10 Strategi Efisiensi Energi yang Bisa Mulai Diterapkan di Perusahaan

Efisiensi energi semakin menjadi bagian penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Bukan hanya karena dapat membantu menekan biaya operasional, tetapi juga karena penggunaan energi berkaitan langsung dengan emisi karbon, target ESG, dan upaya perusahaan menuju Net Zero Emission.

Bagi ESG professional, memahami cara efisiensi energi bukan lagi sekadar persoalan teknis. Efisiensi energi perlu dilihat sebagai bagian dari strategi bisnis yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Lalu, apa saja strategi yang bisa mulai diterapkan perusahaan?

1. Lakukan Audit Energi

Langkah pertama dalam meningkatkan efisiensi adalah mengetahui bagaimana energi digunakan. Audit energi dapat membantu perusahaan mengidentifikasi sumber konsumsi energi terbesar, peralatan yang boros energi, serta peluang penghematan.

Data hasil audit dapat menjadi baseline untuk menentukan target efisiensi energi yang realistis.

2. Tetapkan Baseline dan Target Energi

Setelah mengetahui kondisi awal, perusahaan perlu menetapkan energy baseline dan target pengurangan konsumsi energi.

Misalnya, perusahaan dapat menetapkan target pengurangan intensitas energi per unit produksi atau per luas bangunan. Dengan target yang terukur, program konservasi energi dapat dievaluasi secara berkala.

3. Gunakan Lampu Hemat Energi

Salah satu cara efisiensi energi yang relatif mudah diterapkan adalah mengganti lampu konvensional dengan LED.

Selain memiliki konsumsi energi yang lebih rendah, LED umumnya memiliki usia pakai yang lebih panjang. Perusahaan juga dapat menggunakan sensor gerak atau timer pada area yang tidak membutuhkan pencahayaan sepanjang waktu.

4. Optimalkan Sistem HVAC

Sistem heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) dapat menjadi salah satu pengguna energi terbesar, terutama pada gedung perkantoran dan fasilitas komersial.

Pengaturan temperatur yang optimal, pemeliharaan rutin, pembersihan filter, serta penggunaan sistem kontrol otomatis dapat membantu mengurangi konsumsi energi tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna.

5. Tingkatkan Efisiensi Peralatan dan Mesin

Peralatan produksi, motor, pompa, kompresor, dan mesin lainnya perlu dievaluasi berdasarkan konsumsi energinya.

Perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan peralatan berteknologi lebih efisien serta melakukan preventive maintenance secara berkala. Mesin yang tidak terawat dapat bekerja kurang optimal dan mengonsumsi energi lebih besar.

6. Kurangi Energi yang Terbuang

Tidak semua energi yang digunakan perusahaan memberikan nilai tambah. Energi dapat terbuang ketika peralatan tetap menyala meskipun tidak digunakan.

Penerapan kebijakan seperti switch off setelah jam operasional, pengaturan mode standby, dan penggunaan sistem otomatis dapat membantu mengurangi konsumsi energi yang tidak diperlukan.

7. Manfaatkan Energi Terbarukan

Efisiensi energi dapat dikombinasikan dengan penggunaan sumber energi terbarukan. Salah satu opsi yang semakin banyak dipertimbangkan perusahaan adalah pemasangan panel surya atau solar photovoltaic (PV).

Energi terbarukan tidak secara langsung menggantikan kebutuhan efisiensi. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan: perusahaan terlebih dahulu mengurangi konsumsi yang tidak perlu, kemudian memenuhi sebagian kebutuhan energi dengan sumber yang lebih rendah emisi.

8. Terapkan Energy Management System

Perusahaan dengan aktivitas dan fasilitas yang kompleks membutuhkan sistem pengelolaan energi yang lebih terstruktur.

Energy Management System (EMS) dapat membantu perusahaan menetapkan kebijakan, melakukan monitoring, mengidentifikasi peluang perbaikan, serta mengevaluasi performa energi secara berkelanjutan.

Pendekatan ini membuat konservasi energi tidak berhenti sebagai program satu kali, tetapi menjadi bagian dari proses operasional perusahaan.

9. Bangun Kesadaran Karyawan

Teknologi saja tidak cukup. Perilaku karyawan juga berpengaruh terhadap konsumsi energi.

Program edukasi dapat dilakukan melalui kampanye internal, pelatihan, pengingat di area kerja, hingga sistem penghargaan bagi unit yang berhasil mencapai target efisiensi.

Perubahan sederhana seperti mematikan lampu, AC, komputer, atau peralatan ketika tidak digunakan dapat memberikan dampak jika dilakukan secara konsisten dalam skala besar.

10. Monitor Konsumsi Energi dan Emisi Secara Berkala

Program efisiensi perlu didukung data. Perusahaan dapat melakukan monitoring konsumsi energi secara berkala berdasarkan lokasi, fasilitas, proses produksi, atau unit bisnis.

Data konsumsi energi juga dapat digunakan untuk menghitung dampaknya terhadap emisi Scope 1 dan Scope 2, tergantung pada sumber energi yang digunakan.

Dengan data yang terintegrasi, ESG professional dapat melihat hubungan antara konsumsi energi, biaya operasional, dan jejak karbon perusahaan.

Efisiensi Energi Bukan Sekadar Menghemat Biaya

Penerapan cara efisiensi energi sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai upaya mengurangi tagihan listrik. Bagi perusahaan, efisiensi energi dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih besar untuk meningkatkan daya saing dan kinerja keberlanjutan.

Ketika konsumsi energi berhasil ditekan, perusahaan berpotensi mendapatkan manfaat berupa penghematan biaya, peningkatan efisiensi operasional, pengurangan emisi, dan peningkatan performa ESG.

Karena itu, program konservasi energi perlu dirancang dengan pendekatan yang terukur. Perusahaan perlu mengetahui baseline, menetapkan target, melakukan monitoring, dan mengevaluasi hasilnya secara berkala.