Transisi Green Economy melalui ASEAN Green Future dan Implikasinya pada Bisnis di Indonesia
ASEAN, dengan area perkotaan yang padat dan pesat, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kerugian ekonominya diperkirakan dapat mencapai hingga 11% dari PDB pada tahun 2100. Transisi menuju pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth) dengan mempercepat pencapaian green economy dinilai sebagai fokus strategis dan kewajiban untuk mengatasi risiko dan tantangan krisis iklim dengan skala besar tersebut. Negara ASEAN terus mengupayakan pendorong utama untuk perubahan tersebut melalui berbagai proyek kolaboratif. ASEAN Green Future adalah salah satu jalur strategis yang menawarkan peluang ekonomi besar dan masa depan yang lebih tangguh. Baca Juga: Strategi Green Growth bagi Bisnis untuk Mendukung ESG Sustainability Proyek ASEAN Green Future: Pendorong Green Economy Regional Mengutip dari laman Climateworks Center, ASEAN Green Future terbentuk dari hasil riset dan sintesis kolaboratif antara Sustainable Development Solutions Network (SDSN), Climateworks Australia, Jeffrey Sachs Center on Sustainable Development at Sunway University, dan tim riset dari Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, dan Thailand. Proyek inisiatif yang diluncurkan pada tahun 2021 dalam rangka mendampingi negara-negara ASEAN mencapai komitmen dekarbonisasi masing-masing negara. Tujuan utama proyek ini adalah untuk mendemonstrasikan bagaimana ekonomi yang berkelanjutan dan terdekarbonisasi dapat menawarkan pembangunan ekonomi yang lebih baik dan masa depan yang lebih tangguh bagi kawasan geografis ASEAN. Fokus ASEAN Green Future terletak pada pengembangan kapasitas untuk analisis kebijakan iklim dan pemetaan jalur net-zero. Melalui dua fase, proyek ini menyintesis riset yang ada dan akan melakukan penilaian kuantitatif terperinci untuk mengidentifikasi persyaratan pendanaan dan teknologi yang dibutuhkan. Progres Proyek ASEAN Green Future dan Komitmen Indonesia Hasil laporan dari Fase I ASEAN Green Future dan ASEAN Climate and Energy Insight pada kuartal II tahun 2024, transisi menuju green economy telah menunjukan progres di berbagai aspek. Indonesia juga turut menunjukkan komitmennya. 1. Target dan Kebijakan Berbagai negara ASEAN telah menetapkan target dekarbonisasi masing-masing untuk menunjukkan komitmen yang kuat. Di antaranya adalah Kamboja yang menargetkan pengurangan emisi GHG sebesar 42% dan Lao PDR sebesar 60%. Negara-negara ASEAN mulai mengembangkan kebijakan pasar karbon sebagai instrumen ekonomi untuk memfasilitasi transisi. Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Malaysia telah merancang dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan ini menunjukkan bahwa kawasan ini serius dalam menggunakan mekanisme pasar untuk mencapai target iklimnya. Pemerintah Indonesia melalui KLHK telah menyiapkan Long-Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050 yang berisi skenario mitigasi dan adaptasi. Di samping itu, Indonesia juga tengah mempercepat upaya untuk meregulasi pajak karbon dan perdagangan karbon. 2. Investasi dan Pendanaan Inisiatif green investment di tingkat regional terus berkembang, dengan peningkatan investasi di bidang clean energy hingga 15% rata-rata tiap tahun semenjak tahun 2020. China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia terus membidik negara-negara ASEAN sebagai target investasi aksi iklim mereka. Sementara Indonesia menjadi target utama investasi publik antara tahun 2013 sampai 2023, dengan capaian angka $3,54 miliar. Upaya peningkatan investasi dan pendanaan di kawasan ASEAN juga didukung oleh skema seperti ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF) yang telah menyediakan pinjaman lebih dari $1 miliar untuk proyek-proyek infrastruktur hijau. 3. Kolaborasi dan Inovasi Peningkatan kolaborasi untuk inovasi turut mengalami progres. Contohnya, proyek Australia-Asia Power Link (AAPowerLink) yang akan mengekspor energi surya menggunakan kabel listrik bawah laut ke Singapura melalui Indonesia. Kolaborasi ini juga berkontribusi pada pembangunan taman riset energi terbarukan di Indonesia. ASEAN Energy and Climate Insight turut melaporkan bahwa Pertamina, ExxonMobil, dan Korea National Oil Corp menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama mengembangkan penyimpanan karbon (CCS) di Sumatera. Strategi untuk Berpartisipasi dalam Transisi Green Economy and Future ASEAN Transisi menuju green economy melalui proyek ASEAN Green Future menuntut partisipasi aktif dari sektor swasta. Bisnis dapat berpartisipasi dengan menyelaraskan strategi mereka dengan 4 pilar dekarbonisasi yang juga dirangkum dalam proyek ini. Di samping komitmen dan tindakan nyata berdasarkan 4 pilar tersebut, perusahaan di Indonesia perlu menerapkan strategi komprehensif berikut ini agar dapat berpartisipasi, berkontribusi, dan meraih manfaat secara optimal. Mendukung Transisi Green Economy Regional dengan Perubahan Internal Proyek ASEAN Green Future menjadi penanda penting bahwa transisi green economy di ASEAN merupakan sebuah realitas yang perlu dukungan kuat kebijakan, investasi, dan kolaborasi. Perusahaan dapat melakukan partisipasi kolektif dalam momentum ini untuk menghindari risiko sekaligus meraih manfaat bersih yang positif melalui langkah konkret dan relevan dengan kondisi di lapangan. Satuplatform memberikan solusi perubahan dari dalam dengan pengelolaan emisi karbon, portofolio karbon, hingga ESG untuk berbagai industri di Indonesia. Diskusikan kebutuhan dekarbonisasi perusahaan Anda dengan tim ahli kami untuk menjajaki peluang green economy yang berkelanjutan. Similar Article Transisi Green Economy melalui ASEAN Green Future dan Implikasinya pada Bisnis di Indonesia ASEAN, dengan area perkotaan yang padat dan pesat, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kerugian ekonominya diperkirakan dapat mencapai hingga 11% dari PDB pada tahun 2100. Transisi menuju pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth) dengan mempercepat pencapaian green economy dinilai sebagai fokus strategis dan kewajiban untuk mengatasi risiko dan tantangan krisis iklim dengan skala besar tersebut. Negara ASEAN terus mengupayakan pendorong utama untuk perubahan tersebut melalui berbagai proyek kolaboratif. ASEAN Green Future adalah salah satu jalur strategis yang menawarkan peluang ekonomi besar dan masa depan yang lebih tangguh. Baca Juga: Strategi Green Growth bagi Bisnis untuk Mendukung ESG Sustainability Proyek ASEAN Green… Penerapan ESG Framework untuk Menarik Investor Hijau di Era Bisnis Berkelanjutan Dunia bisnis saat ini tengah berada di persimpangan penting antara lingkungan dan profit. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya kesenjangan sosial telah mendorong perusahaan untuk lebih bertanggung jawab dalam setiap aktivitasnya. Di sisi lain, para investor juga mengalami pergeseran paradigma: mereka tidak lagi semata mencari keuntungan finansial, melainkan juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari investasi yang dilakukan. Di sinilah peran Environmental, Social, and Governance (ESG) framework menjadi semakin sentral. ESG tidak lagi dipandang sebagai tren sementara, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang menentukan daya tarik bisnis di mata investor hijau. Bagi perusahaan, penerapan ESG bukan hanya soal reputasi, tetapi juga… Eco Packaging as an Alternative to Address the Global Waste Problem The world is facing a mounting waste crisis, with plastic pollution at the center of global environmental concerns. From single-use bags to disposable food containers, conventional packaging has contributed significantly to overflowing landfills, marine pollution, and carbon emissions. Furthermore, millions of tons of plastic waste end up in oceans every year, which threatens ecosystems, wildlife, and human …

