Sektor manufaktur memiliki dampak signifikan terhadap emisi karbon global. Menurut data IEA 2022, jumlah emisi karbon sektor ini mencapai 25% dari emisi karbon global (sekitar 9 Gt CO2), dengan penggunaan listrik 41,9% dari konsumsi listrik global pada 2019.
Peningkatan kontribusi substansial ini, tekanan dari pemangku kepentingan dan regulasi, mengharuskan industri manufaktur untuk memprioritaskan ESG sustainability dalam strategi bisnis dan rantai nilai mereka.
Baca Juga: Strategi Green Growth bagi Bisnis untuk Mendukung ESG Sustainability
Table of Contents
ToggleTantangan ESG Sustainability yang Unik di Sektor Manufaktur
Penerapan kerangka ESG di manufaktur, meski didorong kuat secara global, menghadapi kendala unik dan kompleks.
1. Aspek Lingkungan
Manufaktur bertanggung jawab atas hampir 23% emisi GRK global dan mengonsumsi 54% sumber daya energi global, dengan tantangan besar dalam mengurangi emisi Scope 3 di seluruh rantai pasok.
Volume limbah industri yang besar, termasuk e-waste (40 juta metrik ton/tahun), serta limbah yang sulit didaur ulang, menimbulkan tantangan logistik dan regulasi. Konsumsi bahan baku dan air yang intensif juga berkontribusi pada dampak lingkungan yang signifikan.
2. Aspek Sosial
Sektor ini menghadapi risiko cedera di tempat kerja (2,8 juta kasus/tahun), praktik tenaga kerja tidak adil, dan pelanggaran hak asasi manusia, terutama di rantai pasok global yang kompleks.
Kurangnya visibilitas rantai pasok yang mendalam mempersulit pemantauan praktik tenaga kerja dan dampak lingkungan sehingga meningkatkan risiko praktik tidak etis. Selain itu, sektor ini menghadapi tantangan dalam mengelola keragaman dan inklusi karena kecendrungan gender dan demografi tertentu yang mendominasi tenaga kerja serapannya.
3. Aspek Tata Kelola
Cakupan regulasi ESG terus berkembang dan seringkali bertentangan di berbagai yurisdiksi, seperti EU CSRD, SEC Climate Disclosure, dan CA Supply Chains Act, mengakibatkan kepatuhan regulasi lebih rumit.
Akurasi dan keandalan data ESG sering dipertanyakan dan berisiko merusak kredibilitas dan reputasi perusahaan. Lebih dari itu, operasi bisnis manufaktur di negara dengan regulasi yang lemah juga dapat meningkatkan risiko korupsi.
Indikator Utama ESG yang Relevan untuk Industri Manufaktur

Sistem pengukuran mentrik kuantitatif yang menyeluruh merupakan elemen vital untuk menghasilkan laporan yang solid, identifikasi area perbaikan yang efektif, dan pemenuhan ekspektasi pemangku kepentingan yang optimal untuk implementasi ESG berkelanjutan.
1. Metrik Lingkungan (E)
Melacak emisi karbon (Scope 1, 2, 3), memantau konsumsi energi terbarukan vs. non-terbarukan, mengukur tingkat daur ulang limbah, dan memantau penggunaan air serta efektivitas pengolahan air limbah
2. Metrik Sosial (S)
Tolak ukur ini harus mencakup mengukur praktik kerja yang adil, kondisi kerja yang aman, tingkat turnover, program kesejahteraan karyawan, keragaman angkatan kerja, dan keterlibatan komunitas melalui investasi lokal.
3. Metrik Tata Kelola (G)
Meliputi aspek strategis termasuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, menerapkan kebijakan anti-korupsi, memiliki struktur dewan yang transparan dan beragam, serta menyelaraskan kompensasi eksekutif dengan kinerja ESG.
Transisi Menuju Praktik ESG Konkret dan Terukur
Untuk mencapai dampak nyata dan keunggulan kompetitif, perusahaan manufaktur perlu mengadopsi pendekatan strategis dan proaktif terhadap ESG sustainability melalui langkah-langkah berikut.
1. Strategi Pengurangan Emisi
- Prioritaskan pengurangan emisi langsung (Scope 1 & 2) melalui efisiensi energi, transisi ke energi terbarukan, dan adopsi proses produksi yang lebih bersih.
- Investasi dalam teknologi hijau seperti carbon capture and storage (CCS) dan mengganti peralatan berbahan bakar fosil.
2. Menerapkan Ekonomi Sirkular
- Rancang produk dengan material daur ulang, tingkatkan daya tahan, dan dorong daur ulang atau penggunaan kembali komponen.
- Terapkan praktik zero waste untuk meminimalkan limbah, gunakan bahan baku berkelanjutan, dan kurangi kuantitas kemasan.
3. Meningkatkan Transparansi Rantai Pasok
- Lakukan audit rantai pasok secara teratur untuk memastikan pengadaan etis, kondisi tenaga kerja yang adil, dan kepatuhan regulasi.
- Manfaatkan teknologi seperti blockchain untuk ketertelusuran dan Life Cycle Assessment (LCA).
4. Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Digital
- Integrasikan AI, IoT, virtual twins, dan AR untuk memantau konsumsi energi dan emisi secara real-time, mengoptimalkan sumber daya, dan meningkatkan efisiensi operasional.
- Kembangkan produk yang sustainable (contoh: komponen lebih sedikit, kemasan daur ulang).
5. Membangun Tata Kelola yang Kuat
- Kembangkan strategi ESG yang jelas dengan tujuan dan KPI yang selaras dengan bisnis.
- Bangun pengawasan kepemimpinan, definisikan peran ESG khusus, dan bentuk komite ESG lintas fungsi.
- Pastikan keragaman dewan direksi yang berorientasi jangka panjang.
6. Melibatkan Karyawan & Komunitas Lokal
- Promosikan program keragaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), dukung kesejahteraan karyawan, dan sediakan peluang peningkatan keterampilan.
- Bangun kemitraan komunitas melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan infrastruktur lokal.
7. Pelaporan dan Pemantauan Berkelanjutan
- Gunakan perangkat lunak ESG untuk mengotomatisasi pengumpulan data, penilaian risiko, dan pelaporan yang selaras dengan standar global (GRI, SASB, CSRD, dan TCFD).
- Pantau dan laporkan kemajuan secara transparan untuk membangun kepercayaan pemangku kepentingan.
Implementasi ESG yang Proaktif
Memanfaatkan teknologi dan data adalah kunci untuk mengukur, mengelola sumber daya dan tantangan penerapan ESG pada industri manufaktur. Perusahaan Anda dapat melakukan penilaian ESG yang menyeluruh, menghasilkan laporan yang akurat, dan memperbaiki kinerja secara terstruktur bersama Satuplatform. Akses demo gratis kami segera.
Similar Article
Bioplastic dari Rumput Laut: Solusi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan
Mengenal Bioplastic dari Rumput Laut Bioplastic dari rumput laut (alga) menjadi salah satu inovasi material ramah lingkungan yang semakin menarik…
Menuju Hubungan Kelautan Dunia: Potensi Ekonomi Biru Indonesia Sebagai Pusat Global
Bersama World Economic Forum (WEF), Indonesia menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit (OIS) pertama yang digelar di Bali pada 8–9…
Tren Sustainability 2026 yang Wajib Dipahami Perusahaan
Isu keberlanjutan atau sustainability kini bukan lagi sekadar tren tambahan dalam strategi perusahaan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam arah…
Tantangan Pengumpulan Data ESG di Perusahaan Multi-Site
Penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern. Tidak hanya perusahaan besar global, perusahaan…
Hubungan Carbon Accounting dan Sustainability Report dalam Mendukung ESG Perusahaan
Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga harus mampu menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Dalam konteks…
Kesalahan Umum dalam Penyusunan Sustainability Report
Kesadaran terhadap pentingnya praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari performa finansial,…

