Ilmuwan Sebut Manusia Berkontribusi dalam Pemanasan Global
Pemanasan Global Ada banyak narasi yang mengatakan bahwa aktivitas manusia berkontribusi signifikan pada peningkatan panas bumi atau pemanasan global (global warming). Bagaimana kondisi sebenarnya saat ini? Berdasarkan IPCC’s Sixth Assessment report atau laporan Penilaian Keenam IPCC yang terbit pada 2021 lalu, ditemukan bahwa emisi gas yang memerangkap panas telah memanaskan iklim di bumi hampir 2 derajat Fahrenheit (1,1 derajat Celcius). Terjadi sejak tahun 1800-an atau masa dimulainya revolusi industri. Saat ini, suhu rata-rata global diperkirakan akan mencapai atau melampaui 1,5 derajat Celcius dalam beberapa dekade mendatang, batas yang seharusnya tidak dilewati untuk menjamin keseimbangan kondisi alam dan kehidupan. Sebab, perubahan tersebut akan mempengaruhi seluruh wilayah di bumi dan meningkatkan potensi bencana yang lebih ekstrem. Bukti Manusia Berkontribusi pada Pemanasan Global Menurut laporan Union of Concerned Scientis USA, para ilmuwan sepakat bahwa pemanasan global utamanya disebabkan oleh aktivitas manusia. Secara khusus, banyak bukti menunjukkan bahwa gas-gas tertentu yang memerangkap panas, seperti karbon dioksida, menyebabkan panas bagi bumi. [sumber gambar] atau https://www.ucsusa.org/resources/are-humans-major-cause-global-warming Data menemukan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer bumi telah meningkat secara dramatis selama 150 tahun terakhir. Konsentrasi CO2 sekitar 280 parts per millions (ppm) di era pra-industri telah meningkat menjadi lebih dari 410 ppm saat ini. Ilmuwan menyebut konsentrasi CO2 kemungkinan tidak akan turun di bawah rata-rata tahunan dalam ratusan tahun ke depan. Selain itu, Dr Gavin Schmidt dari NASA menjelaskan, berdasarkan laporan IPCC, manusia bertanggung jawab atas sekitar 110% pemanasan yang diamati (berkisar antara 72% hingga 146%). Lebih besar dibandingkan pemanasan dari kebakaran hutan, gunung berapi, atau pelepasan gas dari laut. Meskipun CO2 juga dapat secara alami dihasilkan dari sumber lain, CO2 yang dihasilkan dari dari aktivitas manusia memiliki ciri khas yang membedakannya. Para ilmuwan menyebutnya δ 13 C (diucapkan “delta C tiga belas”) dan hanya dapat berasal dari emisi bahan bakar fosil. Berbagai analisis yang dilakukan menunjukkan dengan jelas bahwa tanpa emisi dari pembakaran batu bara dan minyak, sangat kecil kemungkinan bumi mengalami pemanasan yang signifikan. Bagaimana Manusia Berkontribusi pada Pemanasan Global? Aktivitas manusia mulai dari melakukan pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak dan gas alam, kegiatan pertanian, peternakan, pembuangan sampah di TPA, mobilisasi transportasi, kegiatan industri, hingga deforestasi, dan perubahan penggunaan lahan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang kebanyakan akan terperangkap di atmosfer. Menurut NOOA Climate, saat ini, manusia diperkirakan melepaskan 9,5 miliar metrik ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya melalui pembakaran bahan bakar fosil. Juga 1,5 miliar metrik ton lainnya melalui penggundulan hutan dan perubahan tutupan lahan lainnya. Dari karbon yang dihasilkan manusia, hutan dan vegetasi lainnya hanya mampu menyerap sekitar 3,2 miliar metrik ton per tahun, sementara lautan menyerap sekitar 2,5 miliar metrik ton per tahun. Sementara 5 miliar metrik ton karbon sisanya tetap berada di atmosfer setiap tahunnya. Meningkatkan konsentrasi karbon dioksida rata-rata global sekitar 2,3 bagian per juta per tahun. Baca Juga: Bagaimana Cara CFC Merusak Lapisan Ozon? Upaya Mitigasi Pemanasan Global Peningkatan panas bumi atau pemanasan global adalah tantangan besar yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan di bumi. Tindakan kolektif dari pemerintah, industri, dan individu sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengatasi dampak perubahan iklim. Kita dapat melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan mulai beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air. Juga melaksanakan efisiensi energi dengan mengadopsi teknologi dan praktik yang lebih efisien dalam penggunaan energi. Selain itu, dengan melakukan reboisasi dan meningkatkan area hijau, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pemanasan global dan jejak karbon, serta mengembangkan dan menerapkan teknologi baru yang dapat membantu mengurangi emisi dan memitigasi dampak pemanasan global. Diharapkan, dengan upaya bersama, kita dapat membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan aman bagi generasi mendatang. Sekarang waktunya bagi industri Anda untuk turut berkontribusi dalam upaya mitigasi ancaman lingkungan dan perubahan iklim. Anda dapat melakukan pengukuran emisi yang dihasilkan dan menciptakan solusi dari data-data tersebut melalui tindakan yang tepat. Miliki pencatatan dan pelacakan emisi karbon atau ESG yang layak dan komprehensif dengan memanfaatkan platform all-in-one dari Satuplatform. Dapatkan DEMO GRATIS nya di sini! Similar Article Ketahui Daftar Bahan Perusak Ozon dan Penggunaannya dalam Keseharian Beberapa dari kita mungkin sering mendengar bahwa Klorofluorokarbon (CFC) atau freon adalah sebuah zat yang dianggap sebagai Bahan Perusak Ozon (BPO). Akan tetapi, bahan perusak ozon tidak hanya CFC saja. Bahan perusak ozon adalah senyawa kimia yang menyebabkan penipisan lapisan ozon di stratosfer. Lapisan ozon berfungsi melindungi kehidupan di Bumi dengan menyerap 97% hingga 99% radiasi ultraviolet (UV) berbahaya yang berasal dari matahari. Awal Mula Terjadinya Penipisan Ozon Penipisan lapisan ozon terjadi apabila konsentrasi ozon di stratosfer berkurang secara signifikan. Sayangnya, para ilmuwan menemukan bahwa lapisan ozon terus menerus menipis dan rusak sejak akhir tahun 1970an. Senyawa kimia dari aktivitas… Mengenal Listrik Hijau, Energi Terbarukan yang Gencar Diperbanyak di Indonesia Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah tengah menggencarkan pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik hijau untuk menambah pasokan listrik serta sebagai upaya transformasi menuju energi terbarukan. Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN menyampaikan, “saat ini semua industri bergerak pada energi berbasis ramah lingkungan. Melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hijau yang dicanangkan pada tahun 2021, PLN siap mendukung industri di Kawasan Industri Hijau melalui pembangkit EBT,” Saat ini, telah terpasang pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (EBT) dengan kapasitas mencapai 9 gigawatt (GW). Kapasitas ini akan terus ditambah hingga 29 GW pada 2030. Namun, apa itu listri hijau? Apa perbedaan dengan listrik yang… Melihat Upaya Singapura Jadi Salah Satu Kota Terhijau di Dunia Tahukah kamu bahwa Singapura telah dikenal sebagai salah satu kota terhijau di dunia? Ini fakta. Sebab, salah satu negara tetangga yang terdekat dengan Indonesia ini berhasil dinobatkan menjadi kota terhijau atau yang paling ramah lingkungan di dunia. Hal ini berdasarkan penilaian oleh Smart City Index oleh Institute for Management Development bekerja sama dengan Singapore University for Technology and Design (SUTD) yang menyatakan bahwa Singapura layak menduduki peringkat pertama dari 109 kota yang dianggap sebagai kota-kota paling ramah lingkungan. Pencapaian ini dapat diraih berkat komitmen dan kebijakan pemerintah Singapura yang progresif dalam menjaga dan meningkatkan ruang hijau serta keberlanjutan lingkungan. Sejak… Ketahui Daftar Bahan Perusak Ozon dan Penggunaannya dalam Keseharian Beberapa dari kita mungkin sering …
Read more “Ilmuwan Sebut Manusia Berkontribusi dalam Pemanasan Global”

