Berdasarkan komitmen nasional untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2050, transisi energi dan dekarbonisasi berperan penting untuk percepatan percepatan dekarbonisasi. Bagi industri dan perusahaan publik yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional, penerapan strategi dekarbonisasi yang komprehensif transparan menjadi jalan untuk membantu akselerasi pencapaian target tersebut.
Jika dilakukan dengan tepat, terstruktur, dan terukur, implementasinya tidak hanya mengurangi risiko disrupsi yang lebih besar. Perusahaan justru dapat memastikan akses pasar yang lebih menguntungan di tengah regulasi dan tekanan dari berbagai arah yang terus berkembang.
Baca Juga : Peran Perusahaan dalam Mewujudkan Strategi Dekarbonisasi
Table of Contents
ToggleFondasi Strategi Dekarbonisasi
Dekarbonisasi adalah upaya sistematis untuk menghilangkan atau mengurangi emisi karbon hasil aktivitas manusia yang dilepaskan ke atmosfer. Berbeda dengan carbon neutrality, strategi ini berfokus pada penurunan intensitas karbon dari berbagai kegiatan (produksi energi, pembuatan barang, dan penyampaian layanan).
Metodenya adalah dengan cara mengganti sumber emisi utama, yaitu pembakaran bahan bakar fosil, dengan alternatif rendah atau tanpa karbon.
Bagi perusahaan, implementasi strategi ini melibatkan langkah-langkah terukur di seluruh aktivitas bisnis, termasuk di rantai pasok yang lebih luas untuk berkontribusi pada tujuan iklim global sambil mengelola risiko dan memanfaatkan peluang strategis.
Tujuan utama strategi ini adalah membangun ekonomi net-zero, yaitu menyeimbangkan emisi yang tersisa dengan jumlah yang dihilangkan, seperti melalui reforestasi atau penangkapan karbon. Dalam konteks ini, perusahaan didorong berkontribusi pada tujuan iklim global sekaligus memanfaatkan peluang dan mengelola risiko secara strategis.
Dalam prosesnya, perusahaan harus melakukan pengukuran emisi karbon yang lengkap (Scope1, 2, dan 3) dan ketat dengan mengacu pada GHG Protocol.
Pilar-Pilar Utama Strategi Dekarbonisasi
Strategi ini merupakan upaya strategis yang terhubung dengan aksi iklim lainnya, termasuk net-zero. Agar efektif, strategi pengurangan dan menghilangkan emisi karbon harus mencakup pilar-pilar utama. RoadMap 2050 menyebutkan 6 pilar utama, sedangkan studi IESR menjelaskan 5 pilar penting yang sejalan dengan pilar RoadMap 2050.
1. Peningkatan Efisiensi Energi dan Material
Peningkatan efisiensi adalah fondasi utama karena pengurangan konsumsi energi secara langsung menurunkan emisi dan biaya operasional perusahaan. Contohnya adalah peningkatan pada sistem pencahayaan, HVAC, dan peralatan, yang dapat memangkas pemborosan secara signifikan.
2. Elektrifikasi dan Pemanfaatan Energi Bersih
Mengurangi emisi karbon melalui peralihan penggunaan akhir (end-uses) ke listrik, seperti pada kendaraan atau sistem pemanas. Strategi ini efektif ketika didukung oleh penggunaan sumber energi terbarukan, seperti surya dan angin, untuk mengurangi intensitas karbon pada jaringan listrik
3. Penggunaan Bahan Bakar dan Material Bersih
Untuk sektor yang sulit melakukan dekarbonisasi pada emisi langsung, penggantian bahan bakar fosil dengan alternatif rendah karbon (seperti hidrogen hijau) merupakan langkah yang krusial. Pilar ini juga berlaku untuk material yang digunakan dalam proses produksi, seperti pemanfaatan material daur ulang yang lebih efisien.
4. Transformasi Proses Produksi
Pilar dekarbonisasi juga meluas hingga pada aspek cara perusahaan merancang produk dan prosesnya. Implikasinya melibatkan perancangan ulang operasional untuk menggunakan teknologi rendah karbon, yang mengurangi emisi di lokasi dan di seluruh rantai nilai.
5. Teknologi Penangkapan Karbon
Untuk emisi yang tidak dapat dihindari, teknologi CCUS menjadi strategi penting untuk mencapai tujuan net-zero. Teknologi ini memungkinkan emisi karbon ditangkap dari fasilitas dan disimpan atau digunakan kembali. Saat ini, adopsi CCUS masih membutuhkan biaya yang tinggi.
Langkah Konkret Strategi Dekarbonisasi bagi Emiten Bisnis

Implementasi strategi ini perlu perusahaan lakukan secara bertahap dan teliti. Setiap langkahnya harus mengacu dan didasari standar maupun kerangka kerja global yang telah disetujui.
1. Pengukuran Emisi dan Penetapan Target Berbasis Sains
Menetapkan target dekarbonisasi yang jelas dengan periode tertentu yang mengikat serta selaras dengan strategi iklim global (mengacu pada) Paris Agreement. Idealnya perusahaan mendefinisikan target iklim menggunakan SBTi terlebih dahulu. Kerangka ini menuntut perusahaan memiliki data emisi karbon mereka secara lengkap dalam versi terkini.
2. Pengurangan Emisi
Berdasarkan data emisi dan target, lakukan implementasi sesuai kebutuhan dan selaraskan dengan 5 pilar utama. Prioritaskan program pengurangan emisi dari emisi langsung. Kolaborasi dengan pemasok agar dapat melakukan program yang menyentuh rantai pasok.
3. Pelaporan dan Kepatuhan
Menyiapkan pelaporan emisi yang akurat (menggunakan GHG Protocol) dan transparan untuk memenuhi kerangka wajib (seperti EU CSRD) maupun sukarela (seperti TCFD).
4. Perbaikan
Lakukan pemantauan dan penilaian progres strategi menggunakan data. Sempurnakan strategi secara berkala agar dapat melakukan pengembangan skala dan memaksimalkan nilai baru dengan turut melibatkan pemangku kepentingan.
Memanfaatkan Layanan Komprehensif untuk Strategi Dekarbonisasi yang Tepat
Satuplatform hadir dengan layanan Carbon & Management untuk pemantauan dan pengelolaan emisi karbon yang mudah diakses, efisien, dan real-time sesuai dengan kebutuhan strategi ESG secara bertanggung jawab.
Layanan khusus ini menawarkan strategi yang lebih efektif dengan dukungan data-driven insights dan transparansi dalam memantau hasil emisi karbon dan data ESG secara real-time dan akurat serta berbagai fitur lengkap berikut ini:
- Carbon Accounting & Reduction (Scope 1, 2, 3)
- ESG Data Management
- Sustainability Report
- GHG Report
Rencanakan target dan aksi iklim yang dapat meningkatkan keunggulan bisnis Anda di masa mendatang bersama kami. Segera dapatkan informasi lebih lanjut tentang layanan kami melalui demo gratis.
Similar Article
Zero Waste sebagai Strategi Efisiensi Operasional, Untuk Kurangi Emisi Karbon
Zero waste sering dipandang sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan yang berdiri sendiri, terpisah dari operasional inti bisnis. Padahal, jika…
Cara Melakukan Materiality Assessment untuk Laporan Keberlanjutan
Banyak perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dengan memasukkan semua isu ESG yang bisa dipikirkan, mulai dari emisi karbon sampai kesejahteraan karyawan.…
Panduan Lengkap POJK 51: Siapa Wajib Lapor dan Sanksinya
Sejak beberapa tahun terakhir, laporan keberlanjutan bukan lagi dokumen tambahan yang boleh ada atau tidak. Bagi banyak perusahaan di Indonesia,…
Panduan Dasar Green Bond di Indonesia
Kebutuhan pendanaan untuk proyek ramah lingkungan terus meningkat, mulai dari energi terbarukan, transportasi rendah emisi, hingga pengelolaan limbah yang lebih…
Proyek Karbon di Sistem Registri Unit Karbon (SRUK)
Proyek karbon di Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) menjadi salah satu topik yang semakin penting bagi perusahaan, pengembang proyek, dan…
Panduan Persiapan Penyusunan Sustainability Report
Mengapa Sustainability Report Menjadi Kebutuhan Perusahaan? Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sustainability report…

