Perlukah industri energi, minyak, dan gas lebih memperhatikan emisi metana? Sebuah analisis IEA menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sektor energi bertanggung jawab atas sekitar 145 Mt emisi metana, dan menyebabkan 30% dari kenaikan suhu global.
Metana menyerap lebih banyak panas daripada CO2 sehingga juga berisiko membentuk ozon yang buruk untuk kesehatan sekaligus membawa dampak buruk bagi bisnis. Meskipun begitu, emiten bisnis berpeluang mengambil tindakan yang cepat dan tepat dalam mengurangi emisi metana dengan mengintegrasikannya dalam audit energi.
Baca Juga: Pedoman Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi untuk Bisnis Berkelanjutan
Table of Contents
ToggleMengapa Audit Energi Metana Penting bagi Bisnis
Walaupun masa hidupnya di atmosfer relatif pendek (sekitar 12 tahun), kelalaian terhadap pengelolaan emisi metana dapat menyebabkan risiko signifikan bagi perusahaan di berbagai aspek vital.
1. Risiko Operasional dan Keselamatan
Emisi metana dapat bereaksi membentuk ozon di permukaan tanah yang berbahaya bagi kesehatan. Lebih dari itu, polusi dan ozon yang terbentuk juga angsung memengaruhi efisiensi operasional dan keamanan kerja karena meningkatkan risiko ledakan di fasilitas industri.
2. Risiko Finansial dan Hukum
Lantaran risiko emisi metana cukup besar, regulator dan pemerintah berbagai negara makin memperketat upaya pengelolaan emisi metana, khususnya di sektor energi, limbah, dan agrikultur.
Uni Eropa bahkan telah memformulasikan aturan pengurangan emisi metana di sektor energi (EU Regulation on methane emissions reduction in the energy sector – EU/2024/1787) dan menetapkan denda sebesar 20% bagi negara anggota yang tidak mematuhi regulasi tersebut.
3. Risiko Strategis
Beberapa negara Asia Tenggara masih mengandalkan data emisi lama dan belum memiliki kewajiban pelaporan yang komprehensif sehingga data audit energi berisiko kurang solid.

Kondisi ini menghambat kemampuan perusahaan untuk mematuhi kerangka kerja pelaporan global seperti Oil and Gas Methane Partnership 2.0 (OGMP 2.0). Dampak negatifnya akan memengaruhi daya saing dan reputasi perusahaan.
Mengintegrasikan Audit Energi dan Manajemen Metana
Audit energi modern sejatinya berfungsi sebagai fondasi untuk membangun sistem Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV) yang kuat dan kredibel bagi perusahaan. Sistem ini sangat krusial untuk memastikan kepatuhan regulasi dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Perusahaan dapat menjadikan 3 metode estimasi GHG dari IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories (Revisi tahun 2019) sebagai panduan untuk mengintegrasikan penghitungan emisi metana dalam audit secara menyeluruh.
- Tier 1: berdasarkan data umum (aktivitas dan faktor emisinya) dan nilai awal emisi.
- Tier 2: menggunakan dasar tier 1 dipadukan dengan data aktivitas spesifik sebuah negara.
- Tier 3: menggabungkan data spesifik negara dan fasilitas serta model yang disesuaikan.
Integrasi pengukuran emisi metana ke dalam proses audit energi bisnis dapat dilakukan melalui program Leak Detection and Repair (LDAR). Program sistematis ini berfungsi membantu menemukan sumber emisi metana (seperti kebocoran yang mudah meledak, suar yang tidak menyala, dan ventilasi) dengan memanfaatkan teknologi canggih berikut.
- Pengukuran Sumber Titik (Point Source Measurements) untuk mengukur laju aliran dan level konsentrasi metana pada titik-titik tertentu untuk mengidentifikasi trend emisi dari waktu ke waktu.
- Kamera Pencitraan Gas Optik (OGI) menggunakan inframerah untuk secara visual mendeteksi kebocoran metana.
- Survei udara dan drone yang dilengkapi dengan sensor laser digunakan untuk memonitor area yang sulit dijangkau.
- Sistem pemantauan tetap dan portabel ditempatkan di titik-titik kritis untuk deteksi dan pemantauan yang kontinyu secara real-time.
Peluang Audit Energi Emisi Metana bagi Perusahaan
Pada dasarnya, integrasi perhitungan emisi metana dalam energy audit perusahaan adalah sebuah keharusan karena gas emisi rumah kaca tidak hanya mencakup karbon dioksida.
Audit emisi metana tidak hanya membantu emiten bisnis melakukan asesmen atau deteksi kebocoran. IEA menekankan bahwa emisi metana di sektor energi dapat dikurangi hingga 40% tanpa biaya bersih (no net-cost).
No net cost berarti biaya mitigasi gas metana lebih kecil dibandingkan dengan nilai gas metana itu sendiri. Artinya, setiap kilogram metana yang tidak bocor merupakan sumber daya yang dapat dijual atau dimanfaatkan (sebagai nilai finansial baru) sehingga secara langsung meningkatkan profitabilitas operasional.
Contohnya, perusahaan dapat mengubah stranded gas menjadi hidrogen, sebuah produk bernilai ekonomi tinggi, dengan memanfaatkan teknologi modular.
Bagi perusahaan di sektor energi, limbah, maupun agrikultur, data emisi metana yang terkumpul adalah elemen penting untuk memenuhi kerangka kerja OGMP 2.0 dan meningkatkan akurasi data emisi global untuk menjalankan strategi ESG yang optimal.
Audit Energi Industri Menggunakan Mitigasi Metana untuk Profitabilitas Bisnis
Bagi perusahaan yang berkomitmen terhadap krisis iklim dan praktik sustainability, audit emisi metana menjadi titik pertemuan tanggung jawab iklim dan profitabilitas bisnis.
Melalui audit energi yang lengkap dengan data yang akurat, perusahaan dapat mengubah ancaman tersebut menjadi potensi keuntungan yang signifikan dengan menciptakan methane dividend dari gas yang sebelumnya terbuang sia-sia.
Langkah fundamental ini memudahkan emiten bisnis berperan sebagai first-movers untuk memastikan daya saing yang lebih relevan dengan kondisi pasar. Satuplatform dapat mendampingi transformasi tersebut dengan solusi komprehensif pengelolaan data jejak karbon hingga pelaporan yang sesuai standar global. Dapatkan informasi layanan kami melalui demo gratis segera.
Similar Article
Mengapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island dan Dampak Iklimnya
Jakarta, Surabaya, Bekasi, hingga Palembang belakangan kerap muncul dalam daftar wilayah dengan suhu harian tertinggi di Indonesia. Bagi warga yang…
Meningkatnya Frekuensi Cuaca Ekstrem di Indonesia: Bagaimana Data Menunjukkan Dampak Perubahan Iklim?
Banjir bandang, angin kencang, hingga siklon tropis yang belakangan lebih sering muncul di pemberitaan bukan sekadar kesan subjektif. Badan Meteorologi,…
Berapa Banyak Emisi Karbon yang Dilepas Saat Karhutla?
Setiap musim kemarau, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu menjadi berita utama di Indonesia mulai dari kabut asap…
Erupsi Gunung Berapi vs Emisi Industri Mempengaruhi Laporan ESG dan Carbon Footprint?
Ketika Gunung Lewotobi atau Merapi meletus dan menutupi langit dengan abu vulkanik, reaksi publik biasanya tertuju pada evakuasi dan kualitas…
Tren Lari dan Perubahan Iklim: Ketika Cuaca Ekstrem Mengancam Hobi Baru
Trend lari berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya komunitas lari, berbagai ajang marathon,…
Mengenal 3 Desa di Indonesia yang Mulai Menerapkan Transisi Energi
Transisi energi sering dipahami sebagai proyek besar dengan investasi triliunan rupiah, seperti pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan atau infrastruktur berskala…

