Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi dekarbonisasi. Namun, sebelum menetapkan target pengurangan emisi, ada satu langkah fundamental yang tidak boleh dilewatkan, yaitu membuat baseline emisi karbon.
Baseline emisi adalah titik acuan awal yang menggambarkan total emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan perusahaan dalam periode tertentu. Tanpa baseline yang akurat, target net zero atau pengurangan emisi hanya akan menjadi angka tanpa landasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengapa Baseline Emisi Karbon Itu Penting?
Fungsi baseline emisi karbon adalah sebagai berikut:
- Titik referensi untuk mengukur kemajuan pengurangan emisi dari waktu ke waktu.
- Dasar perencanaan target iklim yang realistis dan terukur (misalnya, selaras dengan Science Based Targets/SBTi).
- Persyaratan pelaporan ESG, CSRD (Corporate Sustainability Reporting Directive), maupun skema carbon market.
- Bukti komitmen perusahaan kepada investor, klien, dan regulator.
Langkah-Langkah Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
1. Tentukan Batas Organisasi (Organizational Boundary)
Langkah pertama adalah menetapkan entitas mana saja yang masuk dalam perhitungan emisi. Ada dua pendekatan utama berdasarkan GHG Protocol, yaitu:
- Equity Share Approach: Perusahaan melaporkan emisi proporsional sesuai kepemilikan saham.
- Control Approach (Operational/Financial): Perusahaan melaporkan emisi dari operasi yang berada di bawah kendalinya.
Pilihan pendekatan ini akan menentukan entitas anak, joint venture, atau fasilitas mana yang harus dimasukkan dalam inventarisasi.
2. Identifikasi Scope Emisi
GHG Protocol membagi emisi ke dalam tiga scope:
- Scope 1: Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, seperti pembakaran bahan bakar di boiler, kendaraan operasional, dan proses industri.
- Scope 2: Emisi tidak langsung dari pembelian energi (listrik, uap, atau panas) yang dikonsumsi perusahaan.
- Scope 3: Emisi tidak langsung lainnya di sepanjang rantai nilai, termasuk transportasi bahan baku, perjalanan bisnis, pengolahan limbah, dan penggunaan produk oleh konsumen.
Untuk baseline awal, perusahaan minimal wajib menghitung Scope 1 dan Scope 2. Scope 3 sangat dianjurkan, terutama bagi perusahaan yang berkomitmen pada SBTi atau melaporkan ke CDP.
3. Kumpulkan Data Aktivitas
Data aktivitas adalah informasi kuantitatif tentang kegiatan yang menghasilkan emisi. Beberapa contoh data yang perlu dikumpulkan:
- Konsumsi bahan bakar (solar, bensin, gas alam) dalam liter atau m³.
- Konsumsi listrik dari tagihan PLN dalam kWh.
- Jarak tempuh kendaraan dinas dalam km.
- Jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan serta metode pengolahannya.
- Volume bahan kimia atau refrigeran yang digunakan.
Periode baseline umumnya adalah satu tahun kalender penuh (Januari–Desember) untuk memastikan representasi yang konsisten.
4. Pilih Faktor Emisi yang Tepat
Faktor emisi mengonversi data aktivitas menjadi satuan CO₂ ekuivalen (CO₂e). Beberapa sumber faktor emisi yang umum digunakan:
- IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories (internasional).
- Faktor emisi listrik nasional dari Kementerian ESDM/PLN untuk Scope 2 di Indonesia.
- Emission factors dari US EPA atau DEFRA untuk referensi tambahan.
Gunakan faktor emisi yang paling spesifik dan relevan dengan konteks operasional perusahaan di Indonesia.
5. Hitung Total Emisi dan Verifikasi Data
Kalkulasi emisi dilakukan dengan rumus dasar:
Emisi (tCO₂e) = Data Aktivitas × Faktor Emisi
Setelah kalkulasi selesai, lakukan quality check: pastikan tidak ada data yang dobel dihitung, seluruh sumber emisi signifikan telah tercakup, dan satuan sudah konsisten. Proses verifikasi oleh pihak ketiga (third-party verification) sangat direkomendasikan untuk meningkatkan kredibilitas laporan.
6. Dokumentasikan dan Tetapkan Baseline Year
Baseline year adalah tahun referensi yang akan digunakan untuk membandingkan emisi di masa mendatang. Dokumen baseline harus mencakup metodologi yang digunakan, asumsi dan batasan, sumber data, faktor emisi yang dipilih, serta total emisi per scope. Pastikan dokumentasi ini tersimpan dengan baik karena akan menjadi acuan jangka panjang strategi iklim perusahaan.
Tantangan Umum dalam Penyusunan Baseline Emisi
Tantangan yang sering dihadapi dalam penyusunan ini di antaranya:
- Ketersediaan data: Data konsumsi energi dan aktivitas operasional seringkali tersebar di berbagai departemen dan belum terdigitalisasi.
- Scope 3 yang kompleks: Mengumpulkan data dari pemasok atau mitra bisnis memerlukan koordinasi lintas organisasi.
- Kapasitas SDM: Tidak semua perusahaan memiliki staf yang terlatih dalam carbon accounting.
- Pemilihan metodologi: Banyaknya standar dan panduan (GHG Protocol, ISO 14064, TCFD) dapat membingungkan jika tidak ada panduan yang tepat.
Mulai Perjalanan Dekarbonisasi Anda Bersama Satuplatform
Menyusun baseline emisi karbon membutuhkan metodologi yang tepat, data yang akurat, dan sistem pelaporan yang andal. Satuplatform hadir sebagai solusi terintegrasi untuk membantu perusahaan Anda mengelola inventarisasi GRK, menghitung emisi Scope 1, 2, dan 3, serta menghasilkan laporan yang sesuai dengan standar internasional.
Dengan platform berbasis data dan dukungan konsultan berpengalaman, Satuplatform memudahkan perusahaan Anda untuk:
- Mengotomatiskan pengumpulan dan kalkulasi data emisi secara real-time.
- Memastikan kepatuhan terhadap regulasi ESG dan standar pelaporan global.
- Merancang strategi pengurangan emisi berbasis data yang akurat.
- Mempercepat proses verifikasi dan sertifikasi emisi karbon.
Hubungi tim Satuplatform sekarang dan dapatkan konsultasi gratis untuk memulai penyusunan baseline emisi karbon perusahaan Anda. Kunjungi satuplatform.com atau hubungi kami langsung melalui halaman kontak untuk informasi lebih lanjut.
