Konflik dan perang menciptakan kontributor jejak karbon baru dengan dampak signifikan dan sayangnya, sebagian besar tidak dihitung. Emisi ini jarang dilaporkan secara transparan, kadang tidak diwajibkan, walaupun skala dampaknya terhadap jejak karbon global sangat besar.
Scientific American menyebutkan bahwa militer global bertanggung jawab atas sekitar 5,5% dari total emisi gas rumah kaca global. Jika dianggap sebagai entitas negara, angka tersebut menempati posisi keempat terbesar di dunia
Baca Juga: Menekan Dampak Jejak Karbon: Panduan bagi Perusahaan di Indonesia
Table of Contents
ToggleSumber Emisi Langsung dan Tidak Langsung sebagai Kontributor Jejak Karbon dalam Konflik Bersenjata

Konflik bersenjata menghasilkan emisi karbon melalui berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung:
1. Operasi Militer Langsung
Mencakup pembakaran bahan bakar jet dan diesel oleh pesawat, tank, serta kapal perang,produksi senjata, amunisi, dan peralatan militer, serta pembangunan benteng dan instalasi militer yang berkontribusi besar terhadap emisi.
2. Perusakan Infrastruktur dan Kebakaran
Kebakaran besar dan tumpahan minyak akibat serangan ke infrastruktur utama melepaskan GRK. Perusakan bangunan dan kota juga menghasilkan puing yang penanganannya padat energi, sementara kebakaran vegetasi, baik disengaja maupun tidak, turut membebaskan karbon yang tersimpan
3. Perubahan Penggunaan Lahan
Penghancuran vegetasi seperti hutan atau lahan pertanian untuk tujuan militer atau akibat konflik, mengakibatkan pelepasan karbon yang terperangkap dalam biomassa dan tanah.
4. Dampak Krisis Kemanusiaan
Logistik pengiriman bantuan kemanusiaan membutuhkan konsumsi bahan bakar yang tinggi. Selain itu, dampak lingkungan dari kamp-kamp pengungsi, seperti Deforestasi di area sekitarnya, juga menambah jejak karbon.
Emisi Terkunci dan Dampak Pasca-Konflik yang Berkelanjutan
Emisi karbon dapat menjadi “terkunci” dalam situasi konflik yang berkepanjangan dan bahkan setelah konflik mereda.
1. Teknologi Usang dan Infrastruktur Rusak
Konflik menghambat investasi dan pemeliharaan, menyebabkan terus digunakannya teknologi lama yang lebih berpolusi. Infrastruktur vital yang tidak terawat, seperti sistem pengelolaan limbah dan air, juga melepaskan emisi tambahan .
2. Dampak Rekonstruksi
Upaya pembangunan kembali pasca-konflik, terutama kota-kota yang hancur, sangat padat energi dan bahan. Estimasi menunjukkan bahwa rekonstruksi Gaza dan Ukraina akan menghasilkan puluhan hingga ratusan juta ton emisi karbon, dengan produksi bahan seperti semen menjadi kontributor utama jejak karbon yang besar.
3. Perubahan Penggunaan Lahan Pasca-Konflik
Peningkatan deforestasi akibat pemulihan ekonomi atau relokasi populasi, terutama di wilayah dengan tata kelola yang lemah.
4. Sisa Perang
Proses pembersihan ranjau dan sisa-sisa perang lainnya juga merupakan proses yang padat energi dan berkontribusi pada emisi selama beberapa dekade.
Tantangan dalam Pengukuran dan Akuntabilitas Emisi Militer
Mengukur dan melaporkan emisi militer menghadapi hambatan signifikan berikut ini.
1. Minimnya Transparansi dan Data
Sektor militer cenderung tertutup, membuat data sulit diakses. Hanya segelintir negara yang secara sukarela melaporkan emisi ini.
2. Kerangka Pelaporan yang Lemah
Perjanjian iklim internasional tidak mewajibkan pelaporan emisi militer secara eksplisit, menjadikannya opsional.
3. Pengukuran yang Rumit
Metodologi yang ada seringkali tidak mencakup emisi dari rantai pasokan militer, industri senjata, atau dampak tidak langsung dari konflik. Terdapat kebutuhan untuk kategori perhitungan yang lebih komprehensif seperti “Scope 3 Plus”.
4. Akuntabilitas
Hingga kini, belum ada mekanisme internasional yang jelas untuk meminta pertanggungjawaban atas kerusakan iklim yang diakibatkan oleh perang.
Pentingnya Kondisi Ini bagi Bisnis dan Agenda Iklim Global
Memahami emisi dari perang dan militer sebagai kontributor jejak karbon global sangat relevan bagi perusahaan dan agenda iklim secara luas.
1. Integritas Tujuan Iklim Global
Target iklim global tidak dapat dicapai secara efektif tanpa menghitung dan mengatasi seluruh sumber emisi, termasuk dari militer dan konflik sehingga perusahaan yang sungguh berkomitmen pada keberlanjutan perlu berkontribusi.
2. Manajemen Risiko Bisnis
Ketidakstabilan global yang diakibatkan oleh konflik bersenjata dan dampak lingkungannya memengaruhi rantai pasokan, pasar energi, dan prioritas investasi. Mengidentifikasi dan mengelola risiko-risiko ini menjadi penting bagi strategi bisnis yang tangguh.
3. Transparansi dan Tanggung Jawab
Terdapat desakan yang berkembang dari masyarakat sipil dan ilmuwan untuk transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar terkait emisi militer. Dunia usaha yang berinvestasi pada keberlanjutan perlu menyadari lanskap yang berubah ini.
4. Peluang Investasi Hijau
Konflik menciptakan peluang untuk transisi yang lebih berkelanjutan dalam produksi energi, penggunaan lahan, dan pembangunan urban pasca-konflik. Sektor swasta memiliki peran potensial dalam mendukung inisiatif pembangunan kembali dengan pendekatan ramah lingkungan tersebut.
Menghadapi Realitas Perang sebagai Kontributor Jejak Karbon
Kesadaran mendalam dan pengukuran yang lebih baik terhadap dampak kontributor jejak karbon global ini sangat penting untuk mencapai target iklim global dan membangun masa depan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Untuk memahami dan mengelola jejak karbon organisasi Anda secara komprehensif, termasuk yang terkait dengan faktor-faktor global yang kompleks, jadwalkan demo gratis dengan pakar Satuplatform melalui situs web utama kami hari ini.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

