World Economic Forum pada tahun 2020 menyebutkan bahwa 163 sektor industri bergantung pada alam dan kontribusinya, dengan nilai ekonomi mencapai hingga $44 triliun. Data ini menunjukkan besarnya risiko yang bisnis hadapi akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Meskipun begitu, strategi mitigasi perubahan iklim masih terperangkap pada carbon tunnel vision (terlalu berfokus pada emisi karbon) yang justru berdampak buruk pada keanekaragaman hayati dan alam. Perusahaan perlu menyadari bahwa kemampuan mengelola risiko yang terkait alam dan keanekaragaman hayati esensial bagi ketahanan rantai pasok dan bisnis di masa depan.
Baca Juga: Apakah Deforestasi Dapat Memicu Krisi Pangan Berikutnya Melalui Perubahan Iklim?
Table of Contents
ToggleKeanekaragaman Hayati merupakan Senjata Mitigasi Perubahan Iklim yang Terlupakan
Ekosistem alami berfungsi sebagai solusi berbasis alam untuk mengurangi risiko iklim sekaligus salah satu alat mitigasi perubahan iklim paling kuat dan strategis bagi bisnis melalui dua peran utama berikut ini.
1. Penyerap Emisi Karbon
Contohnya, lahan hutan, lahan gambut, dan mangrove peran sebagai penyerap karbon raksasa (carbon sinks) yang secara alami menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
2. Benteng Alami dari Dampak Fisik Perubahan Iklim
Misalnya, hutan mangrove dapat melindungi fasilitas pesisir dari erosi dan banjir, sementara lahan basah membantu mengelola risiko kekeringan dan kelangkaan air yang dapat mengganggu rantai pasokan bagi bisnis secara langsung maupun tidak langsung.
Kedua peran ini memiliki pengaruh dalam membangun ketahanan bisnis terhadap dampak fisik maupun ekonomis perubahan iklim pada keseluruhan bisnis.
Namun, tidak semua solusi berbasis alam memberikan manfaat yang sama. Sebuah studi menunjukkan bahwa reforestation (menanam kembali hutan di tempat asalnya) dapat menguntungkan iklim dan biodiversitas.
Akan tetapi, afforestation (menanam hutan di ekosistem non-hutan seperti sabana atau padang rumput) dapat menyebabkan hilangnya habitat secara signifikan.
Hasil studi ini menunjukkan tujuan memang penting, tetapi sebaliknya, cara mencapai target iklim juga perlu diperhitungkan dengan cermat. Oleh sebab itu, solusi yang tepat harus bersifat holistik dan terintegrasi untuk mencapai hasil terbaik bagi alam dan kemanusiaan.
Mengapa Krisis Biodiversitas Adalah Krisis Bisnis?
Bisnis memiliki dua hubungan pada keseimbangan alam, yaitu ketergantungan sekaligus dampak pada alam dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Hubungan tersebut menciptakan serangkaian risiko nyata yang tidak dapat diabaikan mencakup tiga aspek penting berikut.

1. Fisik
Dampak langsung dari degradasi alam terhadap operasional bisnis, seperti gangguan rantai pasok akibat berkurangnya penyerbukan atau kelangkaan air. Risiko ini dipicu oleh aktivitas perusahaan seperti perubahan tata guna lahan dan eksploitasi sumber daya alam secara langsung
2. Transisi
Risiko ini muncul dari perubahan regulasi, kebijakan, atau pergeseran preferensi pasar yang menjauhi bisnis yang memiliki dampak kerusakan alam. Sebagai upaya mitigasi perubahan iklim, risiko keanekaragaman hayati kini dipandang sebagai komponen krusial yang memengaruhi profil risiko perusahaan sehingga berdampak langsung pada akses modal.
Investor makin gencar mengalihkan pendanaan dari perusahaan yang memiliki dampak negatif terhadap alam ke perusahaan yang pro-alam
3. Disrupsi
Risiko ini merupakan kerugian karena merebaknya penyakit zoonotik akibat kerusakan habitat. Pemicu risiko ini juga mencakup masalah polusi air, udara, maupun tanah dan penyebaran spesies asing invasif yang dapat mengganggu ekosistem dan peran mereka.
Integrasi Model Bisnis Nature-Positive dan Peran TNFD
Untuk menavigasi risiko tersebut, perusahaan harus mengadopsi peta strategi mitigasi perubahan iklim yang holistk. Kerangka kerja Mitigation Hierarchy adalah panduan yang dapat digunakan untuk mencapai Net Positive Impact (NPI), atau setidaknya No Net Loss (NNL) pada keanekaragaman hayati. Hierarki ini terdiri dari empat langkah.
1. Avoidance (menghindari dampak negatif sejak awal)
2. Minimisation (mengurangi dampak yang tidak dapat dihindari)
3. Rehabilitation/Restoration (memulihkan ekosistem yang rusak)
4. Offset (mengimbangi sisa dampak yang tidak dapat dihindari sebagai pilihan terakhir)
Penerapan hierarki ini dapat terwujud melalui strategi praktis, seperti:
- Mengurangi jejak lahan (land footprint) contohnya dengan vertical farming.
- Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya.
- Mengadopsi solusi ekonomi sirkular.
- Terlibat dalam proyek restorasi ekosistem (rehabilitasi koral dan reforestasi).
Di samping itu, perusahaan memerlukan kerangka pelaporan yang terstandardisasi agar hasilnya lebih terstruktur dan terukur. TNFD (Taskforce on Nature-related Financial Disclosures) berperan sebagai kerangka terintegrasi untuk membantu perusahaan memahami, mengukur, dan melaporkan peluang dan risiko alam.
Kerangka ini berlandaskan pada prinsip uji tuntas dan tata kelola bisnis yang bertanggung jawab, selaras dengan prinsip dasar ESG.
TNFD juga menawarkan metodologi LEAP (Locate, Estimate, Assess, Prepare) sebagai panduan praktis bagi perusahaan untuk mengarahkan investasi mereka dan mendorong pergeseran modal global menuju hasil nature-positive.
Strategi Mitigasi Perubahan Iklim Menyeluruh untuk Bisnis yang Tangguh
Hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim serta ketahanan rantai pasok bisnis saling berkaitan erat satu sama lain. Perusahaan tidak dapat terus mengabaikan pengelolaan keseimbangan keanekaragaman hayati dan alam dari strategi operasional maupun dekarbonisasi.
Keunggulan kompetitif serta ketahanan bisnis pada masa mendatang akan ditentukan pada kemampuan perusahaan melihat dan mengelola kedua krisis tersebut. Ini saatnya bagi perusahaan untuk mengelola data jejak karbon dan strategi iklim melalui siste terintegrasi. Pelajari bagaimana layanan Satuplatfom membantu perusahaan Anda mengubah risiko menjadi peluang keuntungan melalui demo gratis.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

