Melansir dari WWF Indonesia, 91% masyarakat Indonesia mendukung aksi untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Data ini menandakan adanya tuntutan pasar yang kuat bagi emiten bisnis untuk merespons krisis iklim.
Tekanan ini juga menyebabkan dilemma strategis bagi pemimpin perusahaan dalam menentukan pendekatan aksi iklim yang lebih optimal. Haruskah memprioritaskan mitigasi perubahan iklim yang fokus pada penekanan emisi? Atau adaptasi terhadap iklim untuk melindungi aset dari dampak tak terhindarkan yang lebih utama?
Memahami perbedaan keduanya adalah kunci untuk membangun strategi yang tepat dan berjangka panjang.
Baca Juga: Peran Lahan Basah dalam Mitigasi Perubahan Iklim
Table of Contents
TogglePerbedaan Utama antara Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Mitigasi dan adaptasi iklim memiliki berbagai perbedaan, khususnya pada lingkup, strategi, dan biaya yang dibutuhkan.
1. Lingkup
Mitigasi mengacu pada tindakan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatkan penyerapan karbon untuk membatasi pemanasan global. Pendekatan ini lebih proaktif dengan mengatasi akar masalah untuk mencegah dampak terburuk di masa depan.
Bagi perusahaan, peran mitigasi sangat penting untuk mencapai target nol-emisi, memenuhi komitmen keberlanjutan, dan meningkatkan reputasi merek di mata konsumen yang makin peduli lingkungan.
Adaptasi perubahan iklim merupakan penyesuaian dan antisipasi terhadap dampak negatif perubahan iklim yang sudah terjadi atau tidak dapat dihindari, seperti cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut.
Tujuannya adalah membangun ketahanan dan meminimalkan risiko kerugian. Bagi bisnis, pendekatan ini berfungsi melindungi aset fisik, memastikan kelancaran rantai pasok, dan menjaga stabilitas operasional di tengah kondisi yang makin tidak menentu.
2. Biaya
Langkah mitigasi pada dasarnya membutuhkan investasi awal yang besar untuk transisi teknologi. Aksesnya lebih mudah karena fokus pada aset berwujud yang terukur, dan membantu efisiensi aspek operasional serta peningkatan keuntungan kompetitif secara jangka panjang.
Sebaliknya, investasi adaptasi iklim menghadapi tantangan kesenjangan pendanaan yang besar dibandingkan mitigasi. Jumlah investasi bervariasi, tergantung pada kondisi daerah yang terdampak dan proyek adaptasi yang dibutuhkan.
Tetapi, pendekatan ini berpotensi pada ROI yang lebih cepat dan menghasilkan “triple-dividends“, yaitu:
- menghindari kerugian,
- menciptakan keuntungan ekonomi, dan
- memberikan manfaat sosial-lingkungan.
3. Praktik
Dalam praktiknya, strategi mitigasi perubahan iklim mencakup transisi ke sumber energi terbarukan, penangkapan karbon (carbon capture), peningkatan efisiensi energi, dan penerapan ekonomi sirkular.
Proyek-proyek mitigasi iklim umumnya harus patuh pada skema sertifikasi terstandarisasi, seperti Verified Carbon Standard (VCS) atau Gold Standard, yang memvalidasi klaim penurunan emisi karbon.
Salah contoh proyek mitigasi iklim adalah aksi Amazon untuk dekarbonisasi logistik dengan kendaraan listrik.
Strategi adaptasi perubahan iklim lebih luas karena fokus pada ketahanan terhadap dampak iklim saat ini dan jangka panjang, di antaranya adalah melalui:
- pembangunan infrastruktur yang tahan iklim,
- perbaikan dan perlindungan ekosistem alam,
- pengembangan varietas tanaman pangan yang tangguh, hingga
- sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem.
Pendekatan berbasis adaptasi belum memiliki sertifikasi yang terstandarisasi dan menghadapi kesulitan dalam menentukan taksonomi yang seragam.
Proyek Africa Improved Foods (AIF), yang dipimpin oleh Royal DSM, merupakan salah satu contoh penerapan pendekatan adaptasi iklim dengan memberdayakan petani kecil di Afrika.
Tujuannya adalah membangun ketahanan pada rantai nilai pangan dari hulu ke hilir, membantu petani beradaptasi dengan cuaca ekstrem, dan menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Kombinasi Optimal sebagai Kunci Strategi yang Seimbang

Secara fundamental, kedua pendekatan di atas berpengaruh pada keberhasilan strategi keberlanjutan bisnis baik dalam jangka panjang maupun pendek.
Langkah adaptasi perubahan iklim memberikan dampak langsung bagi kelangsungan dan ketahanan rantai pasok perusahaan, sedangkan mitigasi iklim memiliki pengaruh dalam aspek operasional.
Meskipun begitu, perusahaan perlu mengintegrasikan keduanya secara proaktif melalui penyesuaian terhadap profil emisi karbon, risiko, dan peluang masing-masing. Berikut ini contoh penerapan untuk sektor-sektor khusus.
- Sektor Manufaktur & Industri Berat: prioritaskan mitigasi untuk mengurangi emisi, tetapi jangan lupakan adaptasi untuk melindungi aset dan rantai pasok dari risiko iklim.
- Sektor Agrikultur: fokus utama pada adaptasi untuk menjamin ketahanan pangan. Aksi mitigasi tetap penting melalui praktik seperti pertanian regeneratif.
- Sektor Keuangan berperan vital dalam mendanai mitigasi, tetapi juga harus beradaptasi dengan mengintegrasikan risiko fisik iklim ke dalam analisisnya.
Salah satu proyek yang mengkombinasikan kedua pendekatan ini telah diterapkan di Amsterdam, Belanda. Strategi holistik Amsterdam yang mengembangkan infrastruktur energi berkelanjutan dan efisien energi sekaligus memastikan sistem tersebut lebih tangguh dan tahan terhadap dampak iklim ekstrem.
Kolaborasi untuk untuk Pendekatan yang Efektif
Perusahaan perlu melakukan identifikasi dan penilaian komprehensif risiko iklim terhadap rantai pasok sebagai langkah awal perencanaan dan penerapan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Satuplatform dapat membantu perusahaan Anda menyusun strategi iklim yang komprehensif, terintegrasi, dan terukur melalui berbagai fitur layanan.
- Pengumpulan dan analisis data ESG secara akurat dan efisien;
- Penghitungan hingga pengelolaan target pengurangan emisi yang penting dalam menekan dampak jejak karbon;
- Penyusunan laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional.
Pelajari layanan kami melalui demo gratis dan konsultasikan kebutuhan lebih lanjut dengan tim ahli Satuplatform.
Similar Article
Bioplastic dari Rumput Laut: Solusi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan
Mengenal Bioplastic dari Rumput Laut Bioplastic dari rumput laut (alga) menjadi salah satu inovasi material ramah lingkungan yang semakin menarik…
Menuju Hubungan Kelautan Dunia: Potensi Ekonomi Biru Indonesia Sebagai Pusat Global
Bersama World Economic Forum (WEF), Indonesia menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit (OIS) pertama yang digelar di Bali pada 8–9…
Tren Sustainability 2026 yang Wajib Dipahami Perusahaan
Isu keberlanjutan atau sustainability kini bukan lagi sekadar tren tambahan dalam strategi perusahaan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam arah…
Tantangan Pengumpulan Data ESG di Perusahaan Multi-Site
Penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern. Tidak hanya perusahaan besar global, perusahaan…
Hubungan Carbon Accounting dan Sustainability Report dalam Mendukung ESG Perusahaan
Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga harus mampu menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Dalam konteks…
Kesalahan Umum dalam Penyusunan Sustainability Report
Kesadaran terhadap pentingnya praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari performa finansial,…

