Table of Contents
ToggleLangit Biru Jakarta
Beberapa waktu lalu, pemandangan cerah tergambar pada langit di Jakarta di siang hari. Hamparan langit biru dengan taburan awan terlihat sangat bersih, arak pandang di udara pun nampak begitu luas.
Kondisi ini terjadi tepatnya pada bulan Maret 2024 lalu. Salah satu foto tangkapan detikcom memperlihatkan birunya kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pemandangan ini bisa dibilang cukup jarang terjadi dalam beberapa waktu ke belakang. Terlebih karena kabut dari polusi udara seringkali menutupi langit Jakarta dan menjadikannya berwarna abu-abu. Lantas, apakah ini pertanda polusi udara di Jakarta sudah membaik?
Penyebab Langit Biru Jakarta Menurut Ahli
Dilansir dari sumber, berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, langit cerah dan biru di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta dan kota lainnya, terjadi karena adanya aktivitas Osilasi Madden-Julian atau Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat itu telah bergeser ke area Pasifik Barat.
BMKG mengartikan MJO sebagai pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. Aktivitas intra seasonal ini terjadi di wilayah tropis, melibatkan pergerakan awan, curah hujan, angin, dan tekanan ke arah timur yang mengelilingi ekuator setiap 30 sampai 40 hari.
MJO merupakan fenomena atmosfer berskala besar yang berperan penting dalam memodulasi pola cuaca secara global melalui dua fase utama, konvektif dan tertahan. Ketika MJO berada dalam fase konvektif di wilayah tertentu, hal itu menyebabkan peningkatan pembentukan awan, badai petir, dan hujan lebat. Kondisi yang mempengaruhi aktivitas hujan ini memungkinkan terjadinya kondisi langit yang lebih stabil dan cerah setelahnya.
Cuaca dan langit yang cerah dapat terjadi karena peningkatan kecepatan angin yang menghambat pertumbuhan awan hujan. Disebabkan oleh tertariknya massa udara akibat siklon tropis 91S dan Ex TC Megan.
Cuaca dan Langit Biru Jakarta, Tanda Polusi Membaik?

Beruntungnya, cuaca cerah di langit Jakarta pada Maret lalu, turut diiringi dengan kondisi kualitas udara yang baik.
Baca juga artikel lainnya : Apa yang Sebabkan Buruknya Kualitas Udara di Jakarta?
Dikutip dari Kumparan, berdasarkan data Nafas, platform pemantau kualitas udara, hasil pengukuran PM2.5 di hampir seluruh wilayah Jakarta menunjukkan kualitas yang cukup baik alias hijau. Nilai AQI yang muncul berkisar antara 5 hingga 20-an. Hanya beberapa area yang masuk kategori moderat dengan skor 50-an.
Akan tetapi, setiap kondisi langit biru tidak selalu mewakili kualitas udara yang baik menurut Nafas. Hilangnya kabut asap dan langit yang keruh bukan berarti polusi udara hilang. Hal ini juga pernah terjadi di wilayah Tangerang Selatan pada tahun lalu, di mana langit cerah di sana dibarengi dengan jumlah PM2.5 mencapai 54 µg/m3. Hampir 11 kali lipat lebih tinggi dari ambang batas WHO.
Langit Biru Cerah dan Polusi Udara yang Terjadi di Jakarta
Pada hari-hari dengan langit cerah, kecepatan angin sering kali lebih rendah, yang mengurangi penyebaran polutan secara alami. Tanpa angin, emisi dari kendaraan, pabrik, dan sumber lainnya tetap terkonsentrasi di daerah perkotaan, yang menyebabkan kualitas udara buruk dan kabut asap yang terlihat.
Namun, langit yang cerah dapat memberikan ilusi udara bersih, tetapi tidak selalu menjamin kualitas udara yang baik. Nafas menjelaskan bahwa langit biru bukanlah parameter yang tepat untuk mengukur kualitas udara. Untuk memastikannya, kita dapat melihat jauh ke depan.
Menurut banyak penelitian, partikel-partikel kecil biasanya dapat mempengaruhi jarak pandang dan menjadikannya terbatas. Polutan udara masih dapat bertahan, khususnya ozon di permukaan tanah dan partikel, yang umum di daerah perkotaan dengan lalu lintas dan aktivitas industri.
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

