Tahukah Anda bahwa sektor agrikultur merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia? Dengan kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan seiring pertumbuhan penduduk, sektor ini harus bergerak cepat menerapkan praktik rendah karbon yang dapat menurunkan emisi sekaligus memperkuat ketahanan sistem pangan nasional.
Pemerintah Indonesia telah menempatkan sektor agrikultur sebagai prioritas dalam roadmap pencapaian Net Zero Emission 2060/2070. Namun, percepatan implementasi strategi dekarbonisasi pada sektor ini memerlukan dukungan teknologi, pembiayaan, dan kapasitas sumber daya manusia yang memadai, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Baca Juga: Peran Perusahaan dalam Mewujudkan Strategi Dekarbonisasi
Table of Contents
ToggleProfil Emisi Karbon dan Tantangan pada Strategi Dekarbonisasi Sektor Agrikultur Indonesia
Sektor agrikultur di Indonesia menghadapi tantangan kompleks dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) karena tipe emisi yang dihasilkan cukup beragam. Emiten bisnis perlu memahami apa saja jenis emisi dan sumbernya sebagai berikut.
Kontribusi Emisi GRK Sektor Agrikultur
- Penanaman padi sawah menyumbang sekitar 69% dari total emisi sektor agrikultur, utamanya dari emisi metana yang dilepaskan selama proses anaerobik pada lahan sawah terendam.
- Fermentasi enterik pada ternak menyumbang sekitar 28% emisi sektor pertanian, merupakan proses pencernaan dengan pelepasan metana dari hewan ruminansia seperti sapi dan kambing.
- Sementara proses pencernaan ternak (12%) dan kotoran ternak (14%) berupa metana dan nitrous oxide dari limbah organik.
Tantangan dalam Implementasi Strategi Dekarbonisasi Sektor Agrikultur
Besarnya emisi karbon dari sektor ini juga disertai dengan tantangan teknis untuk melakukan dekarbonisasi. Tantangan tersebut timbul dari berbagai aspek berikut.
1. Deforestasi dan Alih Guna Lahan
- Konversi hutan, terutama lahan gambut, menjadi lahan pertanian dan perkebunan kelapa sawit melepaskan cadangan karbon besar dan menambah emisi nasional secara signifikan.
- Praktik alih guna lahan juga mengancam keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem penting yang berperan dalam penyerapan karbon.
2. Keterbatasan Teknologi dan Infrastruktur
- Akses ke teknologi rendah karbon dan data terkait pengelolaan emisi masih sangat terbatas, khususnya untuk petani skala kecil.
- Infrastruktur pendukung pertanian cerdas (smart-farming) dan rendah emisi masih belum merata sehingga memperlambat adopsi praktik berkelanjutan.
3. Dampak Perubahan Iklim
Ketidakpastian pola cuaca seperti siklus El Niño dan La Niña meningkatkan risiko gagal panen, banjir, dan serangan hama yang makin sering terjadi. Dampak perubahan iklim ini tidak hanya mempengaruhi produksi pangan tetapi juga kesejahteraan dan pendapatan petani, dan turut mendisrupsi ketersediaan bahan baku dan rantai pasok yang stabil.
4. Permintaan Pangan yang Bertambah
Peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi makanan, khususnya beras dan produk ternak, menambah tekanan untuk peningkatan produksi, sekaligus memperbesar emisi GRK jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
5. Keterbatasan Kebijakan dan Dukungan
Rumitnya regulasi dan kurangnya insentif efektif menjadi penghambat bagi pertumbuhan sektor agrikultur rendah karbon. Oleh sebab itu, green financing atau pembiayaan hijau sangat dibutuhkan untuk menguatkan kapasitas petani dan penyederhanaan prosedur subsidi serta percepatan dekarbonisasi.
Strategi Mitigasi dan Dekarbonisasi Sektor Agrikultur

Kunci mitigasi dan strategi dekarbonisasi di sektor agrikultur terletak pada pengembangan teknologi dan praktik pertanian rendah karbon yang meliputi sejumlah praktik berikut.
1. Pertanian Regeneratif
Melakukan konservasi tanah dan air, penerapan rotasi tanaman, serta agroforestry untuk menjaga dan meningkatkan penyerapan karbon serta kesehatan lahan.
2. Biochar
Mengaplikasikan biochar sebagai amandemen tanah dapat menyimpan karbon lebih lama di dalam tanah dan memperbaiki kesuburan serta retensi air.
3. Methane Capture
Teknologi penangkapan metana pada fermentasi enterik ternak dan pengelolaan limbah ternak mengurangi emisi metana sekaligus menghasilkan biogas sebagai energi terbarukan.
3. Precision Agriculture
Pemanfaatan sensor, IoT, dan AI untuk mengoptimalkan penggunaan input seperti pupuk dan irigasi dan menekan pemborosan dan emisi.
4. Pertanian Organik
Menerapkan sistem budidaya tanpa bahan kimia sintetis, menggunakan pupuk alami dan teknik pengendalian hama ramah lingkungan yang menurunkan ketergantungan energi fosil. Pendekatan ini juga akan meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah secara alami.
5. Manajemen Pupuk dan Limbah Efisien
Penggunaan pupuk secara tepat dosis dan waktu, serta pengolahan limbah organik melalui composting dan penggunaan biodigester, dapat meminimalkan emisi nitrous oxide dan meningkatkan efisiensi sumber daya.
Strategi-strategi ini telah diterapkan di beberapa daerah agraris utama di Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara dan Jawa Tengah, dengan hasil yang menunjukkan pengurangan emisi signifikan dan peningkatan produktivitas pertanian.
Dampak dan Sinergi Praktik Pertanian Rendah Karbon pada Strategi Dekarbonisasi Nasional
Penerapan praktik pertanian rendah karbon dalam strategi dekarbonisasi perusahaan pada sektor agrikultur berkontribusi dalam menurunkan emisi karbon nasional. Di samping itu, implementasinya juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terkait pangan berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim.
Kebijakan pendukung dan kemitraan strategis koperasi petani, pelaku agritech, akademisi, sektor swasta, dan donor internasional memperkuat inovasi dan transfer teknologi hijau untuk membangun ekosistem bisnis pertanian berkelanjutan. Kembangkan pemantauan dan dan pengelolaan emisi GRK spesifik sektor agrikultur perusahaan Anda dengan layanan teknologi berbasis data Satuplatform yang mendukung transparansi dan akurasi laporan keberlanjutan. Dapatkan informasi lebih lanjut terkait layanan kami melalui demo gratis dan mulai strategi dekarbonisasi yang menyeluruh.
Similar Article
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…
Berapa Banyak Emisi Karbon yang Dilepas Saat Karhutla?
Setiap musim kemarau, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu menjadi berita utama di Indonesia mulai dari kabut asap…
Erupsi Gunung Berapi vs Emisi Industri Mempengaruhi Laporan ESG dan Carbon Footprint?
Ketika Gunung Lewotobi atau Merapi meletus dan menutupi langit dengan abu vulkanik, reaksi publik biasanya tertuju pada evakuasi dan kualitas…
Tren Lari dan Perubahan Iklim: Ketika Cuaca Ekstrem Mengancam Hobi Baru
Trend lari berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya komunitas lari, berbagai ajang marathon,…
Mengenal 3 Desa di Indonesia yang Mulai Menerapkan Transisi Energi
Transisi energi sering dipahami sebagai proyek besar dengan investasi triliunan rupiah, seperti pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan atau infrastruktur berskala…

