Dalam perjalanan menuju net-zero emisi GRK, green power (energi hijau) dan carbon offset adalah dua pendekatan krusial yang perannya seringkali belum sepenuhnya dibedakan dalam strategi dekarbonisasi. Energi hijau (terutama melalui pembelian listrik terbarukan/ RECs) berfungsi sebagai reduksi emisi langsung dari konsumsi listrik (emisi Scope 2) dan pendekatan yang efektif untuk mengurangi emisi di sumbernya.
Sebaliknya, offset adalah alat untuk mengkompensasi emisi yang tidak dapat dihindari atau residu setelah semua upaya pengurangan langsung telah dilakukan. Lalu, apa yang membuat perspesi tentang keduanya tumpang tindih?
Table of Contents
ToggleDefini dan Manfaat Green Power
Energi hijau adalah bagian energi terbarukan, seperti surya, angin, panas bumi, biogas, biomassa, dan low-impact hydroelectric. Sebagian sumbernya dari alam dan dapat diperbarui secara alami, dengan pemanfaatan yang bersifat sukarela, menunjukkan komitmen proaktif terhadap keberlanjutan. Solusi ini lebih ramah lingkungan dan menawarkan manfaat yang menyeluruh pada aspek ESG.

1. Dampak pada Lingkungan
Penggunaan energi hijau secara signifikan mengurangi jejak karbon perusahaan karena tidak memiliki emisi karbon sehingga berkontribusi pada mitigasi pemanasan global, dan melindungi keanekaragaman hayati.
2. Manfaat Sosial
Inisiatif proyek energi hijau dapat menciptakan lapangan kerja (misalnya di sektor manufaktur dan instalasi), meningkatkan kualitas udara, dan mendukung kesehatan masyarakat.
3. Tata Kelola
Mendorong kemandirian energi suatu entitas dan mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga bahan bakar fosil.
Hubungan Antara Green Power dan Carbon Offset
Pada dasarnya, green power dan offset memiliki implementasi yang berbeda dalam strategi dekarbonisasi. Offset mengkompensasi emisi yang dihasilkan di satu tempat melalui pengurangan atau penghilangan emisi di tempat lain.
Baca Juga : 5 Cara Dukung Penerapan Green Energy
Sebaliknya, pemanfaatan energi hijau berfokus pada penghindaran emisi di titik konsumsi dengan beralih ke sumber terbarukan. Intinya, energi hijau secara intrinsik mengubah profil emisi karbon yang perusahaan konsumsi.
Green power memiliki mekanisme pembelian energi hijau menggunakan RECs (Renewable Energy Certificates), merepresentasikan atribut lingkungan dari satu megawatt-jam (MWh) listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan dan disalurkan ke jaringan listrik.
Instrumen ini juga dikenal dengan istilah Guarantees of Origin (GOs) di Uni Eropa dan International Renewable Energy Certificates (I-RECs) di lebih dari 50 negara
Pembelian RECs dapat dilakukan secara bundled maupun unbundled memungkinkan perusahaan mengklaim penggunaan energi nol-emisi untuk Scope 2 mereka.
Mengingat listrik di jaringan tidak dapat dibedakan sumbernya secara fisik, RECs menjadi instrumen krusial untuk melacak dan mengklaim atribut lingkungan energi terbarukan, sehingga mendukung pengembangan pasar ini
Berbeda dengan carbon offset yang mewakili penghindaran atau penghilangan satu ton CO2e dan memerlukan pengujian additionality yang ketat, RECs tidak secara langsung mengurangi emisi dan tidak memerlukan pengujian tersebut.
Perbedaan fundamental ini menggarisbawahi bahwa RECs berfokus pada sumber energi yang dikonsumsi, sementara offset pada pengurangan emisi aktual di tempat lain
Selain itu, offset dapat digunakan untuk mengkompensasi emisi Scope 1, 2, dan 3 dengan skema avoided maupun removal offset.
Menariknya, proyek energi terbarukan dapat menjadi jenis proyek carbon offset, seperti pembangunan ladang angin di negara berkembang. Tantangan yang proyek green power hadapi serupa dengan offset, yaitu risiko greenwashing jika tidak disinergikan dengan pengurangan emisi langsung.
Pengakuan Regulasi dan Pasar
Energi hijau dan RECs, bersama dengan carbon offset, memiliki pengakuan yang kuat dalam kerangka keberlanjutan global dan pasar, meskipun dengan peran yang berbeda namun saling melengkapi. Pengakuan ini didorong oleh meningkatnya tekanan dari investor, publik, dan regulator yang menuntut transparansi dan praktik keberlanjutan yang kredibel dari perusahaan.
- Energi hijau diakui dalam sertifikasi bangunan hijau seperti LEED, yang mendorong pengadaan energi hijau untuk mengurangi emisi GRK bangunan, selayaknya offset.
- Mirip dengan mekanisme offset, RECs adalah instrumen berbasis pasar yang beroperasi dalam skema voluntary (berdasarkan komitmen perusahaan) dan mandatory (untuk memenuhi standar portofolio terbarukan wajib).
- Regulator seperti EPA merekomendasikan RECs yang disertifikasi dan diverifikasi oleh pihak ketiga (misalnya, Green-e Energy) untuk memastikan kredibilitas.
- Standar pelaporan seperti GHG Protocol juga memberikan panduan untuk mengukur emisi Scope 2, termasuk peran RECs dan meningkatkan transparansi.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa penggunaan energi hijau dan carbon offset, bila diimplementasikan dengan benar dan diverifikasi, memiliki validitas di mata regulator dan pasar, mendukung tujuan dekarbonisasi perusahaan.
Membangun Strategi Dekarbonisasi yang Terpadu
Meskipun fungsinya berbeda, green power dan offset sama-sama diakui dalam upaya dekarbonisasi komprehensif dengan proses mengurangi (di Scope 2) dan mengkompensasi (residu atau emisi yang tidak dapat dihindari).
Pemahaman yang jelas tentang perbedaan dan sinergi keduanya sangat penting untuk membangun strategi dekarbonisasi yang kredibel dan efektif. Sedangkan mengukur dan melaporkan dampak dari kedua inisiatif ini adalah kunci untuk menunjukkan kontribusi nyata terhadap target net-zero dan meningkatkan reputasi perusahaan.
Jelajahi layanan Carbon & ESG Management Satuplatform. Jadwalkan demo gratis hari ini untuk solusi terukur yang mengintegrasikan energi terbarukan dan offset secara optimal.
Similar Article
Bioplastic dari Rumput Laut: Solusi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan
Mengenal Bioplastic dari Rumput Laut Bioplastic dari rumput laut (alga) menjadi salah satu inovasi material ramah lingkungan yang semakin menarik…
Menuju Hubungan Kelautan Dunia: Potensi Ekonomi Biru Indonesia Sebagai Pusat Global
Bersama World Economic Forum (WEF), Indonesia menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit (OIS) pertama yang digelar di Bali pada 8–9…
Tren Sustainability 2026 yang Wajib Dipahami Perusahaan
Isu keberlanjutan atau sustainability kini bukan lagi sekadar tren tambahan dalam strategi perusahaan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam arah…
Tantangan Pengumpulan Data ESG di Perusahaan Multi-Site
Penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern. Tidak hanya perusahaan besar global, perusahaan…
Hubungan Carbon Accounting dan Sustainability Report dalam Mendukung ESG Perusahaan
Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga harus mampu menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Dalam konteks…
Kesalahan Umum dalam Penyusunan Sustainability Report
Kesadaran terhadap pentingnya praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari performa finansial,…

