Pajak karbon atau carbon tax merupakan instrumen ekonomi yang diberlakukan pemerintah untuk mengenakan biaya tambahan pada kegiatan atau produk yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK). Baca juga: Pajak Karbon: Pengertian, Manfaat, hingga Contoh Penerapannya

Penerapan pajak karbon dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan pengurangan emisi karbon. Juga mendorong pelaku usaha bertanggung jawab atas aktivitas operasional mereka terhadap lingkungan. Baca juga: Pengertian Emisi Karbon: Sumber, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Di Indonesia sendiri, aturan terkait pajak karbon telah diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) dan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon. Namun, implementasi pajak karbon secara nyata masih terus dipertimbangkan sampai saat ini.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah awal hadirnya inisiatif pungutan pajak atas aktivitas emisi karbon? Negara mana yang memelopori langkah ini?
Table of Contents
ToggleAwal Mula Pajak Karbon
Menurut sejarah, pajak karbon pertama kali diperkenalkan oleh David Gordon Wilson pada tahun 1973. Ia merupakan seorang insinyur asal Inggris sekaligus profesor teknik di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Pada masa itu, Wilson meyakini bahwa pengurangan polusi yang efektif dapat dilakukan melalui mekanisme pasar, alih-alih membatasi jumlah emisi dari setiap penghasil emisi. Setiap karbon yang dihasilkan produk atau aktivitas akan dikenakan biaya. Hal ini juga dianggapnya dapat menciptakan insentif untuk konservasi energi, menempatkan energi terbarukan pada posisi yang lebih kompetitif.
Negara-negara yang Menerapkan Pajak Karbon
Finlandia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan pajak karbon. Pada tahun 1990, Finlandia memberlakukan pajak atas energi dengan tarif EUR 1,12 per ton CO2e. Pajak karbon di Finlandia ditagih pada saat impor bahan bakar.
Hasilnya, pada tahun 2013 Finlandia melaporkan pendapatan dari pajak karbon senilai 800 juta dolar. Dengan hadirnya pendapatan dari pajak karbon, pajak dari sektor lain seperti pajak penghasilan pribadi dan pajak perusahaan bagi warga negara Finlandia bisa dikurangi tarifnya.
Kemudian, negara kedua yang menerapkan pajak karbon adalah Swedia. Dimulai sejak tahun 1991, Swedia menerapkan pajak karbon dengan tarif EUR 24 per ton CO2e. Ditagih pada saat impor bahan bakar, sama seperti Finlandia mengingat kedua negara ini sama-sama banyak mengimpor bahan bakar.
Dikutip dari Earth, per tahun 2021 terdapat sekitar 27 negara di dunia yang telah menerapkan pajak karbon dan menjadikannya salah satu upaya dalam mengurangi emisi karbon. Negara tersebut di antaranya Argentina, Kanada, Chili, Tiongkok, Kolombia, Denmark, negara-negara Uni Eropa, Jepang, Kazakhstan, Korea Selatan, Meksiko, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Afrika Selatan, Swedia, Inggris, dan Ukraina.
Sementara negara lainnya seperti Brasil, Brunei Darussalam, Indonesia, Pakistan, Rusia, Serbia, Thailand, Turki, dan Vietnam mempertimbangkan untuk bergabung dalam penerapan pajak karbon.
Meskipun pajak karbon diharapkan dapat menjadi suatu inisiatif berkelanjutan dengan dampak yang baik bagi lingkungan, namun penerapannya perlu melalui perencanaan dan koordinasi yang cermat. Bertujuan memastikan pengelolaannya bijak dan efektif, berkeadilan, dan sejalan dengan tujuan mengurangi emisi.
Your All-in-One Sustainability Platform
Satuplatform hadir untuk mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku. Satuplatform adalah platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting.
Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat:
- Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien
- Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi
- Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional
Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang! Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform.
Similar Article
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…
Berapa Banyak Emisi Karbon yang Dilepas Saat Karhutla?
Setiap musim kemarau, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu menjadi berita utama di Indonesia mulai dari kabut asap…
Erupsi Gunung Berapi vs Emisi Industri Mempengaruhi Laporan ESG dan Carbon Footprint?
Ketika Gunung Lewotobi atau Merapi meletus dan menutupi langit dengan abu vulkanik, reaksi publik biasanya tertuju pada evakuasi dan kualitas…
Tren Lari dan Perubahan Iklim: Ketika Cuaca Ekstrem Mengancam Hobi Baru
Trend lari berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya komunitas lari, berbagai ajang marathon,…
Mengenal 3 Desa di Indonesia yang Mulai Menerapkan Transisi Energi
Transisi energi sering dipahami sebagai proyek besar dengan investasi triliunan rupiah, seperti pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan atau infrastruktur berskala…

