Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian?

Perubahan Iklim Dan Ketahanan Pangan

Sejak beberapa tahun ke belakang, peningkatan dampak perubahan iklim telah banyak terlihat di berbagai wilayah di seluruh dunia. Perubahan iklim memberi dampak yang signifikan bagi banyak hal, termasuk dalam hal ini adalah ketahanan pangan. Dikutip dari Laporan Climate Change And Food Security: Risks And Responses oleh FAO UN, menurut laporan penilaian terbaru yang diterbitkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan iklim terbukti telah menambah dan meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan bagi negara-negara dan populasi yang paling rentan.  IPCC menemukan adanya empat risiko utama yang bisa terjadi akibat perubahan iklim yang mempunyai konsekuensi langsung terhadap ketahanan pangan: Perubahan iklim juga akan mempunyai dampak yang lebih luas terhadap arus perdagangan, penjualan pangan, dan stabilitas harga. Hal ini dapat menimbulkan risiko baru bagi keberlangsungan hidup manusia. Baca Juga: 3 Ancaman Terbesar terhadap Ketahanan Pangan Global Di Masa Sekarang Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketahanan Pangan Global Berbagai bentuk perubahan cuaca seperti banjir, gelombang panas, kemarau ekstrem, dan peningkatan suhu sebagai akibat dari perubahan iklim, telah banyak mempengaruhi sektor pertanian dan berdampak pada ketahanan pangan.  Pemanasan global mempengaruhi pola cuaca, menyebabkan gelombang panas, hujan deras, dan kekeringan. World Bank menjelaskan bahwa kerawanan pangan global telah meningkat dan sebagian besar disebabkan oleh fenomena iklim. Beberapa dampak utama perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di antaranya: 1. Perubahan Pola Curah Hujan Terhadap Ketahanan Pangan Banjir, kekeringan, dan perubahan dalam pola cuaca dapat mengganggu siklus pertanian dan membuat hasil panen tidak menentu. Kondisi ini juga dapat merusak median tanam juga infrastruktur pertanian sehingga kegiatan pertanian tidak berjalan stabil. 2. Peningkatan Suhu Terhadap Ketahanan Pangan Faktanya, perubahan suhu dapat mempengaruhi musim tanam dan tanaman yang dapat ditanam di suatu wilayah. Suhu tinggi juga berpengaruh pada kondisi tanaman, mengurangi kemampuannya untuk tumbuh. 3. Perubahan Keberadaan Hama dan Penyakit Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan berkontribusi juga memperluas wilayah penyebaran hama dan penyakit tanaman. Meningkatkan risiko kerusakan tanaman. 4. Penurunan Kualitas Tanah Erosi tanah menjadi suatu hal yang dikhawatirkan dari terjadinya hujan deras dan banjir. Sebab tanah yang terendam air dalam waktu yang lama dapat berkurang kesuburannya. Banjir juga merusak tanaman yang berdampak pada berkurangnya hasil panen. 5. Penurunan Sumber Daya Air Kondisi cuaca ekstrem yang menciptakan kondisi kekeringan berkepanjangan akan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi yang mempengaruhi produksi pangan. 6. Peningkatan Permukaan Air Laut Intrusi air laut atau naiknya permukaan laut ke batas daratan berpotensi mengganggu lahan pertanian di daerah pesisir. Mengurangi kesuburan tanah dan mengganggu produksi pangan. 7. Kerugian Ekonomi Terjadinya gangguan pada produksi pangan akan berdampak pada krisis pangan, kerugian ekonomi bagi petani, serta meningkatkan harga pangan.  8. Keamanan Pangan Iklim yang tidak menentu dapat menyebabkan ketidakstabilan pasokan pangan yang berpengaruh pada aksesibilitas dan ketersediaan pangan. Sayangnya hal ini biasanya berdampak pada populasi yang rentan, seperti masyarakat miskin atau yang tinggal di daerah terpencil, yang merasakan kenaikan harga dan penurunan ketersediaan pangan. Kondisi Ketahanan Pangan Global Saat Ini Kerawanan pangan global telah meningkat, sebagian besar disebabkan oleh fenomena iklim. Pemanasan global mempengaruhi pola cuaca, menyebabkan gelombang panas, hujan deras, dan kekeringan. Berdasarkan data World Bank, jumlah orang yang menderita kerawanan pangan akut meningkat sekitar 135 juta orang pada tahun 2019 menjadi 345 juta di 82 negara pada Juni 2022. Dipengaruhi juga oleh peristiwa yang terjadi belakangan, seperti konflik antar negara, gangguan rantai pasokan, dan dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang mendorong harga pangan melonjak drastis. Laporan berjudul State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) juga menyebut bahwa sekitar 2,4 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap makanan yang bergizi, aman, dan cukup. Memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan dan masyarakat pedesaan. Namun, pada saat yang sama, cara produksi pangan saat ini juga merupakan salah satu penyebab utama permasalahan ini. World Bank menyebut bahwa sistem pangan turut berkontribusi terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca global. Diperkirakan sepertiga emisi gas rumah kaca di atmosfer, disumbang oleh sistem pangan. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antar pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat untuk menghadapi tantangan kerawanan pangan dan membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif untuk semua.  Dibutuhkan juga penerapan langkah-langkah seperti penerapan praktik pertanian berkelanjutan, pengelolaan sumber daya yang efisien, pemanfaatan teknologi pertanian modern, hingga penyediaan kebijakan yang mendukung ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim demi mewujudkan ketahanan pangan yang dinamis. Similar Article 5 Organisasi Atasi Masalah Sampah di Indonesia Organisasi Sampah – Masalah sampah di Indonesia semakin mendesak untuk diatasi. Data yang dilansir dari Kata Data, volume timbulan sampah nasional 2022 naik drastis sebesar 21,7% dibandingkan 2021.  Volume sampah terbesar disumbangkan dari Jawa Tengah sebanyak 15,39% dari total timbulan sampah nasional. Dari total timbulan sampah nasional pada 2022, sebanyak 62,63% di antaranya sudah terkelola dan sisanya masih belum terkelola. Dari semakin daruratnya masalah sampah di Indonesia, kini mulai banyak organisasi-organisasi dengan visi bantu pulihkan kondisi lingkungan melalui pengelolaan sampah bertanggung jawab yang mulai bermunculan. Baca Juga: 5 Cara Sederhana Mengurangi Jejak Karbon Berbagai organisasi telah berdiri dan berperan aktif… Ketahanan Pangan: Pengertian dan Tantangannya Ketahanan pangan merupakan salah satu elemen penting yang wajib diperhatikan sebab berhubungan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan, dan stabilitas sosial-ekonomi suatu negara.  Di Indonesia sendiri, pemenuhan akan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin UUD 1945. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. Kondisi pangan yang kritis dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional. Akan tetapi, mengutip dari Earth.org, dengan terjadinya berbagai kondisi saat ini, salah satunya adalah perubahan iklim, dunia disebut berada di ambang krisis pangan global. Berbagai negara terancam menghadapi kelaparan dan kerawanan pangan. Menyebabkan kekhawatiran bagi banyak… Perubahan Iklim Dan Ketahanan Pangan Sejak beberapa tahun ke belakang, peningkatan dampak perubahan iklim telah banyak terlihat di berbagai wilayah di seluruh dunia. Perubahan iklim memberi dampak yang signifikan bagi banyak hal, termasuk dalam hal ini adalah ketahanan pangan. Dikutip dari Laporan Climate Change And Food Security: Risks And Responses oleh FAO UN, menurut laporan penilaian terbaru yang diterbitkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan iklim terbukti telah menambah dan meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan bagi negara-negara dan populasi yang …

3 Ancaman Terbesar terhadap Ketahanan Pangan Global Di Masa Sekarang

3 Ancaman Terbesar terhadap Ketahanan Pangan Global Di Masa Sekarang

Ketahanan pangan merupakan salah satu elemen penting yang wajib diperhatikan sebab berhubungan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan, dan stabilitas sosial-ekonomi suatu negara.  Baca Juga: Ketahanan Pangan: Pengertian dan Tantangannya Di Indonesia sendiri, pemenuhan akan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin UUD 1945. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. Kondisi pangan yang kritis dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional. Akan tetapi, mengutip dari Earth.org, dengan terjadinya berbagai kondisi saat ini, salah satunya adalah perubahan iklim, dunia disebut berada di ambang krisis pangan global. Berbagai negara terancam menghadapi kelaparan dan kerawanan pangan. Menyebabkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Ketahanan pangan adalah fondasi bagi pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan manusia. Setiap negara perlu untuk menyiapkan diri menghadapi berbagai potensi ancaman yang mungkin terjadi terhadap ketahanan pangan yang umumnya melibatkan berbagai faktor. Earth.org menjelaskan bahwa secara umum, kerawanan pangan bisa terjadi disebabkan oleh guncangan ekonomi, permasalahan lingkungan hidup, serta konflik dan krisis kemanusiaan. Namun, berikut adalah tiga potensi ancaman terhadap ketahanan pangan global yang dapat terjadi di masa sekarang. Baca Juga: Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Ketahanan Pangan Global? 1. Perubahan Iklim dan Masalah Lingkungan Terjadinya krisis iklim memberikan pengaruh dalam perubahan pola cuaca sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan lainnya. Kondisi tersebut dapat berpotensi mengubah dan merusak ekosistem, mengancam keanekaragaman hayati dan menghancurkan hasil panen. Rangkaian peristiwa tersebut berdampak besar pada produksi pangan, karena secara signifikan membatasi kualitas, ketersediaan, dan aksesibilitas sumber daya, serta membahayakan stabilitas sistem pangan di seluruh dunia. Dalam artikelnya, Earth mencantumkan studi baru NASA yang menemukan bahwa tanaman jagung termasuk yang paling terancam akibat peningkatan emisi gas rumah kaca. Hasil panen jagung di seluruh dunia diperkirakan akan menurun sampai dengan 24 persen pada tahun 2030 jika kondisi tersebut tidak segera dibenahi. Hal ini disebut dapat berdampak pula pada beras dan gandum yang pasokannya akan menyusut secara signifikan. Selain itu, banjir, kekeringan, kebakaran hutan juga merupakan bencana yang dapat menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan. Bencana tersebut dapat merusak lahan pertanian secara signifikan yang berdampak pada rusaknya tanaman dan berkurangnya produksi pangan.  2. Pertambahan Penduduk dan Sistem Pangan Modern Pertumbuhan populasi global meningkatkan permintaan pangan yang dapat memicu tekanan pada sistem produksi pangan.  Diperkirakan bahwa jumlah populasi akan mencapai hampir 10 miliar pada 2050. Semakin banyak manusia berarti dibutuhkan semakin banyak sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan global. Untuk dapat memenuhi permintaan pangan yang tinggi, manusia terus berupaya mengembangkan teknik intensif pertanian yang memungkinkan mereka memproduksi pangan dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah. Sayangnya beberapa dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Belum lagi dengan keterbatasan petani di negara berkembang ke teknologi pertanian modern. Selain itu, sekitar dua pertiga emisi dari sistem pangan global berasal dari sektor berbasis lahan, yang terdiri dari pertanian, penggunaan lahan, dan perubahan penggunaan lahan.  Ditambah dengan masalah terkait sampah makanan. Dunia diyakini menciptakan sekitar 1,3 miliar ton atau senilai hampir USD$1 triliun makanan yang terbuang atau hilang setiap tahunnya. Jumlah yang cukup untuk memberi makan 3 miliar orang atau hampir 40% populasi global.  Akan tetapi, sampah makanan berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Ketika makanan terbuang dan akhirnya membusuk di tempat pembuangan sampah, proses pembusukan tersebut menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan dengan karbon dioksida (CO2) dalam jangka waktu 100 tahun. Hilangnya sumber daya yang berharga ini menyebabkan perubahan iklim tanpa meningkatkan ketahanan pangan atau nutrisi. Mengurangi jumlah sampah makanan yang berakhir di TPA dapat secara signifikan mengurangi emisi metana. Selain itu, memanfaatkan makanan yang ada dengan lebih efisien dapat mengurangi tekanan pada sistem produksi pangan global. 3. Gangguan pada Rantai Makanan Terdapat banyak cara dan faktor yang bisa menimbulkan bahaya bagi rantai pangan global. Dua peristiwa bencana belakangan ini bisa disebut menjadi faktor utama yang mengganggu ketahanan pangan, yakni pandemi COVID-19 dan terjadinya konflik di Ukraina. Pandemi tidak hanya memicu krisis kesehatan tetapi juga krisis ekonomi. Secara keseluruhan, kejadian kemarin menimbulkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan global. Lockdown yang ketat, penutupan bisnis, dan perjalanan hidup memberikan beban pada perekonomian dunia. Dikutip dari Earth.org, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menekankan bahwa dunia berada di kondisi yang memprihatinkan. Diperkirakan 928 juta orang – hampir dua kali lipat jumlah tahun sebelumnya – mengalami masalah pangan parah. ketidakamanan dan kelaparan. Pada saat yang sama, gangguan pada rantai pasokan di negara-negara maju menyebabkan limbah makanan dalam jumlah besar. Kemudian, konflik bersenjata juga menjadi salah satu penyebab utama kelaparan secara global. Beberapa tanaman yang menjadi komoditas di sana mengalami kelangkaan akibat tidak tersedianya kesempatan untuk bertani. Menurut New York Times , sejak invasi Ukraina pada Maret 2022, harga gandum meningkat sebesar 21% dan jelai sebesar 33%. Berdasarkan data World Bank, Outlook Oktober 2023 secara tentatif menunjukkan bahwa puncak prevalensi kerawanan pangan parah secara global mencapai 11,9% secara global pada tahun 2020-2022, dengan hanya sedikit perbaikan dalam jangka pendek menjadi 11,8% (2021-2023) dan 11,6% (2022-2023). Meski begitu, World Bank menyampaikan bahwa pemulihan global dari COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina mulai terjadi, meskipun berjalan lambat.  Ketahanan pangan adalah isu kompleks yang memerlukan pendekatan multidimensi dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas internasional.  Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. Similar Article 5 Istilah Penting yang Berkaitan dengan Perubahan Iklim Isu terkait perubahan iklim …

Environmental Performance Monitoring untuk Pantau Dampak Lingkungan Perusahaan

Environmental Performance Monitoring untuk Pantau Dampak Lingkungan Perusahaan

Environmental Performance Monitoring – Aspek lingkungan merupakan salah satu aspek yang sangat diperhitungkan dalam menunjang bisnis yang berkelanjutan. Kesadaran mengenai dampak lingkungan tersebut perlu untuk dijunjung oleh berbagai pihak di dalam perusahaan. Para pihak tersebut secara berkesinambungan harus mampu bekerja sama untuk memastikan perusahaan beroperasi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.  Dalam hal ini, aktivitas memantau dampak lingkungan perusahaan perlu dilakukan agar segala dampak yang dihasilkan oleh perusahaan dapat diketahui lebih dini. Hal tersebut juga perlu diupayakan agar menghindari terkenanya denda atas dugaan penyelewengan terhadap tata tertib lingkungan.  Baca Juga: Tepatkah Bergantung pada Carbon Capture & Storage untuk Kurangi Emisi Karbon? Kini, perusahaan dapat memantau dampak lingkungan melalui mekanisme Environmental Performance Monitoring. Simak pembahasan berikut ini!  Environmental Performance Monitoring Dalam mengukur kinerja lingkungan, saat ini dikenal konsep Environmental Performance Monitoring untuk diterapkan oleh perusahaan. Environmental Performance Monitoring sendiri merupakan seperangkat kerangka atau alat yang digunakan untuk menilai kondisi lingkungan hidup, mendukung pengembangan kebijakan dan implementasinya, serta mengembangkan informasi untuk pelaporan kepada pembuat kebijakan nasional, forum internasional, dan masyarakat. Penerapan Environmental Performance Monitoring juga telah mendapat dukungan dari United Nations Economic Commission for Europe (UNECE). Kerangka ini telah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di negara-negara Eropa dan Asia Tengah.  Baca Juga: Upaya Mengurangi Emisi Karbon di Wilayah Perkotaan Aspek dalam Monitoring Performance Lingkungan Dalam penerapan Environmental Performance Monitoring, terdapat berbagai aspek yang perlu diperhatikan. Berikut beberapa aspek tersebut: Pertimbangan mengenai emisi gas rumah kaca adalah salah satu aspek dari monitoring lingkungan. Perusahaan perlu untuk mengukur emisi gas rumah kaca dari seluruh kegiatan operasional termasuk proses produksi, distribusi/transportasi, dan aktivitas rantai pasokan lainnya.  Penggunaan air, energi, listrik, maupun sumber daya lainnya juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam monitoring lingkungan oleh perusahaan. Dengan memonitor aspek ini, perusahaan dapat lebih meningkatkan efisiensi energi, sehingga dapat menurunkan biaya operasional dan meminimalkan dampak lingkungan. Aspek berikutnya yang juga penting terkait dengan monitoring performance lingkungan adalah mengenai manajemen pengelolaan limbah. Dalam hal ini, perusahaan perlu untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan dan bagaimana cara untuk mengurangi atau bahkan mendaur ulang limbah tersebut. Sehingga dengan demikian, dampak lingkungan yang dihasilkan juga dapat ditekan.  Manfaat Environmental Performance Monitoring bagi Perusahaan Dengan dijalankannya proses pemantauan kinerja lingkungan yang baik dan benar, setidaknya perusahaan telah mendapatkan beberapa manfaat sebagai berikut: Pemantauan performance lingkungan dapat membantu perusahaan untuk lebih ‘aware’ terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Sehingga perusahaan dapat lebih berhati-hati terhadap limbah produksi maupun emisi yang dihasilkannya. Dengan demikian, risiko kerugian finansial akibat denda maupun sanksi dapat dihindari. Di era digital yang semakin masif saat ini, pembentukan citra perusahaan yang mengindahkan kaidah lingkungan adalah daya tarik yang khas. Sehingga, jika perusahaan sangat baik dalam memantau dampak lingkungannya, citra perusahaan juga akan menjadi baik. Melalui pemantauan kinerja lingkungan, ini berarti perusahaan dengan sadar telah menaruh serangkaian strategi dan usaha untuk melakukan operasional bisnis yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perusahaan juga ikut berkontribusi untuk menciptakan kondisi bumi yang lebih baik. Langkah Menerapkan Environmental Performance Monitoring Untuk perusahaan yang ingin mulai menerapkan Environmental Performance Monitoring, setidaknya perlu melakukan garis besar langkah-langkah berikut: #1 Tentukan objektif dari monitoring Hal ini biasanya menyangkut apa saja indikator yang dimonitor dan bagaimana perhitungan atau bobot dari indikator tersebut. Kerangka SMART (specific, measurable, achievable, relevant, and time-bound), atau standar internasional seperti ISO 1400, SDGs, ataupun GRI juga dapat sangat membantu dalam menentukan objektif. #2 Lakukan Assessment  Setelah menentukan apa saja indikator yang akan dimonitoring, langkah berikutnya yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan mengukur data terkait dengan indikator lingkungan dengan menggunakan alat seperti audit lingkungan, penilaian siklus hidup, jejak karbon, dan label ramah lingkungan atau lainnya.  #3 Monitoring dan Evaluasi Langkah berikutnya, perusahaan dapat melakukan monitoring terhadap hasil assessment secara berkala. Setelah itu, evaluasi hasil assessment tersebut lalu rencanakan dan terapkan tindakan perbaikan yang paling efektif.  Environmental Performance Monitoring dukung Inisiatif Keberlanjutan Degan menerapkan environmental performance monitoring, perusahaan telah mengambil andil yang besar terhadap inisiatif berkelanjutan. Sebagaimana yang diketahui, bahwa aktifitas industri merupakan salah satu sumber emisi terbesar di dunia. Maka setiap ‘effort’ perusahaan untuk menjaga lingkungan akan sangat berarti. Seiring dengan hal tersebut, kini perusahaan dapat menggunakan layanan All-In-One Solution dari Satuplatform untuk tinjau perhitungan emisi. Coba FREE DEMO ini sekarang juga! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 5 Organisasi Atasi Masalah Sampah di Indonesia Organisasi Sampah – Masalah sampah di Indonesia semakin mendesak untuk diatasi. Data yang dilansir dari Kata Data, volume timbulan sampah nasional 2022 naik drastis sebesar 21,7% dibandingkan 2021.  Volume sampah terbesar disumbangkan dari Jawa Tengah sebanyak 15,39% dari total timbulan sampah nasional. Dari total timbulan sampah nasional pada 2022, sebanyak 62,63% di antaranya sudah terkelola dan sisanya masih belum terkelola. Dari semakin daruratnya masalah sampah di Indonesia, kini mulai banyak organisasi-organisasi dengan visi bantu pulihkan kondisi lingkungan melalui pengelolaan sampah bertanggung jawab yang mulai bermunculan. Baca Juga: 5 Cara Sederhana Mengurangi Jejak Karbon Berbagai organisasi telah berdiri dan berperan aktif… Ketahanan Pangan: Pengertian dan Tantangannya Ketahanan pangan merupakan salah satu elemen penting yang wajib diperhatikan sebab berhubungan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan, dan stabilitas sosial-ekonomi suatu negara.  Di Indonesia sendiri, pemenuhan akan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin UUD 1945. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. Kondisi pangan yang kritis dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional. Akan tetapi, mengutip dari Earth.org, dengan terjadinya berbagai kondisi saat ini, salah satunya adalah perubahan iklim, dunia disebut berada di ambang krisis pangan global. Berbagai negara terancam menghadapi kelaparan dan kerawanan pangan. Menyebabkan kekhawatiran bagi banyak… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Ketahanan Pangan Global? Sejak beberapa tahun ke belakang, peningkatan dampak perubahan iklim telah banyak terlihat di berbagai wilayah di seluruh dunia. Perubahan iklim memberi dampak yang signifikan bagi banyak hal, termasuk dalam hal ini adalah ketahanan pangan.   Dikutip dari Laporan Climate Change And Food Security: Risks And Responses oleh FAO UN, menurut laporan penilaian terbaru yang diterbitkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan iklim terbukti telah menambah dan meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan bagi negara-negara dan populasi yang paling rentan.  IPCC menemukan …

Lautan Sebagai Penyerap Karbon Alami

Lautan Sebagai Penyerap Karbon Alami

Laut telah menjadi salah satu ekosistem penting di bumi yang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan. Lebih dari itu, lautan yang komposisinya menempati lebih dari 70 persen permukaan bumi ini juga berperan penting sebagai penyerap karbon dari atmosfer. Lautan diketahui menyimpan karbon 60 kali lebih banyak dibandingkan atmosfer dan menyerap hampir 30 persen emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan manusia. Dikutip dari Media Indonesia, saat ini diperkirakan ada sekitar 39.000 Gigaton CO2 yang tersimpan di lautan. Baca Juga: Dekarbonisasi untuk Energi Bersih Melihat fungsinya, lautan berperan penting dalam menyerap karbon secara alami. Penyerap karbon terbesar kedua di bumi setelah lapisan batuan. Mengurangi dampak perubahan iklim dan menstabilkan sistem iklim bumi. Akan tetapi, jika melihat kondisi lautan saat ini, apakah kemampuannya masih dapat diandalkan? Proses Penyerapan Karbon Dioksida (CO2) oleh Lautan Dikutip dari CSIRO, sekitar 10 miliar ton emisi karbon dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya. Berkat perannya, lautan kemudian menyerap sekitar 3 miliar ton emisi tersebut dan melarutkannya untuk membantu menjadikan iklim lebih sejuk. Proses penyerapan karbon oleh lautan terjadi di permukaan laut, karbon dioksida diserap langsung dari atmosfer melalui proses difusi dan terlarut ke dalam air laut dengan melibatkan suhu air, salinitas, angin, gelombang dan arus laut.  Kemudian terjadi proses pompa biologis oleh fitoplankton dan pompa fisik oleh yang menyerap CO2 dari permukaan laut ke kedalaman laut. Karbon dioksida atau CO2 tersebut tenggelam ke dasar laut ketika fitoplankton mati atau dimakan oleh organisme lain. Lalu tersimpan dalam sedimen laut. Pada saat yang sama, angin dan gelombang juga turut mencampurkan air permukaan untuk menyeimbangkan konsentrasi karbon dioksida di lapisan atas air. Arus laut menjaga massa air tetap bergerak, memastikan bahwa pengangkatan air laut dari kedalaman ke permukaan (proses upwelling) dan penurunan air permukaan ke kedalaman (proses downwelling), yakni memindahkan air yang kaya CO2 dari permukaan ke kedalaman laut, terus terjadi. Karbon tersimpan dalam sedimen laut ketika organisme seperti karang, moluska, dan beberapa jenis plankton mati. Organisme tersebut menggunakan ion kalsium dan karbonat dari air laut untuk membentuk cangkang dan kerangka untuk membantu menyiapkan tempat bagi karbon. Sebagai reservoir karbon, lautan dan atmosfer berada dalam kondisi pertukaran karbon yang konstan. Lebih dari 150 miliar ton karbon dalam bentuk gas rumah kaca CO2 berpindah bolak-balik antara laut dan atmosfer setiap tahunnya. Pertukaran gas alami antara air laut dan atmosfer dilakukan untuk mencapai keseimbangan tekanan-tekanan parsial di laut dan atmosfer. Akan tetapi, menurut Aksi Iklim PBB, peningkatan emisi gas rumah kaca mempunyai konsekuensi bagi lautan. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kesehatan laut berupa pemanasan dan pengasaman air laut yang merugikan kehidupan bawah air serta mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon. Dampak Peningkatan Emisi GRK Terhadap Lautan Pengasaman laut menjadi salah satu dampak utama yang terjadi dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. Diikuti juga dengan peningkatan suhu air laut, perubahan pola sirkulasi laut yang dapat menciptakan kondisi yang lebih sulit bagi banyak organisme lautan. Dikutip dari National Oceanographic, emisi CO2 yang diserap oleh lautan akan bereaksi untuk membentuk asam karbonat. Jika terjadi secara kontinu, akumulasi jumlah asam ini akan meningkatkan kadar asam serta menurunkan nilai pH air laut. Menyebabkan terjadinya asidifikasi. Terjadinya asidifikasi atau penurunan pH air laut dapat mengganggu keseimbangan kimia laut. Hal ini mempengaruhi organisme laut yang bergantung pada kalsium karbonat untuk membuat cangkang dan tulang pada kerang, terumbu karang, dan beberapa plankton. Degradasi terumbu karang dapat mengurangi habitat penting bagi banyak spesies ikan, mengganggu rantai makanan laut, dan menurunkan keanekaragaman hayati.  Meningkatnya emisi gas rumah kaca yang berdampak pada kondisi iklim juga dapat meningkatkan suhu global dan air laut. Efeknya terumbu karang mengalami pemutihan jika suhu air terlalu tinggi dan spesies laut yang sensitif terhadap suhu pun perlu bermigrasi ke perairan yang lebih dingin, mengganggu ekosistem lokal. Pemanasan global turut mempengaruhi pola arus laut yang dapat mengganggu alur distribusi nutrisi dan rantai makanan laut. Juga menyebabkan ekspansi termal air laut dan menyebabkan cairnya gletser dan lapisan es. Meningkatkan permukaan air laut. Kesimpulan Lautan berperan penting dalam menyerap karbon secara alami, membantu mengurangi dampak perubahan iklim dan menstabilkan sistem iklim bumi.  Namun, tantangan seperti asidifikasi laut dan perubahan ekosistem laut menuntut perhatian dan tindakan konservasi yang lebih besar. Bertujuan untuk memastikan lautan tetap sehat dan mampu menjalankan perannya sebagai penyerap karbon. Upaya global untuk mengurangi emisi CO2 dan melindungi ekosistem laut sangat penting dalam mencapai keberlanjutan lingkungan jangka panjang. Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Lautan Sebagai Penyerap Karbon Alami Laut telah menjadi salah satu ekosistem penting di bumi yang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan. Lebih dari itu, lautan yang komposisinya menempati lebih dari 70 persen permukaan bumi ini juga berperan penting sebagai penyerap karbon dari atmosfer. Lautan diketahui menyimpan karbon 60 kali lebih banyak dibandingkan atmosfer dan menyerap hampir 30 persen emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan manusia. Dikutip dari Media Indonesia, saat ini diperkirakan ada sekitar 39.000 Gigaton CO2 yang tersimpan di lautan. Melihat fungsinya, lautan berperan penting dalam menyerap karbon secara alami. Penyerap karbon terbesar kedua di bumi setelah lapisan batuan. Mengurangi dampak perubahan iklim dan menstabilkan… 5 Smartphone yang Berinovasi untuk Lebih Ramah Lingkungan Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin masif, kepedulian terhadap lingkungan juga tetap perlu diperhatikan. Hal ini tidak lain adalah untuk mendukung tujuan berkelanjutan untuk bumi yang lebih lestari. Di era …

5 Smartphone yang Berinovasi untuk Lebih Ramah Lingkungan

5 Smartphone yang Berinovasi untuk Lebih Ramah Lingkungan

Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin masif, kepedulian terhadap lingkungan juga tetap perlu diperhatikan. Hal ini tidak lain adalah untuk mendukung tujuan berkelanjutan untuk bumi yang lebih lestari. Di era digital saat ini inovasi untuk lebih ramah lingkungan juga ikut dilakukan oleh brand smartphone. Baca Juga: 5 Buku Climate Change Tingkatkan Pemahaman Lingkungan Dengan semakin meluasnya penggunaan perangkat digital berupa gadget maupun smartphone, maka upaya untuk menciptakan inovasi berkelanjutan bagi smartphone dapat memberikan impact yang signifikan terhadap upaya pencapaian lingkungan yang lestari.     Mari simak, 5 Smartphone yang berinovasi untuk lebih ramah lingkungan berikut ini: Samsung Galaxy Z Fold 3 5G Salah satu smartphone yang berinovasi untuk lebih ramah lingkungan adalah Samsung Galaxy Z Fold 3 5G. Smartphone ini merupakan yang pertama di dunia yang memiliki teknologi layar untuk Eco2 (Eco Square) Hemat Energi. Dengan teknologi yang dimiliki oleh smartphone Samsung Galaxy Z Fold 3 5G, penggunaan plastik ikut terkurangi. Hal ini secara tidak langsung menjadi terobosan besar bagi brand Samsung karena upaya mengurangi penggunaan material plastik merupakan concern yang besar di lingkungan. Samsung Galaxy S22 Series Smartphone Samsung lainnya yang juga merupakan produk yang ramah lingkungan adalah Samsung Galaxy 22 Series. Smartphone yang satu ini disusun dengan material ramah lingkungan dalam devicenya yang menggunakan 20 persen plastik daur ulang. Adapun plastik daur ulang ini diperoleh dari lingkungan laut berupa jaring ikan yang dibuang. Di samping itu, bahan daur ulang lainnya juga didapat dari bagian dalam tombol volume dan daya. Sementara untuk kemasannya sendiri, Samsung Galaxy S22 telah menggunakan 100 % kertas daur ulang. Realme GT 2 Pro Smartphone lainnya yang juga berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan adalah Realme GT 2 Pro. Bahan baku dari body smartphone ini berbasis dari biopolimer yang terbuat dari daur ulang kertas.    Oleh Realme GT 2 Pro,  penggunaan bahan biopolimer diproduksi dengan Paper Tech Master Design yang sejalan dengan visi berkelanjutan. Di samping itu, untuk body smartphone tersebut, Realme juga bekerja sama dengan SABIC untuk bahan bersertifikasi ISCC. Sehingga dengan demikian emisi karbon yang dihasilkan adalah 35,5 persen lebih sedikit. Oppo Find X5 Tidak hanya Samsung dan Realme, brand Oppo juga ikut serta berinovasi untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan merefleksikan bisnis pada misi ‘Technology for Mankind, Kindness for The World’, Oppo terus berinvestasi pada inisiatif berkelanjutan.  Salah satu contoh smartphone Oppo yang dibuat dari bahan ramah lingkungan adalah Oppo Find X5. Bahan baku dari smarthphone ini sekitar 45% diperoleh dari serat daur ulang seperti kertas daur ulang, maupun sampah organik dari tebu dan bambu.  iPhone 14 Pro Smartphone berikutnya yang juga mengusung konsep ramah lingkungan adalah iPhone 14 Pro. Belum banyak diketahui ternyata smarthphone mewah ini memiliki model yang ramah lingkungan. Untuk kabel di kameranya, iPhone 14 Pro menggunakan emas daur ulang sampai 100%. Sementara  Di samping itu, komponen dari iPhone 14 pro juga menggunakan plastik daur ulang sampai sekitar 35%. Sementara jika dihitung dari jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksinya, iPhone 14 Pro terbukti memiliki sekitar 6% jejak karbon yang lebih sedikit dari iPhone 13 Pro. Baca Juga: Panduan Memulai Kebiasaan Ramah Lingkungan dalam Keseharian Itulah beberapa Smartphone yang dapat mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan. Saat ini, memang untuk mencapai keberlanjutan lingkungan dapat dicapai melalui banyak cara. Salah satunya pula adalah dengan mengkonsultasikan rencana berkelanjutan perusahaan melalui Satuplatform. Coba FREE DEMOnya sekarang! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Peran Lautan Sebagai Penyerap Karbon Alami Laut telah menjadi salah satu ekosistem penting di bumi yang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan. Lebih dari itu, lautan yang komposisinya menempati lebih dari 70 persen permukaan bumi ini juga berperan penting sebagai penyerap karbon dari atmosfer. Lautan diketahui menyimpan karbon 60 kali lebih banyak dibandingkan atmosfer dan menyerap hampir 30 persen emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan manusia. Dikutip dari Media Indonesia, saat ini diperkirakan ada sekitar 39.000 Gigaton CO2 yang tersimpan di lautan. Melihat fungsinya, lautan berperan penting dalam menyerap karbon secara alami. Penyerap karbon terbesar kedua di bumi setelah lapisan batuan. Mengurangi dampak perubahan iklim dan menstabilkan… 5 Smartphone yang Berinovasi untuk Lebih Ramah Lingkungan Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin masif, kepedulian terhadap lingkungan juga tetap perlu diperhatikan. Hal ini tidak lain adalah untuk mendukung tujuan berkelanjutan untuk bumi yang lebih lestari. Di era digital saat ini inovasi untuk lebih ramah lingkungan juga ikut dilakukan oleh brand smartphone. Dengan semakin meluasnya penggunaan perangkat digital berupa gadget maupun smartphone, maka upaya untuk menciptakan inovasi berkelanjutan bagi smartphone dapat memberikan impact yang signifikan terhadap upaya pencapaian lingkungan yang lestari.     Mari simak, 5 Smartphone yang berinovasi untuk lebih ramah lingkungan berikut ini: Samsung Galaxy Z Fold 3 5G Salah satu smartphone yang berinovasi untuk lebih ramah… Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Baca Juga: Ketahui Hukuman Bagi Perusahaan Pelaku Pencemaran Lingkungan Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian? Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi beras dan kopi akibat memburuknya kondisi iklim. Data Badan Pusat Statistik juga mencatat adanya fluktuasi pada produksi beras di Indonesia… Melihat Kondisi Operasional Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Indonesia diketahui terus menggencarkan pengembangan dan pembangunan …

Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal

Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal

Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Baca Juga: Ketahui Hukuman Bagi Perusahaan Pelaku Pencemaran Lingkungan Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas air dan mengancam ekosistem juga kesehatan makhluk hidup di dalamnya. Sayangnya, isu pencemaran laut semakin meningkat belakangan ini di seluruh dunia. Sampah-sampah dari daratan terus masuk dan kebocoran bahan-bahan polutan ke lautan pun terus terjadi.  Akibatnya banyak wilayah lautan yang terdampak. Ilmuwan pun menyebut bahwa zona hipoksia (daerah dengan konsentrasi oksigen rendah yang menghambat kehidupan hewan laut) kian meningkat. Luasnya hampir setara dengan luas New Jersey atau sekitar 22.591 kilometer persegi. Baca Juga: Panduan Memulai Kebiasaan Ramah Lingkungan dalam Keseharian Penyebab Terjadinya Pencemaran Laut Meskipun bukan merupakan wilayah yang sering terjamah manusia, akan tetapi pencemaran laut utamanya terjadi akibat dari aktivitas manusia. 80 persen pencemaran di lautan berasal dari daratan. Kebocoran minyak dari kapal tanker dan pembuangan limbah kapal merupakan salah satu penyebab lautan tercemar. Namun, dikutip dari Conservation.org, tumpahan minyak hanya menyumbang 12 persen limbah minyak yang membahayakan lautan, sisanya bocor dari saluran air dan sungai serta pipa-pipa pembuangan. Kemudian, plastik juga menjadi sebuah bahan polutan yang mencemari lautan dan menjadi masalah yang tengah ramai diperhatikan saat ini. Berdasarkan data dari Condor Ferries, diperkirakan sekitar 5,25 triliun keping sampah plastik mengapung di lautan di seluruh dunia. Dengan 8 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahunnya.  Kondisi tersebut tentu berbahaya sebab jika terus berlanjut, pada tahun 2050 diperkirakan bahwa akan lebih banyak jumlah sampah plastik di laut dibandingkan jumlah populasi ikan.  Selain itu, penyebab pencemaran laut juga disebabkan di antaranya oleh pembuangan limbah industri ilegal, aliran pupuk dan pestisida dari lahan pertanian, limbah domestik dan sampah daratan yang terbawa arus air hingga ke laut, serta limbah tambang yang mengandung logam berat dan bahan kimia berbahaya yang tidak dikelola secara etis dan tepat. Dampak dari Pencemaran Laut Dengan begitu banyaknya polutan yang mencemari lautan, tentu ada dampak yang bisa terjadi dan dihasilkan dari hal tersebut. Pencemaran laut memiliki dampak yang luas dan merugikan bagi ekosistem laut, kesehatan manusia, ekonomi, dan lingkungan secara keseluruhan.  Dampak Pencemaran Terhadap Kehidupan Laut Pencemaran laut dapat mengancam berbagai spesies lautan, menyebabkan penurunan populasi bahkan menimbulkan kepunahan. Bahan kimia dan limbah yang mencemari laut pun berkontribusi dalam memutihkan dan membunuh terumbu karang, serta mengganggu perkembangbiakan ikan dan organisme laut yang terdampak. Dampak Pencemaran Laut Terhadap Kesehatan Manusia Seperti mata rantai, kontaminasi polutan terhadap hewan laut juga dapat berdampak pada manusia. Apabila manusia mengonsumsi makanan laut yang terlanjur mengandung bahan-bahan berbahaya, akan dapat menyebabkan keracunan dan mengganggu kesehatan manusia. Selain itu, kontak langsung terhadap lautan yang tercemar bahan berbahaya dapat menimbulkan beragam penyakit, infeksi kulit, dan alergi. Dampak Pencemaran Laut Terhadap Ekonomi Pencemaran laut sudah tentu dapat merusak keindahan pantai dan ekosistem laut yang menjadi daya tarik wisata. Mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut. Selain itu, populasi ikan yang menurun akibat pencemaran dapat mengurangi hasil tangkapan dan merugikan nelayan. Berdampak pada pemasukan mereka. Dampak Terhadap Lingkungan Pencemaran laut dapat menyebabkan eutrofikasi serta mengurangi oksigen di air. Jika terjadi zona mati di laut, kehidupan laut pun bisa terancam.  Pencemaran laut juga dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim dengan melepaskan gas rumah kaa dan mengurangi kemampuan laut dalam menyerap CO2.  Sama seperti masalah lingkungan lainnya, pencemaran laut memiliki dampak yang merugikan pada berbagai aspek kehidupan dan lingkungan. Oleh karena itu, kolaborasi tindakan juga kesadaran dari banyak pihak dibutuhkan untuk dapat membantu melindungi ekosistem laut dan menciptakan keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang. Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas air… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian? Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi …

Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian?

Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian?

Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi beras dan kopi akibat memburuknya kondisi iklim. Data Badan Pusat Statistik juga mencatat adanya fluktuasi pada produksi beras di Indonesia antara tahun 2020–2022. Impor beras pun juga masih dilakukan pemerintah untuk dapat memenuhi permintaan pasar akibat dari kurangnya kemampuan dalam negeri. Tidak hanya di Indonesia, dikutip dari Columbia Climate School, akibat bencana iklim Amerika Utara telah mengalami kerugian sebesar US$415 miliar. Disebabkan oleh kebakaran hutan dan angin topan yang mengalami peningkatan. Membuktikan bahwa kerugian akibat perubahan iklim dapat berdampak pada banyak wilayah, bahkan seluruh dunia. Baca Juga: Sejauh Mana Upaya Indonesia Melawan Krisis Perubahan Iklim? Dampak perubahan iklim dapat dirasakan dalam berbagai sektor dan dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kemampuan negara untuk berkembang. Lalu, apa saja cara perubahan iklim berdampak terhadap perekonomian? 1. Perubahan Iklim terhadap Kerugian Finansial dari Bencana Alam Kita mengetahui bahwa perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca, salah satunya adalah peningkatan suhu global akibat emisi gas rumah kaca. Perubahan iklim terbukti belakangan ini telah berkontribusi meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam. Badai, banjir, hingga kekeringan semakin sering terjadi akhir-akhir ini.  Akibat dari bencana alam tersebut, dapat timbul kerusakan infrastruktur, kehilangan properti yang menimbulkan kerugian ekonomi sehingga diperlukan biaya perbaikan yang tidak dapat diprediksi untuk memulihkannya.  2. Penurunan Produktivitas Pertanian Akibat Perubahan Iklim Perubahan iklim yang turut serta mempengaruhi perubahan suhu, pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem juga dapat berpengaruh pada hasil pertanian. Berdasarkan data Bappenas, perubahan iklim berpotensi menurunkan produksi padi Indonesia sebesar 1,13–1,89 juta ton dan menyebabkan 2.256 hektare sawah terancam kekeringan. Hal ini tentu dapat mengakibatkan ketidakstabilan pangan juga meningkatkan risiko kelaparan dan malnutrisi. 3. Perubahan Iklim Mengancam Ketersediaan Sumber Daya Air Perubahan pola curah hujan dan mencairnya gletser dapat mempengaruhi ketersediaan air. Kekurangan air pun berpotensi terjadi.  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, ketahanan air merupakan salah satu hal yang penting. Jika ketahanan air melemah maka akan berdampak serius pada banyak hal, di antaranya ketahanan pangan dan energi. Jika terus berlanjut, maka akan memicu terjadinya konflik yang berimplikasi terhadap stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan. 4. Kerugian di Sektor Pariwisata Karena Perubahan Iklim Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kondisi ekosistem, seperti pantai, kawasan pegunungan, hingga terumbu karang di lautan. Apabila hal ini terjadi, akan terjadi penurunan daya tarik wisata yang berdampak pada kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata. 5. Perubahan Iklim Berdampak Pada Kesehatan Masyarakat Perubahan iklim juga dapat menyebabkan peningkatan penyakit. Contohnya seperti penyakit pernapasan akibat kondisi udara yang tidak sehat, malaria, dengue, dan lainnya. Akibatnya, dapat berpengaruh terhadap peningkatan biaya kesehatan serta risiko penurunan produktivitas tenaga kerja. 6. Penurunan Nilai Aset Infrastruktur Di daerah yang rawan, beberapa bangunan atau properti rentan terdampak penurunan nilai akibat adanya risiko banjir, erosi pantai, dan bencana alam lainnya.  Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan nilai aset, kesulitan dalam menjual atau mengasuransikan properti, hingga kerugian finansial bagi pemilik properti. Jika hal ini terus terjadi, akan ada lebih banyak infrastruktur yang terdampak di seluruh dunia. Melihat potensi-potensi di atas, penting bagi siapa pun untuk mulai turut serta mengatasi dampak ekonomi dari perubahan iklim. Melakukan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi untuk menjadi lebih tahan terhadap perubahan iklim. Selain itu, pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. Similar Article 5 Istilah Penting yang Berkaitan dengan Perubahan Iklim Isu terkait perubahan iklim semakin menjadi pembahasan yang ramai diperbincangkan saat ini. Di seluruh dunia, masyarakat lintas generasi mulai menunjukkan ketertarikannya akan informasi tentang perubahan iklim. Hasil survei People’s Climate Vote 2024 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen populasi dunia telah menaruh perhatian mereka pada isu ini. Sementara itu, 63 persen pengisi survei sudah mulai mempertimbangkan dampak perubahan iklim terhadap keputusan yang mereka buat. Melalui kondisi ini, bisa digambarkan bahwa perubahan iklim semakin memberikan pengaruhnya terhadap orang-orang di berbagai belahan dunia. Mengganggu mereka dengan beragam cara. Perubahan iklim tidak lagi sebatas konteks khusus bagi beberapa kalangan. Istilah ini perlu diumumkan lebih… Keuntungan Berlangganan Jasa Perhitungan Jejak Karbon bagi Perusahaan di Masa Kini Jejak karbon merupakan sejumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang lepas ke atmosfer dan bersumber dari berbagai kegiatan tertentu. Konsentrasi emisi karbon antropogenik atau yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah sumber yang paling dominan dalam menimbulkan dampak bagi lingkungan. Salah satunya berasal dari sektor industri yang disebut sebagai kontributor utama emisi karbon global.  Menurut laporan emisi CO2 tahun 2022 oleh IEA, emisi karbon dioksida global dari pembakaran energi dan proses industri telah mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni sebesar 36,8 Gt pada 2022. Meskipun produksi emisi karbon dari industri sempat menyusut 5 persen pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19, akan… Pengertian Industri Hijau: Tujuan, Manfaat, dan Contohnya Penerapan industri hijau di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim selayaknya angin segar yang memberikan kesejukan dalam upaya keberlanjutan. Sektor industri sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) global seringkali didorong untuk dapat berkontribusi dalam langkah pengurangan emisi karbon atau dekarbonisasi. …

Melihat Kondisi Operasional Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia

Melihat Kondisi Operasional Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia

Indonesia diketahui terus menggencarkan pengembangan dan pembangunan infrastruktur hijau sebagai salah satu langkah mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Salah satunya ialah mengembangkan teknologi pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) atau disebut juga pembangkit listrik hijau. Listrik hijau atau listrik ramah lingkungan merupakan listrik yang dihasilkan dari sumber daya seperti tenaga surya, angin, panas bumi, biomassa, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air berdampak rendah. Listrik hijau sebagai salah satu bentuk pemanfaatan energi terbarukan, diyakini punya potensi yang besar di Indonesia sehingga pembangunannya gencar dilaksanakan saat ini. Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Masih seperti kebanyakan negara lainnya, Indonesia saat ini masih bergantung banyak pada sumber listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sampai dengan tahun 2020, diketahui kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia tercatat mencapai 63,3 GW, dengan PLTU memiliki porsi sebesar 31,952 GW atau 50 persen dari total kapasitas pembangkit yang ada. PLTU menyumbang sekitar 65,3 persen pasokan energi listrik di Indonesia Meski begitu, Indonesia juga memiliki pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang tersebar di berbagai daerah di nusantara. Potensinya bisa dikatakan besar dan perlu untuk dimanfaatkan sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang terbatas. 1. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau Angin (PLTB) PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan merupakan salah satu pembangkit hijau yang dikembangkan pemerintah untuk membantu memenuhi pasokan listrik yang dibutuhkan masyarakat. PLTB Sidrap memiliki kapasitas listrik mencapai 75 MW dengan didukung 30 wind turbin generator yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW. PLTB ini mampu menyediakan kebutuhan listrik untuk 70.000 masyarakat di Sulawesi Selatan. Diketahui bahwa terdapat 24 proyek PLTB lain di sejumlah daerah yang saat ini tengah dikembangkan pemerintah. 2. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Panas bumi juga menjadi sumber energi terbarukan yang diyakini punya potensi yang besar di Indonesia. Potensi panas bumi Indonesia disebut dapat mencapai 23.965 MW, terbesar kedua di dunia. Saat ini, pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal sebagai pembangkit listrik telah dilakukan. Kementerian ESDM menyebut terdapat setidaknya 13 PLTP yang saat ini beroperasi untuk mendukung pasokan listrik di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah PLTP Sarulla di Sumatera Utara dan PLTP Darajat di Jawa Barat. 3. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sebagai negara tropis, Indonesia tentu punya sinar matahari yang melimpah sepanjang tahunnya. Oleh karena itu, pemanfaatan tenaga surya dilakukan dengan menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya di sejumlah daerah Tercatat hingga saat ini Indonesia memiliki 5 PLTS yang tersebar di seluruh nusantara. PLTS tersebut di antaranya adalah PLTS Oelpuah di Kupang, PLTS Likupang di Minahasa Utara, PLTS Coca Cola Amatil (CCA) di Cikarang Barat, PLTS Terapung Cirata di Bandung, dan PLTS Bunaken di Taman Nasional Bunaken. Meskipun potensi energi surya di Indonesia disebut dapat mencapai 207,8 GW, namun pemanfaatannya saat ini baru sekitar 0,23 persen saja.  4. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Selain matahari, perairan di Indonesia juga terkenal luas dan punya potensi besar untuk dimanfaatkan. PLTA menjadi penghasil listrik terbarukan terbesar di Indonesia setelah bahan bakar fosil.  Per tahun 2021, diketahui setidaknya terdapat 162 unit PLTA yang beroperasi di Indonesia. Beberapa di antaranya ialah PLTA Cirata di Jawa Barat yang menjadi PLTA terbesar di Indonesia dan kedua se-Asia Tenggara, PLTA Saguling yang punya total kapasitas listrik sebanyak 844,36 MW, PLTA Poso dengan kapasitas 515 MW, dan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan yang berkapasitas 510 MW. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2021-2030, terdapat target pembangunan 20,9 GW pembangkit energi baru terbarukan (EBT) hingga tahun 2030 untuk mendukung terakomodirnya listrik hijau di Indonesia. Pembangkit ramah lingkungan tersebut terdiri dari pembangkit listrik tenaga air, surya, panas bumi, hingga bioenergi berbasis biomassa dan biogas.  Dikutip dari CNBC, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa proses pembangunan pembangkit EBT tersebut sudah dimulai sejak 2021 lalu.  “Saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) punya potensi yang paling besar yaitu 10,3 GW. Kemudian juga dari PLTS kita kan negara tropis rencana pengembangannya 4,7 GW, juga PLTP kita mempunyai potensi terbesar kedua yakni pengembangannya 3,35 GW,” ungkap Dadan dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia. Selain itu, PT PLN juga berencana melakukan revisi terhadap RUPTL 2021-2030 untuk dapat mencapai target emisi puncak sektor listrik sebesar 290 juta metrik ton CO2 pada tahun 2030, mencapai bauran energi terbarukan sebesar 34% pada tahun 2030, dan membuat sektor listrik menjadi nol pada tahun 2050. Mengakomodiasi target kemitraan transisi energi yang adil (Just Energy Transition Partnership/JETP). “Perlu kami sampaikan saat ini sedang proses melakukan revisi atas RUPTL 2021-2030 di mana kami memang melihat adanya demand listrik dari industri-industri termasuk nikel di Sulawesi sudah masuk ke dalam perencanaan kami untuk merevisi RUPTL,” ungkap Executive Vice President Transisi Energi dan Keberlanjutan PT PLN, Kamia Handayani, sebagaimana dikutip dari Kontan. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas air… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian? Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi beras dan kopi akibat memburuknya kondisi iklim. Data Badan Pusat Statistik juga mencatat adanya fluktuasi pada …

Ruang Terbuka Hijau di Indonesia

Ruang Terbuka Hijau di Indonesia

Ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu wilayah lingkungan tertentu. Ruang terbuka hijau yang baik dapat menghasilkan banyak manfaat, utamanya bagi keseimbangan ekologi juga kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia sendiri, aturan terkait ruang terbuka hijau telah diatur pemerintah dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2022 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Dalam peraturan dijelaskan bahwa suatu wilayah perkotaan perlu memiliki proporsi ruang terbuka hijau setidaknya minimal 30% dari luas wilayah total yang terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat. Baca Juga: Mari Berkunjung ke 5 Ruang Terbuka Hijau di Bandung Ini! Namun, apa sebenarnya manfaat dari adanya RTH? Lalu, bagaimana penerapan aturan ini dalam kondisi sebenarnya di Indonesia? Seberapa tercukupinya jumlah ruang terbuka hijau di Indonesia untuk membantu menciptakan kondisi alam yang asri? Berbagai Manfaat Ruang Terbuka Hijau Penetapan ketersediaan ruang terbuka hijau untuk suatu wilayah tertentu tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang baik bagi banyak hal. Dilihat secara aspek ekologis, RTH berperan penting dalam membantu menyerap emisi gas rumah kaca di udara. Vegetasi yang tumbuh subur dan baik sangat bermanfaat untuk membantu menjernihkan kualitas udara, menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia, menurunkan suhu lingkungan melalui efek pendinginan alami, serta dapat berperan dalam menyerap air hujan, mengurangi limpasan permukaan dan membantu mencegah banjir. Hal ini juga sesuai dengan salah satu target capaian SDGs PBB untuk menurunkan suhu bumi, di mana pepohonan dan hamparan hijau yang tumbuh diyakini dapat membantu mengurangi masalah urban heat island, dengan menurunnya suhu lingkungan. Selain itu, dalam aspek sosial RTH merupakan sarana rekreasi dan ruang aktivitas fisik yang bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental masyarakat. Ruang terbuka hijau juga dapat meningkatkan interaksi sosial karena keberadaannya penting sebagai tempat berkumpul, serta jika dirancang dengan baik dapat menambah keindahan estetis lingkungan. RTH juga dapat berdampak secara ekonomi karena kehadirannya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung yang secara langsung memberikan kontribusi ekonomi melalui pariwisata.  Oleh karena manfaatnya yang melimpah, sudah sepatutnya RTH dijadikan sebuah unsur penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan.  Kondisi Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia Meskipun aturan terkait proporsi minimum RTH di Indonesia telah ditetapkan, sepertinya belum banyak kota yang patuh terhadap kondisi ini. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), per tahun 2019 baru sekitar 13 dari 174 kota di Indonesia yang mengikuti Program Kota Hijau dan memiliki porsi ruang terbuka hijau (RTH) 30 persen atau lebih. Hal ini menjadi lebih sulit sebab mayoritas pembangunan perkotaan belum memperhitungkan kondisi lingkungan. Di DKI Jakarta contohnya, mengutip dari Katadata, Pemprov DKI Jakarta menyebut bahwa luas RTH yang tersedia di sini baru mencapai 5,2% atau sekitar 33,34 juta meter persegi dari total luas wilayah provinsi.  Dilihat berdasarkan luas per kota administrasinya, Jakarta Timur menjadi kota dengan RTH terluas, 26,2 persen. Sedangkan Jakarta Barat menjadi yang paling sedikit dengan 8,64 persen.  Hal yang sama juga terjadi di Kota Tangerang. Ketersediaan ruang terbuka hijau di sini juga masih sangat minim yakni baru sekitar 11 persen saja. Padahal, pemerintah setempat meyakini bahwa RTH merupakan area resapan air yang penting yang dapat membantu mencegah terjadinya banjir. Melihat hal ini, sudah selayaknya pemerintah memikirkan aturan yang lebih ketat terkait pentingnya penyediaan ruang terbuka hijau di suatu area. Kementerian PUPR juga mendorong perkotaan untuk mulai memikirkan pembangunan kota yang ramah lingkungan. Diharapkan, pengelolaan dan pengembangan ruang terbuka hijau yang baik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi semua. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas air… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian? Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi beras dan kopi akibat memburuknya kondisi iklim. Data Badan Pusat Statistik juga mencatat adanya fluktuasi pada produksi beras di Indonesia… Melihat Kondisi Operasional Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Indonesia diketahui terus menggencarkan pengembangan dan pembangunan infrastruktur hijau sebagai salah satu langkah mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Salah satunya ialah mengembangkan teknologi pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) atau disebut juga pembangkit listrik hijau. Listrik hijau atau listrik ramah lingkungan merupakan listrik yang dihasilkan dari sumber daya seperti tenaga surya, angin, panas bumi, biomassa, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air berdampak rendah. Listrik hijau sebagai salah satu bentuk pemanfaatan energi terbarukan, diyakini punya potensi yang besar di Indonesia sehingga pembangunannya gencar dilaksanakan saat ini. Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Masih seperti kebanyakan negara lainnya, Indonesia saat ini… Ruang Terbuka Hijau di Indonesia Ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu wilayah lingkungan tertentu. Ruang terbuka hijau yang baik dapat menghasilkan banyak manfaat, utamanya bagi keseimbangan ekologi juga kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia sendiri, aturan terkait ruang terbuka hijau telah diatur pemerintah dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2022 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Dalam peraturan dijelaskan bahwa suatu wilayah perkotaan perlu memiliki proporsi ruang terbuka hijau setidaknya minimal 30% dari luas wilayah …

Dampak Risiko ESG terhadap Bisnis Berkelanjutan

Dampak Risiko ESG terhadap Bisnis Berkelanjutan

ESG – Mempertimbangkan aspek berkelanjutan kini menjadi perhatian khusus bagi bisnis. Harvard Business School (HBS) pada laman daringnya menjelaskan makna berkelanjutan atau ‘sustainability’ bagi bisnis adalah bahwa praktik bisnis seharusnya tidak memberikan impact negatif baik itu untuk lingkungan, komunitas, maupun masyarakat secara keseluruhan.  Usaha untuk menjaga bisnis agar tidak memberikan dampak negatif dapat diupayakan dengan mengimplementasikan kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam inisiatif bisnis. Seiring dengan hal tersebut, pemahaman atas risiko ESG juga penting karena memiliki dampak terhadap keberlangsungan bisnis.  Dalam artikel ini, mari simak bagaimana perkembangan ESG terhadap bisnis berkelanjutan dan risiko yang berdampak pada bisnis. Baca Juga: Peran Konsultan Karbon dalam Mendukung Keberlanjutan dan Manajemen ESG Perkembangan ESG  Istilah ESG mulai diciptakan pada tahun 2004 oleh mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan. Didukung pula oleh keterlibatan dari lembaga-lembaga ternama di dunia seperti International Finance Corporation (IFC). Kemudian pada 2005, istilah ini pertama kali dicetuskan dalam laporan berjudul “Who Cares Wins”.  Semenjak saat itu, ESG menjadi aspek yang penting dan mulai diperhitungkan oleh para perusahaan, termasuk para investor. Di Indonesia sendiri, telah diintegrasikan ke dalam indeks kinerja saham Sri Kehati. Indeks Sri Kehati menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, sebagai contoh dari bulan Juni 2009 sampai dengan November 2021, indeks Sri Kehati tumbuh sebesar 224,19%. Ketika ESG diintegrasikan ke dalam bisnis, setiap pihak juga perlu untuk menyadari akan berbagai risiko ESG yang mungkin dapat muncul. Dampak Risiko ESG pada Reputasi Bisnis Di era ketika kesadaran ESG tengah menjadi perhatian, aspek ESG tersebut kini dijadikan indikator penting dalam menilai suatu bisnis. Untuk bisnis yang kurang memperhatikan implementasi ESG dengan baik, seperti menimbulkan pencemaran air atau udara dari aktivitas produksinya, maka perusahaan tersebut dianggap memiliki reputasi buruk karena kehadirannya telah membawa dampak negatif bagi lingkungan. Oleh karena itu, untuk menjaga dampak risiko ESG pada reputasi bisnis, perusahaan perlu untuk senantiasa mengimplementasikan kerangka ESG secara berkesinambungan serta memantau secara berkala mengenai dampak lingkungan yang dihasilkan pada periode waktu tertentu.  Dampak Risiko ESG berupa Denda Tidak hanya berdampak terhadap reputasi bisnis, risiko ESG juga dapat berdampak langsung secara finansial. Hal ini terjadi apabila perusahaan mengabaikan risiko ESG sehingga menjadi tidak patuh terhadap regulasi. Seperti ketika aktivitas operasional industri dapat membahayakan ekosistem, atau bahkan pembuangan limbah sembarangan dan tidak ada tanggung jawab yang dilakukan oleh perusahaan. Pada Undang Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup atau “UU PPLH” di Pasal 60 jo. Pasal 104 UU PPLH dijelaskan bahwa denda dari aktivitas pencemaran lingkungan berupa membuang limbah tanpa izin dapat dikenai denda hingga 3 miliar rupiah. Ini baru merupakan salah satu contoh potensi denda dari ketidaksadaran atas pengelolaan risiko ESG. Di samping itu, denda lain dari pelanggaran ESG lainnya juga mungkin dapat muncul, dari sisi sosial maupun dari sisi tata kelola. Dampak Risiko ESG pada Hilangnya Investor Saat ini para investor banyak yang mengandalkan ‘Sustainability Report’ atau pelaporan berkelanjutan untuk menilai risiko dan peluang investasi untuk mengambil keputusan investasi mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG menjadi aspek yang diperhitungkan investor, maka pada perusahaan yang gagal mengelola risiko ESG akan dinilai kurang menjanjikan bagi para investor. Ketika risiko ESG tidak dapat diantisipasi dengan segera, maka akan berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap hilangnya minat investor pada perusahaan tersebut. Menjaga ESG untuk Keberlanjutan Bisnis Risiko ESG adalah suatu ancaman yang perlu dikelola secara sistematis. Bisnis yang memiliki kapabilitas baik dalam mengelola risiko ESG akan dapat bertahan untuk lebih fokus terhadap perkembangan ekspansi bisnis maupun untuk peningkatan operasionalnya.     Bisnis yang ingin mencapai keberlanjutan jangka panjang harus mempertimbangkan aspek ESG sebagai dasar dalam mengelola risiko dan menciptakan nilai jangka panjang. Kini, telah banyak layanan yang dapat membantu perusahaan untuk mencapai tujuan berkelanjutan. Seperti layanan dari Satuplatform yang hadir sebagai all-in-one solution bagi perusahaan.  Segera susun strategi pengelolaan ESG dengan coba FREE DEMO dari Satuplatform sekarang! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pencemaran Laut: Penyebab Hingga Dampaknya Bagi Banyak Hal Pencemaran atau polusi dapat menyerang berbagai hal di dunia, termasuk utamanya lingkungan dan salah satunya ialah perairan sehingga disebut juga pencemaran laut. Pencemaran dapat terjadi apabila terdapat kebocoran, masuknya, atau dimasukkannya zat, komponen, makhluk hidup, dan energi yang bersifat polutan (bahan pencemar) ke dalam lingkungan. Akibatnya, berubah kondisi lingkungan tersebut ke arah tidak sehat sehingga sulit untuk berfungsi dan dimanfaatkan kembali sebagaimana mestinya. Pengertian Pencemaran Laut Sebagaimana penjelasan di atas, pencemaran laut merupakan fenomena tercemarnya lautan (atau badan air lainnya termasuk sungai, danau, dan air tanah) oleh bahan berbahaya seperti bahan kimia, limbah, dan mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas air… Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak Pada Kondisi Perekonomian? Perubahan iklim nyatanya tidak hanya dapat menimbulkan pengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan, namun juga berpotensi memberikan dampak yang signifikan pada kondisi perekonomian global dan nasional.  Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, ditemukan bahwa perubahan iklim berpotensi menghilangkan nilai ekonomi komoditas beras dan kopi yang merupakan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan utama bagi Indonesia. BRIN menyebut bahwa Indonesia bisa kehilangan hingga lebih dari US$2,8 miliar dan US$262 juta per tahun pada produksi beras dan kopi akibat memburuknya kondisi iklim. Data Badan Pusat Statistik juga mencatat adanya fluktuasi pada produksi beras di Indonesia… Melihat Kondisi Operasional Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Indonesia diketahui terus menggencarkan pengembangan dan pembangunan infrastruktur hijau sebagai salah satu langkah mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Salah satunya ialah mengembangkan teknologi pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) atau disebut juga pembangkit listrik hijau. Listrik hijau atau listrik ramah lingkungan merupakan listrik yang dihasilkan dari sumber daya seperti tenaga surya, angin, panas bumi, biomassa, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air berdampak rendah. Listrik hijau sebagai salah satu bentuk pemanfaatan energi terbarukan, diyakini punya potensi yang besar di Indonesia sehingga pembangunannya gencar dilaksanakan saat ini. Pembangkit Listrik Hijau di Indonesia Masih seperti kebanyakan negara lainnya, Indonesia saat ini… Bagaimana Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia? Ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu wilayah lingkungan tertentu. Ruang terbuka hijau yang baik dapat menghasilkan banyak manfaat, utamanya bagi keseimbangan …