Dalam 50 tahun terakhir, dunia telah mengalami kenaikan temperatur global sebanyak 2% akibat emisi industrial yang masif. Kenaikan tersebut memicu terjadi perubahan dan krisis iklim. Oleh sebab itu, pemerintah dan regulator global menetapkan urgensi netralitas karbon (carbon neutrality) diikuti dengan target net-zero pada 2050.
Bagi emiten bisnis, memahami konsep dasar carbon neutrality adalah sebuah fondasi untuk dapat menyelenggarakan strategi dan membangun klaim yang tepat, transparan, dan kredibel.
Table of Contents
ToggleMenilik Perbedaan Konsep dan Kredibilitas Netralitas Karbon dan Net Zero
Carbon neutrality menggambarkan kondisi dan jumlah seimbang antara emisi gas rumah kaca CO₂ yang dilepaskan ke atmosfer dengan jumlah yang dihilangkan sehingga menghasilkan jejak karbon nol bersih. Konsep ini merupakan upaya kolektif dan tidak dapat dicapai oleh satu entitas secara terpisah
Sementara itu, net zero (nol emisi) adalah tujuan yang lebih ketat dan ambisius. Konsep ini mengharuskan perusahaan untuk mengurangi jumlah emisi (termasuk gas metana dan dinitrogen oksida) mereka sedekat mungkin ke angka nol. Targetnya mencapai 90-95% pengurangan green house gases, sebelum mengimbangi emisi residual yang tak terhindarkan (Scope 3).
Carbon neutrality dapat menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju target nol-emisi, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan strategi dekarbonisasi yang lebih mendalam dan terstruktur.
Klaim carbon neutrality yang tidak didukung data dapat menyesatkan konsumen dan merusak gerakan untuk menghadapi krisis iklim secara keseluruhan. Saat ini, upaya Carbon neutrality ini juga menarik pengawasan ketat dari regulator (seperti ACCC di Australia dan arahan Green Claims Directive di Uni Eropa) karena memiliki potensi risiko yang merusak reputasi merek melalui klaim berlebihan dan greenwashing.

Oleh karena itu, pendekatan yang transparan dan berbasis data dalam menyelenggarakan carbon neutrality membantu bisnis membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan dan menunjukkan komitmen yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.
4 Elemen Utama dalam Konsep Netralitas Karbon
Konsep carbon neutrality tidak lepas dari empat elemen utama yang berkaitan langsung dengan pendekatan maupun jenis upaya yang dapat emiten bisnis integrasikan dalam strategi dekarbonisasi.
1. Jejak Karbon
Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca (GHG) yang dihasilkan oleh suatu entitas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mengukur jejak karbon adalah langkah pertama yang fundamental bagi perusahaan sebelum merencanakan dan merancang strategi dekarbonisasi.
2. Emisi GHG (Gas Rumah Kaca)
Emisi gas rumah kaca diklasifikasikan menjadi tiga lingkup (scope) utama untuk pengukuran total emisi karbon emiten bisnis. Setiap perusahaan yang ingin melakukan dekarbonisasi wajib memahami cakupan setiap scope berikut.
- Scope 1: Emisi langsung dari sumber yang dikendalikan perusahaan, seperti dari pembakaran bahan bakar di kendaraan perusahaan.
- Scope 2: Emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, seperti listrik dan pendingin.
- Scope 3: Emisi tidak langsung dari seluruh rantai nilai, seperti dari pemasok dan transportasi.
3. Carbon Offset
Offset merupakan investasi dalam proyek iklim yang mengurangi emisi di tempat lain untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat dihindari setelah upaya pengurangan emisi karbon langsung secara maksimal.
Proyek offset, seperti proyek reboisasi atau energi terbarukan, harus berkualitas tinggi dan terverifikasi agar dapat menekan risiko finansial maupun kredibilitas reputasi perusahaan.
4. Carbon Sequestration
Merupakan proses penyerapan dan penyimpanan karbon dari atmosfer. Sekuestrasi dapat terjadi secara alami melalui penyerap karbon alami (natural carbon sinks) yang terjadi di hutan dan lautan. Tetapi, saat ini perusahaan juga dapat melakukannya dengan memanfaatkan teknologi buatan seperti Direct Air Capture (DAC).
Pendekatan Berbasis Standar Global dan Sains
Untuk membuat klaim yang kredibel, strategi netralitas karbon harus didukung oleh pendekatan berbasis sains dan standar yang diakui secara internasional. Berikut ini adalah standar yang sudah umum dikenal dan digunakan dalam implementasi carbon neutrality untuk bisnis.
1. GHG Protocol
Kerangka kerja yang paling banyak digunakan untuk mengukur dan melaporkan emisi GHG secara komprehensif, menjadi tulang punggung banyak inisiatif carbon accounting.
2. SBTi (Science Based Targets initiative)
Standar ini membantu perusahaan menetapkan target pengurangan emisi yang ambisius dan sejalan dengan kebutuhan perubahan iklim. SBTi merekomendasikan pengurangan emisi langsung (direct emission reduction) setidaknya 90% sebelum melakukan offset.
3. ISO 14068
Standar global terbaru untuk netralitas karbon yang dirilis pada tahun 2023 ini memperkuat fokus pada pengurangan emisi sebelum kompensasi (offset), dan akan menggantikan standar sebelumnya, PAS 2060, pada tahun 2025 mendatang.
Netralitas Karbon sebagai Pendorong Transisi Hijau
Penerapan carbon neutrality yang terukur dan terstandarisasi adalah salah satu katalis bisnis berkontribusi dalam transisi hijau, sebuah strategi holistik yang menggabungkan kebijakan, inovasi, dan pembiayaan hijau.
Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat mengurangi emisi secara efektif sekaligus membangun fondasi ekonomi yang kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan pada masa depan.
Melalui layanan Sustainability & GHG Report, Satuplatform dapat membantu perusahaan Anda menyusun strategi dekarbonisasi yang sesuai dengan standar global serta mengelola emisi secara menyeluruh. Segera akses demo gratis kami untuk informasi yang lebih mendalam.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

