Carbon Offset vs Carbon Capture: Mana yang Lebih Efektif untuk Strategi Iklim Bisnis?
Carbon offsets dan carbon capture menjadi dua pendekatan utama yang sering dipertimbangkan perusahaan dalam mengimplementasikan strategi dekarbonisasi untuk mengatasi masalah iklim. Mengutip dari laman PwC UK, biaya offsets karbon diproyeksikan akan berlipat ganda hingga 1.051% pada tahun 2030, sementara proyeksi pasar carbon capture mencapai triliunan dolar pada tahun 2050. Berdasarkan fakta-fakta ini, pendekatan mana yang akan lebih relevan untuk strategi bisnis di masa mendatang? Baca Juga: Carbon Offset dan Carbon Kredit, Apa Bedanya dan Mengapa Penting? Definisi & Peran Strategis Offset Karbon dan Penangkapan Karbon Carbon Offsets adalah tindakan sukarela untuk mengkompensasi emisi karbon dioksida (CO2) dengan mendanai proyek yang mengurangi, menghilangkan, atau mencegah emisi di lokasi lain. Pendekatan ini berfungsi sebagai strategi dekarbonisasi pelengkap untuk emisi yang tidak dapat dihindari (Scope 3/ beyond) setelah pengurangan emisi internal (Scope 1/burn dan Scope 2/buy) secara maksimal. Sedangkan, Carbon Capture (Carbon Capture, Utilization, and Storage/CCUS) merujuk pada teknologi yang menangkap emisi CO2 dari sumber industri atau langsung dari atmosfer, lalu memanfaatkannya atau menyimpannya secara permanen di bawah tanah. CCUS dianggap penting untuk mengatasi emisi yang sudah terakumulasi sejak lama dan menetralkan emisi yang tidak dapat dihindari, khususnya di sektor-sektor padat karbon. Bagaimana Kedua Strategi Ini Bekerja di Lapangan Tujuan kedua strategi ini adalah dekarbonisasi, tetapi penerapannya sangat berbeda. Implementasi Offset Karbon Offset memiliki dua tipe sebagai berikut. 1. Avoidance Offsets Mendukung proyek yang mencegah emisi di masa depan (misalnya, konservasi hutan, energi terbarukan), terdapat tantangan karena sulitnya mendefinisikan emisi yang tidak dapat dihindari. 2. Removal Offsets Secara aktif menghilangkan CO2 dari atmosfer (misalnya, melalui reforestasi, biochar, Direct Air Capture/DAC), dan dianggap lebih permanen dan terukur. Penerapan Carbon Capture 1. Cara Kerja CCUS Melibatkan penangkapan CO2 dari limbah gas industri, transportasi (melalui pipa atau kapal), dan injeksi untuk penyimpanan geologis permanen, dan umumnya diterapkan di sektor-sektor seperti produksi baja, semen, amonia, dan pembangkit listrik. 2. DAC Merupakan teknologi terkait yang menangkap CO2 langsung dari udara menggunakan filter khusus, kemudian disimpan secara geologis untuk jangka panjang, bahkan lebih dari 10.000 tahun. Perbandingan Efektivitas, Biaya, dan Ketersediaan Carbon Offset dan CCUS Aspek Carbon Offsets CCUS Efektivitas Kurangnya nilai tambah proyek dekarbonisasi dan sifat permanen penyimpanan karbon pada strategi iklim secara keseluruhan. Sulitnya pengukuran dekarbonisasi secara nyata, adanya potensi klaim berlebihan, dan kredit karbon yang tidak jelas.Potensi greenwashing sangat besar. Potensi pengurangan emisi signifikan di sumbernya (hingga 90% dari fasilitas industri) dan penyimpanan permanenKecendrungan penggunaan energi intensitas tinggi, yang dapat meningkatkan emisi jika tidak didukung energi terbarukan, serta risiko kebocoran CO2 atau gempa bumi. Biaya Kurangnya transparansi harga dapat menjadi risiko finansial bagi perusahaan.Prediksi kenaikan biaya signifikan di tahun 2030 jika hanya removal offset yang diizinkan oleh regulator. Biaya modal dan operasional tinggi (estimasi modal $36-$90/ton, operasional $10-$20/ton).Harga karbon yang jauh lebih tinggi (sekitar $200/tCO2) diperlukan agar CCUS lebih kompetitif daripada batubara di beberapa sektor.Potensi keuntungan finansial melalui kredit pajak dan monetisasi emisi karbon yang ditangkap. Ketersediaan dan Kesiapan Fleksibilitas pasarnya dapat digunakan berbagai jenis proyek, tersedia untuk berbagai skala perusahaan (kecil hingga korporasi besar), dan dapat diperdagangkan di berbagai platformVerifikasi pihak ketiga yang ketat dibutuhkan untuk menjamin kualitas. Teknologinya sudah terbukti dan beroperasi dalam skala besar di berbagai belahan dunia. Penyebarannya masih jauh di bawah target net-zero, implementasinya terbilang lambat. Penerapannya condong pada sektor industri berat, untuk aspek emisi yang sulit dihindari (kurang menyeluruh). Pendekatan yang Efektif untuk Strategi Dekarbonisasi Perusahaan Carbon offsets maupun carbon capture memiliki peran dalam mitigasi iklim, tetapi juga disertai tantangan dan batasan sehingga strategi iklim yang paling efektif adalah yang mempertimbangkan sustainability dari seluruh aspek. Keduanya dapat perusahaan padukan untuk merencanakan dan menerapkan strategi penangan iklim yang lebih efektif bagi bisnis, baik dari segi finansial (investasi) maupun dampaknya. Contohnya, dengan menggabungkan tax credits untuk carbon capture dan insentif offset untuk mengatasi tantangan emisi yang berbeda sebagai pelengkap strategi dekarbonisasi yang komprehensif. Manfaat dari pendekatan terpadu ini hanya dapat dicapai melalui pengelolaan ekonomi karbon yang menyeluruh, transparan, dan terverifikasi. Membangun Strategi Iklim yang Kredibel dengan Carbon Economy Anda dapat mulai memetakan kebutuhan carbon portfolio untuk carbon economy dan dekarbonisasi perusahaan yang efektif melalui layanan Carbon Economy Satuplatform. Layan ini merupakan solusi lengkap untuk mengukur, melaporkan, memverifikasi (MRV), dan menerbitkan kredit karbon dan dapat diterapkan untuk kebutuhan Carbon Capture & Storage (CCS), Waste Management, dan Energy Efficiency. Dengan memanfaatkan Carbon Economy Satuplatfom, perusahaan dapat menambah pendapatan atau klaim kredit kompensasi karbon, mengakses dasbor lengkap carbon management yang lengkap, termasuk ESG and Supplier Sustainability Management, untuk memantau emisi dengan mudah secara gratis. Akses demo gratis layanan menyeluruh Satuplatform dan segera konsultasikan kebutuhan portfolio karbon Anda dengan tim ahli kami. Similar Article SBTi sebagai Fondasi Strategis Climate Action Plan Perusahaan Dewan dan pimpinan perusahaan bisnis sepatutnya menyadari bahwa corporate climate action plan membutuhkan kerangka kerja jangka pendek dan panjang yang solid untuk dapat mencapai ambisi iklim yang lebih besar, seperti net-zero. Dalam hal ini, SBTi (Science Based Targets Initiative) berperan sebagai kerangka dasar akan memfasilitasi perusahaan membangun rencana aksi iklim yang kredibel, terukur, dan transparan melalui program jangka pendek. Adopsi target iklim berbasis sains dapat memperkuat fondasi strategis emiten bisnis untuk menekan berbagai risiko iklim yang berdampak pada keberlangsungan jangka panjang bisnis. Baca Juga: Pengaruh Panduan IFRS Terbaru terhadap Climate Transition dan Sustainability Reporting Perusahaan Mengenal SBTi: Fondasi Aksi dan… Dasar Strategi Dekarbonisasi untuk Akselerasi Target GRK 2050 bagi Emiten Bisnis Berdasarkan komitmen nasional untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2050, transisi energi dan dekarbonisasi berperan penting untuk percepatan percepatan dekarbonisasi. Bagi industri dan perusahaan publik yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional, penerapan strategi dekarbonisasi yang komprehensif transparan menjadi jalan untuk membantu akselerasi pencapaian target tersebut. Jika dilakukan dengan tepat, terstruktur, dan terukur, implementasinya tidak hanya mengurangi risiko disrupsi yang lebih besar. Perusahaan justru dapat memastikan akses pasar yang lebih menguntungan di tengah regulasi dan tekanan dari berbagai arah yang terus berkembang. Fondasi Strategi Dekarbonisasi Dekarbonisasi adalah upaya sistematis untuk menghilangkan atau mengurangi emisi karbon hasil aktivitas manusia yang dilepaskan… Strategi Mitigasi Perubahan Iklim untuk Bisnis Berkelanjutan PBB menyatakan bahwa kenaikan suhu rata-rata global telah mencapai sekitar 1,1°C di atas masa pra-industri, sementara di tahun 2024 tercatat rekor pemanasan tertinggi yaitu sekitar 1,55°C. Saat …
Read more “Carbon Offset vs Carbon Capture: Mana yang Lebih Efektif untuk Strategi Iklim Bisnis?”

