Dewan dan pimpinan perusahaan bisnis sepatutnya menyadari bahwa corporate climate action plan membutuhkan kerangka kerja jangka pendek dan panjang yang solid untuk dapat mencapai ambisi iklim yang lebih besar, seperti net-zero.
Dalam hal ini, SBTi (Science Based Targets Initiative) berperan sebagai kerangka dasar akan memfasilitasi perusahaan membangun rencana aksi iklim yang kredibel, terukur, dan transparan melalui program jangka pendek. Adopsi target iklim berbasis sains dapat memperkuat fondasi strategis emiten bisnis untuk menekan berbagai risiko iklim yang berdampak pada keberlangsungan jangka panjang bisnis.
Table of Contents
ToggleMengenal SBTi: Fondasi Aksi dan Kriteria Target Iklim

SBTi merupakan sebuah organisasi dari kolaborasi global antara organisasi-organisasi terkemuka di bidang lingkungan, seperti CDP, UN Global Compact, (WRI), dan (WWF). Organisasi ini berperan sebagai fasilitator bagi perusahaan di seluruh dunia untuk mengambil peran dalam menghadapi krisis iklim melalui pendekatan terbaik yang sejalan climate science terkini.
Target utama SBTi adalah pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan membatasi kenaikan suhu global di bawah atau 2℃ sebagai bentuk tindakan iklim yang bersifat mendesak.
Dalam konteks climate action plan, konsep tersebut dikenal dengan istilah near-term karena SBTi menetapkan seberapa besar emisi harus dikurangi dalam jangka waktu 5-10 tahun. Fokusnya terletak pada praktik substansial dan praktis yang harus segera perusahaan ambil. Target iklim dalam kerangka ini menjadi jembatan transisi menuju aksi jangka panjang yang lebih komprehensif (Net-Zero).
Kriteria Target Aksi Iklim SBTi
SBTi memberi batasan kriteria target iklim yang harus perusahaan penuhi secara strategis untuk membentuk strategi iklim terstruktur.
1. Selaras dengan Tujuan Iklim Global
Target perusahaan harus sejalan dengan ambisi iklim global (membatasi pemanasan global antara 1,5 – 2℃.
2. Cakupan Emisi yang Lengkap
Target harus mencakup minimal emisi 95% emisi langsung (Scope 1 dan 2). Jika Scope 3 perusahaan lebih dari 40%, maka target iklim perusahaan harus melibatkan Scope 3. Artinya, perusahaan perlu menyiapkan target emisi yang menyeluruh mulai dari operasional hingga rantai nilai.
3. Jangka Waktu yang Jelas
Target near-term harus memiliki jangka waktu yang pasti, yaitu 5 hingga 10 tahun.
4. Mengadopsi Pendekatan Sektoral
Target pengurangan emisi disesuaikan dengan konteks operasional emiten bisnis.
Perbedaan Penerapan SBTi dan TCFD untuk Climate Action Plan
Selain SBTi dan Net-Zero, TCFD juga dapat menjadi kerangka strategis rencana aksi iklim perusahaan. Akan tetapi, TCFD dan SBTi memiliki perbedaan dan penggunaannya saling melengkapi.
1. Fokus Kerangka
SBTi menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang sejalan dengan climate science. Sedangkan TCFD fokusnya adalah mengidentifikasi dan mengungkapkan risiko serta peluang terkait iklim yang memiliki dampak finansial terhadap perusahaan, termasuk portofolio dan aset-asetnya.
2. Peran dalam Climate Action Plan
SBTI memberikan metodologi dan validasi untuk memastikan bahwa target pengurangan emisi perusahaan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan dan menekankan apa yang perusahaan perlu lakukan untuk mengatasi perubahan iklim.
Di sisi lain, TCFD membantu perusahaan memahami bagaimana perubahan iklim (misalnya, pajak karbon, cuaca ekstrem) memengaruhi nilai bisnis dan keuangan mereka dan memberi transparansi finansial terkait iklim.
Perusahaan dapat menyajikan komitmen iklim yang autentik, kredibel, dan bermakna yang sejalan dengan rekomendasi pengungkapan TCFD dengan menggunakan pengukuran emisi dan penetapan target SBTi.
5 Tahapan Menerapkan Target Iklim Berbasis Sains
Berikut adalah panduan lima tahapan yang dapat menjadi kerangka untuk climate action plan perusahaan.
1. Komitmen
Secara resmi menyatakan niat untuk menetapkan target berbasis sains dengan mengirimkan surat komitmen kepada SBTi.
2. Analisis dan Pengembangan Target
Tahap ini melibatkan pengukuran total emisi GRK di seluruh Scope 1, 2, dan 3. Berdasarkan data ini, perusahaan kemudian menetapkan target pengurangan emisi yang selaras dengan kriteria ilmiah SBTi. Proses standar ini biasanya memakan waktu 30 hingga 60 hari kerja.
3. Validasi
Setelah target dikembangkan, perusahaan mengajukannya untuk divalidasi oleh tim ahli independen SBTi. Selama proses ini, tim akan memverifikasi kesesuaian target dengan skenario iklim dan cakupan emisi yang diperlukan.
4. Komunikasi
Target yang telah divalidasi harus diumumkan secara publik. Perusahaan juga diwajibkan untuk secara rutin melaporkan kemajuan mereka. Pelaporan yang transparan ini memastikan akuntabilitas dan membangun kepercayaan dengan para pemangku kepentingan
5. Implementasi dan Monitoring
Perusahaan harus segera mengambil tindakan nyata untuk mencapainya. Contohnya melakukan meningkatkan efisiensi energi, mengadopsi sumber energi terbarukan, dan secara aktif melibatkan rantai pasok untuk mengurangi emisi mereka. Telusuri dan lakukan follow-up progres sesuai dengan target yang divalidasi.
Menyelaraskan Target Aksi Iklim Perusahaan dengan SBTi
Secara keseluruhan, SBTi sebuah strategi transformasional yang esensial untuk corporate climate action plan. Dengan mengadopsi target pengurangan emisi karbon berbasis sains (data yang kredibel dan divalidasi), perusahaan mengubah komitmen iklim menjadi investasi yang menguntungkan. Manfaatkan solusi Carbon Management dan Carbon Economy Service dari Satuplatform untuk membantu perusahaan Anda menyelaraskan rencana aksi iklim dengan standar SBTi. Jadwalkan demo gratis layanan kami dan konsultasikan kebutuhan perusahaan Anda segera.
Similar Article
Satuplatform Bawa Inovasi Carbon & ESG Management di Demo Day OJK Fintech Accelerator 2026
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi perusahaan rintisan untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan…
Bencana Karhutla Mengancam Hutan Konservasi dan Penyerapan Karbon
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bukan hanya persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bencana ini juga…
Menghitung Jejak Karbon: Langkah Awal Perusahaan Mengurangi Emisi dan Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin mendorong perusahaan untuk memahami dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas bisnisnya. Salah satu langkah penting yang dapat…
Pemanasan Global dan Bencana di Indonesia: Mengapa Menghitung Jejak Karbon Itu Penting?
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi…
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…

