Flatulensi atau kentut pada dasarnya merupakan aktivitas normal yang diperlukan makhluk hidup untuk melepaskan gas berlebih yang terperangkap di dalam sistem pencernaan. Akan tetapi, kentut sapi disebut-sebut dapat berkontribusi terhadap pemanasan global. Begitu juga dengan sendawanya. Bagaimana bisa?
Baca Juga: Berbagai Sumber Energi Biomassa dan Proses Konversinya
Table of Contents
ToggleKentut Sapi dan Pemanasan Global
Kentut sapi, atau lebih tepatnya, emisi metana dari sapi, merupakan masalah penting dalam konteks pemanasan global.
Sapi serta hewan ruminansia lainnya menghasilkan metana melalui proses pencernaan yang disebut enteric fermentation. Kotorannya menghasilkan gas metana (CH4), senyawa dengan kemampuan memerangkap panas di atmosfer 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), kegiatan peternakan bertanggung jawab atas sekitar 14,5 persen emisi gas rumah kaca global, dengan perkiraan sebanyak 1,5 miliar sapi hidup di bumi ini. Produksi metana dari sapi pun menjadi kontributor utama metana secara global.
Dikutip dari laman Environmental Protection Agency (EPA), berdasarkan data Our World in Data, seekor sapi kemungkinan dapat menghasilkan antara 154 hingga 264 pon gas metana per tahunnya. Dari total 1,5 miliar sapi yang diternak di berbagai belahan dunia, setidaknya dihasilkan 231 miliar pon metana ke atmosfer setiap tahunnya.
Baca Juga: Mengenal Biomassa dan Manfaat Penggunaannya
Dampak dari Metana Sapi Terhadap Pemanasan Global
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, emisi metana dari sapi berkontribusi terhadap pemanasan global 80 kali lebih besar daripada karbon dioksida. Semakin banyak metana diproduksi, semakin meningkat pula dampak perubahan iklim, salah satunya adalah suhu rata-rata bumi yang semakin tinggi
Seiring dengan meningkatnya pemanasan global dan perubahan iklim, kondisi ini dapat mempengaruhi pola cuaca. Menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas badai, perubahan pola hujan, serta peningkatan kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan kekeringan.
Suhu yang semakin tinggi juga dapat mempercepat cairnya es di kutub dan gletser. Menyebabkan naiknya permukaan laut. Selain itu, perubahan iklim yang dipicu oleh emisi metana dapat mengganggu ekosistem, mengganggu ketahanan pangan, mengurangi ketersediaan air, hingga berdampak pada kesehatan manusia akibat peningkatan penyakit terkait panas dan bencana alam.
Mengurangi Emisi Metana dari Sapi untuk Mengurangi Pemanasan Global
Dikutip dari Republika, sebuah studi dari Australia menemukan bahwa mengembangbiakkan sapi yang lebih sedikit kentut dapat secara signifikan mencegah peningkatan pemanasan global.
Demi menemukan solusi dari masalah ini, tim peneliti dari Curtin University Sustainability Police Institute menganalisis 27 publikasi akademis yang relevan. Strategi yang ditemukan dari penelitian tersebut ialah di antaranya dengan mengubah pakan sapi menjadi lebih banyak biji-bijian daripada rumput, memasukkan kacang-kacangan, rumput laut, serta senyawa lain ke pakan sapi, meningkatkan pengelolaan air limbah di pabrik pengolahan daging sapi, dan menyediakan air ozonasi.
Selain mengurangi emisi metana dari sapi secara langsung, upaya lain yang bisa dilakukan ialah dengan mengurangi konsumsi daging dan produk susu, serta beralih ke sumber protein nabati. Hal ini dapat membantu menurunkan permintaan global terhadap produksi sapi dan, dengan demikian, mengurangi emisi metana.
Mengelola dan mengurangi emisi metana dari sektor peternakan adalah langkah penting dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

