Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang terikat regulasi OJK, tetapi juga bagi perusahaan swasta yang ingin mempertahankan kepercayaan investor dan mitra bisnis global.
Pertanyaan yang sering muncul: “apakah proses penyusunannya harus dilakukan secara manual, atau sudah waktunya beralih ke platform digital?”. Artikel ini membahas perbedaan keduanya secara praktis agar perusahaan dapat membuat keputusan yang tepat.
Bagaimana Proses Sustainability Report Secara Manual?
Pendekatan manual masih banyak digunakan, terutama oleh perusahaan yang baru memulai perjalanan ESG-nya. Prosesnya umumnya melibatkan:
- Pengumpulan data dari berbagai departemen melalui email, spreadsheet, atau formulir yang disebarkan secara terpisah.
- Kompilasi dan validasi manual oleh tim sustainability atau tim keuangan yang harus memastikan konsistensi data lintas divisi.
- Penulisan narasi laporan yang disesuaikan dengan kerangka pelaporan seperti GRI Standards atau POJK 51.
- Proses review dan revisi berulang sebelum laporan final dicetak atau diterbitkan dalam format PDF.
Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, melibatkan puluhan orang, dan sangat rentan terhadap kesalahan input data atau inkonsistensi antar bagian laporan.
Tantangan Nyata Pendekatan Manual
Bagi banyak tim, penyusunan sustainability report manual terasa seperti proyek yang tidak pernah benar-benar selesai. Beberapa tantangan yang paling sering dihadapi di antaranya:
- Data tersebar dan sulit dikonsolidasi
Setiap departemen menyimpan data di sistem yang berbeda seperti konsumsi energi di fasilitas, data tenaga kerja di HR, limbah di operasional dan lain-lain, sehingga konsolidasi menjadi pekerjaan tersendiri yang memakan waktu.
- Risiko kesalahan tinggi
Proses salin-tempel dari spreadsheet ke laporan sangat rentan human error, terutama saat data diperbarui di menit-menit terakhir.
- Sulit audit dan diverifikasi
Tanpa jejak data yang jelas, proses verifikasi oleh pihak ketiga menjadi lebih rumit dan mahal.
- Tidak scalable
Semakin besar perusahaan atau semakin banyak entitas yang dilaporkan, semakin berat beban penyusunan manual.
Keunggulan Platform Digital untuk Sustainability Report
Platform digital untuk sustainability report dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan pendekatan manual. Perbedaannya terasa signifikan dari aspek efisiensi hingga akurasi, antara lain:
- Pengumpulan data terpusat dan otomatis
Data dari berbagai sumber dapat diintegrasikan dan diperbarui secara real-time tanpa perlu koordinasi manual antar departemen.
- Kalkulasi emisi dan indikator ESG otomatis
Platform menghitung nilai GHG emissions, intensitas energi, dan metrik lainnya berdasarkan data yang dimasukkan, meminimalkan risiko salah hitung.
- Mapping ke standar pelaporan internasional
Konten laporan dapat dipetakan langsung ke GRI Standards, POJK 51, TCFD, atau kerangka lain yang relevan secara otomatis.
- Audit trail yang transparan
Setiap perubahan data tercatat, memudahkan proses verifikasi dan assurance oleh pihak ketiga.
- Efisiensi waktu yang signifikan
Proses yang biasanya memakan 3–6 bulan dapat diperpendek menjadi hitungan minggu.
Kapan Perusahaan Harus Beralih ke Platform Digital?
Tidak semua perusahaan harus langsung beralih ke platform digital, namun ada kondisi di mana transisi ini menjadi sangat mendesak seperti:
- Perusahaan memiliki lebih dari satu entitas atau lokasi operasional yang harus dilaporkan dalam satu laporan konsolidasi.
- Tim internal terbatas namun dituntut menghasilkan laporan berkualitas tinggi dalam tenggat waktu yang ketat.
- Ada kebutuhan verifikasi pihak ketiga atau assurance dari auditor eksternal yang memerlukan jejak data yang jelas.
- Perusahaan menargetkan standar pelaporan internasional seperti GRI Core/Comprehensive, TCFD, atau peringkat ESG dari lembaga rating global.
Sustainability report manual mungkin masih bisa berjalan untuk perusahaan kecil di tahap awal. Namun seiring meningkatnya ekspektasi pemangku kepentingan dan kompleksitas data yang harus dikelola, pendekatan manual akan semakin sulit dipertahankan. Platform digital bukan hanya soal kecepatan melainkan soal kredibilitas dan konsistensi laporan yang menjadi aset strategis perusahaan.
