Di tengah ancaman perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut, kisah inspiratif datang dari Pasijah, seorang perempuan berusia 55 tahun asal Dusun Rejosari Senik, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua dekade, Pasijah telah menanam sekitar 15.000 pohon mangrove setiap tahunnya untuk melindungi rumah dan lingkungannya dari abrasi dan banjir rob.
Desa Rejosari Senik dulunya merupakan kawasan daratan yang subur. Namun, akibat kombinasi antara kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah (land subsidence) yang disebabkan oleh eksploitasi air tanah berlebihan, wilayah ini kini sebagian besar telah terendam air laut. Rumah Pasijah menjadi satu-satunya yang masih berdiri dan dihuni di antara bangunan-bangunan yang telah ditinggalkan.
Baca Juga : Penyerap Karbon Luar Biasa: Pohon Mangrove, Petai, dan Durian
Setiap hari, Pasijah menggunakan perahu sederhana yang terbuat dari drum plastik biru untuk menjangkau area penanaman mangrove. Ia menanam dan merawat bibit-bibit mangrove, meskipun harus berhadapan dengan air yang kadang mencapai setinggi dadanya. “Air pasang datang secara bertahap, tidak sekaligus,” ujar Pasijah. “Saya menyadari bahwa setelah air mulai naik, saya perlu menanam pohon mangrove agar mereka bisa menyebar dan melindungi rumah dari angin dan gelombang.”
Mangrove dikenal sebagai benteng alami yang efektif dalam menahan abrasi dan intrusi air laut. Akar-akar mangrove yang rapat mampu meredam energi gelombang dan menahan sedimentasi, sehingga membantu mencegah erosi pantai.
Selain itu, mangrove juga berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, mendukung keanekaragaman hayati, dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies ikan dan burung.

Meskipun hidup dalam isolasi dan keterbatasan, Pasijah tetap teguh mempertahankan rumah dan lingkungannya. Ia dan keluarganya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan yang dijual di pasar terdekat. “Saya tidak lagi memikirkan bagaimana perasaan saya tentang keterasingan di sini sejak saya memutuskan untuk tetap tinggal, jadi kami akan menghadapi satu rintangan pada satu waktu,” kata Pasijah.
Kisah Pasijah mengajarkan kita bahwa solusi berbasis alam dapat menjadi alternatif yang efektif dan berkelanjutan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Di saat pemerintah mengandalkan proyek-proyek besar seperti pembangunan tanggul laut sepanjang 700 kilometer di pesisir utara Jawa, tindakan sederhana namun konsisten seperti yang dilakukan Pasijah menunjukkan bahwa upaya individu juga memiliki dampak yang signifikan.
Dengan semangat dan dedikasi, Pasijah membuktikan bahwa ketahanan terhadap perubahan iklim tidak selalu memerlukan teknologi canggih atau investasi besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah tekad, kerja keras, dan kecintaan terhadap lingkungan.
Table of Contents
ToggleDari Mangrove hingga Teknologi: Saatnya Bergerak Bersama
Kisah Pasijah mengingatkan kita bahwa solusi terhadap perubahan iklim tidak selalu harus mahal atau kompleks. Namun di saat yang sama, teknologi juga punya peran penting dalam mempercepat dan mengukur dampak dari solusi tersebut.
Inilah peran dari Satuplatform, sebagai platform digital yang mendukung bisnis dan organisasi dalam:
✅ Mengelola dan memantau emisi karbon (Scope 1, 2, 3)
✅ Mengukur kontribusi solusi berbasis alam seperti penanaman mangrove atau algae
✅ Menyusun Sustainability Report yang kredibel dan berbasis data
✅ Merancang strategi ESG yang tepat sasaran dan terintegrasi
Dapatkan akses FREE DEMO sekarang dan lihat bagaimana teknologi bisa memperkuat upaya keberlanjutan Anda!
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

