Meskipun upaya mitigasi iklim terus diupayakan, pengendalian volume karbon dioksida di atmosfer masih terus mengalami fluktuasi. Banyak pihak masih berharap sepenuhnya pada solusi penyerapan berbasis alam, seperti reboisasi, restorasi lahan basah, dan pengelolaan lahan.
Mengutip dari Environment Institute, sebuah penelitian dari menunjukkan bahwa akumulasi Co2 di tahun 2023 masih tinggi dan menunjukkan rendahnya penyerapan alami biosfer terestrial. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pendekatan teknologi perlu diterapkan dalam strategi iklim yang holistik dan percepatan mitigasi iklim.
Baca Juga: Green Building sebagai Cara Mengurangi Jejak Karbon
Table of Contents
Toggle5 Alasan Mengapa Pengelolaan Karbon Dioksida Tidak Dapat Mengandalkan NbS
NbS menghadapi berbagai tantangan dalam peranannyaperannnya mengelola Co2. Berikut adalah lima alasan mengapa pengelolaan karbon dioksida yang efektif dan berkelanjutan tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pendekatan berbasis alam.
1. Keterbatasan Kapasitas dan Ketahanan NbS
Ekosistem alami seperti hutan tropis, lahan basah, dan tanah pertanian memiliki kapasitas menyerap karbon yang signifikan. Namun, daya tahannya terhadap perubahan iklim sangat lemah. Karbon yang tersimpan dapat kembali ke atmosfer akibat kebakaran hutan, kekeringan ekstrem, perambahan lahan, atau kegiatan penebangan.
Berbagai laporan dan penemuan menyebutkan banyak kawasan hutan global bahkan gagal menyerap karbon secara bersih karena gelombang panas yang ekstrem, mengakibatkan serapan karbon bersih mendekati nol. Kondisi ini turut mengindikasikan keterbatasan daya tahan ekosistem alam sebagai media penyimpanan emisi karbon.
Sementara itu, restorasi ekosistem hanya mampu menghapus sebagian kecil emisi yang dihasilkan setiap tahun. Secara garis besar, kontribusi NbS terhadap mitigasi perubahan iklim hanya berkisar pada 30–37% dari kebutuhan pengurangan emisi global. Sisanya, memerlukan solusi teknologi yang lebih permanen dan terukur.
2. Risiko “Moral Hazard” dan Penundaan Pengurangan Emisi Langsung
Deklarasi COP28 dengan tegas menyatakan bahwa penggunaan teknologi penghapusan karbon dioksida tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda pengurangan emisi langsung dari pembakaran bahan bakar fosil.
Namun, dalam praktiknya, banyak entitas, termasuk perusahaan dan pemerintah,memanfaatkan NbS sebagai alat pemasaran hijau (green claim) yang dangkal, tanpa melakukan transisi energi secara mendalam.
Konsekuensinya, praktik reforestasi atau penghijauan dan penanaman kembali melalui offset menjadi solusi yang kontra produktif. Ketergantungan pada NbS tanpa aksi mitigasi nyata akan memperpanjang masa hidup sistem emisi-intensif yang justru seharusnya segera digantikan.
3. Kapasitas dan Skala Teknologi Saat Ini Masih Terbatas
Untuk percepatan skenario nol-emisi, teknologi penghapusan karbon harus ditingkatkan sebanyak 30 kali lipat pada 2030 hingga 1.300 kali lipat pada 2050. Tetapi, saat ini kontribusi teknologi enginereed CDR masih di bawah 0,1% dari total kebutuhan penghapusan CO₂ global.

Perkembangannya juga relatif masih sangat rendah dan lambat akibat keterbatasan investasi, ketidakpastian kebijakan, serta minimnya infrastruktur pendukung.
4. Peran Krusial Teknologi Engineered CDR
EngineeredEnginereed CDR, seperti DAC, BECCS (Bioenergy with Carbon Capture and Storage), dan enhanced weathering memungkinkan penangkapan CO₂ langsung dari atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk geologis atau mineral yang stabil selama ribuan tahun. Penyimpanan berbasis geologis memiliki ketahanan lebih lama dibanding karbon yang disimpan di ekosistem alami.
Meski membutuhkan investasi awal yang besar serta konsumsi energi yang tinggi, engineered CDR sangat efektif untuk mengelola “residual emissions” yang tidak dapat dikurangi, seperti dari industri baja dan semen, juga penerbangan.
5. Berbagai Rekomendasi Strategis dan Praktis untuk Dampak yang Lebih Efektif
NbS tetap penting sebagai bagian dari investasi sosial-ekologis, misalnya untuk pemulihan keanekaragaman hayati atau pengelolaan lanskap pedesaan. Akan tetapi, untuk mencapai target dekarbonisasi global yang ambisius, ketergantungan pada solusi berbasis alam semata akan menghambat prosesnya secara strategis.
Oleh sebab itu, pendekatan hybrid yang mengkombinasikanmengombinasikan NbS dengan engineered CDR harus menjadi arah baru. Industri yang mengalami kesulitan dekarbonisasi langsung (Scope 1) perlu didorong untuk mengadopsi teknologi engineered CDR sebagai bagian dari transisi hijau mereka. Salah satunya dengan integrasi CDR dalam rantai pasok, operasional, dan pelaporan emisi secara transparan.
Dukungan regulasi yang kuat dapat mendorong pengembangan teknologi, skema insentif untuk investasi CDR, serta dukungan riset dan kolaborasi publik-swasta agar teknologi ini bisa diterapkan secara luas dan efektif dalam waktu dekat.
Solusi Komprehensif untuk Mengelola Jejak Karbon Dioksida Secara Efisien
Pendekatan NbS dalam pengelolaan emisi karbon di tengah urgensi krisis iklim menjadi tidak relevan jika tidak dilengkapi dengan strategi pendamping. NbS tetap merupakan bagian dari solusi. Tetapi, teknologieknologi engineered CDR menawarkan kapasitas, keandalan, dan permanensi yang dibutuhkan untuk skala dekarbonisasi yang dibutuhkan saat ini.
Sebelum memulai integrasi hibridahibdrida NbS dan engineered CDR, konsultasikan kebutuhan dekarbonisasi perusahaan Anda secara menyeluruh bersama tim ahli Satuplatform.
Layanan Satuplatform memfasilitasi perusahaan untuk:
- Mengelola emisi dan strategi iklim dari hulu ke hilir;
- Membuat laporan keberlanjutan dan GHG yang sesuai standar global;
- Memonitor aksi mitigasi dan potensi dekarbonisasi secara real-time;
- Menyusun peta jalan emisi berdasarkan data yang kredibel.
Pelajari bagaimana layanan kami membantu perusahaan mengelola emisi karbon melalui demo gratis.
- IPCC WGIII – Carbon Dioxide Removal methods McKinsey & Company+8Wikipedia+8Nature+8
- Guardian on sink collapse in 2023 Wikipedia+8The Guardian+8Le Monde.fr+8
- ScienceDirect on limits of NBS pmc.ncbi.nlm.nih.gov+1catf.us+1
- McKinsey buyer perspective on CDR quality and non-permanence risk McKinsey & Company
- AP News on scaling gap for CDR AP News
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

