Selama siklus hidup bangunan, mulai dari berjalannya konstruksi hingga berdirinya sebuah bangunan, tidak terlepas dari memberikan dampak berupa pencemaran atau polusi terhadap lingkungan. Selayaknya domino effect, kegiatan di industri ini dapat menghasilkan kerugian yang menyasar luas ke berbagai hal.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bimhow pada 2021, ditemukan bahwa industri dalam sektor konstruksi secara global berkontribusi terhadap 23 persen polusi udara, 50 persen perubahan iklim, 40 persen polusi air minum, serta 50 persen limbah di TPA. Berdampak cukup signifikan di antara industri lainnya.
Baca Juga: Konstruksi Berkelanjutan: Tantangan dan Peluang

Melihat bukti di atas, kondisi tersebut memberi bukti bahwa sektor bangunan dan konstruksi belum mengimplementasi wawasan lingkungan dalam aktivitasnya. Padahal, komitmen tersebut dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Table of Contents
TogglePolusi Lingkungan yang Timbul dari Kegiatan Sektor Bangunan dan Konstruksi
Jurnal Produksi Bersih yang terbit di Science Direct menyebut bahwa aktivitas pembangunan sebuah gedung memiliki dampak yang mencakup pencemaran udara, emisi debu dan gas, polusi suara, timbulan limbah, hingga konsumsi air.
Tidak hanya itu, menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA), aktivitas konstruksi juga dapat “mengubah permukaan tanah secara signifikan”. Sebab sebagian besar pembersihan vegetasi dan penggalian terjadi pada proyek konstruksi.
1. Polusi Udara
Bangunan bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon dioksida (CO2) yang terkait dengan penggunaan energi. Produksi material bangunan seperti semen dan baja juga menghasilkan emisi CO2 yang signifikan.
Belum lagi dengan sekelompok bahan kimia yang dapat menguap ke udara seperti senyawa organik volatil (VOC) yang terkandung dalam bahan bangunan dan produk finishing seperti cat, perekat, dan pelapis.
2. Polusi Air
Pembangunan bangunan juga menghasilkan limbah yang sering mencemari badan air, termasuk beton, logam, kayu, dan bahan kimia. Sedimen dari lokasi konstruksi juga dapat mencemari saluran air terdekat apabila tidak dikelola dengan tepat.
3.Timbulan Limbah
Limbah konstruksi yang tidak terkelola dengan baik dan dibuang begitu saja biasanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah. Pada akhirnya dapat mencemari tanah dengan bahan kimia berbahaya dan limbah beracun.
4. Polusi Suara
Kebisingan dari proses konstruksi mungkin akan mengganggu kehidupan manusia dan hewan di sekitar. Termasuk juga lalu lintas kendaraan dan operasional peralatan yang biasanya dilakukan satu hari penuh.
Dampak Polusi dari Sektor Bangunan dan Konstruksi
Seluruh bentuk polusi yang disebutkan di atas tentunya memiliki dampak yang kurang baik bagi lingkungan juga seluruh makhluk hidup.
Emisi karbon dari bangunan berkontribusi pada efek rumah kaca dan pemanasan global, yang mengakibatkan perubahan iklim. Ditambah lagi dengan produksi-produksi emisi dan partikel dari material bangunan dan aktivitas konstruksi menurunkan kualitas udara dan dapat menyebabkan masalah kesehatan pernapasan.
Konsumsi air yang tidak terkendali serta pencemaran air dari limbah konstruksi dan pengelolaan air yang buruk dapat merusak ekosistem air dan mengancam sumber daya air bersih. Polusi tanah dan air mengancam keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem di sekitar area bangunan. Pada kondisi terburuk, manusia dapat terdampak masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, gangguan tidur, dan stres
Baca Juga: Mengenal 7 Prinsip Konstruksi Berkelanjutan
Solusi Mengurangi Dampak Polusi dari Sektor Bangunan dan Konstruksi
Oleh karena itu, inisiatif berkelanjutan perlu diterapkan secara masif dalam kegiatan konstruksi atau pembangunan. Misalnya, dengan menerapkan desain bangunan yang ramah lingkungan dan efisien energi untuk mengurangi emisi karbon dan polusi lainnya.
Kemudian, memilih material bangunan yang tidak beracun, dapat didaur ulang, dan memiliki jejak karbon rendah, menggunakan teknologi penghemat air dan mengelola air limbah dengan baik, serta mengimplementasikan praktik pengelolaan limbah yang efektif selama konstruksi dan operasi bangunan.
Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi.
Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform!
Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.
Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat:
- Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien
- Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi
- Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional
Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!
Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

