Perubahan iklim dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan membuat green jobs semakin mendapat perhatian. Perkembangan energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, hingga pembangunan ramah lingkungan menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan baru.
Apa Itu Green Jobs?
Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan, green jobs berkaitan dengan pekerjaan yang meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku, mengurangi emisi gas rumah kaca, meminimalkan limbah dan polusi, melindungi ekosistem, serta mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim. Artinya, green jobs merupakan pekerjaan yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. Green jobs tidak terbatas pada pekerjaan di perusahaan energi terbarukan. Bidangnya dapat mencakup berbagai sektor, seperti:
- Energi terbarukan, termasuk tenaga surya, air, angin, dan biomassa.
- Pengelolaan limbah dan daur ulang.
- Pertanian berkelanjutan dan pertanian organik.
- Transportasi berkelanjutan.
- Konstruksi dan bangunan ramah lingkungan.
- Manufaktur dengan proses produksi yang lebih efisien.
- Kehutanan dan pengelolaan ekosistem.
- Pariwisata berkelanjutan.
Dengan cakupan tersebut, green jobs sebenarnya memiliki hubungan yang erat dengan transformasi ekonomi secara keseluruhan.
Mengapa Green Jobs Berpotensi Menjadi Investasi Masa Depan?
1. Transisi energi menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru
Peralihan dari energi berbasis fosil menuju energi yang lebih bersih membutuhkan pembangunan infrastruktur, pengoperasian teknologi, pemeliharaan fasilitas, hingga penelitian dan pengembangan. Artinya, transisi energi tidak hanya menciptakan peluang investasi pada pembangkit energi terbarukan. Di belakangnya terdapat kebutuhan terhadap tenaga kerja yang mampu merancang, memasang, mengoperasikan, dan merawat teknologi tersebut. Hal ini membuat sektor energi menjadi salah satu area penting dalam perkembangan green jobs.
2. Green jobs hadir di banyak sektor
Salah satu keunggulan green jobs adalah sifatnya yang lintas sektor. Pekerjaan hijau tidak hanya berada di industri energi. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, peta okupasi green jobs di Indonesia mencakup sejumlah area, antara lain lintas sektor, pertanian, manufaktur, konstruksi, jasa atau pariwisata, serta energi terbarukan. Dengan demikian, seseorang tidak harus bekerja sebagai teknisi panel surya untuk masuk ke ekosistem green jobs. Profesi di bidang manajemen, teknologi informasi, keuangan, pemasaran, riset, konstruksi, hingga sumber daya manusia juga dapat berkontribusi terhadap ekonomi hijau apabila mendukung proses dan produk yang berkelanjutan.
3. Kebutuhan terhadap tenaga kerja hijau semakin berkembang
Transformasi menuju ekonomi hijau akan mengubah kebutuhan industri terhadap kompetensi tenaga kerja. Perusahaan tidak hanya membutuhkan pekerja yang memahami pekerjaan konvensional, tetapi juga tenaga kerja yang mampu menggunakan teknologi, mengoptimalkan sumber daya, meningkatkan efisiensi energi, mengurangi limbah, dan memahami prinsip keberlanjutan. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menempatkan pengembangan kompetensi sebagai bagian penting dalam penerapan green jobs. Strateginya antara lain mencakup penyusunan standar kompetensi kerja, skema kompetensi, serta program dan modul pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja hijau.
Green Jobs Bukan Hanya Soal Menjaga Lingkungan
Salah satu kesalahpahaman tentang green jobs adalah menganggapnya semata-mata sebagai pekerjaan untuk menyelamatkan lingkungan. Padahal, konsep green jobs menggabungkan kepentingan lingkungan dan ekonomi. Green jobs diharapkan mampu menciptakan penghasilan bagi pekerja sekaligus mendorong kegiatan ekonomi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan kata lain, green jobs dapat menjadi salah satu jembatan antara kebutuhan menciptakan lapangan kerja dan kebutuhan mengurangi dampak lingkungan. Kementerian Ketenagakerjaan juga menyebut green jobs sebagai bagian dari upaya menciptakan perekonomian yang lebih berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Indonesia Memiliki Peluang Besar Mengembangkan Green Jobs
Indonesia memiliki modal penting untuk mengembangkan green jobs, mulai dari sumber daya energi terbarukan hingga keanekaragaman hayati. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan berbagai jenis pekerjaan. Di sektor energi, misalnya, tenaga surya, tenaga air, angin, dan biomassa dapat menciptakan kebutuhan tenaga kerja dari tahap pembangunan infrastruktur hingga pengoperasian dan pemeliharaan.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan pariwisata juga memiliki peluang untuk berkembang melalui pendekatan yang lebih berkelanjutan. Pertanian organik, pengelolaan hutan lestari, dan pariwisata berkelanjutan merupakan beberapa contoh yang disebut dalam kajian Kementerian Ketenagakerjaan. Peluang tersebut menjadi semakin penting ketika dunia bergerak menuju ekonomi rendah karbon.
Tantangan Green Jobs di Indonesia
Kesenjangan keterampilan
Salah satu tantangan utama adalah kesesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat masih terdapat persoalan dalam kesiapan pendidikan dan pelatihan teknis serta vokasional atau TVET untuk memenuhi kebutuhan green jobs. Kurikulum, fasilitas, teknologi, dan keterampilan yang diajarkan perlu terus disesuaikan dengan perubahan kebutuhan industri hijau. Senta Jika kebutuhan industri berkembang lebih cepat daripada kemampuan tenaga kerja, peluang green jobs justru berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pekerja Indonesia.
Kurangnya pemahaman tentang green jobs
Tantangan lainnya adalah masih perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai green jobs. Green jobs memiliki cakupan luas sehingga pencari kerja perlu mengetahui sektor apa saja yang berkembang, kompetensi apa yang dibutuhkan, serta jalur pendidikan atau pelatihan yang dapat ditempuh. Informasi karier menjadi penting agar pencari kerja tidak hanya mengetahui bahwa green jobs sedang berkembang, tetapi juga memahami bagaimana cara masuk ke sektor tersebut.
Membutuhkan kolaborasi berbagai pihak
Pengembangan green jobs tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja. Dunia pendidikan, industri, pemerintah daerah, lembaga pelatihan, pencari kerja, dan masyarakat perlu bekerja sama. Pemerintah dapat menyusun kebijakan dan standar kompetensi, sementara industri memberikan gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja dan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan. Kemnaker juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan perusahaan, industri, dan institusi pendidikan dalam memperkuat pelatihan vokasi untuk lapangan kerja hijau.
Bagaimana Cara Mempersiapkan Diri untuk Green Jobs?
- Pelajari sektor yang berkembang.
Cari tau dan kenali bidang seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, pengelolaan limbah, konstruksi hijau, pertanian berkelanjutan, dan teknologi lingkungan.
- Tingkatkan keterampilan teknis.
Pilih pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan, jika memungkinkan, dapatkan sertifikasi kompetensi.
- Kembangkan keterampilan digital.
Transformasi ekonomi hijau juga berjalan bersamaan dengan perkembangan teknologi digital. Karena itu, kemampuan digital dapat menjadi nilai tambah.
- Pahami prinsip keberlanjutan.
Pengetahuan mengenai efisiensi energi, pengelolaan limbah, emisi, dan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan semakin relevan bagi berbagai profesi.
- Ikuti perkembangan kebutuhan industri.
Green jobs adalah bidang yang terus berkembang. Kompetensi yang dibutuhkan beberapa tahun ke depan dapat berbeda dari kebutuhan saat ini. Terus berkembang dan belajar menjadi sebuah keharusan untuk bisa bertahan dan beradptasi.
