Penerapan ESG Framework untuk Industri Food and Beverage

Operasional industri Food and Beverages (F&B) yang kian kental dengan masifnya carbon footprint dan ketergantungan pada air, serta isu aspek ketenagakerjaan di rantai pasok makanan makin terdesak risiko krisis iklim. Kenaikan suhu bumi dan cuaca ekstrim mempengaruhi hasil panen, meningkatkan biaya operasional, sekaligus mengguncang stabilitas pasokan.

Laporan Trace Grainst menunjukkan bahwa 64% jenama makanan menilai bahwa adopsi ESG framework sangat krusial bagi bisnis F&B. Di sisi lain, 41% dari jenama tersebut kesulitan mencapai kepatuhan dan menunjukkan bahwa pemahaman dan panduan praktis sangat dibutuhkan untuk membantu transformasi rantai nilai F&B yang berkelanjutan. 

Baca Juga: Understanding the Risk Assessment in the ESG Framework for Business

Aspek yang Mendesak Adopsi ESG Framework dalam Industri F&B

Kepentingan adopsi kerangka kerja ESG didorong oleh berbagai faktor. Investor kian gencar menggunakan rating ESG perusahaan untuk membuat keputusan alokasi modal, sementara konsumen menuntut produk yang berlabel etis dan berkelanjutan. Selain itu, ada berbagai regulasi global yang turut memaksa perusahaan mengintegrasikan ESG Framework secara mendalam, di antaranya sebagai berikut.

2

1. EU Deforestation Regulation (EUDR)

Regulasi ini mewajibkan perusahaan membuktikan bahwa komoditas yang mereka gunakan (contohnya kopi dan kakao) tidak terkait dengan deforestasi, yang sangat memengaruhi rantai pasokan agrikultur.

2. CDP, ISSB, dan GRI

Standar-standar yang menjadi acuan global untuk pelaporan dampak lingkungan yang transparansi dan akurat.

3. TCFD dan SASB

Pelaporan terkait aspek finansial dan sustainability dengan data yang terstandarisasi dan terperinci

4. U.S. the Securities and Exchange Commission (SEC) dan California SB 253 

SEC memperkenalkan standar untuk pengungkapan aksi iklim. Sementara SB 253 adalah  peraturan yang berpotensi mewajibkan pengungkapan Emisi Scope 3 (emisi rantai pasokan) secara publik dan akan memberikan tekanan kepatuhan signifikan pada supplier global.

Panduan Implementasi ESG Framework: 4 Langkah Strategis 

Untuk dapat menavigasi risiko iklim dengan mengintegrasikan ESG pada bisnis secara optimal, pelaku bisnis di industri F&B dapat melakukan 4 langkah berikut ini. 

1. Persiapan dan Prioritas (Materiality Assessment)

Mulailah dengan Peer Benchmark untuk memetakan program dan tujuan ESG dari kompetitor. Kemudian, lakukan Materiality Assessment untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan isu ESG yang paling berdampak dan relevan dengan melibatkan stakeholder untuk memastikan relevansi. Contohnya, isu penggunaan air, tenaga kerja, atau limbah kemasan.

2. Menetapkan Tujuan yang Terukur dan Dukungan Pimpinan

Berdasarkan asesmen material, buat dan dokumentasikan tujuan yang terukur dengan milestones yang jelas menjadi sebuah peta panduan, lengkap dengan KPI, timelines, dan penanggungjawab. Perkuat dukungan dan komitmen dari eksekutif dan integrasikan peta panduan secara penuh ke dalam operasional perusahaan.  

Langkah ini  krusial untuk mengatasi kesenjangan antara komitmen dan kinerja. Pastikan tujuan selaras dengan kerangka kerja industri untuk mempermudah audit.

3. Implementasi pada Setiap Aspek ESG

Berikut ini adalah sejumlah contoh praktis implementasi strategi ESG dari hulu ke hilir. 

Lingkungan (E): Inovasi Rantai Pasokan

  • Terapkan climate-smart agriculture, seperti rotasi tanaman dan cover crops, untuk melindungi kesehatan tanah dan mengurangi emisi.
  • Limbah & Inovasi: Terapkan sistem food wastage tracking untuk meminimalkan kerugian operasional dan mendukung donasi atau program kompos. Pertimbangkan investasi pada food biotechnology untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan penggunaan lahan di masa depan.

Sosial (S): Keadilan dan Ketertelusuran

  • Pastikan upah yang adil, kondisi kerja aman, dan inklusif. Keterlibatan komunitas melalui local sourcing juga dapat memperkuat dampak sosial. 
  • Gunakan framework khusus, seperti KnowTheChain Food & Beverage Benchmark, untuk menilai dan meningkatkan praktik tenaga kerja secara sistematis dan mengatasi isu eksploitasi tenaga kerja yang lazim terjadi di rantai pasok agrikultur.

Tata Kelola (G): Akuntabilitas dan Data

  • Manfaatkan Teknologi (AI dan Blockchain) untuk monitoring, carbon tracking, mengumpulkan data terverifikasi yang lebih akurat, dan menjamin ketertelusuran produk dari hulu ke hilir.
  • Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya dalam greenhouse gas emissions accounting, perusahaan dapat mempertimbangkan bantuan ahli atau tim ESG fractional.

4. Pemantauan yang Konsisten dan Transformasi

Pastikan bahwa pendekatan ESG perusahaan berfokus pada tujuan masa depan dan terpantau secara konsisten. Lakukan evaluasi strategis dengan menilai risiko-risiko iklim dan pertimbangkan untuk melakukan transformasi yang lebih besar sambil mengatasi risiko fisik jangka pendek untuk meningkatkan dampak positif bisnis di masa depan. 

Manfaat Finansial dan Mitigasi Risiko Penerapan ESG

Secara umum, kepatuhan pada ESG framework berpotensi mengurangi risiko denda finansial, kerugian reputasi jenama, dan disrupsi operasional. 

Penelitian CSE pada tahun 2023 terhadap salah satu jenama makanan terkemuka di Amerika Serikat, General Milles, menunjukkan praktik ESG yang kuat mendorong pertumbuhan laba tertinggi mereka di tahun fiskal 2020 – 2021. Artinya, potensi peningkatan laba berbanding lurus dengan praktik ESG yang solid. 

Penerapan ESG harus disesuaikan berdasarkan skala bisnis untuk membantu memitigasi risiko operasional yang disebabkan oleh kompleksitas rantai pasokan. Bisnis kecil dapat fokus pada local sourcing dan reduksi limbah, sementara korporasi besar harus fokus pada kepatuhan regulasi global dan kompleksitas global labor rights. Otomasi pengelolaan ESG perusahaan F&B Anda dengan layanan komprehensif dari Satuplatform. Mulai transisi komprehensif dan terstruktur untuk menelaah risiko dan memanfaatkan peluang keuntungan masa depan.

Similar Article