Eutrofikasi menjadi satu dari sekian rupa masalah pencemaran di wilayah perairan yang menjadi ancaman dan menimbulkan bahaya bagi ekosistem lingkungan.
Global Institute for Water Security, University of Saskatchewan mendefinisikan eutrofikasi sebagai sebuah proses kompleks yang diakibatkan oleh kelebihan muatan nutrisi dalam air, utamanya adalah nitrogen dan fosfor, yang merangsang pertumbuhan berlebih alga dan tanaman lainnya di dalam air.
Baca Juga: Mengenal Eutrofikasi, Ancaman terhadap Kesehatan Ekosistem Air
Pengkayaan nutrisi yang menyebabkan blooming algae ini erat kaitannya dengan peristiwa hipoksia dan anoksia di mana muncul “zona mati” akibat berkurangnya kadar oksigen dalam air. Kondisi ini tentunya dapat mengancam kehidupan bawah air dan membuat habitatnya hilang.
Eutrofikasi dapat mempengaruhi ekosistem air seperti danau, sungai, waduk, dan laut, yang dapat dideteksi melalui pengamatan dan identifikasi terhadap perubahan fisik, kimia, dan biologis yang khas.
Lalu apa saja tanda atau bukti yang menunjukkan suatu perairan terdampak eutrofikasi? Berikut adalah penjelasannya.
Table of Contents
Toggle1. Badan Air Mengalami Perubahan Warna
Terjadinya perubahan pada warna air sungai, danau, atau badan air lainnya menjadi salah satu tanda adanya indikasi eutrofik yang terjadi.

Meningkatnya pertumbuhan alga di dalam air yang disebabkan oleh meningkatnya kadar nutrisi dapat menyebabkan warna air berubah tampak hijau, biru-kehijauan, cokelat, atau bahkan merah.
Konsentrasi tinggi partikel organik dari alga dan bahan pengurai lainnya mempengaruhi penyerapan dan penyebaran cahaya, yang selanjutnya mengubah warna air dan mengurangi kejernihannya.
2. Wilayah Perairan Mengeluarkan Bau Tidak Sedap
Eutrofikasi umumnya disebabkan oleh limbah yang berasal dari aktivitas manusia, utamanya adalah limbah yang mengandung zat atau unsur kimia pencemar.
Dengan semakin banyaknya kadar zat kimia yang masuk ke dalam air, maka endapan atau kontaminasi zat tersebut bisa menjadi cukup serius mencemari perairan. Akibatnya, air bisa berbau busuk bahkan seperti telur busuk atau amonia.
Terjadinya proses penguraian bahan organik di dasar danau, terutama saat kadar oksigen rendah juga dapat menyebabkan air berbau tidak sedap. Ketika kadar oksigen dalam air rendah, bakteri di dasar danau akan menguraikan limbah organik seperti tumbuhan mati, bangkai ikan, dan sampah, yang dari proses ini dapat menghasilkan gas hidrogen sulfida (H2S).
3. Munculnya Lapisan Busa atau Lendir di Permukaan
Sungai yang berlendir dan berbusa biasanya merupakan indikasi adanya pencemaran limbah, baik limbah domestik maupun industri.
Limbah organik seperti minyak goreng, deterjen, dan sisa makanan, saat bercampur dengan air dan mengalami turbulensi, dapat menghasilkan busa. Selain itu, limbah industri yang mengandung zat kimia tertentu juga dapat menyebabkan busa yang biasanya bahkan dibarengi dengan timbulnya bau menyengat.
4. Gangguan pada Tumbuhan Air
Eutrofikasi biasanya menunjukkan gangguan berupa tumbuhnya tanaman air yang berlebihan, seperti eceng gondok atau teratai, yang menutupi permukaan air.
Di sisi lainnya, kurangnya cahaya karena alga berlebih juga dapat membuat tanaman lainnya mati. Situasi ini dapat merugikan kehidupan organisme yang ada di perairan tersebut.
5. Kematian Massal Ikan dan Fauna Air Lainnya
Zona mati di dalam air dari terjadinya eutrofikasi disebabkan oleh kurangnya kadar oksigen, disebut juga dengan hipoksia dan anoksia.
Kondisi ini dapat menyebabkan stresor sistem yang dahsyat yang menyebabkan matinya ikan-ikan, menghalangi sinar matahari, menurunkan kualitas air, mengkontaminasi pasokan air, dan menyebabkan pengasaman laut.
Apabila kualitas air menurun, sumbernya bisa jadi karena cahaya tidak dapat menembus ke dalam atau karena zat kimia yang mencemari perairan. Kondisi ini juga disebabkan oleh karena beberapa alga (terutama Cyanobacteria) menghasilkan toksin berbahaya.
Tentang Satuplatform
Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG management, carbon accounting, dan sustainability reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.
Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat:
- Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien
- Menghitung & mengelola emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi
- Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional
Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!
Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform.
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

