahaan dapat menetapkan target pengurangan intensitas energi per unit produksi atau per luas bangunan. Dengan target yang terukur, program konservasi energi dapat dievaluasi secara berkala. 3. Gunakan Lampu Hemat Energi Salah satu cara efisiensi energi yang relatif mudah diterapkan adalah mengganti lampu konvensional dengan LED. Selain memiliki konsumsi energi yang lebih rendah, LED umumnya memiliki usia pakai yang lebih panjang. Perusahaan juga dapat menggunakan sensor gerak atau timer pada area yang tidak membutuhkan pencahayaan sepanjang waktu. 4. Optimalkan Sistem HVAC Sistem heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) dapat menjadi salah satu pengguna energi terbesar, terutama pada gedung perkantoran dan fasilitas komersial. Pengaturan temperatur yang optimal, pemeliharaan rutin, pembersihan filter, serta penggunaan sistem kontrol otomatis dapat membantu mengurangi konsumsi energi tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna. 5. Tingkatkan Efisiensi Peralatan dan Mesin Peralatan produksi, motor, pompa, kompresor, dan mesin lainnya perlu dievaluasi berdasarkan konsumsi energinya. Baca Juga : Audit Energi dan Manajemen Emisi Metana: Peluang Efisiensi di Berbagai Industri Perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan peralatan berteknologi lebih efisien serta melakukan preventive maintenance secara berkala. Mesin yang tidak terawat dapat bekerja kurang optimal dan mengonsumsi energi lebih besar. 6. Kurangi Energi yang Terbuang Tidak semua energi yang digunakan perusahaan memberikan nilai tambah. Energi dapat terbuang ketika peralatan tetap menyala meskipun tidak digunakan. Penerapan kebijakan seperti switch off setelah jam operasional, pengaturan mode standby, dan penggunaan sistem otomatis dapat membantu mengurangi konsumsi energi yang tidak diperlukan. 7. Manfaatkan Energi Terbarukan Efisiensi energi dapat dikombinasikan dengan penggunaan sumber energi terbarukan. Salah satu opsi yang semakin banyak dipertimbangkan perusahaan adalah pemasangan panel surya atau solar photovoltaic (PV). Energi terbarukan tidak secara langsung menggantikan kebutuhan efisiensi. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan: perusahaan terlebih dahulu mengurangi konsumsi yang tidak perlu, kemudian memenuhi sebagian kebutuhan energi dengan sumber yang lebih rendah emisi. 8. Terapkan Energy Management System Perusahaan dengan aktivitas dan fasilitas yang kompleks membutuhkan sistem pengelolaan energi yang lebih terstruktur. Energy Management System (EMS) dapat membantu perusahaan menetapkan kebijakan, melakukan monitoring, mengidentifikasi peluang perbaikan, serta mengevaluasi performa energi secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuat konservasi energi tidak berhenti sebagai program satu kali, tetapi menjadi bagian dari proses operasional perusahaan. 9. Bangun Kesadaran Karyawan Teknologi saja tidak cukup. Perilaku karyawan juga berpengaruh terhadap konsumsi energi. Program edukasi dapat dilakukan melalui kampanye internal, pelatihan, pengingat di area kerja, hingga sistem penghargaan bagi unit yang berhasil mencapai target efisiensi. Perubahan sederhana seperti mematikan lampu, AC, komputer, atau peralatan ketika tidak digunakan dapat memberikan dampak jika dilakukan secara konsisten dalam skala besar. 10. Monitor Konsumsi Energi dan Emisi Secara Berkala Program efisiensi perlu didukung data. Perusahaan dapat melakukan monitoring konsumsi energi secara berkala berdasarkan lokasi, fasilitas, proses produksi, atau unit bisnis. Data konsumsi energi juga dapat digunakan untuk menghitung dampaknya terhadap emisi Scope 1 dan Scope 2, tergantung pada sumber energi yang digunakan. Dengan data yang terintegrasi, ESG professional dapat melihat hubungan antara konsumsi energi, biaya operasional, dan jejak karbon perusahaan. Efisiensi Energi Bukan Sekadar Menghemat Biaya Penerapan cara efisiensi energi sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai upaya mengurangi tagihan listrik. Bagi perusahaan, efisiensi energi dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih besar untuk meningkatkan daya saing dan kinerja keberlanjutan. Ketika konsumsi energi berhasil ditekan, perusahaan berpotensi mendapatkan manfaat berupa penghematan biaya, peningkatan efisiensi operasional, pengurangan emisi, dan peningkatan performa ESG. Karena itu, program konservasi energi perlu dirancang dengan pendekatan yang terukur. Perusahaan perlu mengetahui baseline, menetapkan target, melakukan monitoring, dan mengevaluasi hasilnya secara berkala. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, perhatian terhadap ekosistem pesisir semakin penting. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam… Mengapa Risiko Biodiversitas Bisa Menjadi Risiko Finansial? Selama ini, kerusakan keanekaragaman hayati atau biodiversitas kerap dipandang semata sebagai isu lingkungan yang jauh dari pertimbangan bisnis. Padahal, lebih… Green Finance vs Sustainable Finance: Apa Perbedaannya? Istilah green finance dan sustainable finance kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda. Kesalahpahaman ini bisa berdampak… Nature-Based Solutions untuk Mengurangi Risiko Banjir di Kawasan Industri Banjir menjadi salah satu risiko iklim yang paling sering mengganggu operasional kawasan industri, mulai dari terhentinya proses produksi, kerusakan aset,… Dampak Kebakaran Hutan …

7

Persetujuan Teknis Emisi: Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan?

Bagi perusahaan yang memiliki kegiatan dengan sumber emisi, pengendalian pencemaran udara bukan hanya persoalan teknis operasional. Perusahaan juga perlu memastikan kegiatan dan sistem pengendalian emisinya memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku. Salah satu instrumen yang perlu diperhatikan adalah Persetujuan Teknis Emisi. Dalam kerangka regulasi lingkungan di Indonesia, Persetujuan Teknis merupakan bagian dari mekanisme pemenuhan baku mutu dan pengendalian pencemaran lingkungan. Ketentuan mengenai tata cara penerbitannya diatur dalam Permen LHK No. 5 Tahun 2021, sementara kerangka perlindungan dan pengelolaan mutu udara diatur dalam PP No. 22 Tahun 2021.  Lalu, apa saja yang perlu dipersiapkan perusahaan? Apa Itu Persetujuan Teknis Emisi? Secara sederhana, Persetujuan Teknis Emisi merupakan persetujuan yang berkaitan dengan pemenuhan baku mutu emisi untuk kegiatan usaha tertentu. Persetujuan ini menjadi bagian dari pengendalian pencemaran lingkungan dan perlu disesuaikan dengan karakteristik kegiatan serta sumber emisi perusahaan. PP No. 22 Tahun 2021 mengatur bahwa baku mutu emisi dapat diterapkan pada sumber emisi tidak bergerak maupun sumber emisi bergerak, dengan mempertimbangkan karakteristik dan dampak emisinya.  Sementara itu, Permen LHK No. 5 Tahun 2021 mengatur tata cara penerbitan Persetujuan Teknis dan Surat Kelayakan Operasional (SLO) dalam bidang pengendalian pencemaran lingkungan.  1. Identifikasi Kegiatan dan Sumber Emisi Langkah pertama adalah memahami kegiatan perusahaan secara menyeluruh. Perusahaan perlu mengidentifikasi sumber emisi yang dihasilkan, termasuk sumber emisi tidak bergerak seperti boiler, genset, furnace, kiln, atau unit proses lainnya, sesuai karakteristik kegiatan. Baca Juga : Cara Menghitung Jejak Karbon Perusahaan: Panduan Lengkap untuk Memulai Pengukuran Emisi Identifikasi ini penting karena kebutuhan teknis dan baku mutu yang berlaku dapat berbeda berdasarkan jenis kegiatan dan sumber emisinya. 2. Tentukan Baku Mutu yang Berlaku Setelah sumber emisi teridentifikasi, perusahaan perlu menentukan baku mutu emisi yang relevan. Jangan sampai perusahaan menyiapkan dokumen teknis tanpa terlebih dahulu memastikan standar yang harus dipenuhi. Baku mutu dapat berkaitan dengan jenis industri, jenis sumber emisi, bahan bakar, teknologi proses, maupun parameter tertentu. Karena regulasi lingkungan dapat diperbarui, perusahaan juga perlu memastikan referensi yang digunakan merupakan ketentuan yang masih berlaku. 3. Siapkan Data Teknis Kegiatan Persiapan teknis emisi membutuhkan data yang menggambarkan kondisi aktual kegiatan perusahaan. Data yang perlu disiapkan dapat mencakup informasi mengenai proses produksi, kapasitas, bahan bakar, sumber emisi, karakteristik cerobong, peralatan pengendalian emisi, hingga parameter emisi yang relevan. Semakin baik kualitas data yang tersedia, semakin mudah perusahaan menyusun dokumen teknis yang menggambarkan kondisi sebenarnya. 4. Siapkan Kajian Teknis atau Dokumen Pemenuhan Standar Teknis Permen LHK No. 5 Tahun 2021 membedakan kebutuhan dokumen berdasarkan hasil penapisan dan ketentuan yang berlaku. Dalam kondisi tertentu diperlukan kajian teknis, sementara untuk kegiatan yang wajib memenuhi standar teknis dapat disusun dokumen pemenuhan standar teknis.  Kajian teknis antara lain memuat deskripsi kegiatan, rona awal lingkungan, desain sarana dan prasarana pengendalian emisi, prakiraan dampak, rencana pemantauan lingkungan, serta internalisasi biaya lingkungan.  Artinya, perusahaan perlu memastikan data dan informasi teknis yang digunakan benar-benar lengkap dan konsisten. 5. Evaluasi Sistem Pengendalian Emisi Perusahaan juga perlu memastikan bahwa sistem pengendalian emisi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan kegiatan. Hal ini dapat mencakup teknologi pengendalian, kapasitas peralatan, spesifikasi teknis, sistem operasi, hingga pemeliharaan. Tujuannya bukan sekadar memiliki alat pengendali emisi, tetapi memastikan sistem tersebut mampu mendukung pemenuhan baku mutu yang dipersyaratkan. 6. Siapkan Rencana Pemantauan Pengendalian emisi membutuhkan monitoring yang konsisten. Karena itu, perusahaan perlu memiliki rencana pemantauan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian emisi. Data hasil pemantauan juga penting bagi tim ESG dan Carbon Professional karena dapat menjadi bagian dari basis data lingkungan perusahaan. 7. Perhatikan Kompetensi SDM dan Sistem Manajemen Persetujuan Teknis tidak hanya berkaitan dengan spesifikasi teknis. Dalam ketentuannya, Persetujuan Teknis dapat memuat standar kompetensi sumber daya manusia, sistem manajemen lingkungan, dan periode waktu uji coba instalasi pengendali emisi.  Karena itu, perusahaan perlu memastikan terdapat personel yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang jelas dalam pengelolaan emisi. 8. Pastikan Data Emisi Terdokumentasi Bagi ESG professional dan Carbon Professional, satu hal yang tidak kalah penting adalah kualitas data. Data sumber emisi, hasil pemantauan, aktivitas operasional, bahan bakar, hingga kinerja peralatan pengendalian perlu terdokumentasi secara konsisten. Data yang rapi akan memudahkan perusahaan ketika melakukan evaluasi kepatuhan, audit lingkungan, maupun penyusunan laporan keberlanjutan. Persetujuan Teknis Emisi Bukan Sekadar Dokumen Kepatuhan Persiapan Persetujuan Teknis Emisi sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika perusahaan membutuhkan dokumen untuk memenuhi persyaratan regulasi. Bagi perusahaan yang serius membangun strategi lingkungan, data emisi dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan yang lebih luas. Data tersebut dapat membantu perusahaan memahami sumber emisi terbesar, mengevaluasi efektivitas teknologi pengendalian, serta menentukan peluang pengurangan emisi. Persiapan Persetujuan Teknis Emisi membutuhkan lebih dari sekadar pengumpulan dokumen administratif. Perusahaan perlu memahami kegiatan dan sumber emisinya, menentukan baku mutu yang relevan, menyiapkan data teknis, mengevaluasi sistem pengendalian, serta memiliki rencana pemantauan dan kompetensi SDM yang memadai. Pada akhirnya, persiapan teknis emisi yang baik bukan hanya membantu perusahaan memenuhi ketentuan lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi untuk mengelola dan meningkatkan kinerja lingkungan secara lebih terukur dan berkelanjutan. Dengan demikian, kepatuhan dapat berjalan beriringan dengan environmental performance improvement. Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional. Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis. Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi: Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3) ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan? Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan. Similar Article Sustainable dan Circular Fashion: Apa Perbedaan Keduanya? Industri fashion terus berkembang seiring perubahan tren dan kebutuhan konsumen. Namun, di balik pertumbuhannya, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan… Mangrove: Bukan Hanya Menjaga Benteng Pesisir Di tengah …