Kesalahan Umum dalam Penyusunan Sustainability Report

Kesadaran terhadap pentingnya praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari performa finansial, tetapi juga dari bagaimana mereka mengelola dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau Environmental, Social, and Governance (ESG). Dalam konteks tersebut, sustainability report menjadi salah satu instrumen penting yang digunakan perusahaan untuk menunjukkan komitmen keberlanjutannya.

Namun, penyusunan sustainability report bukan sekadar mengumpulkan data dan membuat laporan tahunan. Banyak perusahaan masih menghadapi berbagai kendala dalam proses penyusunannya, mulai dari data yang tidak akurat hingga kurangnya transparansi informasi. Jika tidak dilakukan dengan baik, sustainability report justru dapat mengurangi kredibilitas perusahaan di mata stakeholder dan investor.

Sustainability Report dan Fungsinya

Sustainability report atau laporan keberlanjutan adalah laporan yang berisi informasi mengenai dampak dan kinerja perusahaan dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Laporan ini digunakan untuk menunjukkan bagaimana perusahaan menjalankan bisnis secara bertanggung jawab sekaligus mendukung keberlanjutan jangka panjang.

Secara umum, sustainability report mencakup berbagai informasi seperti:

  1. Penggunaan energi dan air
  2. Emisi karbon dan pengelolaan limbah
  3. Keselamatan dan kesehatan kerja
  4. Program sosial perusahaan
  5. Kepatuhan hukum dan tata kelola perusahaan
  6. Strategi keberlanjutan dan target ESG

Fungsi sustainability report sendiri cukup luas, di antaranya:

  1. Meningkatkan transparansi perusahaan kepada publik dan investor
  2. Menunjukkan komitmen perusahaan terhadap ESG
  3. Membantu memenuhi regulasi dan tuntutan pasar global
  4. Menjadi alat evaluasi performa keberlanjutan perusahaan
  5. Meningkatkan reputasi dan daya saing bisnis
  6. Mendukung strategi investasi dan pengelolaan risiko perusahaan

Cara Pengumpulan Data Sustainability Report

Pengumpulan data merupakan salah satu proses paling penting dalam penyusunan sustainability report. Kualitas laporan sangat bergantung pada validitas dan konsistensi data yang digunakan.

Secara umum, perusahaan mengumpulkan data dari berbagai departemen seperti operasional, SHE, HR, procurement, finance, hingga legal. Pada perusahaan multi-site, data bahkan berasal dari berbagai lokasi operasional yang berbeda. Agar proses pengumpulan data lebih efektif, perusahaan biasanya menerapkan beberapa langkah berikut:

  1. Menentukan indikator ESG yang akan dipantau
  2. Membuat standar format pencatatan data
  3. Menunjuk PIC atau tim ESG di setiap departemen
  4. Menetapkan jadwal pelaporan berkala
  5. Menggunakan platform digital atau dashboard monitoring
  6. Melakukan validasi dan audit data secara rutin

Saat ini, banyak perusahaan mulai menggunakan sistem ESG management berbasis digital untuk mempermudah integrasi data dari berbagai lokasi secara real-time. Digitalisasi membantu mengurangi kesalahan pencatatan manual sekaligus mempercepat proses analisis data.

Penyusunan Sustainability Report Secara Umum

Penyusunan sustainability report memerlukan proses yang sistematis agar laporan yang dihasilkan relevan, akurat, dan sesuai standar.

Tahap pertama biasanya dimulai dengan menentukan tujuan dan ruang lingkup laporan. Perusahaan perlu menetapkan aspek ESG apa saja yang akan dilaporkan serta menentukan standar pelaporan yang digunakan.

Selanjutnya, perusahaan melakukan materiality assessment atau identifikasi isu material. Tahapan ini bertujuan menentukan isu keberlanjutan yang paling relevan dan berdampak terhadap bisnis maupun stakeholder. Contohnya meliputi emisi karbon, pengelolaan limbah, efisiensi energi, keselamatan kerja, atau tata kelola perusahaan.

Baca Juga : Hubungan Carbon Accounting dan Sustainability Report dalam Mendukung ESG Perusahaan

Setelah itu, perusahaan mulai mengumpulkan data dari berbagai divisi operasional. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif, seperti:

  1. Konsumsi listrik dan bahan bakar
  2. Volume limbah dan emisi karbon
  3. Data kecelakaan kerja
  4. Program CSR dan pelatihan karyawan
  5. Kepatuhan terhadap regulasi lingkungan

Data tersebut kemudian dianalisis dan disusun menjadi laporan yang berisi target, capaian, strategi, serta tantangan keberlanjutan perusahaan. Sustainability report biasanya juga dilengkapi dengan grafik, indikator performa, dan roadmap keberlanjutan perusahaan di masa depan.

Kesalahan Umum yang Sering Dihadapi

2

Meskipun sustainability report semakin umum digunakan, masih banyak perusahaan yang melakukan kesalahan dalam proses penyusunannya. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.

1. Data Tidak Akurat dan Tidak Konsisten

Kesalahan paling umum adalah penggunaan data yang tidak valid atau berbeda antar periode pelaporan. Hal ini biasanya terjadi karena perusahaan masih menggunakan pencatatan manual atau belum memiliki standar data yang seragam. Akibatnya, laporan menjadi sulit diverifikasi dan dapat menurunkan kepercayaan stakeholder.

2. Terlalu Fokus pada Pencitraan

Sebagian perusahaan hanya menampilkan pencapaian positif dalam sustainability report tanpa menjelaskan tantangan atau target yang belum tercapai. Pendekatan seperti ini berisiko dianggap sebagai greenwashing atau pencitraan keberlanjutan semata. Padahal, investor dan stakeholder kini lebih menghargai transparansi dibanding laporan yang hanya bersifat promosi.

3. Tidak Melakukan Materiality Assessment

Tanpa identifikasi isu material, sustainability report seringkali berisi terlalu banyak informasi yang tidak relevan dengan bisnis perusahaan. Akibatnya, laporan menjadi kurang fokus dan sulit menunjukkan prioritas keberlanjutan perusahaan secara jelas.

4. Kurangnya Koordinasi Antar Divisi

Penyusunan sustainability report sering dianggap sebagai tanggung jawab satu tim tertentu, padahal data ESG berasal dari banyak departemen. Kurangnya koordinasi menyebabkan data terlambat, tidak lengkap, atau sulit dikonsolidasikan.

5. Tidak Memiliki Target yang Terukur

Beberapa perusahaan hanya menampilkan program keberlanjutan tanpa target yang jelas dan terukur. Padahal, sustainability report yang baik seharusnya memuat indikator performa dan target jangka panjang, seperti pengurangan emisi karbon atau efisiensi energi.

6. Mengabaikan Validasi Data

Tanpa proses validasi dan audit, risiko kesalahan data menjadi lebih besar. Hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas laporan, terutama saat dilakukan audit ESG atau penilaian investor.

Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution

Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional.

Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis.

Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi:

  • Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3)

  • ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global

  • Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data

  • Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan

  • Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation

Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan?

Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan.

Similar Article