Mengenal 3 Desa di Indonesia yang Mulai Menerapkan Transisi Energi

Transisi energi sering dipahami sebagai proyek besar dengan investasi triliunan rupiah, seperti pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan atau infrastruktur berskala nasional. Padahal, transisi energi juga bisa dimulai dari tingkat desa dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di sekitar masyarakat.

Sejumlah desa di Indonesia telah menunjukkan bahwa upaya menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan tidak harus menunggu proyek besar dari pemerintah pusat. Ada yang mengubah sampah rumah tangga menjadi biogas, ada yang menjaga ekosistem gambut untuk mencegah pemborosan sumber daya, dan ada pula yang mengembangkan ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

1. Desa Wonocoyo, Trenggalek: Mengubah Sampah Dapur Menjadi Biogas

Contoh sederhana transisi energi dapat ditemukan di Desa Wonocoyo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sejak 2019, kelompok perempuan di desa ini mulai mengolah sampah dapur menjadi sumber energi untuk kebutuhan memasak. Inovasi tersebut menggunakan teknologi bioreaktor yang dikenal sebagai bioreaktor “kapal selam” atau submarine. Teknologi ini memanfaatkan proses fermentasi anaerob untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi biogas. Selain biogas, proses tersebut juga menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair. 

Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya hanya menjadi persoalan lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Bagi rumah tangga, manfaatnya cukup sederhana tetapi penting. Biogas dapat digunakan untuk memasak sehingga ketergantungan terhadap LPG maupun kayu bakar dapat dikurangi. Pada saat yang sama, volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir juga berkurang. Artinya, satu inovasi dapat memberikan manfaat ganda: menyediakan energi sekaligus mengurangi persoalan sampah.

Teknologi tersebut dikembangkan setelah pemerintah Desa Wonocoyo melakukan studi lapangan ke Kabupaten Pati pada 2020. Pembelajarannya kemudian didukung melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) daerah. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat desa sebenarnya memiliki ruang untuk memulai transisi energi dari tingkat lokal. 

2. Kabupaten Siak, Riau: Menjaga Gambut untuk Menghemat Energi dan Anggaran

Transisi energi bukan hanya persoalan mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Perlindungan lingkungan dan pengelolaan lanskap juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Kabupaten Siak, Riau, memberikan contoh bagaimana perlindungan ekosistem gambut dapat menjadi bagian dari aksi iklim. Wilayah ini memiliki kawasan gambut yang selama bertahun-tahun menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika musim kemarau.  Ketika kebakaran terjadi, pemerintah harus mengeluarkan sumber daya yang tidak sedikit untuk melakukan pemadaman. Mobil pemadam, helikopter, logistik, hingga personel membutuhkan bahan bakar dan anggaran.

Sejak 2021, desa-desa di Siak mendapatkan insentif untuk melakukan upaya pencegahan, seperti patroli rutin, pembangunan embung, serta penyediaan peralatan pemadam kebakaran awal. Pendekatan tersebut membantu menekan kebutuhan terhadap operasi pemadaman darurat yang jauh lebih mahal. 

Baca Juga : 5 Rekomendasi Tempat Wisata Edukasi Alam

Pelajaran dari Siak menunjukkan bahwa transisi energi tidak bisa dilepaskan dari perlindungan ekosistem. Menjaga gambut tetap basah dan mencegah kebakaran berarti mengurangi penggunaan energi dan biaya yang diperlukan untuk menangani bencana. Artinya, menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari membangun ketahanan energi.

3. Desa Tukamasea, Maros: Ekowisata sebagai Alternatif Ekonomi

Contoh berikutnya datang dari Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan Wonocoyo yang memanfaatkan sampah untuk menghasilkan biogas, Tukamasea menunjukkan sisi lain dari transisi energi, yakni pentingnya membangun ekonomi alternatif yang tidak bergantung pada aktivitas ekstraktif.  Desa Tukamasea mengembangkan ekowisata Dolli dengan memanfaatkan potensi alam dan lanskap karst di sekitarnya. Pengembangan ini didukung melalui kombinasi Dana Desa dan insentif Transfer Anggaran Kabupaten/Kota Berbasis Ekologi (TAKE).

Pendanaan tersebut antara lain mencakup Dana Desa sebesar Rp200 juta, insentif TAKE Rp110 juta, serta tambahan insentif Rp62 juta.  Ekowisata kemudian tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Pengembangan tersebut dilaporkan mampu memberdayakan 23 tenaga kerja lokal dan menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp60 juta pada tahun pertamanya. 

Manfaatnya bahkan meluas ke bidang pendidikan. Pendapatan dari sektor tersebut turut mendukung pendidikan bagi 240 anak dari keluarga kurang mampu sepanjang 2021–2024. Desa Tukamasea sendiri memiliki sejumlah potensi wisata alam dan budaya, termasuk kawasan wisata Dolli. Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan perlindungan alam dengan peningkatan ekonomi lokal. 

Transisi Energi Tidak Harus Dimulai dari Proyek Besar

Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa transisi energi memiliki bentuk yang jauh lebih luas daripada sekadar mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Di Wonocoyo, masyarakat mengubah sampah menjadi biogas. Di Siak, perlindungan gambut menjadi strategi untuk mencegah pemborosan sumber daya akibat kebakaran. Sementara di Tukamasea, masyarakat membangun alternatif ekonomi melalui ekowisata sekaligus menjaga lingkungan.

Ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi mempunyai prinsip yang sama: memanfaatkan potensi lokal untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat. Hal ini juga menunjukkan pentingnya peran pemerintah daerah. Kebijakan dan insentif berbasis ekologi dapat memberikan ruang bagi desa untuk menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Mengapa Transisi Energi di Tingkat Desa Penting?

Ada beberapa alasan mengapa desa dapat menjadi bagian penting dalam agenda transisi energi Indonesia.

Pertama, desa memiliki sumber daya lokal yang beragam. Limbah pertanian, sampah rumah tangga, peternakan, hutan, lahan gambut, hingga potensi wisata dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan.

Kedua, skala desa memungkinkan masyarakat terlibat secara langsung. Transisi energi tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah, tetapi juga menjadi praktik sehari-hari yang dapat dilakukan oleh rumah tangga dan komunitas.

Ketiga, transisi energi yang baik seharusnya memberikan manfaat ekonomi. Masyarakat tidak cukup hanya diminta mengurangi penggunaan energi fosil atau menjaga lingkungan. Mereka juga membutuhkan sumber penghidupan yang memungkinkan perubahan tersebut bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, perlindungan lingkungan, ketahanan energi, dan ekonomi alternatif perlu berjalan secara bersamaan.

Desa Bisa Menjadi Titik Awal Transisi Energi

Pengalaman Wonocoyo, Siak, dan Tukamasea menunjukkan bahwa aksi iklim tidak selalu harus menunggu proyek berskala nasional. Transisi energi dapat dimulai dari desa, dari sampah yang ada di dapur, dari upaya menjaga lahan gambut agar tidak terbakar, maupun dari keputusan masyarakat untuk membangun ekonomi yang tidak merusak lingkungan.

2

Tidak semua desa memiliki kapasitas anggaran, teknologi, maupun sumber daya manusia yang sama. Koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pendamping juga masih perlu diperkuat.

Namun, tiga contoh tersebut memberikan satu pelajaran penting: perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari langkah yang sederhana dan sesuai dengan kondisi lokal.

Pada akhirnya, transisi energi bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana masyarakat mengelola sumber daya, menjaga lingkungan, dan membangun ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution

Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional.

Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis.

Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi:

  • Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3)
  • ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global
  • Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data
  • Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan
  • Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation

Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan?

Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan.

Similar Article