Algae, Si Hijau Mini yang Kuat Serap Emisi Karbon Lebih Efisien
Dalam upaya menekan laju perubahan iklim, dunia tengah mencari solusi inovatif yang efisien, hemat lahan, dan berkelanjutan untuk menyerap emisi karbon. Salah satu kandidat kuat yang kini semakin mendapat perhatian adalah algae atau ganggang. Si hijau mini ini ternyata memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dengan efisiensi yang melampaui tumbuhan darat seperti pohon. Baca Juga : Teknologi Mikroalga Dikembangkan untuk Tangkap Karbon di Indonesia Apa Itu Algae? Algae adalah organisme autotrofik yang biasanya hidup di air, baik tawar maupun laut. Mereka melakukan fotosintesis seperti tumbuhan, namun memiliki struktur yang jauh lebih sederhana. Algae terdiri dari berbagai jenis, termasuk mikroalga (mikroskopis) dan makroalga (seperti rumput laut). Mikroalga adalah jenis yang paling banyak dimanfaatkan dalam konteks penyerapan karbon. Menurut berbagai studi ilmiah, mikroalga dapat menyerap karbon hingga 10-50 kali lebih banyak dibandingkan pohon dalam luas area dan waktu yang sama. Beberapa keunggulan algae dalam konteks ini adalah: Aplikasi Algae dalam Skala Industri Teknologi penangkapan karbon berbasis algae telah mulai diimplementasikan di berbagai belahan dunia. Beberapa pabrik semen, pembangkit listrik, hingga kilang minyak menggunakan mikroalga untuk menangkap emisi CO2 secara langsung dari sumbernya. Mikroalga menyerap karbon dan mengubahnya menjadi biomassa, yang bisa digunakan kembali sebagai: Di Indonesia, penelitian dan inisiatif terkait pemanfaatan algae untuk penyerapan karbon mulai berkembang di universitas dan lembaga penelitian, seperti BRIN dan ITB. Potensinya sangat besar mengingat garis pantai Indonesia yang luas dan kekayaan biodiversitas laut. Keunggulan Algae sebagai Solusi Iklim Meski potensinya besar, ada beberapa kendala yang perlu diatasi: Namun, dengan kolaborasi lintas sektor — termasuk startup teknologi lingkungan, akademisi, dan pemerintah — tantangan tersebut dapat menjadi peluang untuk pengembangan ekonomi hijau. Studi Kasus: Algae Serap Karbon Setara 15 Pohon Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti di India dan Jerman menunjukkan bahwa satu panel algae berukuran 1 meter persegi mampu menyerap karbon setara dengan 15 pohon berumur 20 tahun. Panel tersebut bekerja sepanjang hari selama 24 jam dengan sistem pemompaan air dan pencahayaan buatan. Studi ini menjadi tonggak penting bahwa solusi teknologi berbasis biologi dapat menjadi pelengkap penting reboisasi dan pelestarian hutan. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam pemanfaatan algae, mengingat: Kita harus melihat ini sebagai peluang untuk mendorong integrasi teknologi algae dalam strategi keberlanjutan bisnis, baik di sektor industri, pertanian, hingga perkotaan. Dengan model kemitraan antara sektor swasta, pemerintah daerah, dan komunitas, implementasi algae sebagai penyerap karbon bisa menjadi solusi nyata dan berdampak. Algae bukan hanya mikroorganisme biasa. Ia adalah solusi alami yang efisien dan serbaguna untuk mengatasi emisi karbon yang terus meningkat. Dengan kemampuan menyerap karbon secara masif, kebutuhan lahan yang minimal, dan potensi ekonomi yang besar, algae layak menjadi bagian dari strategi nasional dan global untuk menghadapi perubahan iklim. Di era di mana setiap tindakan ramah lingkungan sangat berarti, sudah saatnya kita memberi ruang bagi si hijau mini ini untuk bekerja besar bagi bumi. Peran Satuplatform dalam Akselerasi Teknologi Iklim Sebagai platform teknologi iklim, Satuplatform hadir untuk membantu industri mengelola emisi karbon secara terukur dan menyusun Sustainability Report yang kredibel. Melalui fitur-fitur unggulannya, Satuplatform memungkinkan industri untuk: Mari jadikan teknologi iklim menjadi solusi dan strategi besar kita menghadapi perubahan iklim, akses FREE DEMO Satuplatform untuk dapatkan layanan keberlanjutan terbaik! Similar Article SBTi sebagai Fondasi Strategis Climate Action Plan Perusahaan Dewan dan pimpinan perusahaan bisnis sepatutnya menyadari bahwa corporate climate action plan membutuhkan kerangka kerja jangka pendek dan panjang yang solid untuk dapat mencapai ambisi iklim yang lebih besar, seperti net-zero. Dalam hal ini, SBTi (Science Based Targets Initiative) berperan sebagai kerangka dasar akan memfasilitasi perusahaan membangun rencana aksi iklim yang kredibel, terukur, dan transparan melalui program jangka pendek. Adopsi target iklim berbasis sains dapat memperkuat fondasi strategis emiten bisnis untuk menekan berbagai risiko iklim yang berdampak pada keberlangsungan jangka panjang bisnis. Baca Juga: Pengaruh Panduan IFRS Terbaru terhadap Climate Transition dan Sustainability Reporting Perusahaan Mengenal SBTi: Fondasi Aksi dan… Dasar Strategi Dekarbonisasi untuk Akselerasi Target GRK 2050 bagi Emiten Bisnis Berdasarkan komitmen nasional untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2050, transisi energi dan dekarbonisasi berperan penting untuk percepatan percepatan dekarbonisasi. Bagi industri dan perusahaan publik yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional, penerapan strategi dekarbonisasi yang komprehensif transparan menjadi jalan untuk membantu akselerasi pencapaian target tersebut. Jika dilakukan dengan tepat, terstruktur, dan terukur, implementasinya tidak hanya mengurangi risiko disrupsi yang lebih besar. Perusahaan justru dapat memastikan akses pasar yang lebih menguntungan di tengah regulasi dan tekanan dari berbagai arah yang terus berkembang. Fondasi Strategi Dekarbonisasi Dekarbonisasi adalah upaya sistematis untuk menghilangkan atau mengurangi emisi karbon hasil aktivitas manusia yang dilepaskan… Strategi Mitigasi Perubahan Iklim untuk Bisnis Berkelanjutan PBB menyatakan bahwa kenaikan suhu rata-rata global telah mencapai sekitar 1,1°C di atas masa pra-industri, sementara di tahun 2024 tercatat rekor pemanasan tertinggi yaitu sekitar 1,55°C. Saat ini, perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan tantangan global yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia bisnis. Kenaikan suhu bumi, cuaca ekstrem, dan penurunan kualitas sumber daya alam berdampak langsung pada rantai pasok, biaya produksi, hingga daya beli konsumen. Bagi perusahaan, hal ini bukan hanya soal tanggung jawab sosial, tetapi juga tentang keberlangsungan usaha jangka panjang. Di era saat ini, mitigasi perubahan iklim menjadi strategi penting. Mari simak bagaimana strategi perubahan… Greenwashing Alert! How Businesses Can Stay Honest While Practicing Sustainability In today’s business landscape, sustainability is no longer just a buzzword. It has become a core expectation from consumers, investors, and even regulators. People want to know that the brands they support are not only delivering quality products and services but are also contributing positively to the environment and society. As a result, more companies are publicly committing to sustainability goals, such as reducing carbon emissions, adopting renewable energy, and promoting ethical supply chains. However, this shift has also given rise to a troubling phenomenon: greenwashing. Greenwashing occurs when companies exaggerate or fabricate their sustainability claims, often to appear more… Integrasi Nature-Positive dalam Climate Action Plan untuk Mengurangi Risiko Bisnis WWF Living Planet Report 2022 mencatat terjadinya penurunan populasi satwa liar sebesar 69% sejak tahun 1970. Kerusakan ekosistem ini tidak dapat dipisahkan dari krisis iklim yang terjadi, dan secara langsung melemahkan kemampuan alam untuk …
Read more “Algae, Si Hijau Mini yang Kuat Serap Emisi Karbon Lebih Efisien”

