Memahami Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 dalam Rantai Pasok Berkelanjutan

Rantai pasok berkelanjutan menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern. Perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memperhatikan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola dari proses produksi hingga distribusi. Salah satu langkah untuk mewujudkannya adalah memahami struktur pemasok berdasarkan tingkatan Tier 1, Tier 2, dan Tier 3.

Pemahaman terhadap tingkatan rantai pasok membantu perusahaan mengidentifikasi risiko, meningkatkan transparansi, serta mendorong praktik bisnis yang bertanggung jawab. Dalam penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG), pengelolaan rantai pasok juga penting karena dampak operasional perusahaan dapat berasal dari aktivitas pemasok di luar kendali langsung organisasi.

Apa Itu Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 dalam Rantai Pasok?

Dalam teori manajemen rantai pasok, tingkatan pemasok menggambarkan posisi pemasok berdasarkan hubungannya dengan perusahaan atau produsen utama. Pembagian ini membantu perusahaan memahami asal bahan baku, komponen, dan layanan yang mendukung kegiatan operasional.

1. Tier 1: Pemasok Langsung

Tier 1 supplier adalah pemasok yang berhubungan langsung dengan perusahaan pembeli. Pemasok ini menyediakan barang atau jasa yang digunakan dalam produksi maupun operasional perusahaan.

Contohnya, produsen kendaraan membeli ban, kaca, dan komponen elektronik langsung dari pemasok Tier 1. Dalam konteks keberlanjutan, perusahaan dapat mengevaluasi kepatuhan lingkungan, keselamatan kerja, kualitas produk, dan transparansi data pemasok melalui kontrak serta mekanisme evaluasi.

2. Tier 2: Pemasok dari Pemasok Langsung

Tier 2 supplier merupakan pemasok yang menyediakan bahan atau komponen kepada pemasok Tier 1. Meskipun tidak selalu bertransaksi langsung dengan perusahaan utama, aktivitasnya tetap memengaruhi kualitas, biaya, dan dampak lingkungan produk akhir.

Sebagai contoh, pemasok ban Tier 1 memperoleh bahan karet dari perusahaan pengolahan karet Tier 2. Risiko keberlanjutan pada tingkat ini dapat mencakup penggunaan energi, pengelolaan air, serta praktik ketenagakerjaan dalam proses pengolahan bahan.

3. Tier 3: Pemasok Bahan Baku Awal

Tier 3 supplier berada lebih jauh dalam rantai pasok dan dapat menyediakan bahan mentah bagi pemasok Tier 2. Contohnya meliputi perkebunan karet, pertambangan mineral, atau produsen bahan dasar kimia, bergantung pada struktur industrinya.

Pada tingkatan ini, risiko dapat berkaitan dengan deforestasi, perubahan penggunaan lahan, pencemaran, kondisi kerja, dan asal-usul bahan baku. Karena rantainya lebih panjang, pengumpulan data dan penelusuran pemasok Tier 3 sering kali lebih menantang.

Mengapa Tingkatan Pemasok Penting dalam Rantai Pasok Berkelanjutan?

Memahami struktur pemasok membantu perusahaan mengidentifikasi risiko yang tidak terlihat dari hubungan bisnis langsung. Risiko lingkungan dan sosial dapat muncul jauh sebelum bahan baku tiba di fasilitas produksi.

Dalam perspektif Sustainable Supply Chain Management, keberlanjutan perlu diintegrasikan ke dalam pengadaan, produksi, distribusi, dan hubungan dengan pemasok. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada efisiensi biaya, tetapi juga mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial sepanjang rantai nilai.

Teori Stakeholder Theory dari R. Edward Freeman (1984) juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kepentingan para pemangku kepentingan. Dalam praktik rantai pasok, hal ini mencakup pekerja pemasok, masyarakat sekitar, konsumen, pemerintah, dan lingkungan.

Dengan demikian, evaluasi pemasok tidak seharusnya berhenti pada Tier 1. Kedalaman pemantauan perlu disesuaikan dengan tingkat risiko, karakteristik industri, dan kemampuan perusahaan dalam memperoleh data.

Regulasi dan Standar yang Relevan di Indonesia

Pengelolaan rantai pasok berkelanjutan perlu memperhatikan regulasi dan standar yang sesuai dengan jenis serta karakteristik perusahaan.

Pertama, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagaimana telah diubah, menjadi salah satu landasan perlindungan lingkungan di Indonesia. Ketentuan pelaksanaannya, termasuk PP Nomor 22 Tahun 2021, mengatur berbagai aspek perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Kedua, POJK Nomor 51/POJK.03/2017 mengatur penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik sesuai ruang lingkup ketentuannya. Pengungkapan keberlanjutan dapat mendorong transparansi atas aspek lingkungan dan sosial, termasuk informasi rantai pasok yang material.

Ketiga, GRI Standards, khususnya GRI 308 tentang penilaian lingkungan pemasok dan GRI 414 tentang penilaian sosial pemasok, menyediakan acuan untuk mengungkapkan pendekatan serta hasil penilaian pemasok.

Penting dipahami bahwa Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 merupakan klasifikasi struktural dalam rantai pasok, bukan kategori kepatuhan hukum yang ditetapkan secara universal oleh regulasi Indonesia. Kewajiban spesifik tetap bergantung pada sektor, kegiatan usaha, dan ketentuan yang berlaku.

Strategi Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan

Perusahaan dapat memulai dengan memetakan pemasok langsung, kemudian menelusuri pemasok tingkat berikutnya berdasarkan materialitas dan risiko. Selanjutnya, perusahaan perlu menetapkan kriteria ESG, melakukan penilaian risiko, meminta data pendukung, dan mengembangkan program perbaikan bersama pemasok.

Penggunaan sistem digital dapat membantu menyimpan informasi pemasok, memantau indikator lingkungan dan sosial, serta meningkatkan ketertelusuran bahan baku. Perusahaan juga dapat mengacu pada OECD Due Diligence Guidance for Responsible Business Conduct untuk membangun proses identifikasi, pencegahan, mitigasi, dan penanganan dampak negatif.

Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 membantu perusahaan memahami hubungan antara pemasok serta mengidentifikasi risiko keberlanjutan di sepanjang rantai pasok. Dengan mengintegrasikan teori manajemen rantai pasok, penilaian ESG, dan regulasi yang relevan, perusahaan dapat meningkatkan transparansi sekaligus memperkuat ketahanan bisnis.

Rantai pasok berkelanjutan bukan sekadar memastikan pemasok langsung memenuhi standar, melainkan membangun tanggung jawab yang lebih luas melalui penelusuran, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Tentang Satuplatform – End-to-End ESG & Carbon Management Solution

Satuplatform adalah perusahaan konsultan dan penyedia teknologi platform terintegrasi untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Strategy yang membantu perusahaan mengelola keberlanjutan secara menyeluruh. Mulai dari pengukuran emisi karbon, pengelolaan data ESG, penyusunan Sustainability Report, hingga implementasi strategi dekarbonisasi, Satuplatform menghadirkan solusi komprehensif yang terukur dan sesuai standar nasional maupun internasional.

Sebagai end-to-end solution partner, Satuplatform menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan pendampingan konsultan ahli untuk memastikan transformasi keberlanjutan berjalan efektif, akurat, dan berdampak nyata bagi bisnis.

Solusi Terintegrasi Satuplatform meliputi:

  • Perhitungan dan monitoring emisi karbon (Scope 1, Scope 2, Scope 3)
  • ESG reporting & compliance sesuai standar nasional dan global
  • Dashboard analitik untuk pengambilan keputusan berbasis data
  • Training, capacity building & ESG awareness program untuk perusahaan
  • Pendampingan ahli dalam strategi dekarbonisasi dan sustainability transformation

Siap Memulai Perjalanan Bisnis Berkelanjutan?

Dapatkan FREE DEMO Satuplatform dan temukan bagaimana solusi end-to-end kami dapat membantu perusahaan Anda lebih siap regulasi, lebih transparan bagi investor, dan lebih unggul dalam praktik keberlanjutan.

Similar Article