Lebih dari setengah wilayah daratan di bumi disebut terancam dilanda kekeringan permanen dalam jangka waktu puluhan tahun mendatang, menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Penelitian tersebut dikemukakan dalam sebuah laporan berjudul The Global Threat of Drying Lands: Regional and global aridity trends and future projections, yang dirilis oleh United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) dalam Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) di Riyadh, Arab Saudi, 9 Desember 2024 lalu.
Table of Contents
ToggleApa yang terjadi sebenarnya?
Tiga per Empat Daratan Bumi Alami Kekeringan

Dilansir dari laman kompas.com, selama 30 tahun terakhir sekitar 77,6 persen daratan di bumi mengalami kondisi yang sangat kering, melebihi kondisi terakhir yang pernah tercatat pada periode 3 dekade sebelumnya.
Kemudian, luas tanah yang mengering juga meningkat pesat selama periode tersebut. Melanda 4,3 juta kilometer persegi lahan atau sekitar 40,6 persen bagian dari seluruh daratan yang ada di bumi, luasnya ternyata lebih besar daripada luas India (tidak termasuk Antartika).
Jumlah orang yang tinggal di daerah kering juga meningkat jumlahnya, dari 1,2 miliar dalam tiga dekade lalu menjadi 2,3 miliar pada tahun 2020. Angka tersebut setara dengan 30,9 persen dari total seluruh penduduk bumi.
Ilmuwan memprediksi, apabila kondisi ini tidak kunjung membaik, maka akan ada sekitar 5 miliar orang yang hidup atau berusaha hidup di dataran kering pada akhir abad ini.
Penyebab Dibalik Terjadinya Kekeringan Tanah
Laporan dari United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) mengenai kekeringan daratan mengungkapkan berbagai penyebab utama yang berkontribusi terhadap masalah ini.
Para peneliti yang bergabung dalam UNCCD menyebut bahwa peningkatan dampak kekeringan ini, utamanya dapat dikaitkan dengan perubahan iklim yang saat ini terjadi.
Baca juga artikel lainnya : Pemanasan Global dan Suhu Dingin Ekstrem: Memahami Keterkaitannya
Peningkatan suhu global mengubah siklus air di banyak wilayah, meningkatkan risiko kekeringan, menyebabkan evaporasi yang lebih tinggi, mengurangi ketersediaan air di tanah. Perubahan pola curah hujan juga membuat beberapa wilayah mengalami musim kering yang lebih panjang dan hujan yang tidak menentu.
Deforestasi dan hilangnya vegetasi akibat penebangan hutan turut mengurangi kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air. Membuat tanah lebih cepat kering yang seharusnya menjaga kelembapan tanah.
Praktik pertanian yang tidak berkelanjutan juga membuat kondisi ini menjadi lebih ekstrem. Ditambah dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran dan polusi tanah dan air yang membuat lahan semakin sulit mempertahankan kelembapan.
Dampak Daratan yang Alami Kekeringan Ekstrem
Kekeringan yang melanda daratan bumi tentu meninggalkan dampak yang signifikan bagi banyak hal.
Dilansir dari earth.org, kelangkaan air akibat kekeringan, degradasi lahan, dan penggurunan, mengakibatkan tanah menjadi kurang subur, hilangnya produktivitas tanaman, menurunkan keanekaragaman hayati, dan menimbulkan degradasi ekosistem.
Penelitian UNCCD memperingatkan kekeringan lahan subur di bumi mendorong degradasi sistem pertanian terbesar di dunia.
Selain itu, lahan yang kering dan tandu juga rentan terhadap badai pasir dan debu serta meningkatkan potensi bencana kebakaran hutan. Kondisi ini dapat memberikan ancaman terhadap kesehatan dan sangat tidak ramah bagi manusia, hewan, juga tumbuhan.
Hal ini bisa mendorong migrasi penduduk ke wilayah lain karena kondisi lahan yang tidak layak huni. Diketahui bahwa daerah yang paling terdampak di antaranya mencakup hampir seluruh Eropa, Amerika Serikat bagian barat, Brasil, Asia Timur, dan Afrika Tengah.
Laporan UNCCD menekankan bahwa solusi berbasis alam, seperti restorasi lahan, penggunaan air yang lebih efisien, dan pengurangan emisi karbon, harus diterapkan segera untuk mencegah kekeringan lebih lanjut.
Tentang Satuplatform
Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG management, carbon accounting, dan sustainability reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.
Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat:
- Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien
- Menghitung & mengelola emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi
- Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional
Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!
Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform.
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

