Kebutuhan akan standar pelaporan keberlanjutan yang terintegrasi dan relevan secara finansial makin mendesak di tengah kompleksitas lanskap pelaporan global. Menanggapi kondisi tersebut, International Sustainability Standards Board (ISSB) di bawah IFRS Foundation meluncurkan IFRS S1 dan IFRS S2 pada Juni 2023.

Standar ini bertujuan membantu perusahaan dalam meningkatkan akses ke modal dan mengurangi biaya pendanaan yang krusial untuk mempertahankan dan memajukan posisi mereka sebagai sustainable business.
Baca Juga: Pengaruh Panduan IFRS Terbaru
Table of Contents
ToggleIFRS S1 Sebagai Pondasi Sustainability Reporting
IFRS S1, atau General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information, menetapkan persyaratan umum untuk pengungkapan risiko dan peluang terkait keberlanjutan. Informasi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi prospek perusahaan, termasuk arus kas, akses ke pendanaan, atau biaya modal dalam jangka pendek, menengah, atau panjang.
Cakupan dan Pilar Inti Pengungkapan IFRS S1
IFRS S1 berfokus pada materialitas tunggal, menyoroti dampak isu Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) terhadap nilai finansial perusahaan. Cakupannya luas, meliputi semua topik ESG yang material secara finansial dengan pengungkapan terstruktur dalam empat pilar inti.
1. Tata Kelola
Menjelaskan proses, kontrol, dan prosedur yang digunakan entitas untuk memantau, mengelola, dan mengawasi risiko serta peluang keberlanjutan.
2. Strategi
Memaparkan pendekatan perusahaan dalam mengelola risiko dan peluang keberlanjutan yang teridentifikasi.
3. Manajemen Risiko
Menguraikan proses yang diterapkan entitas untuk mengidentifikasi, menilai, memprioritaskan, dan memantau risiko serta peluang keberlanjutan.
4. Metrik & Target
Melaporkan kinerja perusahaan terkait risiko dan peluang keberlanjutan, termasuk kemajuan menuju target yang telah ditetapkan atau diwajibkan.
IFRS S2 untuk Sustainable Business: Standar Terkait Aspek Iklim
IFRS S2, atau Climate-related Disclosures, adalah standar tematik yang berfokus secara spesifik pada pengungkapan risiko dan peluang perusahaan terkait iklim dan dapat memengaruhi prospek finansial perusahaan. IFRS S2 berlaku pada:
- Risiko Fisik Terkait Iklim: seperti cuaca ekstrem yang makin sering atau kenaikan permukaan air laut.
- Risiko Transisi Terkait Iklim: termasuk perubahan kebijakan, pergeseran teknologi, atau dinamika pasar menuju ekonomi rendah karbon.
- Peluang Terkait Iklim: contohnya peluang dari efisiensi sumber daya atau pengembangan produk ramah lingkungan.
Standar ini sepenuhnya mengintegrasikan rekomendasi dari Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) sehingga perusahaan yang menerapkan IFRS S2 secara otomatis memenuhi persyaratan TCFD. Informasi yang harus diungkapkan berkaitan dengan empat aspek.
1. Analisis Skenario Iklim
Membahas ketahanan mereka terhadap perubahan iklim, termasuk metodologi dan asumsi yang digunakan dalam analisis skenario.
2. Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)
Pengungkapan emisi Scope 1, 2, dan 3 (termasuk emisi yang dibiayai) sesuai dengan Protokol GHG.
3. Target Emisi & Kredit Karbon
Pengungkapan harus membedakan antara target emisi (bersih dan kotor), serta memberikan informasi mengenai penggunaan kredit karbon.
4. Metrik Spesifik Industri
Memperinci pengukuran (metriks) sesuai industri yang mengacu pada panduan SASB.
Keuntungan Penerapan IFRS S1 dan S2 Bagi Sustainable Business
IFRS berfungsi sebagai “global baseline” yang terintegrasi dengan kerangka lain (SASB, CDSB, GRI) dan dirancang untuk interoperabilitas dengan regulasi yurisdiksi untuk mengurangi beban pelaporan. Adopsi dan penerapan standar IFRS S1 dan S2 menguntungkan sustainable business dalam aspek:
- Memenuhi kebutuhan investor akan informasi relevan dan sebanding, mengoptimalkan akses modal, dan mengurangi biaya pinjaman.
- Menyediakan laporan yang transparan, relevan, sebanding, dan kredibel bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan akuntabilitas.
- Memungkinkan perusahaan membangun kepercayaan yang kuat dan hadir lebih menonjol di pasar.
7 Langkah Penting untuk Implementasi IFRS pada Bisnis
Perusahaan dapat mengoptimalkan penerapan IFRS sebagai standar pelaporan keberlanjutan melalui langkah-langkah berikut.
1. Penerapan Bertahap
ISSB mengizinkan pengungkapan iklim di tahun pertama, lalu semua aspek sustainability material di tahun kedua.
2. Evaluasi Kesiapan Internal
Lakukan evaluasi proses, kontrol, data, dan pengetahuan internal.
3. Menilai Materialitas
Identifikasi risiko dan peluang finansial relevan berkolaborasi dengan pemangku jabatan dan melakukan analisis industri.
4. Menguatkan Tata Kelola
Tetapkan peran jelas dan pengawasan aktif manajemen senior untuk mengawasi risiko dan peluang iklim perusahaan.
5. Integrasi Strategi & Risiko serta Manajemen Risiko
Padukan aspek iklim dan keberlanjutan ke dalam perencanaan strategis, penilaian risiko umum, dan keputusan inti serta lakukan pengawasan dan pembaruan berkala.
6. Tentukan Metrik & Target
Kembangkan metrik serta target terukur (termasuk berbasis sains GRK) dan lacak kemajuannya.
7. Manfaatkan Data & Teknologi
Pengumpulan dan analisis data yang akurat sangat penting sehingga penggunaan platform teknologi akan sangat membantu prosesnya.
Adopsi Global dan Tantangan Lokal
Negara-negara G7 dan Uni Eropa telah mengadopsi dan mengimplementasikan standar ini. Walau begitu, penerapan standar IFRS di Asia Tengah menghadapi tantangan, seperti kebutuhan investasi sumber daya, kesulitan pengumpulan data yang komprehensif, dan keterlibatan pemangku kepentingan yang belum matang. Navigasikan penerapan IFRS S1 dan S2 untuk melangkah sebagai sustainable business bersama dengan Satuplatfom. Tim ahli kami siap membimbing perusahaan Anda dengan solusi komprehensif berbasis teknologi terpadu. Akses demo gratis melalui situs web utama kami untuk konsultasi lebih lanjut.
Similar Article
Bioplastic dari Rumput Laut: Solusi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan
Mengenal Bioplastic dari Rumput Laut Bioplastic dari rumput laut (alga) menjadi salah satu inovasi material ramah lingkungan yang semakin menarik…
Menuju Hubungan Kelautan Dunia: Potensi Ekonomi Biru Indonesia Sebagai Pusat Global
Bersama World Economic Forum (WEF), Indonesia menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit (OIS) pertama yang digelar di Bali pada 8–9…
Tren Sustainability 2026 yang Wajib Dipahami Perusahaan
Isu keberlanjutan atau sustainability kini bukan lagi sekadar tren tambahan dalam strategi perusahaan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam arah…
Tantangan Pengumpulan Data ESG di Perusahaan Multi-Site
Penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern. Tidak hanya perusahaan besar global, perusahaan…
Hubungan Carbon Accounting dan Sustainability Report dalam Mendukung ESG Perusahaan
Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga harus mampu menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Dalam konteks…
Kesalahan Umum dalam Penyusunan Sustainability Report
Kesadaran terhadap pentingnya praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari performa finansial,…

