Perubahan iklim telah menjadi peristiwa yang memberikan pengaruh signifikan bagi kehidupan di bumi. Berdampak baik itu pada manusia, flora, juga fauna.
Baca Juga: 5 Hewan yang Paling Terdampak dan Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim
Pergeseran kondisi iklim yang awalnya terjadi secara alami ini semakin meningkat seiring waktu dengan turut meningkatnya pemanasan global. Kondisi ini juga dipercepat sejak manusia dalam aktivitasnya menghasilkan lebih banyak konsentrasi gas rumah kaca. Berdasarkan data oleh The World Counts, pada tahun 2019, sekitar 43,1 miliar ton CO2 dari aktivitas manusia dilepaskan ke atmosfer. Tertinggi sepanjang masa.
Dengan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang besar saat ini, bumi pun akan terasa lebih hangat daripada di akhir tahun 1800-an. Data PBB menyebut bahwa satu dekade terakhir, tepatnya 2011-2020, merupakan rekor tahun terpanas yang pernah tercatat.
Jika perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan manusia termasuk kegiatan sehari-hari, lalu bagaimana perubahan iklim dapat turut mempengaruhi flora dan fauna di alam bebas?
Baca Juga: Permafrost Mencair: Bom Waktu bagi Perubahan Iklim
Table of Contents
ToggleDampak Perubahan Iklim pada Flora
Berbagai penelitian oleh ilmuwan-ilmuwan dunia jelas menyatakan bahwa perubahan iklim, termasuk perubahan suhu, pola, curah hujan, dan faktor lingkungan lainnya, dapat memengaruhi habitat, pola migrasi, dan populasi keanekaragaman hayati di seluruh ekosistem.
Terjadinya peningkatan suhu rata-rata bumi, memaksa banyak spesies tanaman pindah ke habitat dengan kondisi yang lebih sejuk. Tanaman yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi mungkin akan mengalami penurunan populasi atau kepunahan. Beberapa spesies tanaman tumbuh lebih umum, sedangkan yang lainnya menjadi lebih langka.
Dilansir dari artikel Yale School of the Environment, tanaman yang tumbuh di lingkungan panas semakin tumbuh subur, seperti pohon palem yang dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Sementara, tanaman yang memerlukan kondisi iklim yang sangat spesifik untuk tumbuh berpotensi lebih terancam untuk punah. Migrasi yang dilakukan spesies tumbuhan sebagai respons terhadap perubahan iklim, seringkali merupakan masalah kelangsungan hidup.
Hal itu dapat terjadi juga disebabkan adanya perubahan suhu dan pola curah hujan sehingga mempengaruhi musim tanam dan masa berbunga tanaman. Beberapa tanaman mungkin berbunga lebih awal atau lebih lambat dari biasanya, bahkan tidak sama sekali.
Kondisi ini salah satunya terjadi pada tanaman Pinus Bristlecone, salah satu pohon tertua di dunia yang tumbuh di daerah pegunungan tinggi di Amerika Serikat. Perubahan iklim dapat mengganggu lingkungan alaminya, mengancam kelangsungan hidup spesies yang telah ada selama ribuan tahun ini. Fluktuasi suhu dan kelembaban udara dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu, membuatnya lebih rentan terhadap penyakit dan hama.
Peningkatan panas terhadap iklim saat ini disebut-sebut terjadi 10 kali lebih cepat dari yang seharusnya. Akibatnya, pergeseran vegetasi yang ekstrem tidak lagi akan terjadi dalam hitungan abad atau milenium, melainkan dalam beberapa dekade, sebagaimana berdasarkan sebuah studi yang terbit tahun 2019.
Dampak Perubahan Iklim pada Fauna
Serupa dengan tumbuhan yang menyesuaikan kondisi tinggalnya, perubahan iklim juga membuat berbagai fauna terpaksa berpindah ke habitat yang lebih cocok saat habitat asli mereka menjadi tidak layak.
Spesies yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan iklim mungkin mengalami penurunan populasi. Ini termasuk spesies yang memiliki habitat terbatas atau ketergantungan yang tinggi pada kondisi iklim tertentu. Salah satunya terjadi pada hewan di Kutub Utara.

Kehidupan satwa di wilayah Arktik disebut merupakan yang paling terdampak dari terjadinya perubahan iklim. World Wide Life (WWF) menyebut, bahwa selama 30 tahun terakhir, kedalaman salju es laut telah menurun lebih dari 33 persen di Arktik bagian barat. Menimbulkan risiko yang tidak bisa dianggap remeh bagi hewan yang sangat bergantung pada kondisi tersebut.
Beruang kutub, walrus, paus narhwal, pinguin, rubah arktik, dan berbagai hewan kutub lainnya berisiko hilang atau mengalami penurunan populasi akibat pemanasan global. WWF memperkirakan, jika pemanasan terus terjadi, beruang kutub dapat menghadapi kelaparan dan kegagalan reproduksi pada tahun 2100.
Selain perubahan habitat, perubahan iklim dapat mengganggu siklus hidup hewan, seperti waktu migrasi, reproduksi, dan pola makan yang disebabkan rantai makanan yang terhambat. Kondisi ini juga berkontribusi meningkatkan risiko penyebaran penyakit di antara hewan. Suhu yang lebih hangat dan kondisi cuaca yang berubah dapat mendukung penyebaran patogen baru.
Berkontribusi Terhadap Keberlanjutan
Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam perubahan menuju keberlanjutan. Salah satunya dengan melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi.
Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform!
Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.
Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat:
- Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien
- Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi
- Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional
Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!
Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform.
Similar Article
Membangun Karier di Sustainability: Seberapa Besar Peluang Green Jobs?
Survei global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Big Four menunjukkan bahwa 86% Gen Z dan 89% Milenial menganggap penting…
Pengaruh Sustainability Report terhadap Nilai Perusahaan: Mengapa Semakin Penting di Era ESG?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap bisnis berkelanjutan, sustainability report menjadi salah satu dokumen penting. Dokumen ini umumnya digunakan perusahaan untuk…
Sustainability Report Manual vs Digital: Mana yang Lebih Efektif untuk Perusahaan Anda?
Menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan nyata bagi perusahaan di Indonesia bukan hanya bagi emiten publik yang…
ESG untuk Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) adalah salah satu sektor dengan jejak lingkungan dan sosial terbesar di dunia. Dari rantai pasokan…
Panduan Membuat Baseline Emisi Karbon Perusahaan
Di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menyusun strategi…
Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM): Ancaman atau Peluang bagi Ekspor Indonesia?
Uni Eropa (UE) tengah mengubah cara dunia berbisnis. Mulai 2026, setiap produk yang masuk ke pasar Eropa dari negara-negara di…

