Dekarbonisasi sebagai Strategi Pengurangan Pencemaran Lingkungan Udara

Data Statista pada tahun 2023 mencatat tingkat polusi udara PM2.5 rata-rata tahunan di Jakarta lebih dari 8 kali lipat batas aman yang direkomendasikan WHO sebesar 5 mikrogram per meter kubik. Tingginya konsentrasi partikel halus berbahaya ini tidak hanya membuka pintu bagi berbagai masalah kesehatan dan menandakan tingginya beban pencemaran lingkungan yang harus ditangani serius.

Sumber utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon dan partikel berbahaya. Dalam konteks ini, dekarbonisasi, khususnya di berbagai sektor industri, merupakan target krusial untuk mengurangi pencemaran udara dan memastikan keberlanjutan lingkungan.

BACA JUGA: Bagaimana Upaya Singapura Menangani Pencemaran Udara

Hubungan Antara Pembakaran Bahan Bakar Fosil, CO2, dan PM2.5 dengan Pencemaran Lingkungan

Pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan gas rumah kaca CO2 yang mendorong pemanasan global dan perubahan iklim. Selain itu, proses ini juga melepaskan partikel halus PM2.5 dan polutan berbahaya lain yang menimbulkan pencemaran udara serius dan merusak sistem pernapasan manusia serta ekosistem di sekitarnya. Berbagai aktivitas bisnis ‘berkontribusi’ pada pencemaran udara.

3

  • Industri berat seperti pengolahan logam, tekstil, dan bahan kimia yang masih bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil.
  • Pembangkit listrik termal berbahan batu bara dan gas yang merupakan sumber emisi utama CO2 dan PM2.5.
  • Sektor transportasi, khususnya kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan diesel, yang menyumbang besar terhadap emisi PM2.5 di kota-kota besar .
  • Proses manufaktur di industri pengolahan kelapa sawit dan manufaktur lain yang menghasilkan polutan udara beracun

Pencemaran dari aktivitas ini menurunkan kualitas udara yang berpengaruh pada kesehatan manusia dan juga menurunkan produktivitas ekonomi akibat beban biaya kesehatan meningkat. Selain itu, klerusakan lingkungan akibat polutan nyatanya juga memperburuk degradasi vegetasi melalui penurunan fotosintesis, mempercepat efek pencemaran lingkungan secara terus-menerus.

Walaupun dampaknya sangat jelas, tetapi pengendalian polusi udara tetap menghadapi kendala.  Pemerintah, regulator, maupun pelaku bisnis dan industri sepatutnya memperbaiki pengawasan emisi karbon, dan pemberlakukan sanksi agar lebih ketat dan transparan. 

Energi Terbarukan dan Industri Hijau: Jalur Bisnis dalam Mengatasi Pencemaran Lingkungan

Emiten bisnis dapat mengambil peran transformatif dalam mengurangi pencemaran lingkungan pada aspek udara. Jalur transformasi yang paling utama adalah dekarbonisasi. Sementara pendekatan yang dapat diterapkan dapat mengacu pada dua metode berikut.  

1. Peralihan ke Energi Terbarukan

Peran aktif emiten bisnis dengan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan beralih pada energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidro sangat diperlukan. 

Langkah ini tidak hanya menurunkan emisi CO2 tetapi juga mengurangi polutan udara yang menyebabkan pencemaran lingkungan. 

Pemerintah Indonesia juga telah menargetkan peningkatan bauran energi terbarukan hingga 23% pada 2025 sebagai bagian dari komitmen nasional menurunkan emisi dan memperbaiki kualitas udara. Artinya, desakan peralihan ke energi alternatif makin nyata.

2. Pengembangan Green Industrial Zone

Pengembangan kawasan industri hijau yang mengintegrasikan energi terbarukan dan teknologi rendah karbon merupakan peluang bisnis strategis. Pendekatan ini fokus pada:

  • Pengurangan, pemanfaatan ulang, dan daur ulang limbah industri untuk meminimalkan dampak limbah ke udara, air, dan tanah.
  • Teknologi produksi bersih dan efisiensi sumber daya, termasuk penggunaan energi bersih dan pengelolaan air secara efisien.
  • Pemantauan emisi dan limbah secara ketat untuk menjamin standar lingkungan terpenuhi dan mencegah pencemaran.

3. Manufaktur Bersih dan Ekonomi Sirkular

Penerapan ekonomi sirkular melibatkan pemberdayaan komunitas dan sektor informal melalui konsep eco-preneurship yang menggabungkan konservasi lingkungan dan bisnis.

Implementasinya terdiri dari proses pengurangan limbah melalui pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang material sehingga limbah yang dihasilkan lebih sedikit. Upaya ini berfokus pada pengoptimalan sumber daya dan memperpanjang siklus hidup bahan untuk menurunkan polutan di lingkungan. 

Di sisi lain, adopsi manufakturmanufaktor bersih mencakup penggunaan teknologi yang meningkatkan efisiensi energi dan air dalam proses produksi, serta meminimalkan limbah dan emisi berbahaya. Contohnya adalah penggunaan mesin berteknologi tinggi yang hemat energi hingga dan penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan.

Penerapan kedua pendekatan ini mendukung bisnis dalam mengurangi jejak karbon dan pencemaran udara, serta meningkatkan daya saing bisnis di era ekonomi hijau.

Perusahaan yang Mengambil Tindakan Penanggulangan Pencemaran Udara lewat Dekarbonisasi

Sejumlah perusahaan global berikut ini telah turut mengambil tindakan dekarbonisasi untuk menurunkan pencemaran udara dan lingkungan.  

  • Inter IKEA Group melapor dan secara aktif mengurangi emisi polutan udara di seluruh rantai nilai, menargetkan pengurangan 51% emisi karbon hitam serta partikel berbahaya lainnya.
  • GEA Group sukses mendapat dukungan pemegang saham untuk Climate Transition Plan 2040 dan mulai memasukkan pencemaran udara dalam laporan keberlanjutan tahunan.

Kolaborasi dengan Satuplatform untuk Strategi Dekarbonisasi Terintegrasi

Untuk mengoptimalkan strategi dekarbonisasi dan pengurangan pencemaran lingkungan di aspek udara, bisnis dapat berkonsultasi dengan para ahli Satuplatform yang menyediakan teknologi dan solusi pengelolaan dampak iklim terintegrasi. 

Pendekatan ini akan membantu perusahaan memenuhi target keberlanjutan dan regulasi serta memperkuat posisi mereka di green market yang makin kompetitif.Kunjungi Satuplatform untuk mempelajari solusi all-in-one kami dalam mendukung praktik ESG dan Sustainability perusahaan Anda.

Similar Article