Pernahkah Anda mendengar tentang insinerasi sebagai salah satu metode pengelolaan sampah?
Pengelolaan sampah atau limbah merupakan metode yang dilakukan manusia untuk menangani sisa-sisa barang bekas pakai yang dianggap tidak lagi memiliki nilai. Tujuan utama dari mengelola sampah ialah agar dapat meminimalisir pencemaran lingkungan akibat dari sampah atau limbah.
Lebih dari itu, pengelolaan sampah diharapkan juga dapat sekaligus membantu menghemat sumber daya alam serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Terdapat beragam metode pengelolaan sampah yang umum digunakan untuk mendukung pengolahan limbah yang dihasilkan masyarakat, salah satunya adalah metode insinerasi.
Baca Juga: Pro Kontra Metode Insinerasi sebagai Solusi Pengelolaan Sampah
Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai insinerasi atau pembakaran sampah.
Table of Contents
ToggleApa Itu Insinerasi?
Dilansir dari artikel Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), insinerasi adalah suatu metode pengolahan sampah dengan cara membakar sampah atau limbah secara termal pada suhu 850 hingga 1.400 derajat Celcius.

Melalui metode insinerasi, kandungan air dalam sampah akan diuapkan untuk mengubahnya menjadi sampah atau limbah kering. Sampah kemudian dibakar dalam suhu tinggi, menghasilkan abu sebagai hasil akhir dari proses pembakaran.
Bagaimana Proses Insinerasi?
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan bahwa tujuan utama dari pembakaran sampah adalah untuk mengolah limbah sehingga berkurang volume dan potensi bahayanya.
Aktivitas yang terjadi selama proses pengolahan sampah guna metode insinerasi mencakup di antaranya: pengiriman limbah, penyimpanan, pretreatment, pemulihan insinerasi/energi, pengendalian emisi gas buang, pengelolaan residu pada, dan pengolahan air limbah.
Pembakaran sampah diyakini dapat membantu menangani sampah yang diproduksi masyarakat dalam jumlah besar. Metode pembakaran sampah sangatlah cepat untuk menghilangkan limbah yang ada.
Meskipun begitu, diperlukan teknologi yang lebih canggih untuk dapat menangkapn atau menghancurkan zat berbahaya yang mungkin dilepaskan selama proses pembakaran. Insinerasi disebut dapat melepas polutan organik yang sangat berbahaya bagi tubuh.
Apakah Dampak dari Proses Insinerasi Sampah?
Sebuah penelitian oleh Rachmasari menemukan bahwa metode insinerasi mampu mereduksi sampah sampai dengan 90 persen jumlahnya. Insinerasi juga merupakan metode praktis yang dapat mengurangi volume limbah, meminimalisir potensi sifat infeksius dari limbah, terutama limbah berbahaya, seperti limbah medis, kimia, biologis, dan jenis lainnya.
Menurut ClientEarth, pembakaran sampah juga disebut-sebut akan menjadi alternatif yang ‘mudah’ dalam menangani sampah plastik. Penggunaan yang masif menjadikan sampah plastik semakin menumpuk hingga akan lebih banyak yang masuk ke insinerator dibanding yang dapat didaur ulang. Meskipun sangat berperan mengurangi kuantitas sampah dalam jumlah besar, metode insinerasi atau pembakaran sampah sampai saat ini masih menjadi perdebatan karena dianggap mempengaruhimemengaruhi kesehatan lingkungan melalui polutan yang dihasilkan.
Proses pembakaran sampah dapat menghasilkan polutan dan emisi gas berbahaya, yang di dalamnya termasuk gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan oksida nitrogen. Metode ini juga secara tidak sengaja membentuk dan melepaskan polutan organik bersifat persisten berupa Polychlorinated dibenzo-p-dioxin (PCDD), polychlorinated dibenzofurans (PCDF), polychlorinated biphenyls (PCB), dan heksaklorobenzena (HCB).
Menurut Aliansi Zero Waste Indonesia, insinerator juga membuang emisi berupa dioksin, senyawa paling beracun yang dapat menimbulkan penyakit kanker, gangguan reproduksi dan perkembangan, gangguan hormon, dan merusak sistem imun.
Belum lagi dengan merkuri dan partikel halus lainnya yang mungkin dapat masuk melalui udara. Paparan merkuri berdampak buruk pada sistem saraf dan perkembangan otak anak. Sedangkan, partikel halus bisa menurunkan fungsi paru, menyebabkan kanker, serangan jantung, dan kematian dini.
Abu sisa pembakaran sampah, sayangnya, merupakan limbah yang masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (limbah B3). Penanganannya disebut lebih sulit dan mahal sebab ancaman pencemarannya sangat tidak baik bagi kesehatan manusia juga lingkungan. Berdasarkan paparan di atas, bagaimana menurutmu tentang insinerasi sampah?
Similar Articles
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

