Ancaman krisis iklim hari ini memberi tekanan besar pada aspek ekonomi global. Di antaranya adalah kebutuhan untuk mempercepat proyek-proyek dekarbonisasi yang efektif sekaligus menekan risiko finansial bagi negara dan bisnis di dalamnya.
Konteks situasi ini turut mendorong perusahaan dan bisnis untuk mengintegrasikan aksi iklim ke dalam kerangka strategis, termasuk pengadaan dan penggunaan environment friendly innovations.
Program dan kebijakan green credit muncul sebagai salah salah pilihan instrumen strategis dari sektor finansial untuk membantu mewujudkan transisi tersebut. Regulator keuangan di berbagai negara memiliki peran penting dalam memastikan kelancaran alokasi kredit ini untuk mendorong transisi hijau bagi emiten bisnis dan mendukung stabilitas harga.
Baca Juga: Sustainable Marketing: Strategi Pemasaran Ramah Lingkungan untuk Bisnis Modern
Table of Contents
ToggleMemahami Green Credit dan Perbedaannya dengan Carbon Credits
Meskipun sama-sama berkaitan dengan dekarbonisasi, tetapi konsep dasar green credit tidak sama dengan carbon credit. 3 poin berikut ini menjelaskan perbedaan antara keduanya.
1. Fokus
Green credit adalah bagian dari green financial policy yang berfungsi memberikan insentif untuk beragam kegiatan positif bagi lingkungan di luar emisi karbon. Sebaliknya, carbon credits secara spesifik menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca.
2. Mekanisme
Green credit berfungsi menyediakaan pendanaan untuk proyek-proyek environment-friendly. Sedangkan carbon credits memungkinkan perusahaan mengimbangi emisi mereka dengan membeli kredit dari entitas yang telah berhasil mengurangi emisi di bawah batas emisi karbon yang ditetapkan.
3. Pasar
Green credit diperdagangkan di pasar-pasar domestik sebuah negara. Kewenangannya berada di tangan institusi perbankan dan regulator keuangan. Sementara carbon credits secara umum mencakup pasar global, dan dapat dilakukan oleh pemerintah, regulator, hingga komunitas.
Singkatnya, green credit merupakan instrumen pendanaan berupa pinjaman, insentif, atau alokasi kredit khusus yang lembaga keuangan berikan pada bisnis, individu, maupun organisasi untuk memfasilitasi environment-friendly initiatives.
Bagaimana Green Credit Mendorong Inovasi yang Environment-Friendly dan Berkelanjutan

Sebuah penelitian berjudul “The Impact Mechanism of Green Credit Policy on the Sustainability Performance of Heavily Polluting Enterprises-Based on the Perspectives of Technological Innovation Level and Credit Resource Allocation” terhadap berbagai perusahaan di China yang dipublikasikan melalui PMID menyoroti peran green credit pada industri tinggi polusi.
Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa keterlibatan pemerintah dan regulator melalui kebijakan green credit sangat diperlukan untuk meningkatkan potensi dampak nyata pada kinerja keberlanjutan perusahaan (Corporate Sustainability Performance).
Secara teoretis, kebijakan khusus ini memaksa perusahaan untuk mengalihkan alokasi modal untuk lebih mendorong inovasi hijau.
Mekanisme Umum Green Credit Policy
Kebijakan green credit terdiri dari dua mekanisme utama berikut.
1. Penerapan Environment-Friendly Practices
Kebijakan gren credit dapat dimanfaatkan sebagai jalan edukasi pemerintah, regulator, maupun institusi perbankan untuk praktik dan perilaku ramah lingkungan pada emiten bisnis, komunitas, maupun organisasi dengan memberlakukan insentif pada proyek dan inovasi ramah lingkungan yang bisnis lakukan.
2. Alokasi Sumber Daya
Sebaliknya, pemerintah dan institusi perbankan dapat memberikan penalti persyaratan modal yang lebih tinggi bagi industri yang masih sangat berkaitan dengan investasi tinggi emisi karbon.
Situasi ini akan menyalurkan lebih banyak pendanaan bagi green businesses sekaligus mendorong perusahaan merespons kebijakan dengan mengembangkan solusi yang lebih ramah lingkungan sekaligus efisien untuk mendapatkan pendanaan yang lebih optimal.
Berbagai studi serupa di negara yang sama menunjukkan bahwa dampak positif dan efektivitas dari kebijakan ini sangat kompleks dan dapat bervariasi. Jika tidak didukung dengan green credit policy yang komprehensif, transparan, dan informasi yang efisien, dampak positif strategi ini tidak akan bertahan lama. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya perencanaan strategis yang adaptif.
Tantangan Green Credit dan Proyek Environment-Friendly yang Didukung
Seperti strategi sustainability lain, program green credit memiliki dua sisi yang patut emiten bisnis ketahui dan kelola. Berbagai kritik menunjukan tantangan besar yang terkait dengan risiko-risiko berikut.
- Greenwashing.
- Verifikasi dan validasi yang rumit dan memakan waktu, yang dapat menjadi hambatan bagi partisipan.
- Kurangnya efektivitas insentif akibat masalah pada mekanisme pasar.
- Isu ekologis dan sosial pada aktivitas tertentu, salah satunya aforestasi.
Di sisi lain, program green credit dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kredit yang bernilai ekonomis melalui berbagai inovasi dan proyek yang ramah lingkungan dan telah memenuhi persyaratan berikut.
- Penanaman pohon (reforestasi),
- Manajemen limbah,
- Konservasi air,
- Pengembangan bangunan dan infrastruktur berkelanjutan,
- Praktik pertanian berkelanjutan.
Green Credit Sebagai Instrumen Pendanaan untuk Evolusi Investasi Berkelanjutan
Implementasi green credit berpotensi mengakselerasi dekarbonisasi dan menjaga stabilitas harga dan ekonomi. Akan tetapi, program ini menuntut peran aktif dan transparan dari regulator dan institusi di sektor keuangan, serta emiten bisnis atau perusahaan dan individu.
Regulator untuk sektor finansial perlu terus memberikan panduan yang menyeluruh bagi institusi keuangan dalam memprioritaskan pinjaman modal pada proyek berbasis prinsip sustainable and environment-friendly, pengelolaan risiko lingkungan, maupun pembangunan strategi bisnis yang sustainable.
Sementara itu, perusahaan perlu memilih proyek dan inovasi ramah lingkungan yang nyata dan memperhatikan keseimbangan faktor internal (operasional) dan eksternal (ekologis dan sosial secara umum).
Jelajahi layanan manajemen dan pelaporan karbon komprehensif Satuplatform membantu bisnis Anda mengelola risiko, meraih keunggulan kompetitif, dan berkontribusi pada inovasi dan transisi berkelanjutan.
Similar Article
Satuplatform dan OJK Bahas Akselerasi Inovasi Generasi Baru melalui FGD “Accelerating the Next Generation of Innovators”
Perkembangan teknologi digital di Indonesia terus membuka peluang baru bagi startup untuk menciptakan solusi inovatif di berbagai sektor. Namun, pertumbuhan…
5 Ruang Terbuka Hijau di Jakarta Bebas Emisi
Jakarta identik dengan gedung tinggi, lalu lintas padat, dan aktivitas urban yang tidak pernah berhenti. Di tengah dinamika tersebut, ruang…
10 Strategi Efisiensi Energi yang Bisa Mulai Diterapkan di Perusahaan
Efisiensi energi semakin menjadi bagian penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Bukan hanya karena dapat membantu menekan biaya operasional, tetapi juga…
Persetujuan Teknis Emisi: Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan?
Bagi perusahaan yang memiliki kegiatan dengan sumber emisi, pengendalian pencemaran udara bukan hanya persoalan teknis operasional. Perusahaan juga perlu memastikan…
Zero Waste sebagai Strategi Efisiensi Operasional, Untuk Kurangi Emisi Karbon
Zero waste sering dipandang sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan yang berdiri sendiri, terpisah dari operasional inti bisnis. Padahal, jika…
Cara Melakukan Materiality Assessment untuk Laporan Keberlanjutan
Banyak perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dengan memasukkan semua isu ESG yang bisa dipikirkan, mulai dari emisi karbon sampai kesejahteraan karyawan.…

