2

5 Rekomendasi Komoditas UMKM di Era Ekonomi Hijau

Inisiatif negara untuk melakukan transformasi menuju ekonomi hijau (green economy) bukan lagi sekadar angan-angan. Di tengah tekanan dari perubahan iklim, regulasi internasional, dan preferensi konsumen yang semakin sadar lingkungan, maka  semua sektor harus beradaptasi, termasuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).  Dalam hal ini, era ekonomi hijau hadir dengan menawarkan peluang baru yang dapat dioptimalkan oleh UMKM Indonesia, terutama dalam pengembangan komoditas berbasis keberlanjutan. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang menekankan volume produksi dan efisiensi biaya semata, industri hijau mengedepankan prinsip ekonomi sirkular, penggunaan sumber daya terbarukan, dan produk ramah lingkungan.  Berikut adalah 5 rekomendasi komoditas unggulan yang dapat dikembangkan dalam menyongsong UMKM di era ekonomi hijau. Mari simak! Baca juga artikel lainnya : Menekan Dampak Jejak Karbon: Panduan bagi Perusahaan di Indonesia #1 Produk Olahan Limbah Sekilas, mendengar kata limbah maka sebagian besar orang akan berpikir mengenai sampah dan berbagai barang yang tidak bernilai guna lagi. Namun, sebetulnya masih banyak limbah yang justru bisa dibuat menjadi bahan baku bernilai ekonomis yang tinggi. Terutama di era ekonomi sirkular, pemanfaatan limbah sangat di-encourage untuk mendukung aspek keberlanjutan lingkungan (sustainability). Dalam hal ini, UMKM dapat mengolah limbah rumah tangga, limbah pertanian, atau limbah industri menjadi produk fungsional yang estetis dan bernilai guna. Beberapa contoh pengembangan produk yang berasal dari limbah adalah seperti: Pada akhirnya, produk daur ulang dapat menjadi daya tarik sendiri bagi para konsumen yang peduli lingkungan, terutama di pasar ekspor seperti Eropa dan Jepang yang mensyaratkan eco-labeling dan low-carbon footprint. #2 Produk Pertanian Organik dan Agroforestri Komoditas UMKM berikutnya yang memiliki peluang bagus di era ekonomi hijau adalah produk pertanian organik dan agroforestri. Faktanya, pertanian organik bukan hanya lebih sehat dan bebas pestisida, tetapi juga menyumbang lebih sedikit emisi gas rumah kaca dibandingkan metode pertanian konvensional. Selain itu, praktik agroforestri yang dilakukan dengan kombinasi pertanian dan kehutanan, dapat meningkatkan kesuburan tanah dan menyerap karbon dari atmosfer. Produk pertanian organik dari metode agroforestri tersebut memiliki nilai tersendiri ketika masuk ke pasar (market), terutama di tengah konsumen yang semakin sadar akan isu keberlanjutan. Secara lebih khusus, pertanian organik kini memiliki pasar premium di dalam dan luar negeri. UMKM bisa menjangkau supermarket, hotel, hingga pasar ekspor dengan sertifikasi organik dan jejak karbon rendah. #3 Fashion Berkelanjutan Di era ekonomi hijau, UMKM juga dapat merambah ke industri fashion. Faktanya, industri fashion memang merupakan salah satu penyumbang limbah dan polusi terbesar di dunia sehingga meningkatkan inisiatif “slow fashion”. Kondisi ini membuka peluang bagi UMKM di sektor tekstil dan kerajinan untuk menawarkan produk berbasis serat alami, pewarna alami, dan proses produksi rendah emisi.Dari segi market, biasanya konsumen yang peduli terhadap isu sustainability akan memilih pakaian yang tahan lama, etis, dan ramah lingkungan. Produk tekstil ramah lingkungan memiliki nilai jual lebih tinggi dan sangat diminati. Bahkan, beberapa platform e-commerce global memiliki kategori khusus untuk produk sustainable fashion. #4 Produk Skincare Alami Produk kosmetik dan perawatan tubuh berbahan alami kini semakin populer seiring dengan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Ini menjadi peluang besar bagi UMKM untuk mengembangkan produk dari kekayaan lokal Indonesia, seperti minyak kelapa, minyak atsiri, rempah-rempah, hingga tanaman obat.  Di samping itu, sabun dan sampo herbal tanpa sulfat dan paraben, body butter dari minyak kelapa dan shea butter lokal, akan menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi konsumen di kota-kota besar yang kesulitan menemukan produk skincare alami. Tren global juga semakin mendukung produk kecantikan yang cruelty-free, organik, dan zero waste. Konsumen saat ini lebih sadar akan apa yang mereka gunakan, termasuk dari mana bahan bakunya berasal. Dengan sentuhan kemasan ramah lingkungan dan bahan lokal yang berkualitas, produk UMKM Indonesia punya peluang besar untuk menembus pasar ekspor dan bersaing di pasar global. #5 Produk Pangan Lokal Ramah Lingkungan Komoditas UMKM berikutnya yang berpeluang untuk dikembangkan adalah produk pangan lokal. Menjual produk pangan lokal yang diproses secara berkelanjutan bukan hanya soal bisnis, tapi juga kontribusi nyata untuk ketahanan pangan dan lingkungan. UMKM bisa mulai dari hal sederhana, seperti menghadirkan makanan ringan sehat berbahan dasar dari hasil panen petani, seperti singkong, ubi, atau sagu. Ada juga pilihan minuman herbal siap saji tanpa pemanis buatan, atau produk fermentasi lokal seperti tempe, kombucha, hingga tape singkong dalam kemasan ramah lingkungan. Semuanya bisa dikembangkan dengan melibatkan komunitas petani agar manfaatnya terasa lebih luas. Saat ini, minat terhadap makanan tradisional dengan sentuhan modern dan sehat semakin besar, baik di pasar lokal maupun internasional. Bahkan, sektor pariwisata hijau (green tourism) juga mencari produk kuliner yang sejalan dengan prinsip ramah lingkungan. Dengan pendekatan yang tepat, UMKM punya peluang besar untuk membawa cita rasa lokal Indonesia ke pasar global, sekaligus berkontribusi pada gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Dukungan dan Strategi Pengembangan Agar peluang dari komoditas hijau ini benar-benar bisa dimanfaatkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. UMKM perlu didukung dengan pelatihan dan inkubasi bisnis hijau agar semakin siap menerapkan prinsip ekonomi berkelanjutan. Selain itu, penting juga untuk mendorong sertifikasi seperti organic certified atau eco-label agar produk lebih dipercaya di pasar global. Di sisi lain, digitalisasi pemasaran lewat e-commerce dan media sosial bisa membantu UMKM menjangkau konsumen yang peduli lingkungan, baik di dalam maupun luar negeri. Memasuki era ekonomi hijau, UMKM Indonesia punya peluang besar untuk jadi bagian dari solusi global. Untuk para pelaku bisnis yang ingin mempercepat inisiatif hijau, Anda dapat memulai dari pengelolaan emisi hingga strategi ESG, Satuplatform siap membantu inisiatif keberlanjutan bisnis Anda!. Bersama, kita bisa membangun masa depan bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Similar Article The Role of Forest in Today’s World When we talk about forests, many of us might picture a peaceful green area, full of tall trees, chirping birds, and cool fresh air. But forests are more than just beautiful scenery, they are lifelines for the planet. But unfortunately, in today’s modern world, where industries grow and technology moves fast, it’s easy to forget how much we still rely on nature. These vital ecosystems are under threat. Let’s explore why forests still matter, and why their role is more important than ever in today’s world. Why Forests Still Matter Today Forests have always been a source of life, providing… Global Energy Crisis and Business Challenge As the 21st …

1

Mengukur & Mengurangi Kontributor Jejak Karbon Digital Bisnis di Sektor IT

Digitalisasi menawarkan efisiensi dan inovasi yang luar biasa. Namun, kemajuan ini juga datang sebagai kontributor jejak karbon digital yang tersembunyi melalui emisi GRK dari produksi, penggunaan, dan transmisi data teknologi. Menurut studi The Shift Project  yang diterbitkan pada tahun 2021, porsi emisi dari teknologi digital diperkirakan dapat berlipat ganda dan melebihi 7% pada tahun 2025. Angka ini bahkan dapat melampaui emisi sektor-sektor lain, seperti penerbangan sipil.  Artinya, pemahaman dan pengelolaan jejak karbon digital perusahaan sangat krusial bagi bisnis IT di era keberlanjutan ini. Baca Juga: Bagaimana Cara Mengurangi Jejak Karbon Digital Mengapa Bisnis IT Perlu Fokus pada Jejak Karbon Digital?  Secara khusus, kluster perusahaan di sektor IT menghasilkan emisi besar, sekitar 350-400 megaton CO2e global per tahun dengan dampak besar pada iklim.  Faktor tersebut membuat peraturan sustainability secara global terus memperketat aturan dan metrik laporan yang lebih rinci bagi industri IT, seperti EU Corporate Sustainability Reporting Directive. Perusahaan yang tidak mematuhi aturan tersebut berpotensi terkena denda yang substansial.  Bagi konsumen, karyawan, dan investor, praktik bisnis yang bertanggung jawab pada lingkungan secara transparan juga makin penting.  Seluruh faktor di atas menunjukan bahwa kepedulian dan investasi perusahaan di sektor IT pada pengurangan jejak karbon digital sangat vital. Pendekatan ini juga diharapkan dapat mengangkat reputasi merek untuk menarik talenta terbaik dan mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Kontributor Utama Jejak Karbon Digital di Sektor ICT  Identifikasi kontributor utama jejak karbon digital berikut ini adalah kunci pengelolaan efektif. 1. Pusat Data (Data Centers)  Mengonsumsi sekitar 1-3% dari total konsumsi listrik global untuk mengoperasikan server (backbone era digital) dan sistem pendingin yang canggih. Ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil untuk listrik memperparah emisi GRK.  2. Perangkat Pengguna Akhir (End-user Devices) Sebagian besar emisi dari perangkat ini (laptop, tablet, smartphone, printer) berasal dari proses manufaktur yang intensif energi  yang menyumbang 1,5 – 2x lebih banyak jejak karbon dari pusat data. 3. Infrastruktur Internet & Jaringan Ekosistem pendukung perangkat (router Wi-Fi, sakelar, jaringan kabel), dan peralatan transmisi data membutuhkan listrik untuk beroperasi dan memindahkan data. 4. Penggunaan Layanan Digital (Aktivitas Digital) Setiap aktivitas digital, seperti streaming video, pengiriman email, penggunaan cloud computing, dan menjalankan aplikasi, mengonsumsi energi yang besar. Emisi pelatihan satu model AI bahkan setara emisi seumur hidup lima mobil. 5. Manufaktur & Rantai Pasok Perangkat Elektronik Proses di balik pembuatan perangkat elektronik, dari penambangan bahan baku hingga perakitan komponen dan transportasi, merupakan tahapan yang padat energi dan menghasilkan emisi CO2 signifikan. 6. Limbah Elektronik (E-waste) Dunia menghasilkan lebih dari 53 juta metrik ton e-waste setiap tahunnya, dengan kurang dari 20% yang didaur ulang dengan benar. Pembuangan e-waste yang tidak tepat dapat melepaskan zat beracun yang merusak tanah dan lingkungan, seperti merkuri dan timbal, serta gas rumah kaca seperti metana dan CO2 saat dibakar. Strategi Bisnis untuk Menekan Potensi Jejak Karbon Digital  Terapkan pendekatan komprehensif berikut untuk menekan jejak karbon dan memastikan operasional yang lebih ramah lingkungan.  1. Implementasi Hardware Hemat Energi Prioritaskan penggunaan server, perangkat jaringan, dan perangkat pengguna akhir yang bersertifikasi hemat energi. 2. Optimasi Software Kembangkan dan gunakan aplikasi yang dioptimalkan untuk efisiensi sumber daya dan fitur manajemen daya (misalnya, dark mode). 3. Transisi ke Sumber Energi Terbarukan Mengalihkan sumber energi operasional IT (terutama untuk pusat data) ke sumber energi terbarukan,  seperti tenaga surya, angin, atau hidro. 4. Manajemen Perangkat Berkelanjutan & Ekonomi Sirkular Mengusahakan produksi perangkat dengan masa pakai lebih panjang. Fokuskan strategi produksi pada perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang yang bertanggung jawab untuk meminimalkan e-waste dan emisi dari manufaktur. 5. Optimasi Operasi Pusat Data & Cloud Terapkan sistem pendingin canggih, virtualisasi server, dan praktik cloud cost management, seperti menghapus sumber daya idle atau right-sizing komputasi. 6. Adopsi Kerangka Kerja GreenOps Integrasikan pertimbangan dampak lingkungan ke dalam operasional IT dan cloud Anda di samping praktik ITFM dan FinOps. 7. Menjamin Pengukuran dan Pelaporan Akurat Kumpulkan data emisi (Scope 1, 2, dan terutama Scope 3 yang kompleks dari pihak ketiga seperti penyedia cloud) secara komprehensif untuk pelaporan yang transparan dan penetapan target perbaikan sebagai langkah fundamental untuk efektivitas setiap strategi. Satuplatform: Solusi Anda untuk Mengelola Kontributor Jejak Karbon Digital Pengelolaan jejak karbon digital dan tuntutan pelaporan makin kompleks sehingga perusahaan memerlukan alat yang solid dan terintegrasi. Carbon & ESG Management dari Satuplatform hadir sebagai solusi komprehensif untuk bisnis ICT ingin secara aktif mengukur dan mengurangi dampak lingkungannya. Platform kami memungkinkan Anda memantau emisi secara real-time dan akurat, memberikan visibilitas penuh atas jejak karbon bisnis.  Fitur GHG Report dan Sustainability Report kami memastikan Anda memenuhi standar pelaporan global dan nasional, dengan otomatisasi dan data-driven insights yang mempermudah kepatuhan dan pelaporan yang transparan. Akses  demo gratis kami segera dan mulai perjalanan Anda menuju bisnis IT yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan!    Similar Article The Role of Forest in Today’s World When we talk about forests, many of us might picture a peaceful green area, full of tall trees, chirping birds, and cool fresh air. But forests are more than just beautiful scenery, they are lifelines for the planet. But unfortunately, in today’s modern world, where industries grow and technology moves fast, it’s easy to forget how much we still rely on nature. These vital ecosystems are under threat. Let’s explore why forests still matter, and why their role is more important than ever in today’s world. Why Forests Still Matter Today Forests have always been a source of life, providing… Global Energy Crisis and Business Challenge As the 21st century progresses, the world stands at a crucial crossroads. Amid soaring energy demands, geopolitical instability, and climate disruption, now a growing number of experts and institutions are sounding the alarm that we are heading towards a global energy crisis. This is not a speculative scenario but it is a reality shaped by decades of fossil fuel dependence, delayed clean energy transitions, and volatile global dynamics. Read other article : This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored Today’s crisis is different. It is multifaceted, global in scope, and intricately tied to the urgency of climate action… 5 Cara Perusahaan untuk Hijaukan Bumi secara Berkelanjutan Saat ini, dunia mengalami tantangan lingkungan yang berat. Mulai dari …

1

Menjelajahi Dinamika CSR dalam Strategi Bisnis di Tahun 2025

Bagaimana perkembangan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) di era hari ini? CSR kini adalah prioritas strategis dan pendorong fundamental bagi keberhasilan bisnis dalam aspek sosial, etika, dan lingkungan.  Memasuki tahun 2025, lanskap Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang terus mengarah pada strategi sustainability makin dinamis dan penuh tantangan. Perubahannya didorong oleh perubahan ekspektasi konsumen, karyawan, investor, serta isu-isu global yang mendesak.  Baca Juga: Memitigasi Perubahan Iklim dengan Program CSR (Corporate Social Responsibility) CSR Berevolusi Menuju Prioritas Strategis Bisnis Modern Corporate Social Responsibility telah beralih fokus dari sekadar keuntungan ekonomi dan melakukan kebaikan. Praktiknya saat ini beralih kepada komitmen perusahaan untuk mencapai tujuan sosial, etika, dan lingkungan secara sukarela dan melampaui kebutuhan ketaatan hukum.  Pergeseran ini dikenal juga dengan era CSR 2.0 menekankan integrasi tujuan dan dampak sosial ke dalam model bisnis inti perusahaan. Masyarakat dan konsumen yang makin menghargai etika bisnis, serta harapan karyawan akan pekerjaan yang memiliki tujuan mendorong transformasi fokus tanggung jawab sosial perusahaan.  Versi 2.0 juga diakui sebagai penggerak penting dalam akuisisi talenta, kepuasan dan retensi karyawan, serta loyalitas pelanggan yang berorientasi pada ketahanan jangka panjang. Isu-Isu Terkini yang Membentuk Strategi CSR di Tahun 2025 Seiring pembahasan tentang perubahan iklim dan dinamika pasar global, berbagai jenis trend dan isu terus muncul dan turut membentuk pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan. Pada tahun 2025 ini, perubahan terjadi dalam aspek berikut.   1. Peningkatan Etika, Transparansi, dan Akuntabilitas Masa ‘greenwashing‘ juga klaim sustainability yang dangkal mulai berkurang. Praktik tanggung jawab sosial yang menyimpang dan bias mulai digantikan oleh prioritas pada investasi berkelanjutan yang nyata dan didukung oleh data dan tindakan bermakna. Perusahaan dituntut untuk menunjukkan integritas dan transparansi dalam praktik, kebijakan, dan keputusan mereka, termasuk kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan. Regulasi baru seperti Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) mewajibkan pelaporan ekstra-finansial yang lebih rinci untuk mendorong akuntabilitas kepada investor dan konsumen. 2. Implementasi Inisiatif Ketahanan Iklim Fokus juga berkembang dari jejak karbon mencakup prioritas yang lebih luas: pelestarian keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya air, dan efisiensi energi.  Adaptasi terhadap perubahan iklim kini menjadi konsep sentral, menuntut perusahaan untuk mengintegrasikan ketahanan iklim ke dalam seluruh aktivitas bisnis demi kelangsungan usaha.  Investasi pada inisiatif ‘Go Green‘ yang konkret, termasuk penggunaan energi terbarukan dan pengurangan limbah, untuk menetralkan dampak lingkungan makin merata. 3. Fokus pada Keterlibatan Karyawan Pendekatan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) tetap vital bagi konsumen dan diakui sebagai strategi bisnis yang meningkatkan inovasi serta keterlibatan karyawan.  Dukungan terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental karyawan juga menjadi komponen penting corporate social responsibility, dengan program holistik yang bertujuan meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas.  Memupuk keterlibatan karyawan yang sejati menjadi kunci sukses strategi tanggung jawab sosial perusahaan untuk tahun ini dan di masa depan. Oleh sebab itu, penerapannya perlu tertanam dalam pengalaman karyawan bekerja sehari-hari agar lebih terasa dampaknya. Contohnya dengan menerapkan program skills-based volunteering.  4. Optimasi Kemitraan untuk Dampak Kolektif Kompleksnya tantangan global menuntut perlunya kolaborasi lintas-sektor (antara perusahaan, LSM, dan pemerintah) untuk mencapai dampak kolektif dan mengatasi masalah yang terlalu besar untuk dihadapi sendiri.  Untuk menciptakan program CSR dengan dampak yang signifikan, perusahaan juga perlu mengeksekusi program yang selaras dengan kebutuhan nyata komunitas. Perusahaan perlu membangun kemitraan komunitas dengan kepercayaan yang tinggi dengan terlibat dalam memberdayakan bisnis kecil dan komunitas lokal melalui bimbingan (training dan pelatihan), pendanaan, maupun kolaborasi proyek. 5. Digitalisasi dan Pengukuran Dampak yang Kredibel Pada tahun ini, digitalisasi menjadi alat penggerak yang dinilai lebih efisien untuk mengoptimalkan komitmen sosial perusahaan. Peningkatan signifikan dalam donasi daring dan penggunaan teknologi canggih seperti AI membantu meningkatkan efisiensi operasional dan visibilitas dampak sosial.  Selain itu, pengukuran dampak yang lebih terperinci menjadi esensial untuk mengkomunikasikan nilai CSR kepada pimpinan perusahaan, karyawan, dan pelanggan. Pengukuran ini harus melampaui metrik sederhana dan mampu menangkap hasil yang kompleks untuk membangun kepercayaan. Nilai Strategis CSR Modern Memahami isu dan beradaptasi dengan perkembang komitmen sosial perusahaan  dapat secara signifikan meningkatkan reputasi dan citra merek dan membangun loyalitas kuat dari pelanggan, investor, dan masyarakat.  Perusahaan juga meraih peningkatan profitabilitas melalui kolaborasi lintas entitas (komunitas, pemerintah, dan entitas bisnis lain). Memupuk keterlibatan karyawan yang lebih sungguh-sungguh turut memacu komitmen dan produktivitas yang lebih efektif. Keduanya menjadi aspek integral untuk eksekusi strategi bisnis yang lebih berdampak.  Praktik komitmen sosial perusahaan versi 2.0 berpotensi menciptakan kesiapan dan ketahanan bisnis dalam merespon tantangan tak terduga dengan lebih baik dan diferensiasi pasar untuk menarik konsumen yang menghargai etika dan keberlanjutan.  Secara garis besar, manfaat penerapan CSR modern adalah pondasi kunci dalam membangun kepercayaan, mendorong inovasi, dan memastikan kelangsungan bisnis di era yang makin menuntut akuntabilitas. Optimalkan integrasi strategi CSR perusahaan Anda dengan solusi menyeluruh Satuplatform untuk pengelolaan karbon hingga pelaporan ESG perusahaan. Dapatkan informasi lebih lanjut melalui FREE DEMO kami segera!    Similar Article The Role of Forest in Today’s World When we talk about forests, many of us might picture a peaceful green area, full of tall trees, chirping birds, and cool fresh air. But forests are more than just beautiful scenery, they are lifelines for the planet. But unfortunately, in today’s modern world, where industries grow and technology moves fast, it’s easy to forget how much we still rely on nature. These vital ecosystems are under threat. Let’s explore why forests still matter, and why their role is more important than ever in today’s world. Why Forests Still Matter Today Forests have always been a source of life, providing… Global Energy Crisis and Business Challenge As the 21st century progresses, the world stands at a crucial crossroads. Amid soaring energy demands, geopolitical instability, and climate disruption, now a growing number of experts and institutions are sounding the alarm that we are heading towards a global energy crisis. This is not a speculative scenario but it is a reality shaped by decades of fossil fuel dependence, delayed clean energy transitions, and volatile global dynamics. Read other article : This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored Today’s crisis is different. It is multifaceted, global in scope, and intricately tied to the urgency of climate action… 5 Cara Perusahaan untuk Hijaukan Bumi secara Berkelanjutan Saat ini, dunia mengalami tantangan lingkungan yang berat. …

1

CSR di Era ESG: Transformasi dan Tren Strategis Masa Depan

Era Baru CSR 2.0 Kebutuhan konsumen akan transparansi memicu lahirnya era baru corporate social responsibility yang disebut CSR 2.0, dengan perubahan signifikan pada strategi, nilai, dan fokusnya. Versi 2.0 beralih dari praktik filantropi dan upaya membangun citra merek, menjadi kompas moral untuk memandu setiap keputusan dan operasional bisnis agar selaras harmonis dengan kebutuhan sosial yang lebih luas.  Transformasi ini menekankan pengukuran, otentikasi, dan transparansi dampak secara nyata. Mengutip dari artikel disertasi UFL EDU, integrasi tujuan (purpose) yang hakiki untuk dampak positif sosial yang lebih jelas dan nyata dalam strategi bisnis jangka panjang menjadi kunci versi 2.0 dan mendasari perkembangan berbagai trend baru komitmen sosial perusahaan.  Baca Juga: Mengetahui Perbedaan ESG dan CSR Memprediksi Masa Depan: Tren CSR Terkemuka Melampaui Tahun 2025 Seiring dengan implementasi versi 2.0 yang makin nyata di tahun 2025, serta peluang dan tantangan yang makin dinamis, lanskap corporate social responsibility akan makin mengerucut pada delapan fokus berikut ini. 1. Prinsip ESG yang Makin Mendalam Makin meluasnya kesadaran akan sustainability menegaskan urgensi integrasi aktivitas komitmen sosial perusahaan dengan kerangka ESG. Secara keseluruhan, regulator, investor, maupun konsumen akan makin kritis mencermati tindakan nyata dan hasil yang akurat pada komitmen perusahaan di bidang penanganan perubahan iklim, tata kelola yang lebih beretika, juga praktik yang mendukung kesejahteraan manusia.  Faktor ini krusial untuk keberlanjutan jangka panjang dan daya tarik investor. 2.  Inisiatif yang Didorong Karyawan Sepenuhnya  Program CSR di masa depan akan melibatkan peran karyawan lebih dalam. Peran mereka tidak hanya jauh lebih besar dalam mengusulkan, memimpin, dan mengelola proyek-proyek komitmen sosial perusahaan, mencerminkan pergeseran dari struktur top-down. Pemberdayaan karyawan melalui penguatan budaya internal dan program yang selaras dengan nilai perusahaan akan memacu komitmen dan produktivitas yang lebih efektif, serta membantu menarik dan mempertahankan talenta terbaik. 3. Kemitraan Strategis dan Solusi Bersama yang Lebih Intensif Kolaborasi dengan komunitas lokal, organisasi nirlaba, perusahaan sosial, dan badan pemerintah yang memiliki misi dan tujuan yang harmonis makin dibutuhkan untuk menciptakan solusi berskala besar terhadap tantangan sosial yang kompleks.  Pendekatan ini akan memfasilitasi transfer sumber daya dan pengetahuan yang lebih mendalam sehingga memperluas jangkauan dan dampak CSR.  4. Rantai Pasok yang Berkelanjutan dan Regeneratif Perusahaan terus bergerak mengadopsi model bisnis regeneratif, mencakup prioritas pada pengadaan bahan baku yang etis dan operasional yang netral karbon.  Tujuannya adalah untuk mendorong pengurangan Emisi Scope 3 secara signifikan di seluruh ekosistem pemasok dan menciptakan dampak lingkungan dan sosial yang net-positif, meningkatkan efisiensi operasional dan reputasi 5. Solusi Corporate Social Responsibility Berbasis Teknologi Canggih  Penyediaan dan pengelolaan data yang transparan mendesak pemanfaatan teknologi untuk hasil yang optimal. Kecerdasan Buatan (AI), blockchain, dan analitik data yang canggih diperkirakan akan memainkan peran transformatif dalam memfasilitasi transparansi rantai pasok yang lebih tinggi, pengukuran dampak yang akurat, serta strategi CSR yang lebih spesifik.  Penggunaan AI yang etis sangat krusial untuk memastikan sistem AI tidak bias, melindungi privasi data, dan mendukung tujuan sosial secara etis 6. Fokus yang Lebih Tajam pada Ekuitas Sosial dan Inklusi (DEI) DEI akan terus menjadi agenda utama, dengan program yang lebih proaktif menargetkan akar masalah ketidaksetaraan sistemik di tempat kerja dan komunitas.  Perusahaan dapat mendorong pembangunan inklusif, termasuk bagi kelompok yang kurang terwakili, melalui investasi pada pendidikan, peningkatan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi, yang turut meningkatkan inovasi dan ketahanan bisnis.  7. Pelaporan Transparan dan Metrik Dampak yang Lebih Ketat Kebutuhan meningkatkan akuntabilitas dampak yang makin tinggi membuat komitmen sosial menjadi elemen vital untuk manajemen risiko yang komprehensif. Persyaratan pelaporan keberlanjutan global dan undang-undang terkait ESG membuat penerapan komitmen sosial perusahaan yang lebih proaktif dan transparan sebagai prioritas.  Dampaknya adalah adopsi sistem pelaporan standar global seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards Board (SASB) makin krusial.  Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan juga harus terus mengukur kontribusi mereka terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) PBB dengan data akurat dan terverifikasi untuk memitigasi risiko reputasi, operasional, maupun finansial.  8. Sinergi Dampak Lokal dengan Visi Global yang Makin Kuat Meskipun globalisasi terus berlanjut, program komitmen sosial perusahaan di masa depan akan secara strategis berfokus pada dampak lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas spesifik. Namun, lokalisasi ini tetap berkontribusi secara seimbang pada tujuan global yang lebih besar (termasuk pada SDGs) dalam memberikan dampak yang konkret dan efektif. Mengadopsi Konsep Corporate Purpose dalam Strategi CSR Bentuk program dan perkembangan komitmen sosial perusahaan di masa mendatang akan terus digerakkan oleh tujuan (purpose-driven) dan berpusat pada kesejahteraan bersama dan tata kelola bisnis yang akuntabel.  Secara keseluruhan, perusahaan yang memiliki misi dan tujuan yang jelas dalam praktik corporate social responsibility, merangkul transparansi, dan proaktif dalam mengadopsi tren tersebut berpotensi menjadi pemimpin di industri.  Selaraskan langkah perusahaan Anda dalam mengelola jejak karbon, mencapai tujuan ESG dengan trend CSR masa depan yang transformatif dengan solusi digital Satuplatform. Akses FREE DEMO layanan kami hari ini.     Similar Article The Role of Forest in Today’s World When we talk about forests, many of us might picture a peaceful green area, full of tall trees, chirping birds, and cool fresh air. But forests are more than just beautiful scenery, they are lifelines for the planet. But unfortunately, in today’s modern world, where industries grow and technology moves fast, it’s easy to forget how much we still rely on nature. These vital ecosystems are under threat. Let’s explore why forests still matter, and why their role is more important than ever in today’s world. Why Forests Still Matter Today Forests have always been a source of life, providing… Global Energy Crisis and Business Challenge As the 21st century progresses, the world stands at a crucial crossroads. Amid soaring energy demands, geopolitical instability, and climate disruption, now a growing number of experts and institutions are sounding the alarm that we are heading towards a global energy crisis. This is not a speculative scenario but it is a reality shaped by decades of fossil fuel dependence, delayed clean energy transitions, and volatile global dynamics. Read other article : This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored Today’s crisis is different. It is multifaceted, global in scope, and intricately tied to the urgency of climate action… 5 Cara Perusahaan untuk Hijaukan Bumi secara Berkelanjutan Saat ini, dunia …

3

Empowering Local Communities as a Strategic Pillar of Sustainable Business

While focusing on transitioning to or maintaining sustainable business practices, businesses often forget to consider the social pillar or people factor in their sustainability effort and ESG framework.  In  contrast, achieving lasting sustainable change fundamentally relies on the active involvement and well-being of local communities, as highlighted by ESG Sustainability insights. In this context, community empowerment is a strategic imperative, serving as a foundational pillar for business aiming for enduring growth and forward resilience.  Read Similar Article: Local Solutions for Global Impact: Community Initiatives for Net Zero Emission Strategic Community Empowerment is Beyond Charity Approach for Sustainable Business Why is community empowerment practice indispensable for businesses to thrive in the concurrent era? It’s because empowering communities fosters multi-dimensional impacts across social equity, economic well-being, and environmental stewardship.  This approach ensures that sustainability strategies are relevant, culturally appropriate, and effectively tailored to local needs, covering the pillars of ESG to ensure sustainability.   True community empowerment signifies a vital shift from traditional top-down approaches to models where local populations actively participate in decisions impacting their lives.  This practice involves granting real agency and control, acknowledging that local communities possess invaluable unique knowledge and insights about their environments. How Businesses Can Drive Community Empowerment for Sustainability Engaging with communities bolsters climate action and broadens businesses’ holistic social and economic impact. However, companies must drive their engagement through strategic approaches.  1. Fostering Collaboration and Partnerships Effective sustainable development demands collaboration between businesses, non-profit organizations (NGOs), local governments, and community groups (including residents, educational institutions, and local businesses). Pooling resources and expertise expand the impact of initiatives beyond what any single entity can achieve. 2. Capacity Building and Strategic Education Initiatives Investing in education and continuous targeted training strengthens local skills, knowledge, and social infrastructure. An “education-first” approach, for instance, can significantly enhance community welfare and reinforce stakeholder engagement. 3. Promoting Local Economic Empowerment Building sustainable business also means to  foster sustainable livelihoods. Companies need to start supporting local entrepreneurship (with access to capital and resources), job creation, and financial literacy to help alleviate cycles of poverty, and build economic resilience. 4. Enabling Local Environmental Stewardship Empowering communities instills a sense of ownership over natural resources, driving active participation in conservation, waste reduction, and eco-friendly practices. This leverages invaluable local knowledge for effective environmental projects and allows sustainable businesses to optimize their sustainability efforts for fruitful outcomes. 5. Supporting Inclusive Governance and Resource Control Ensuring communities have equitable access to and control over essential resources and are actively involved in decision-making processes is critical for fostering holistic independence and resilience. The Undeniable Business Benefits of Empowered Communities Integrating community empowerment yields significant strategic advantages for businesses. 1. Enhanced ESG Performance & Social License to Operate A solid ‘social’ pillar of ESG frameworks in companies helps mitigate disruptions and enhance the company’s acceptance within operating regions. 2. Stronger Reputation & Trust Genuine engagement builds profound brand loyalty and public confidence which ameliorate reputation as a responsible corporate citizen. 3. Improved Local Talent Pool & Operational Efficiency Investment in community education and development can lead to a more skilled local workforce and potentially lower operational costs. 4. Increased Resilience & Innovation Empowered communities contribute to a more adaptable and resourceful business environment, fostering both social cohesion and innovative solutions. 5. Ensuring Long-term Project Success & Sustainable Impact Community ownership significantly increases the longevity, inclusivity, and effectiveness of sustainability initiatives. Paving the Way for a Truly Sustainable Business Future Sustainable business should not overlook how community empowerment approaches offer them a genuine sustainability and competitive advantage. While challenges may arise, they present opportunities for deeper engagement and innovation. Leverage digital solutions for effective sustainability and community empowerment efforts management with comprehensive digital solutions. Schedule a FREE DEMO of Satuplatform’s service today.   Similar Article The Role of Forest in Today’s World When we talk about forests, many of us might picture a peaceful green area, full of tall trees, chirping birds, and cool fresh air. But forests are more than just beautiful scenery, they are lifelines for the planet. But unfortunately, in today’s modern world, where industries grow and technology moves fast, it’s easy to forget how much we still rely on nature. These vital ecosystems are under threat. Let’s explore why forests still matter, and why their role is more important than ever in today’s world. Why Forests Still Matter Today Forests have always been a source of life, providing… Global Energy Crisis and Business Challenge As the 21st century progresses, the world stands at a crucial crossroads. Amid soaring energy demands, geopolitical instability, and climate disruption, now a growing number of experts and institutions are sounding the alarm that we are heading towards a global energy crisis. This is not a speculative scenario but it is a reality shaped by decades of fossil fuel dependence, delayed clean energy transitions, and volatile global dynamics. Read other article : This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored Today’s crisis is different. It is multifaceted, global in scope, and intricately tied to the urgency of climate action… 5 Cara Perusahaan untuk Hijaukan Bumi secara Berkelanjutan Saat ini, dunia mengalami tantangan lingkungan yang berat. Mulai dari perubahan iklim, permasalahan sampah, dan degradasi lingkungan yang berpengaruh terhadap tatanan sosial-ekonomi. Pada akhirnya, situasi ini mendorong transformasi besar dalam cara perusahaan beroperasi.  Baca juga artikel lainnya : Memahami Dampak Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Jejak Air Dalam kondisi lingkungan seperti ini, dunia usaha tak lagi hanya dinilai dari performa keuangan, tetapi juga dari sejauh mana mereka berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dalam konteks ini, upaya untuk menghijaukan bumi adalah tanggungjawab moral yang perlu diintegrasikan dalam strategi bisnis jangka panjang yang mendatangkan nilai ekonomi, reputasi, dan kepatuhan regulasi. Untuk… 5 Rekomendasi Komoditas UMKM di Era Ekonomi Hijau Inisiatif negara untuk melakukan transformasi menuju ekonomi hijau (green economy) bukan lagi sekadar angan-angan. Di tengah tekanan dari perubahan iklim, regulasi internasional, dan preferensi konsumen yang semakin sadar lingkungan, maka  semua sektor harus beradaptasi, termasuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).  Dalam hal …

2

The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models

In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy is evident. Regenerative practice changed the focus of the circular economy for a more sustainable future, serving as a new fitting business model.   Read Another Article: How Indonesian Businesses Are Aligning with SDGs for A Sustainable Future What is Regenerative Business for Sustainable Business?  A regenerative business goes beyond traditional sustainability, aiming to actively create a net-positive effect. It’s stepping from restoration to regeneration of entire ecosystems (natural resources, communities, and human well-being). This revolutionary approach is guided by core principles.  1. Systemic Thinking Recognizing profound interconnectedness across environmental, social, and economic elements to achieve net-positive impact. 2. Circularity & Resource Regeneration Actively supporting the continuous renewal and replenishment of natural and social resources, moving towards closed-loop systems where waste becomes a valuable resource. 3. Collaboration & Stakeholder Empowerment Promoting community involvement and equitable practices by collaborating with employees, suppliers, customers, and local communities in co-creating solutions and fostering shared value.  4. Continuous Learning & Adaptive Resilience Embracing innovation, staying agile, and constantly evolving practices to improve environmental, social, and economic impacts, building inherent resilience for long-term viability.  The Business Case for Embracing Regeneration  Adopting a regenerative approach offers multifaceted advantages, impacting environmental, social, and governance (ESG) aspects beyond traditional CSR of sustainable business. 1. Social Well-being and Employee Performance Regenerative models prioritize community well-being, fostering positive relationships and engagement with local communities. They promote fair, inclusive, and responsible labor practices, leading to improved social capital, reduced inequalities, and better social welfare. This also translates into increased productivity and naturally attracting top talent seeking purposeful and meaningful work. 2. Economic Viability and Resilience Investing in ecosystems and communities fosters innovation, strengthens long-term viability, and builds resilience against market and climate disruptions. Regenerative practices alone could generate trillions in economic value. 3. Brand Reputation and Customer Loyalty Since consumers increasingly prefer brands embodying net-positive missions, implementing regenerative practices demonstrates commitment to advanced sustainable principles, driving brand differentiation and fostering strong customer loyalty. 4. Environmental Impact This innovative practice directly improves soil health, sequesters carbon, protects vital ecosystems, and rebuilds biodiversity, integral to creating a more positive environmental state. How to Transform Sustainable Business with Regenerative Practices Transition towards regeneration business practices builds on existing sustainable practices, with the circular economy often serving as a foundational catalyst. 1. Define Your Purpose and Assess Your Impact Begin by understanding your current ESG footprint and clearly articulating your positive impact vision beyond profit. Then, set specific regeneration goals for stakeholder buy-in. 2. Adopt Regenerative Models and Strategies 3. Measure, Learn, and Communicate Transparently Continuously assess progress using tools like carbon footprint audits or B Impact Assessments. Communicate initiatives transparently to inspire others, leveraging digital tools for clarity and avoiding greenwashing.  Regenerative Practices to Cultivate Profound Sustainable Impact The transition to regenerative models marks the essential next step for any sustainable business committed to long-term viability and profound positive impact. Discover how Satuplatform can help simplify your business transformation towards a regenerative future. Learn more about our services through FREE DEMO today! Similar Article The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy is evident. Regenerative practice changed the focus of the circular economy for a more sustainable future, serving as a new fitting business model.   Read Another Article: How Indonesian Businesses Are Aligning with SDGs for A Sustainable Future What is Regenerative Business for Sustainable Business?  A regenerative… Sertifikasi Industri Hijau (SIH), Pilar Transformasi Bisnis Berkelanjutan di Indonesia Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui transformasi ekonomi hijau. Tiga krisis planet, kerentanan pasokan bahan baku dan air akibat perubahan iklim, hingga kebijakan perlindungan karbon dari pasar global mendorong pengembangan kebijakan ini.  Kondisi ini juga memicu gangguan stabilitas produksi industri, meningkatkan permintaan pasar akan produk hijau dan kebutuhan terhadap bisnis berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan dukungan strategis berupa Sertifikasi Industri Hijau (SIH), sebuah panduan standarisasi yang esensial bagi bisnis untuk bertahan dan mengembangkan daya saing di masa mendatang. Baca Juga: Sustainable Business dan 5 Pelatihan Online  Standar dan Proses Sertifikasi Industri Hijau… Strategi Konservasi Air di Sektor Bisnis untuk Mengurangi Dampak Jejak Karbon Sadarkah Anda bahwa konservasi air dan manajemen air dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus membawa perubahan signifikan pada dampak lingkungan perusahaan?  Setiap entitas bisnis memiliki jejak air, yaitu volume air tawar yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam operasionalnya. Tanpa disadari, entitas bisnis mengkonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar.  Infrastruktur dan konsumsi air memiliki kaitan erat dengan produksi dan dampak jejak karbon pada lingkungan.  Laman Hydropoint menyampaikan bahwa secara garis besar, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi tiap meter kubik air bersih mencapai kurang lebih 10,5 kg.  Temuan ini menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi perlu dilakukan melalui pengelolaan… This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored The global energy landscape is undergoing significant shifts, driven by escalating demand, geopolitical tensions, and the urgent call for sustainable practices. Yet, amid this transformation, many businesses and governments still overlook the looming reality of an energy crisis.  Read other article : Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) Companies Initiatives to Adopt Green Energy Ignoring this issue is not just an environmental mistake, but it is a strategic business risk. The energy crisis is more than an environmental or political concern, but it is an economic and operational challenge that threatens stability, growth, and global sustainability. This article explores why the energy… BMKG: Fase Kritis Dunia, …

2

Sertifikasi Industri Hijau (SIH), Pilar Transformasi Bisnis Berkelanjutan di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui transformasi ekonomi hijau. Tiga krisis planet, kerentanan pasokan bahan baku dan air akibat perubahan iklim, hingga kebijakan perlindungan karbon dari pasar global mendorong pengembangan kebijakan ini.  Kondisi ini juga memicu gangguan stabilitas produksi industri, meningkatkan permintaan pasar akan produk hijau dan kebutuhan terhadap bisnis berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan dukungan strategis berupa Sertifikasi Industri Hijau (SIH), sebuah panduan standarisasi yang esensial bagi bisnis untuk bertahan dan mengembangkan daya saing di masa mendatang. Baca Juga: Sustainable Business dan 5 Pelatihan Online  Standar dan Proses Sertifikasi Industri Hijau (SIH) untuk Bisnis Berkelanjutan di Indonesia Semenjak tahun 2017, Kementrian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia telah menetapkan Standar Industri Hijau bagi perusahaan untuk mencapai status Industri Hijau.  Standar ini menjadi pedoman komprehensif yang mencakup ketentuan pada bahan baku, bahan penyokong, energi, proses produksi, produk, manajemen perusahaan, pengelolaan limbah hingga emisi GRK.  Kepemilikan sertifikasi Industri Hijau tengah diwajibkan secara selektif terhadap jenis sektor industri berikut ini. 1. Semen portland, 2. Ubin dan keramik,  3. Baja lembaran lapis, 4. Pulp dan kertas, 5. Pupuk buatan tunggal hara makro primer, 6. Pengasapan karet, 7. Karet remah, 8. Tekstil pencelupan, pencapan, penyempuranaan, 9. Tekstil pencetakan kain, 10. Batik,  11. Industri elektronik, 12. Industri kendaraan listrik (EV), 13. Pembangkit listrik tenaga uap, 14. Susu bubuk, 15. Pengolahan susu bubuk, 16. Gula kristal putih,  17. Air mineral.  Kriteria Kunci SIH Mengutip dari IESR, perusahaan yang ingin bersertifikasi harus memenuhi sejumlah persyaratan kunci, baik dalam aspek manajemen maupun persyaratan teknis.  Kriteria Manajemen SIH Persyaratan Teknis Tahapan dan Proses SIH Proses memperoleh SIH wajib mengikuti tahapan yang diatur pemerintah. 1. Perusahaan mengajukan permohonan sertifikasi (formulir dan dokumen pra-syarat) kepada lembaga terakreditasi yang pemerintah tunjuk.  2. Lembaga sertifikasi akan memeriksa dokumen permohonan. Proses ini diikuti dengan tahap administrasi ( penerbitan invoice, dan perjanjian kerjasama sertifikasi dengan pihak pemohon, dan penunjukkan auditor).  3. Auditor akan melakukan audit dan penilaian menyeluruh (kecukupan dan kesesuaian) terhadap seluruh kriteria. 4. Selanjutnya, auditor menyusun laporan audit serta melakukan evaluasi hasil audit. 5. Penerbitan sertifikat jika standar terpenuhi. Proses penerbitan SIH memiliki Standar Pelayanan Minimal (SPM) 21 hari kerja. SIH berlaku selama empat tahun dengan audit pengawasan wajib setiap tahun.  Mengapa Bisnis Membutuhkan Sertifikasi Industri Hijau (SIH) Sekarang? Sertifikasi Industri Hijau (SIH) adalah respons strategis bagi entitas bisnis dalam menjawab tantangan pasar dan regulasi global secara sistematis. Langkah proaktif ini menawarkan keuntungan bagi entitas bisnis sekaligus dukungan capaian target nasional (net zero emission 2060). Memenuhi Tuntutan dan Persyaratan Pasar Internasional  Kebijakan perlindungan karbon dari negara-negara tujuan ekspor, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan EU Deforestation Regulation (EUDR), serta geliat bursa karbon dan pasar modal berkelanjutan mendesak transformasi bisnis berkelanjutan lebih cepat.  Perusahaan yang memiliki SIH mampu memenuhi standar global yang makin ketat dan menghindari potensi sanksi akibat regulasi ESG dan sustainability di kemudian hari.  Potensi Keuntungan Ekonomis Penerapan industri hijau perlu mematuhi kriteria tertentu yang memfasilitasi perusahaan untuk menurunkan biaya operasional. Di samping itu, Pemerintah juga merencanakan insentif fiskal dan non-fiskal (potongan pajak, kemudahan perizinan) bagi entitas bisnis yang mendapatkan SIH. Memperkuat Keunggulan Kompetitif untuk Akses Pasar yang Lebih Luas SIH mencerminkan kontribusi perusahaan pada kelestarian lingkungan di mata pemangku kepentingan (konsumen, investor, mitra, regulator). Penggunaan Logo Industri Hijau pada produk dan media promosi juga menjadi bukti komitmen pada sustainability sehingga menambah nilai jual dan loyalitas. Dukungan untuk Ketangguhan Lingkungan   SIH mendorong kontribusi perusahaan pada penurunan GRK dan pelestarian lingkungan sesuai prinsip Industri Hijau. Kontribusi ini terwujud melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, pemantauan rantai pasok, dan penjaminan kesehatan pekerja dan selaras dengan kerangka ESG.  Langkah Pasti Menuju Bisnis Berkelanjutan Penerapan SIH  menawarkan pondasi kokoh menuju masa depan bisnis yang lebih tangguh, bertanggung jawab, dan relevan di pasar yang kian berorientasi pada strategi sustainability.  Dengan kompleksitas standar dan prosesnya, memiliki mitra yang tepat adalah langkah yang krusial. Satuplatform hadir sebagai solusi pengelolaan keberlanjutan yang terpercaya. Segera mulai langkah menuju industri Hijau dengan FREE DEMO Satuplatform.   Similar Article The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy is evident. Regenerative practice changed the focus of the circular economy for a more sustainable future, serving as a new fitting business model.   Read Another Article: How Indonesian Businesses Are Aligning with SDGs for A Sustainable Future What is Regenerative Business for Sustainable Business?  A regenerative… Sertifikasi Industri Hijau (SIH), Pilar Transformasi Bisnis Berkelanjutan di Indonesia Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui transformasi ekonomi hijau. Tiga krisis planet, kerentanan pasokan bahan baku dan air akibat perubahan iklim, hingga kebijakan perlindungan karbon dari pasar global mendorong pengembangan kebijakan ini.  Kondisi ini juga memicu gangguan stabilitas produksi industri, meningkatkan permintaan pasar akan produk hijau dan kebutuhan terhadap bisnis berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan dukungan strategis berupa Sertifikasi Industri Hijau (SIH), sebuah panduan standarisasi yang esensial bagi bisnis untuk bertahan dan mengembangkan daya saing di masa mendatang. Baca Juga: Sustainable Business dan 5 Pelatihan Online  Standar dan Proses Sertifikasi Industri Hijau… Strategi Konservasi Air di Sektor Bisnis untuk Mengurangi Dampak Jejak Karbon Sadarkah Anda bahwa konservasi air dan manajemen air dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus membawa perubahan signifikan pada dampak lingkungan perusahaan?  Setiap entitas bisnis memiliki jejak air, yaitu volume air tawar yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam operasionalnya. Tanpa disadari, entitas bisnis mengkonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar.  Infrastruktur dan konsumsi air memiliki kaitan erat dengan produksi dan dampak jejak karbon pada lingkungan.  Laman Hydropoint menyampaikan bahwa secara garis besar, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi tiap meter kubik air bersih mencapai kurang lebih 10,5 kg.  Temuan ini menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi perlu dilakukan melalui pengelolaan… This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored The global energy landscape is undergoing …

1

Strategi Konservasi Air di Sektor Bisnis untuk Mengurangi Dampak Jejak Karbon

Sadarkah Anda bahwa konservasi air dan manajemen air dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus membawa perubahan signifikan pada dampak lingkungan perusahaan?  Setiap entitas bisnis memiliki jejak air, yaitu volume air tawar yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam operasionalnya. Tanpa disadari, entitas bisnis mengkonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar.  Infrastruktur dan konsumsi air memiliki kaitan erat dengan produksi dan dampak jejak karbon pada lingkungan.  Laman Hydropoint menyampaikan bahwa secara garis besar, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi tiap meter kubik air bersih mencapai kurang lebih 10,5 kg.  Temuan ini menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi perlu dilakukan melalui pengelolaan dan penggunaan air yang lebih bijak.  Oleh sebab itu, memahami jejak air  merupakan langkah penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi pemborosan dan area perbaikan.Baca Juga: Memahami Dampak Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Jejak Air Keuntungan Konservasi Air di Sektor Bisnis  Meskipun membutuhkan waktu dan konsistensi, konservasi air membawa serangkaian keuntungan ganda bagi perusahaan.  1. Keuntungan Ekonomi Strategi ini memfasilitasi penurunan biaya operasional, seperti tagihan air dan biaya pembuangan air limbah. Bisnis yang mengelola konsumsi air dengan lebih efisien juga akan terlindungi dari potensi kenaikan harga air di masa depan seiring prediksi kelangkaan sumber daya. Bahkan, pemerintah Indonesia telah mengatur insentif bagi pelaku penghemat air.   2. Kontribusi pada Lingkungan & Sustainability Penggunaan air yang bijak membantu meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem, mengurangi kerusakan habitat, dan melestarikan keanekaragaman hayati. Melalui upaya ini, perusahaan dapat mencapai tujuan sustainability yang lebih luas dan berkontribusi pada kelangsungan lingkungan yang lebih hijau lewat penekanan dampak jejak karbon melalui sektor air entitas bisnis. 3. Citra Merek, Keunggulan Kompetitif & Kepatuhan Regulasi Komitmen bisnis pada konservasi air berpotensi meningkatkan daya saing dengan nilai tambah yang akan meningkatkan reputasi publik, dan menjangkau konsumen maupun investor yang lebih sadar akan lingkungan.  Konservasi proaktif juga memposisikan perusahaan lebih baik untuk menghadapi potensi regulasi air yang lebih ketat di masa depan. 4. Peningkatan Citra Internal Pengembangan strategi konservasi air di lingkungan perusahaan akan mendorong kepedulian dan kontribusi pegawai. Memupuk kontribusi mereka dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan kepuasan di tempat kerja. Strategi Konkret Konservasi Air bagi Perusahaan Entitas bisnis perlu mempraktikkan strategi yang menyeluruh, mulai dari audit hingga pengembangan kebijakan konservasi air untuk menekan jejak dan dampak jejak karbon serta meraih manfaat yang lebih besar. 1. Lakukan Audit dan Pemeliharaan 2. Efisiensi Peralatan dan Proses 3. Pengelolaan Lanskap yang Bertanggung Jawab 4. Otomasi dengan Teknologi 5. Kembangkan Kebijakan Konservasi Air: Investasi Keberlanjutan Perusahaan  Konservasi air merupakan komponen integral dari bisnis yang berkelanjutan dan respons terhadap perubahan iklim. Strategi konservasi air yang menyeluruh mendukung entitas bisnis untuk mengurangi dampak jejak karbon untuk masa depan yang lebih hijau dan mengoptimalkan potensi keuntungan jangka panjang. Maksimalkan strategi sustainability bisnis Anda dengan solusi pengelolaan karbon dan ESG komprehensif Satuplatform. Tinjau layanan kami melalui FREE DEMO.  Similar Article The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy is evident. Regenerative practice changed the focus of the circular economy for a more sustainable future, serving as a new fitting business model.   Read Another Article: How Indonesian Businesses Are Aligning with SDGs for A Sustainable Future What is Regenerative Business for Sustainable Business?  A regenerative… Sertifikasi Industri Hijau (SIH), Pilar Transformasi Bisnis Berkelanjutan di Indonesia Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmen untuk mencapai Net Zero Emission 2060 melalui transformasi ekonomi hijau. Tiga krisis planet, kerentanan pasokan bahan baku dan air akibat perubahan iklim, hingga kebijakan perlindungan karbon dari pasar global mendorong pengembangan kebijakan ini.  Kondisi ini juga memicu gangguan stabilitas produksi industri, meningkatkan permintaan pasar akan produk hijau dan kebutuhan terhadap bisnis berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan dukungan strategis berupa Sertifikasi Industri Hijau (SIH), sebuah panduan standarisasi yang esensial bagi bisnis untuk bertahan dan mengembangkan daya saing di masa mendatang. Baca Juga: Sustainable Business dan 5 Pelatihan Online  Standar dan Proses Sertifikasi Industri Hijau… Strategi Konservasi Air di Sektor Bisnis untuk Mengurangi Dampak Jejak Karbon Sadarkah Anda bahwa konservasi air dan manajemen air dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus membawa perubahan signifikan pada dampak lingkungan perusahaan?  Setiap entitas bisnis memiliki jejak air, yaitu volume air tawar yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam operasionalnya. Tanpa disadari, entitas bisnis mengkonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar.  Infrastruktur dan konsumsi air memiliki kaitan erat dengan produksi dan dampak jejak karbon pada lingkungan.  Laman Hydropoint menyampaikan bahwa secara garis besar, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi tiap meter kubik air bersih mencapai kurang lebih 10,5 kg.  Temuan ini menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi perlu dilakukan melalui pengelolaan… This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored The global energy landscape is undergoing significant shifts, driven by escalating demand, geopolitical tensions, and the urgent call for sustainable practices. Yet, amid this transformation, many businesses and governments still overlook the looming reality of an energy crisis.  Read other article : Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) Companies Initiatives to Adopt Green Energy Ignoring this issue is not just an environmental mistake, but it is a strategic business risk. The energy crisis is more than an environmental or political concern, but it is an economic and operational challenge that threatens stability, growth, and global sustainability. This article explores why the energy… BMKG: Fase Kritis Dunia, Apa yang Dapat Kita Lakukan? Setiap hari, kita merasakan cuaca yang semakin sulit diprediksi. Pada pagi atau siang hari, cuaca sangat panas namun kemudian menjelang sore atau malam hari tiba-tiba bisa turun hujan. Di samping itu, bencana alam juga terus datang silih berganti. Mulai dari banjir, kekeringan, kebakaran hutan, sampai dengan gelombang panas ekstrem yang kini bukan lagi menjadi fenomena asing. Semua itu merupakan tanda bahwa dunia sudah memasuki fase kritis perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini memberikan penegasan bahwa krisis iklim kini bukan hanya sekedar isu global yang jauh …

2

This Is How Energy Crisis Should Not Get Ignored

The global energy landscape is undergoing significant shifts, driven by escalating demand, geopolitical tensions, and the urgent call for sustainable practices. Yet, amid this transformation, many businesses and governments still overlook the looming reality of an energy crisis.  Read other article : Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) Companies Initiatives to Adopt Green Energy Ignoring this issue is not just an environmental mistake, but it is a strategic business risk. The energy crisis is more than an environmental or political concern, but it is an economic and operational challenge that threatens stability, growth, and global sustainability. This article explores why the energy crisis demands immediate attention from business leaders and stakeholders alike, and how proactive engagement is not only necessary for planetary survival but also critical for future-proofing business resilience. Let’s go through it! The Growing Threat of Global Energy Crisis All of us are aware that for decades, the world has depended heavily on fossil fuels such as coal, oil, and natural gas to meet its growing energy needs. However, this dependence comes at a cost. Fossil fuel reserves are finite, and their extraction and consumption contribute massively to greenhouse gas emissions, exacerbating climate change. Recent geopolitical conflicts, such as the Russia-Ukraine war, have also highlighted how global supply chains for energy can be weaponized, disrupting markets and driving up costs. Meanwhile, emerging economies, particularly in Asia and Africa, are facing energy access gaps, while developed countries are encountering unprecedented price volatility and supply insecurity. If current trends continue unchecked, we are heading toward a situation where energy shortages could derail economic growth, deepen poverty, and lead to social unrest. Businesses must acknowledge that an unstable energy market is no longer a distant or theoretical risk which is actually happening now. Indonesia itself, still has a very high dependency on fossil energy, with fossil fuels accounting for 94% of the country’s total energy mix. This consists of 32.2% petroleum, 18.9% natural gas, and 37.2% coal. Why Businesses Can’t Afford to Ignore the Crisis All parties, including businesses can not ignore the crises. Because ignoring the energy crisis poses direct risks to business continuity. Energy is the lifeblood of virtually every industry such as manufacturing, transportation, logistics, and even digital services rely on consistent energy availability. Fluctuating energy prices can wreak havoc on supply chains, increase production costs, and shrink profit margins. Beyond operational risks, companies that fail to act will face mounting reputational damage. Today’s investors, consumers, and regulators are increasingly holding businesses accountable for their environmental and social impacts. Companies that ignore sustainability and energy efficiency will likely face higher regulatory scrutiny, lose investor confidence, and fail to attract sustainability-conscious consumers. Moreover, forward-thinking organizations recognize that addressing the energy crisis offers not just risk mitigation, but also a significant business opportunity. Clean energy investments, circular business models, and technological innovations are opening new markets, creating jobs, and unlocking long-term growth potential. Integrating Renewable Energy Throughout this situation, one of the most effective ways for businesses to mitigate the energy crisis is by transitioning to renewable energy sources. Solar, wind, hydro, and geothermal power are not only abundant and increasingly cost-competitive but also aligned with global sustainability goals such as the UN Sustainable Development Goals (SDGs) and national commitments to the Paris Agreement. Large multinational corporations have already paved the way. Companies like Google, Apple, and IKEA have committed to renewable energy operations. These efforts reduce exposure to volatile fossil fuel markets, stabilize operational costs, and enhance brand reputation among environmentally conscious stakeholders. However, the responsibility does not lie solely with large enterprises. Small and medium-sized businesses (SMEs, or Indonesian UMKM) must also begin their transition, whether by installing solar panels, purchasing renewable energy certificates, or participating in collaborative renewable energy projects. Embracing Technology for Energy Efficiency Transitioning to renewable energy is only one part of the solution. Energy efficiency is equally vital in addressing the crisis. Fortunately, digital technology has made significant strides in enabling smarter, more efficient energy use across sectors. The adoption of  Internet of Things (IoT), artificial intelligence (AI), and big data analytics now allow businesses to monitor energy consumption in real-time, identify waste, and optimize operations for maximum efficiency. Additionally, businesses can explore circular economy practices, where waste from one process becomes input for another, reducing total energy demand across value chains. Combining energy efficiency with renewable energy not only cuts emissions but also delivers significant cost savings over time. ESG Reporting: Turning Responsibility into Advantage After all, the ESG reporting should not be left behind. Environmental, Social, and Governance (ESG) frameworks have evolved from being optional to essential for businesses that want to remain relevant in today’s economy. Energy use and emissions reduction are at the heart of the environmental pillar of ESG. Investors, especially institutional ones, are increasingly screening portfolios based on ESG performance. Transparent ESG reporting not only demonstrates responsibility but also strengthens a company’s access to capital, as sustainability-focused investors favor companies that show clear environmental stewardship. In markets like Europe, mandatory ESG disclosures are already standard, and similar trends are growing globally. Businesses that integrate energy transition strategies within their ESG frameworks will not only mitigate risks related to climate change but also capture the trust of customers, partners, and investors. If your business is ready to take proactive steps toward energy transition and sustainability leadership, Satuplatform is here to help. With environmental management solutions, expert guidance on ESG frameworks, and a commitment to driving measurable environmental impact, Satuplatform.com provides an all-in-one solution for responsible businesses. Visit satuplatform today and build your pathway toward a smarter, cleaner, and more resilient business future.! Similar Article The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy …

1

BMKG: Fase Kritis Dunia, Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Setiap hari, kita merasakan cuaca yang semakin sulit diprediksi. Pada pagi atau siang hari, cuaca sangat panas namun kemudian menjelang sore atau malam hari tiba-tiba bisa turun hujan. Di samping itu, bencana alam juga terus datang silih berganti. Mulai dari banjir, kekeringan, kebakaran hutan, sampai dengan gelombang panas ekstrem yang kini bukan lagi menjadi fenomena asing. Semua itu merupakan tanda bahwa dunia sudah memasuki fase kritis perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini memberikan penegasan bahwa krisis iklim kini bukan hanya sekedar isu global yang jauh dari kehidupan, namun telah menjadi ancaman nyata yang menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan. Oleh sebab itu, akan sangat bijak apabila setiap dari kita menyadari apa tindakan yang dapat dilakukan dalam menghadapi situasi ini. Baca juga artikel lainnya : Pemanfaatan AI dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Isu Lingkungan dan Fase Kritis Dunia Pada Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke 75 di bulan Maret 2025, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan akan pentingnya pemahaman mendalam terkait pengaruh iklim dan cuaca terhadap kehidupan manusia. Pada Webinar Nasional yang bertajuk ‘Refleksi Banjir JABODETABEK: Strategi Tata Ruang dan Mitigasi Cuaca Ekstrem’, BMKG menyampaikan bahwa perubahan iklim telah mencapai tahap kritis. Berdasarkan data dari BMKG selama periode 2015 – 2024, bumi mengalami suhu terpanas dalam sejarah dengan tahun 2024 tercatat bahwa anomali suhu mencapai 1,55 derajat celcius di atas rata-rata pra industri. Hal ini berarti anomali suhu telah melampaui Paris Agreement, suatu kesepakatan dunia untuk menurunkan kenaikan suhu global agar tidak melebihi ambang 1,5 derajat Celcius Fakta yang Tak Terbantahkan Seiring dengan kenyataan bahwa anomali suhu sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan, kondisi kritis ini juga dibuktikan oleh beberapa fakta lingkungan yang tengah terjadi. BMKG mengacu pada sejumlah indikator ilmiah yang menunjukkan bahwa planet ini tengah memasuki fase yang bisa disebut sebagai titik kritis iklim (climate tipping point). Beberapa indikator utama tersebut di antaranya adalah: Mitigasi Infrastruktur pada Fase Kritis Di tengah fase kritis seperti ini, maka penting untuk dapat melakukan pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan. Dalam hal ini, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menekankan pentingnya pertimbangan aspek ketahanan iklim dan bencana. Sebab, pendekatan ini akan sangat penting dalam mendukung pembangunan nasional di era kritis seperti saat ini.   Di samping itu, Pemprov DKI Jakarta juga melihat bahwa infrastruktur memang merupakan hal yang penting dalam mitigasi bencana. Khususnya, pembangunan sistem peringatan dini berbasis teknologi, seperti BMKG Signature, juga menjadi infrastruktur yang dapat mendukung keselamatan di era kritis seperti saat ini. Teknologi semacam ini mempunyai berbagai keunggulan seperti dalam hal memberikan informasi cuaca secara akurat dan tepat waktu. Sehingga, nantinya dapat juga dirancang kebijakan tata ruang yang lebih adaptif. Tanggung Jawab Bersama di Fase Kritis Menghadapi kenyataan bahwa Indonesia kini berada dalam fase kritis perubahan iklim, penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menekankan bahwa pengalaman banjir besar yang melanda Jabodetabek pada Maret lalu merupakan contoh nyata perlunya sistem kebencanaan yang lebih kokoh dan terintegrasi.  Sistem ini mencakup tiga lapisan penting: BMKG sebagai penyedia informasi dini di hulu, kemudian diikuti oleh jajaran pemerintah daerah, BNPB, Badan SAR, TNI, Polri, media massa, hingga komunitas sebagai jembatan informasi, dan masyarakat sebagai pihak paling akhir yang menerima informasi dan bertindak. Namun, kekuatan mata rantai tersebut tidak akan maksimal jika dijalankan secara parsial. Semua elemen harus saling terhubung dan berkolaborasi sesuai perannya masing-masing agar pesan-pesan peringatan dini benar-benar sampai kepada masyarakat secara utuh dan tepat waktu. Sinergi antara lembaga pemerintah, media, komunitas lokal, dan masyarakat adalah langkah fundamental untuk meminimalisir risiko bencana yang bisa semakin sering terjadi. Lebih dari itu, perubahan iklim yang telah memasuki fase genting menuntut pendekatan yang lebih adaptif. Tidak cukup lagi mengandalkan cara-cara lama, diperlukan langkah-langkah inovatif dan konkret agar penanganan bencana menjadi lebih efektif. Seluruh upaya ini harus berorientasi pada satu tujuan besar: melindungi keselamatan masyarakat dan membangun ketahanan yang lebih tangguh di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Peran Khusus bagi Pelaku Industri Sektor industri, sebagai salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dan penggunaan sumber daya alam, memegang peranan strategis dalam menentukan arah masa depan lingkungan. Oleh karena itu, dunia usaha diharapkan agar tidak sekadar berorientasi pada pertumbuhan keuntungan semata, melainkan juga harus menempatkan aspek keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan operasional bisnisnya. Salah satu pendekatan yang kini menjadi standar global dalam praktik bisnis berkelanjutan adalah penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). ESG adalah kerangka kerja yang dirancang untuk membantu perusahaan mengukur dan mengelola dampak mereka terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik. Melalui penerapan ESG, perusahaan diharapkan tidak hanya berkontribusi dalam penurunan emisi karbon, tetapi juga turut menciptakan dampak sosial yang positif dan memperkuat transparansi tata kelola. Selain sebagai bentuk tanggung jawab moral, penerapan ESG juga memiliki nilai strategis secara bisnis. Semakin banyak investor global yang kini memprioritaskan perusahaan dengan kinerja ESG yang baik. Bahkan, sejumlah lembaga keuangan dan institusi multinasional telah memasukkan kriteria ESG sebagai syarat utama dalam penyaluran pendanaan. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi standar baru dunia bisnis. Dengan kondisi dunia yang berada dalam fase kritis iklim, kontribusi aktif dari sektor industri melalui penerapan ESG bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Perusahaan yang mampu bertransformasi menjadi bagian dari solusi akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan bumi, sekaligus memperkuat daya saing bisnis di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Krisis iklim nyata terjadi, jangan tunggu sampai bencana berikutnya datang tanpa persiapan. Kini, Satuplatform.com hadir untuk membantu bisnis mengambil langkah konkret. Satuplatform  mendampingi perusahaan dalam merancang strategi keberlanjutan, mitigasi risiko iklim, dan penyusunan laporan yang kredibel sesuai standar global. Pelajari lebih lanjut layanan kami, disini! Similar Article The Next Era of Sustainable Business: Going from Circular to Regenerative Models In 2024, companies started to elevate sustainable business through more future-fit models. Global challenges, from resource scarcity to social and workplace welfare, now drive a shift from merely reducing harm to actively enhancing positive impact.This era also necessitates active improvement.  Moving beyond zero emission to achieving net-positive impact for the planet, communities, and economy is evident. …