Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD): Fungsi, Cakupan, dan Manfaatnya

Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD): Fungsi, Cakupan, dan Manfaatnya

Ada banyak pihak di berbagai belahan dunia berupaya dalam memitigasi perubahan iklim melalui beragam cara. Salah satunya dengan membentuk Gugus Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim atau disingkat TCFD. TCFD diciptakan untuk membantu perusahaan dan organisasi dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mengungkapkan risiko serta peluang finansial yang berkaitan dengan perubahan iklim. Kehadirannya membantu pelaporan informasi keuangan terkait iklim lebih efektif dan tepat. Baca juga artikel lainnya : Digital Transformation to Support Environmental Sustainability Apa Itu TCFD? Dikutip dari IBM, Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD)  adalah organisasi global yang dibentuk untuk mengembangkan serangkaian laporan pengungkapan terkait iklim yang dapat digunakan sebagai panduan bagi perusahaan dan lembaga keuangan dalam menyampaikan informasi tentang risiko keuangan terkait iklim mereka kepada investor, pemegang saham, dan publik. TCFD merupakan hasil inisiatif global yang dibentuk oleh Dewan Stabilitas Keuangan (FSB) pada tahun 2015. Bertujuan meningkatkan dan menyempurnakan pelaporan informasi keuangan terkait iklim oleh pelaku usaha seluruh dunia. Baca Juga: Pentingnya Pelaporan ESG kepada Investor Apa Fungsi Pembentukan TCFD? Menurut situs resminya, TCFD dibentuk bertujuan untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengungkapkan informasi terkait risiko dan peluang finansial yang timbul dari perubahan iklim.  Melalui perannya, TCFD diharapkan dapat membantu meningkatkan transparansi dan konsistensi dalam pelaporan risiko iklim sehingga para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditor, dan regulator, dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait dampak perubahan iklim terhadap bisnis. Serta turut memfasilitasi transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan dan rendah karbon. Bagaimana Cakupan Tugas TCFD? Sesuai fungsinya, TCFD berupaya memperkuat stabilitas keuangan internasional melalui beberapa tugas penting demi memastikan bahwa risiko iklim diperhitungkan secara memadai dalam keputusan bisnis dan investasi. Salah satu tugas dari TCFD ialah menyusun rekomendasi standar pelaporan risiko peluang terkait perubahan iklim, mencakup empat pilar utama yakni: TCFD juga berperan memberi panduan tentang bagaimana cara mengimplementasikan empat rekomendasi di atas ke dalam pelaporan perusahaan. Mendorong adopsi global dari rekomendasinya oleh perusahaan dan organisasi berbagai sektor. Melalui peran TCFD, perusahaan, investor, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat sadar dan tahu pentingnya mempertimbangkan risiko dan peluang terkait perubahan iklim dalam pengambilan keputusan keuangan.  Manfaat Dibentuknya TCFD Sejak pertama kali dibentuk, TCFD diketahui telah merilis beberapa hasil penting dan menciptakan perubahan yang berdampak bagi dunia internasional. Di tahun 2017, TCFD merilis rekomendasi pengungkapan keuangan yang mencakup empat elemen inti tentang cara perusahaan beroperasi. Hadirnya keempat rekomendasi tersebut berguna membangun membangun kerangka kerja dengan informasi yang akan membantu investor dan pihak lain memahami bagaimana organisasi pelapor berpikir tentang dan menilai risiko dan peluang terkait iklim. Berkat perannya, TCFD membantu meningkatkan kualitas, konsistensi, dan transparansi dari laporan yang memungkinkan perekonomian memiliki informasi yang diperlukan untuk menilai dampak dan pengaruh organisasi terhadap perubahan iklim.  Menurut data IBM, sampai dengan November 2022, TCFD telah mendapatkan dukungan dari lebih 4.000 organisasi, perusahaan sektor publik dan swasta, serta badan pemerintahan dari seluruh dunia. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaran program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan… Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Sesuai namanya, Program CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan perusahaan, bisnis, dan organisasi untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan, di samping berfokus pada menghasilkan profit. Aktivitas CSR melibatkan berbagai program dan ide yang dilakukan oleh perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Ada banyak sekali contoh program CSR sebagai dari berbagai perusahaan di Indonesia juga dunia, misalnya sumbangan amal, investasi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, dan juga upaya pengurangan jejak karbon. Di antara banyaknya inisiatif hijau yang dilakukan, …

5 Sertifikasi Keberlanjutan atau Label Hijau bagi Bisnis Anda

Ribuan Hektar Hutan Deforestasi Setiap Tahunnya!

Deforestasi Deforestasi – Indonesia bisa jadi tidak akan sehijau sebelumnya jika melihat maraknya kasus deforestasi atau hilangnya area hutan yang terjadi saat ini. Temuan beragam penelitian menyebut bahwa setiap tahunnya ribuan hektar hutan hilang dari wilayah daratan Indonesia, utamanya akibat aktivitas manusia. Salah satunya berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Global Forest Watch (GFW) dan World Research Institute (WRI). Sepanjang tahun 2002 sampai dengan 2023, Indonesia disebut mengalami kehilangan area hutan primer sebanyak 1.02 Mha (juta hektar). Menurut Forest Digest, hutan primer didefinisikan sebagai seluruh penampakan hutan yang belum menunjukkan bekas tebangan/gangguan. Baca Juga: Memperkuat Peran Hutan dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Konservasi dan Restorasi Hutan Area Hutan Indonesia yang Terdampak Deforestasi Hutan-hutan Indonesia tersebar di berbagai wilayah, termasuk di pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Sayangnya, hampir setiap daerah dengan kawasan hutan terancam oleh deforestasi. Berdasarkan hasil penghitungan Auriga Nusantara – organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan, Indonesia telah kehilangan hutan seluas 257.384 hektar sepanjang tahun 2023. Meningkat jika dibandingkan dengan laju deforestasi tahun 2022. Auriga Nusantara lalu menyebut bahwa Kalimantan menjadi pulau dengan deforestasi terparah sepanjang tahun 2023, hampir separuh dari total dengan jumlah yakni 124.611 hektar. Kemudian diikuti oleh pulau Sulawesi, Riau, dan Papua. Baca juga artikel lainnya : Deforestasi: Apa itu, Penyebab, Dampak, dan Pencegahan Penyebab Terjadinya Deforestasi di Indonesia Di antara seluruh negara di dunia, Indonesia merupakan negara dengan area hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia. Data WRI mencatat, Indonesia memiliki sekitar 83,8 juta hektar hutan. Meski melimpah dan kaya akan sumber daya, kondisi hutan Indonesia masih berada dalam ancaman deforestasi yang disebabkan oleh berbagai faktor. Deforestasi yang tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dilansir dari Antara News, menurut analisis Auriga Nusantara, hanya sekitar 16,2 juta hektar atau setara dengan 19,4 persen hutan yang dilindungi secara hukum dan berada dalam kawasan konservasi. Sementara sisanya yang merupakan sebagian besar, berada dalam ancaman berupa pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan liar, kebakaran hutan, dan pertambangan. Analisis Auriga Nusantara mendapati bahwa ada sekitar 44,7 juta hektar hutan alam rentan yang diberikan konsesi ekstraktif oleh pemerintah. Hampir setengah dari konsesi nikel untuk kendaraan listrik bahkan tumpang tindih dengan hutan alam. Dan hampir separuh deforestasi terjadi di area konsesi. Upaya Indonesia Melawan Deforestasi Kawasan hutan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global. Hutan-hutan juga berfungsi sebagai penyerap karbon, yang membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi perubahan iklim.  Diketahui bahwa Indonesia terus berupaya untuk mengurangi laju pengurangan area hutan dan melawan deforestasi. Dilansir dari artikel Tempo, terdapat empat kebijakan terkait pengelolaan hutan lestari yang dibuat Pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah deforestasi hingga upaya rehabilitasi hutan. Pemerintah juga melakukan upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan untuk mengurangi potensi kebakaran hutan. Tambahan lainnya berupa penerapan moratorium penebangan hutan primer dan lahan gambut, rehabilitasi lahan yang rusak, serta pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaran program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan… Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Sesuai namanya, Program CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan perusahaan, bisnis, dan organisasi untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan, di samping berfokus pada menghasilkan profit. Aktivitas CSR melibatkan berbagai program dan ide yang dilakukan oleh perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Ada banyak sekali contoh program CSR sebagai dari berbagai perusahaan di Indonesia juga dunia, misalnya sumbangan amal, investasi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, dan juga upaya pengurangan jejak karbon. Di antara banyaknya inisiatif …

5 Sertifikasi Keberlanjutan atau Label Hijau bagi Bisnis Anda

Memahami Greenwashing: Taktik dan Dampaknya

Greenwashing – Belakangan marak muncul klaim ramah lingkungan atau klaim hijau di berbagai produk hingga layanan yang dibuat oleh perusahaan atau produsen untuk menunjukkan cara mereka berkontribusi positif terhadap lingkungan. Baca Juga: 3 Isu Greenwashing yang Kerap Menghantui Industri Fashion Inisiatif tersebut tentu perlu diapresiasi sebagai bagian dari upaya mereka melestarikan alam. Sayangnya, tidak semua perusahaan, bisnis, dan organisasi yang melakukan hal serupa, benar-benar berdedikasi pada keberlanjutan seperti yang mereka sampaikan. Strategi pemasaran untuk menciptakan kesan palsu tentang ramah lingkungan ini disebut juga dengan greenwashing. Namun, mengapa perusahaan perlu melakukan hal tersebut? Apa tujuan dan manfaat yang bisa mereka peroleh? Dan bagaimana taktik atau implementasi praktik greenwashing dalam kehidupan masyarakat? Apa Itu Praktik Greenwashing? Baca artikel lainnya : Greenwashing : Peran Regulasi dalam Mengontrol Klaim Ramah Lingkungan Pengertian dari greenwashing adalah praktik pemasaran di mana perusahaan, organisasi, atau entitas komersial maupun non-komersial lain membuat klaim hijau yang menyesatkan atau berlebihan tentang manfaat lingkungan dari produk, layanan, atau kebijakan mereka. Tujuan dari greenwashing adalah untuk menciptakan citra yang lebih ramah lingkungan daripada yang sebenarnya dilakukan. Harapannya adalah untuk mempromosikan solusi palsu terhadap krisis iklim, menarik konsumen yang peduli lingkungan, atau juga memenuhi harapan pemangku kepentingan terkait isu keberlanjutan. Semakin meningkatnya tuntutan untuk memenuhi keberlanjutan bagi perusahaan dan organisasi di seluruh dunia, turut meningkatkan kemungkinan terjadinya praktik greenwashing oleh banyak pihak. Perusahaan yang gagal memenuhi tuntutan keberlanjutan berisiko kehilangan reputasi, kepercayaan konsumen, dan peluang investasi. Bagaimana Taktik dan Implementasi Praktik Greenwashing? Praktik greenwashing dapat dilakukan dalam berbagai wujud dan cara. Biasanya, greenwashing hanya sebatas klaim tanpa dukungan bukti yang akurat, begitupun dengan upaya keterlibatannya yang sekadar untuk memberi kesan pro terhadap kondisi alam.  Badan Iklim PBB dalam situs resminya telah mengumpulkan berbagai macam taktik yang biasa dilakukan perusahaan, organisasi, atau lainnya untuk menjalankan greenwashing. Di antaranya seperti mengklaim upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dan target net zero emission tanpa adanya rencana kredibel yang dijalankan. Kemudian menggunakan label-label ‘hijau’ atau ‘ramah lingkungan’ yang tidak memiliki definisi dan standar pasti. Contoh klaim ramah lingkungan yang sering ditemui seperti eco friendly, post-consumer recycled, environmentally friendly, hingga energy efficients, seluruhnya bermakna positif tetapi akan menjadi ‘sesat’ jika digunakan secara keliru dan tidak sesuai kondisi nyata. Lalu tindakan selective disclosure, di mana perusahaan hanya menyoroti satu atau dua aspek ramah lingkungan dari produk atau proses, mengabaikan atau menyembunyikan dampak negatif lainnya. Menyatakan bahwa perbaikan kecil mempunyai dampak besar atau mempromosikan suatu produk yang memenuhi persyaratan peraturan minimum seolah-olah produk tersebut jauh lebih baik daripada standar. Serta, mengkomunikasikan atribut keberlanjutan suatu produk secara terpisah dari aktivitas produksi produk tersebut yang justru punya dampak berbahaya bagi lingkungan. Apa Dampak dari Praktik Greenwashing? Kegiatan greenwashing mungkin terlihat sepele sebab tidak membahayakan lingkungan secara langsung. Akan tetapi, greenwashing bisa menyesatkan konsumen dan merusak kepercayaan publik terhadap klaim keberlanjutan. Tindakan ini dapat membuat konsumen percaya bahwa mereka mendukung produk atau perusahaan yang benar-benar ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak. Jika terungkap, tentu hal tersebut akan merusak kepercayaan konsumen juga turut merusak reputasi perusahaan. Berdampak negatif pada hubungan dengan konsumen, investor, dan pemangku kepentingan. Greenwashing juga dapat menimbulkan kerugian terhadap perusahaan yang benar-benar bertanggung jawab. Kondisi ini nantinya dapat menghambat kemajuan menuju praktik bisnis yang benar-benar berkelanjutan. Menunda tindakan yang seharusnya diambil untuk mengurangi dampak lingkungan. Pencegahan Greenwashing yang Dilakukan Beberapa Negara Di beberapa negara, upaya untuk mencegah greenwashing telah dilakukan dengan menetapkan undang-undang dan aturan yang mengikat. Juga untuk mengontrol klaim ramah lingkungan yang digunakan secara publik.  Unfair Commercial Practices Directive (UCPD) merupakan salah satu peraturan yang diterapkan Uni Eropa untuk melindungi konsumen dari praktik komersial yang tidak adil, termasuk klaim ramah lingkungan yang menyesatkan.  Komisi Eropa juga mengusulkan Green Claims Directive sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melawan greenwashing. Mengharuskan perusahaan yang membuat klaim lingkungan untuk memberikan bukti ilmiah yang kuat, memverifikasi klaim tersebut dengan pihak ketiga, dan menyediakan informasi yang jelas bagi konsumen. Secara keseluruhan, regulasi membantu memastikan bahwa klaim ramah lingkungan didasarkan pada kenyataan dan bukan sekadar strategi pemasaran. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaran program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan… Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate …

5 Sertifikasi Keberlanjutan atau Label Hijau bagi Bisnis Anda

5 Sertifikasi Keberlanjutan atau Label Hijau bagi Bisnis Anda

Sudahkah produk, layanan, atau bisnis kamu terverifikasi ramah lingkungan yang dibuktikan dengan sertifikasi keberlanjutan dan ditandai dengan label hijau di dalamnya?  Baca juga artikel lainnya : Sertifikasi Ramah Lingkungan : Apa yang Harus Diperhatikan Konsumen ? Setidaknya terdapat ratusan label atau akreditasi hijau yang digunakan banyak pelaku usaha di seluruh dunia saat ini. Akreditasi ini dinilai dapat menawarkan peluang yang besar untuk memposisikan perusahaan sebagai pihak yang bertanggung jawab secara sosial serta berdedikasi pada pelestarian lingkungan.  Disebut juga dengan Green Label Certification atau sertifikasi hijau dan label ramah lingkungan merupakan suatu bentuk sertifikasi lingkungan yang diberikan kepada produk, layanan, atau bangunan yang memenuhi kriteria tertentu terkait keberlanjutan dan ramah lingkungan. Sertifikasi ini berfungsi sebagai indikator bahwa produk atau layanan tersebut telah dievaluasi dan diakui karena dampaknya yang lebih rendah terhadap lingkungan dibandingkan dengan produk atau layanan serupa lainnya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya inisiasi akan keberlanjutan di tengah upaya perbaikan dunia atas kondisi krisis iklim. Sertifikasi keberlanjutan atau label hijau memainkan peran penting dalam mendorong produksi dan konsumsi yang lebih berbasis pada kelestarian alam dan ekosistem. Tujuan lainnya juga cukup luas, mencakup: Membantu perusahaan memenuhi sustainability standard yang diakui secara internasional Mengidentifikasi produk dan layanan yang dirancang untuk mengurangi dampak bagi lingkungan dan konsumsi sumber daya alam Menyediakan pilihan yang ramah lingkungan bagi pasar atau konsumen Meningkatkan kesadaran konsumen dan produsen terkait pentingnya produk atau aktivitas yang tidak merusak alam Lembaga sertifikasi produk ramah lingkungan biasanya merupakan pihak-pihak independen yang memiliki ketetapan standar ketat dan kriteria spesifik. Setiap produk atau layanan yang hendak mendapatkan Green Label Certification, perlu melalui proses audit, pengujian, dan verifikasi independen. Baca Juga: Standar Sertifikasi Bangunan Hijau Berikut ini adalah lima contoh sertifikasi keberlanjutan atau label hijau yang terkemuka dan telah dikenal luas secara internasional. 1. ENERGY STAR ENERGY STAR merupakan salah satu label ramah lingkungan yang menandai sebuah produk elektronik hingga peralatan rumah tangga memenuhi standar efisiensi energi. Penyelenggaranya ialah Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA) yang didukung Kementerian Energi AS dan telah lebih dari 25 tahun melakukan sertifikasi yang objektif dan berbasis data untuk efisiensi energi. ENERGY STAR dapat ditemukan pada produk dan peralatan bangunan komersial dan industri. Penilaian efisiensi energi yang dilakukan sangat lah ketat. Produsen yang hendak menandai label ramah lingkungan ini terhadap produknya, perlu menyerahkan data kinerja yang mendukung kriteria yang tersedia. Oleh karena itu, produk yang telah memasang label ENERGY STAR berarti sudah dirancang tidak menyerap banyak energi listrik dan membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. 2. BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method) BREEAM adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang menjadi standar penilaian keberlanjutan pada proyek infrastruktur dan bangunan yang telah diakui secara internasional. Sertifikasi BREEAM diluncurkan sejak tahun 1990 dan menjadi standar utama konstruksi berkelanjutan tertua di Inggris Raya dan banyak negara Eropa lainnya. Dilansir dari The NBS, penilaian BREEAM mencakup fokus-fokus terhadap nilai berkelanjutan di berbagai kategori, seperti: Energi Penggunaan lahan dan ekologi Air Kesehatan dan kesejahteraan Polusi Transportasi Material sumber daya Limbah Pengelolaan Terdapat setidaknya 5 pemeringkatan dengan level Outstanding sebagai yang paling tinggi penilaiannya. Saat ini, hanya kurang dari 1 persen saja bangunan di dunia yang berhasil mendapatkan predikat ini dalam penilaian BREEAM. 3. EU Ecolabel Sesuai namanya, EU Ecolabel adalah label lingkungan dari Uni Eropa yang diberikan kepada produk dan layanan yang memenuhi standar lingkungan tinggi, berdasarkan proses sesuai standar dan bukti ilmiah. EU Ecolabel telah lebih dari 30 tahun memberikan sertifikasi keberlanjutan kepada produk dan jasa di berbagai kategori. Merupakan satu-satunya skema pelabelan ekologi ISO 14024 Tipe I yang berlaku dan diakui di seluruh Uni Eropa. Seluruh penilaiannya berasal dari ahli-ahli independen dan bertanggung jawab di bidangnya. 4. GOTS (Global Organic Textile Standard) The Global Organic Textile Standard (GOTS) adalah sertifikasi terkemuka yang memastikan tekstil organik diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan dan sosial. Sertifikasi satu ini menyasar penilaian terhadap pengolahan serat organik, memastikan status organik tekstil, dari pemilihan bahan baku, manufaktur, hingga ekspor impor distribusi, bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Bertujuan mengurangi dampak tekstil terhadap lingkungan serta memberikan jaminan yang kredibel kepada konsumen akhir. Hanya produk tekstil yang mengandung minimal 70 persen serat organik yang dianggap memenuhi standar penilaian keberlanjutan GOTS. Semua bahan kimia seperti pewarna dan bahan pembantu yang digunakan pun harus memenuhi kriteria lingkungan dan toksikologi tertentu. Begitu juga dengan pemilihan material aksesori juga pengolahan air limbah yang harus seminimal mungkin berdampak pada lingkungan. 5. ISO 14001 ISO 14001 adalah standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan (SML) yang membantu organisasi meningkatkan kinerja lingkungan. Tujuan dari hadirnya standar ini ialah untuk memberikan panduan terstruktur bagi bisnis dan perusahaan dalam upaya mengatasi krisis alam dan iklim. Menyediakan kerangka kerja untuk merancang dan menerapkan SML, sehingga langkah-langkah proaktif yang dilaksanakan sejalan dengan harapan dan target keberlanjutan. Jika bisnis kamu ingin memiliki laporan keberlanjutan (Sustainability Reporting) dan dapat dikerjakan secara lebih efektif dan professional? Lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang …

Sertifikasi Ramah Lingkungan: Apa yang Harus Diperhatikan Konsumen?

Sertifikasi Ramah Lingkungan: Apa yang Harus Diperhatikan Konsumen?

Semakin marak kita jumpai penggunaan label-label hijau atau klaim sertifikasi ramah lingkungan pada sebuah produk, layanan, atau kegiatan operasional. Digunakan sebagai bentuk pemasaran oleh perusahaan atau produsen mengenai upaya mereka berkontribusi positif terhadap lingkungan. Baca juga artikel lainnya : Standar Sertifikasi Bangunan Hijau Melakukan Validasi Label Hijau untuk Sertifikasi Ramah Lingkungan Konsumen perlu memahami tentang label-label hijau mana yang sejatinya terpercaya dan penggunaannya sulit untuk dipalsukan. Perhatikan dengan seksama produk yang memiliki sertifikasi lingkungan yang diakui, seperti EU Ecolabel, Energy Star, atau Forest Stewardship Council (FSC). Sertifikasi tersebut menunjukkan bahwa produk telah melalui proses verifikasi oleh pihak ketiga yang independen. Sulit untuk dicatut secara asal. Hindari produk hingga layanan yang menggunakan klaim yang tidak dapat diverifikasi. Jika klaim lingkungan tidak didukung oleh sertifikasi atau bukti yang jelas, konsumen sebaiknya berhati-hati dan mempertanyakan keabsahan klaim tersebut. Perhatikan Klaim yang Disampaikan dalam Sertifikasi Ramah Lingkungan Penggunaan sertifikasi ramah lingkungan umumnya melibatkan klaim-klaim tertentu yang berkaitan dengan keberlanjutan. Salah satu praktik greenwashing yang disebutkan oleh Badan Iklim PBB, salah satunya adalah dengan sengaja menyampaikan informasi yang samar tentang keberlanjutan yang dimaksud oleh perusahaan atau sebuah produk. Konsumen perlu waspada apabila menemukan penggunaan klaim yang sangat umum seperti ramah lingkungan, hijau, atau berkelanjutan tanpa adanya penjelasan atau informasi lebih lanjut. Periksa dengan detail klaim hijau yang ditemukan dengan mencari tahu informasi tentang bagaimana produk bisa ramah lingkungan, apa bahan baku yang digunakan, juga bagaimana produk akan dibuang atau didaur ulang. Periksa Informasi Produk Coba untuk membaca label secara cermat dan teliti serta menyesuaikannya dengan informasi produk yang tersedia, untuk memahami klaim yang dibuat. Umumnya, perusahaan atau produk yang benar-benar terlibat dalam kelestarian alam akan dapat menunjukkan detail lebih lanjut tentang klaimnya sebagai bahan verifikasi. Informasi tambahan, seperti apa arti simbol atau logo tertentu, bisa sangat penting untuk memastikan klaim tersebut benar. Melihat Transparansi Perusahaan Biasanya melalui laporan keberlanjutan perusahaan, konsumen dapat memeriksa apakah perusahaan secara transparan menyediakan informasi terkait upaya keberlanjutan yang mereka lakukan. Menentukan klaim produk konsisten dengan komitmen lingkungan perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan yang benar-benar berkomitmen pada keberlanjutan biasanya memiliki target jangka panjang dan strategi yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut, bukan hanya klaim individual untuk produk tertentu. Baca Juga: 5 Sertifikasi Keberlanjutan atau Label Hijau bagi Bisnis Anda Pertimbangkan Siklus Hidup Produk Produk yang benar-benar ramah lingkungan biasanya mempertimbangkan seluruh siklus hidupnya. Dimulai dari pemilihan bahan baku, aktivitas produksi, penggunaan, hingga bagaimana penanganan pasca pakainya. Cari tahu informasi tentang bagaimana produk atau layanan akan berdampak pada lingkungan selama penggunaannya. Kemudian, apakah produk tersebut dapat didaur ulang untuk meminimalisir dampaknya di alam. Untuk menjadi konsumen yang lebih cerdas dalam hal keberlanjutan, diperlukan beberapa upaya salah satunya adalah dengan lebih kritis terhadap penggunaan klaim sertifikasi ramah lingkungan. Ini dapat membantu kita terhindar dari potensi greenwashing, menjadi lebih bijak dalam memilih produk yang benar-benar ramah lingkungan, serta mendorong perusahaan untuk lebih jujur dalam berkontribusi terhadap lingkungan. Turut Serta dalam Keberlanjutan Selain menghindari praktik greenwashing, pelaku usaha, bisnis, dan perusahaan juga dapat turut serta dalam keberlanjutan dengan melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik. Aktivitas ini juga dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku. Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang! Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform Similar Article Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaran program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan… Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Sesuai namanya, Program CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan perusahaan, bisnis, dan organisasi untuk berkontribusi …

Greenwashing: Peran Regulasi dalam Mengontrol Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing: Peran Regulasi dalam Mengontrol Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing Praktik Greenwashing atau klaim ramah lingkungan yang menyesatkan tampaknya akan semakin sering terjadi dan lebih kompleks. Kondisi ini tercipta sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan untuk memenuhi tuntutan akan sustainability atau keberlanjutan oleh perusahaan, organisasi, atau bisnis lainnya. Berdasarkan riset terbaru oleh RepRisk–lembaga riset dan data ESG, yang dirilis tahun 2023 lalu, ditemukan adanya peningkatan praktik dan risiko greenwashing yang terjadi dari berbagai sektor usaha di seluruh dunia. Secara keseluruhan, kasus greenwashing disebut meningkat sebanyak 35 persen pada tahun lalu, dengan greenwashing di sektor jasa dan keuangan dan perbankan meningkat 70 persen.  Badan Iklim PBB menyebut bahwa greenwashing adalah tindakan yang menyesatkan dan berdampak besar bagi banyak hal. Oleh karena itu, regulasi diharapkan dapat membantu mengatur penentuan pemberian label hijau terhadap produk, jasa, perusahaan, atau organisasi lainnya untuk memastikan bahwa klaim ramah lingkungan didasarkan pada kenyataan dan bukan sekadar strategi pemasaran. Baca Juga: Kenapa CEO Perlu Jadikan Greenwashing dan Greenhushing Isu Prioritas? Peran Regulasi dalam Mencegah Greenwashing Regulasi memiliki peran penting dalam mengontrol klaim ramah lingkungan untuk mencegah greenwashing. Memastikan bahwa perusahaan atau produk yang mengklaim ramah lingkungan benar-benar mematuhi standar keberlanjutan yang sah. Kehadiran regulasi dapat membantu menetapkan standar yang jelas dengan menyediakan kerangka kerja, kriteria, hingga indikator tentang apa yang dianggap sebagai produk atau praktik ramah lingkungan. Regulasi juga dapat turut serta mendorong pengungkapan informasi yang akurat, terukur, dan transparan tentang upaya dan dampak dari praktik keberlanjutan yang dilakukan. Klaim ramah lingkungan yang tidak berdasar atau menyesatkan seharusnya punya konsekuensi bagi yang melakukan. Regulasi memberikan dasar hukum untuk menindak pelaku dalam kasus ini.  Dengan menetapkan standar tinggi untuk klaim ramah lingkungan, regulasi mendorong perusahaan untuk berinovasi dalam menciptakan produk dan praktik yang benar-benar ramah lingkungan. Bukan hanya untuk sekadar memenuhi persyaratan minimum. Di Eropa salah satunya, di mana terdapat 230 label keberlanjutan dan 100 klaim energi hijau yang digunakan berbagai produk atau bisnis, parlemen Uni Eropa menyediakan undang-undang mengenai klaim ramah lingkungan atau klaim hijau untuk mengatasi greenwashing dan melindungi konsumen, serta lingkungan. Memastikan bahwa label hijau yang disematkan kredibel dan tidak menyesatkan. Bahaya dan Dampak Tindakan Greenwashing Saat ini perusahaan diharapkan untuk tidak hanya mematuhi peraturan lingkungan, tetapi juga secara proaktif menerapkan praktik yang berkelanjutan. Tuntutan untuk memenuhi target keberlanjutan semakin mendesak bagi perusahaan dan organisasi di seluruh dunia. Tekanan yang muncul dari berbagai sisi ini dapat mendorong beberapa perusahaan untuk melakukan cara curang, termasuk greenwashing. Tujuan utamanya biasanya dilakukan demi mencapai target yang diharapkan serta menjaga reputasi, kepercayaan konsumen, dan peluang investasi. Menurut Aksi Iklim PBB, tindakan greenwashing bisa berbahaya sebab dapat merusak upaya kredibel yang sesungguhnya untuk menyelamatkan lingkungan. Melalui pemasaran yang menipu serta klaim ramah lingkungan dan keberlanjutan yang palsu, greenwashing bisa menyesatkan konsumen, investor, dan masyarakat, menghambat kepercayaan, ambisi, dan tindakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan perubahan global. Salah satu hal yang pasti ialah greenwashing dapat menimbulkan ancaman reputasi jangka panjang bagi perusahaan. Apabila praktik greenwashing terungkap, perusahaan dapat menghadapi backlash dari konsumen, penurunan reputasi, dan potensi kerugian finansial. Berdampak negatif pada hubungan dengan konsumen, investor, dan pemangku kepentingan lainnya.  Berbagai Wujud Tindakan Greenwashing Baca juga artikel lainnya : Tanda-Tanda Perusahaan Lakukan Greenwashing Greenwashing bisa terwujud dalam berbagai tindakan dan taktik. Contohnya melakukan labeling misleading products di mana sebuah produk diklaim “natural,”eco friendly,” atau “green” yang sebenarnya tidak begitu. Lalu, tindakan greenwashing juga bisa disebabkan karena sebuah produk hanya menyoroti satu atau dua aspek ramah lingkungan, mengabaikan dampak negatif yang turut muncul. Juga menggunakan logo atau sertifikasi palsu yang tidak sah untuk memberi kesan bahwa produk sudah memenuhi standar. Untuk itu, seluruh pihak bisa turut serta mencegah greenwashing dan memastikan bahwa klaim ramah lingkungan suatu produk atau praktik tepat dan benar terjadi. Sebaliknya, perusahaan juga dapat menghindari kondisi ini dengan bersungguh-sungguh mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas dan identitas bisnis. Namun, pelaku usaha, bisnis, perusahaan yang telah berkomitmen pada keberlanjutan dapat menghindari potensi tuduhan greenwashing dengan melakukan pelaporan secara pasti. Salah satunya seperti melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Greenwashing: Peran Regulasi dalam Mengontrol Klaim Ramah Lingkungan Praktik Greenwashing atau klaim ramah lingkungan yang menyesatkan nampaknya akan semakin sering terjadi dan lebih kompleks. Kondisi ini tercipta sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan untuk memenuhi tuntutan akan sustainability atau keberlanjutan oleh perusahaan, organisasi, atau bisnis lainnya. Berdasarkan riset terbaru oleh RepRisk–lembaga riset dan data ESG, yang dirilis tahun 2023 lalu, ditemukan adanya peningkatan praktik dan risiko greenwashing yang terjadi dari berbagai sektor usaha di seluruh dunia. Secara keseluruhan, kasus greenwashing disebut meningkat sebanyak 35 persen pada tahun lalu, dengan greenwashing di sektor jasa dan keuangan dan perbankan meningkat 70 persen.  Badan Iklim PBB menyebut bahwa greenwashing adalah tindakan yang… Industri dan Jejak Karbon: Cara Perusahaan Besar Kelola Emisi Jejak karbon merupakan jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia pada kurun waktu tertentu. Operasional sebuah bisnis atau industri tidak terlepas dari memproduksi jejak karbon yang berdampak terhadap kondisi iklim saat ini. Baca Juga: Bagaimana Pelaku Industri Melawan Perubahan Iklim? Dilansir dari Our World in Data, sektor industri telah menjadi penyumbang emisi global terbesar setiap tahunnya sejak era Revolusi Industri dimulai. Kondisi ini tentu berbeda di setiap negara, terutama wilayah yang termasuk penghasil komoditas pertanian. Jejak karbon dari sektor energi, pada tahun lalu, mencapai rekor tertingginya dan meningkat 6 persen dari tahun 2020. Pasca… Membakar …

Pendidikan dan Kesadaran: Mendidik Generasi Muda Tentang Jejak Karbon

Industri dan Jejak Karbon: Cara Perusahaan Besar Kelola Emisi

Jejak karbon merupakan jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia pada kurun waktu tertentu. Operasional sebuah bisnis atau industri tidak terlepas dari memproduksi jejak karbon yang berdampak terhadap kondisi iklim saat ini. Baca Juga: Bagaimana Pelaku Industri Melawan Perubahan Iklim? Dilansir dari Our World in Data, sektor industri telah menjadi penyumbang emisi global terbesar setiap tahunnya sejak era Revolusi Industri dimulai. Kondisi ini tentu berbeda di setiap negara, terutama wilayah yang termasuk penghasil komoditas pertanian. Jejak karbon dari sektor energi, pada tahun lalu, mencapai rekor tertingginya dan meningkat 6 persen dari tahun 2020. Pasca pandemi COVID-19, emisi sektor ini melonjak menjadi 36,3 gigaton dengan industri listrik panas menghasilkan emisi terbanyak dan menyumbang 46% dari peningkatan emisi global. Belum lagi dengan emisi batu bara yang meningkat menjadi 15,3 gigaton di tengah seruan untuk mengurangi penggunaan batu bara. Data tersebut mencatat adanya lebih dari 40% peningkatan emisi karbon pada tahun 2021 berasal dari batu bara. Dilihat dari kondisi ini, bisnis, industri, dan perusahaan memiliki peran yang signifikan dalam mengurangi jejak karbon dan berkontribusi pada upaya global melawan perubahan iklim. Menetapkan target pengurangan emisi yang tepat, seperti target net-zero dan pengurangan emisi tahunan. Sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan berikut ini yang turut berkontribusi dalam menerapkan pengelolaan emisi dan skema kompensasi karbon. Dilansir dari Sustainability Magazine, mari kita ketahui langkah-langkah perusahaan global mengurangi jejak karbon dan berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim. 1. jetBlue dalam Mengurangi Jejak Karbon Salah satu maskapai penerbangan besar asal Amerika Serikat, JetBlue Airways Corporation atau jetBlue, menjadi salah satu perusahaan yang mengumumkan rencananya untuk terlibat dalam upaya solusi rendah karbon. Dalam siaran persnya pada 2020, jetBlue berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai netralitas karbon pada penerbangan domestiknya. Dan baru-baru ini, komitmen tersebut berhasil dicapai dan menjadikan jetBlue maskapai pertama di AS yang sukses menjalankan rencana keberlanjutannya. jetBlue menyampaikan bahwa kompensasi karbon berfungsi sebagai jembatan menuju perubahan lingkungan lain di seluruh industri, seperti bahan bakar rendah emisi. Hasilnya, mereka turut serta berinvestasi dalam bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), dimulai dengan penerbangan dari Bandara Internasional San Francisco (SFO). 2. Microsoft dalam Mengurangi Jejak Karbon Microsoft diketahui telah menetapkan komitmennya untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2030, mencapai produksi tanpa limbah dan penggunaan air bijak, serta mengimbangi semua emisi gas rumah kaca yang dihasilkan sejak didirikan pada tahun 2050. Ini merupakan target ambisius yang diharapkan dapat terlaksana demi mencapai netralitas karbon sektor industri. Pada pertengahan dekade ini, Microsoft juga berencana mengurangi emisi lingkup 1 dan 2 ke tingkat mendekati nol dengan beralih ke 100 persen energi terbarukan. Kemudian berinvestasi pada kendaraan listrik khusus kampus global pada tahun 2030, dan mengejar sertifikasi International Living Future Institute Zero Carbon dan LEED Platinum.  Mereka juga menetapkan skema carbon pricing di internal dengan harga $15 per metrik karbon untuk semua lingkup 1 dan 2, serta emisi perjalanan lingkup 3. Hasil tersebut nantinya akan digunakan untuk mendanai inisiatif berkelanjutan lainnya. 3. Shell dalam Mengurangi Jejak Karbon Sebagai salah satu pemasok bahan bakar dan pelumas terbesar di dunia, Shell menetapkan target nol emisi bersih untuk tahun 2050 dan memperkenalkan skema pengurangan karbon yang akan mereka lakukan.  Beberapa di antaranya adalah dengan mengurangi emisi dengan mengoptimalkan efisiensi proses produksi dan desain produk, meningkatkan efisiensi energi dari fasilitas, dan memperluas ke sektor energi bersih. Solusi Berbasis Alam, juga menjadi upaya Shell yang ditujukan untuk meregenerasi ekosistem seperti hutan, padang rumput, dan sistem lahan basah. Ini dapat mencakup pencegahan atau pengurangan emisi gas rumah kaca, serta membantu penyerapan karbon dalam apa yang disebut ‘penyerap karbon’.  Menjadi Bagian dari Keberlanjutan dalam Mengurangi Jejak Karbon Baca juga artikel lainnya : Peran Konsultan Karbon dalam Mendukung Keberlanjutan dan Manajemen ESG Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. Similar Article Industri dan Jejak Karbon: Cara Perusahaan Besar Kelola Emisi Industri dan Jejak Karbon Jejak karbon merupakan jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia pada kurun waktu tertentu. Operasional sebuah bisnis atau industri tidak terlepas dari memproduksi jejak karbon yang berdampak terhadap kondisi iklim saat ini. Baca Juga: Bagaimana Pelaku Industri Melawan Perubahan Iklim? Dilansir dari Our World in Data, sektor industri telah menjadi penyumbang emisi global terbesar setiap tahunnya sejak era Revolusi Industri dimulai. Kondisi ini tentu berbeda di setiap negara, terutama wilayah yang termasuk penghasil komoditas pertanian. Jejak karbon dari sektor energi, pada tahun lalu, mencapai rekor tertingginya dan meningkat 6 persen… Membakar Sampah di Lingkungan Rumah? Ini Bahayanya! Menurut survei BPS, masyarakat Indonesia masih banyak yang mengelola dengan membakar sampah. Dimana 65,54% memilih untuk membakar, dibanding dengan diangkut petugas, ditimbun, atau dibuang ke TPS. Membakar sampah mungkin terlihat seperti cara mudah untuk mengelola limbah, namun kebiasaan ini menyimpan bahaya yang serius bagi kesehatan dan lingkungan. Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat mencemari udara dan tanah, serta berdampak negatif pada kualitas hidup kita. Baca Juga: Sampah Kertas dan Bahayanya Terhadap Lingkungan Bahaya Membakar Sampah Pencemaran Udara Partikel Halus: Asap mengandung partikel halus yang dapat dengan mudah masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan masalah… 5 Film yang Akan Membuatmu Lebih Peduli Lingkungan Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan adalah masalah mendesak yang kita hadapi saat ini. Melalui film, kita dapat diajak untuk lebih memahami dampak dari tindakan kita terhadap planet ini. Berikut adalah 5 rekomendasi film …

Pendidikan dan Kesadaran: Mendidik Generasi Muda Tentang Jejak Karbon

Pendidikan dan Kesadaran: Mendidik Generasi Muda Tentang Jejak Karbon

Generasi Muda dan Jejak Karbon Generasi muda adalah pemimpin masa depan yang diyakini memiliki kemampuan untuk mengubah dunia melalui pendidikan yang diraihnya. Hal ini juga yang perlu dilakukan dalam menangani perubahan iklim dan mengurangi jejak karbon. Selain pengajaran dasar di institusi pendidikan, generasi muda sekarang perlu turut diajarkan tentang edukasi dan kesadaran akan kondisi iklim yang terjadi belakangan ini. Salah satunya ialah terkait upaya mengurangi jejak karbon, emisi gas rumah kaca yang umum dihasilkan dalam aktivitas harian sebagai bagian dalam langkah memerangi perubahan iklim. Baca juga artikel lainnya : 3 Kegiatan yang Tanpa Disadari Menghasilkan Jejak Karbon Pentingnya Edukasi Jejak Karbon dan Perubahan Iklim pada Generasi Muda  Pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim dapat mendorong dukungan untuk kebijakan yang mendukung mitigasi dan adaptasi iklim. Oleh karena itu, pendidikan dibutuhkan untuk mendukung hal tersebut. Edukasi perubahan iklim membantu individu membuat keputusan yang lebih berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Sederhananya seperti memilih produk ramah lingkungan, mengurangi jejak karbon, dan mendukung energi terbarukan. Ini juga menginspirasi perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mendorong tindakan praktis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, menghemat energi, dan mendaur ulang. Memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan perubahan iklim di berbagai sektor, termasuk pertanian, energi, dan infrastruktur. Mendukung penelitian dan inovasi teknologi yang dapat membantu mengurangi emisi dan memperkuat ketahanan iklim. Baca Juga: 4 Cara Tepat Kurangi Jejak Karbon Pribadi Peran Pendidikan dan Media Untuk Mengurangi Jejak Karbon Pendidikan memainkan peran yang penting dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terkait jejak karbon dan perubahan iklim. Edukasi membantu masyarakat memahami dampak dari kondisi tersebut serta memberikan gambaran tindakan yang bisa dilakukan setiap individu. Hal yang sama terjadi pada bagaimana media mengemas isu ini menjadi informasi yang fundamental tapi tetap menarik. Sebab perubahan iklim merupakan isu yang kompleks dan bersifat kontinuitas, pembahasannya luas dan berjangka panjang berbeda dengan berita politik atau entertainment. Studi dari Ohio State menunjukkan bahwa pelaporan perubahan iklim yang memuat fakta dan bukti yang jelas yang secara teratur disebarkan ke masyarakat, dapat memberikan pengaruh bagi seseorang untuk mendukung kebijakan perubahan iklim. Bahkan terhadap mereka yang skeptis terhadap hal tersebut. Dilansir dari Earth Day, peristiwa cuaca ekstrem menjadi yang paling sering dibahas di media berkaitan dengan perubahan iklim karena ancamannya berdampak langsung dan memiliki jangkauan yang luas, termasuk terhadap kondisi ekonomi.  Strategi Menyiapkan Pendidikan Jejak Karbon dan Perubahan Iklim bagi Generasi Muda  Terdapat beberapa informasi dan kegiatan sederhana yang bisa diberikan kepada kaum muda dalam memahami kondisi perubahan iklim.  Dalam hal efisiensi energi, ajarkan cara-cara mengurangi penggunaan energi, seperti menghemat pemakaian energi listrik dengan mematikan lampu jika tidak dibutuhkan dan mengurangi pemakaian AC. Berikan juga pengetahuan tentang pentingnya mengurangi emisi karbon dengan penggunaan transportasi publik, bersepeda, atau berjalan kaki. Ajak mereka untuk turut menerapkan mindful eating yang bertujuan mengurangi produksi limbah makanan sehingga tercipta konsumsi berkelanjutan. Selain itu, pengurangan sampah dan daur ulang, serta beralih ke wadah guna ulang merupakan salah satu hal penting dalam menerapkan keseharian yang berkelanjutan. Dengan edukasi dan peningkatan kesadaran yang tepat, masyarakat dapat lebih memahami dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi jejak karbon mereka. Similar Article 5 Istilah Penting yang Berkaitan dengan Perubahan Iklim Isu terkait perubahan iklim semakin menjadi pembahasan yang ramai diperbincangkan saat ini. Di seluruh dunia, masyarakat lintas generasi mulai menunjukkan ketertarikannya akan informasi tentang perubahan iklim. Hasil survei People’s Climate Vote 2024 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen populasi dunia telah menaruh perhatian mereka pada isu ini. Sementara itu, 63 persen pengisi survei sudah mulai mempertimbangkan dampak perubahan iklim terhadap keputusan yang mereka buat. Melalui kondisi ini, bisa digambarkan bahwa perubahan iklim semakin memberikan pengaruhnya terhadap orang-orang di berbagai belahan dunia. Mengganggu mereka dengan beragam cara. Perubahan iklim tidak lagi sebatas konteks khusus bagi beberapa kalangan. Istilah ini perlu diumumkan lebih… Keuntungan Berlangganan Jasa Perhitungan Jejak Karbon bagi Perusahaan di Masa Kini Jejak karbon merupakan sejumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang lepas ke atmosfer dan bersumber dari berbagai kegiatan tertentu. Konsentrasi emisi karbon antropogenik atau yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah sumber yang paling dominan dalam menimbulkan dampak bagi lingkungan. Salah satunya berasal dari sektor industri yang disebut sebagai kontributor utama emisi karbon global.  Menurut laporan emisi CO2 tahun 2022 oleh IEA, emisi karbon dioksida global dari pembakaran energi dan proses industri telah mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni sebesar 36,8 Gt pada 2022. Meskipun produksi emisi karbon dari industri sempat menyusut 5 persen pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19, akan… Pengertian Industri Hijau: Tujuan, Manfaat, dan Contohnya Penerapan industri hijau di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim selayaknya angin segar yang memberikan kesejukan dalam upaya keberlanjutan. Sektor industri sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) global seringkali didorong untuk dapat berkontribusi dalam langkah pengurangan emisi karbon atau dekarbonisasi. Maka dari itu, industri hijau sebagai bagian dari bisnis berkelanjutan dapat menjadi opsi yang bisa dipilih perusahaan dan entitas komersial lainnya dalam mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan keberlanjutan. Namun, apa itu industri hijau beserta tujuan, keuntungan, dan contohnya? Apa Itu Industri Hijau? Dilansir dari Tirto ID, menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI), pengertian industri hijau adalah… Bagaimana Cara Tepat Memilih Carbon Accounting Software untuk Industri? Carbon Accounting – Seiring dengan meningkatnya sustainability awareness di berbagai kalangan, banyak pihak mulai turut serta menerapkan praktik-praktik kebelanjutan melalui berbagai cara.  Peningkatan dampak perubahan iklim seakan menjadi ‘alarm’ yang mendorong masyarakat untuk bergabung dalam upaya mitigasi iklim. Utamanya dari sektor industri sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) global. Kegiatan industri diketahui menyumbang paling banyak emisi karbon ke atmosfer. Di Indonesia saja, sekitar 70 persen penyumbang emisi karbon adalah industri, sehingga sektor ini diharapkan mampu terlibat untuk mengurangi emisi karbon dan membantu mencapai Net Zero Emission yang direncanakan. Oleh karena itu, untuk dapat berkontribusi dalam upaya… Memahami Istilah Global Stocktake dalam Aksi Iklim Internasional Di berbagai belahan dunia, negara-negara terus berlomba mencapai ambisi iklim sebagai respons terhadap peningkatan dampak perubahan iklim sekaligus komitmen sesuai kesepakatan Paris. Perjanjian Paris menjadi poin penting dalam kebijakan iklim internasional …

Menilik Seberapa Besar Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Singapura

Menilik Seberapa Besar Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Singapura

Ruang Terbuka Hijau ‘Kota di dalam Taman’, telah menjadi julukan Singapura untuk mewakili keterlimpahan ruang terbuka hijau yang tersedia di sana. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang peduli akan pentingnya alam hijau untuk mendukung kehidupan berkelanjutan. Saat ini, Ibu Kota Singapura menjadi salah satu wilayah dengan pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) terbaik di dunia. Kota ini memiliki berbagai taman, kebun, dan ruang hijau yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Baca Juga: Melihat Upaya Singapura Jadi Salah Satu Kota Terhijau di Dunia Seberapa Banyak Ruang Terbuka Hijau di Singapura? Dilansir dari City Monitor, hampir lebih dari 47 persen wilayah kota merupakan ruang terbuka hijau. Sementara 30 persen lainnya tertutupi tutupan pohon yang menjadikannya lebih sejuk saat siang hari. Singapura adalah salah satu kota terhijau di dunia dengan pohon-pohon yang berjajar teratur di tengah dan pinggir jalanan. Hadir juga taman-taman di berbagai sudut kota, hingga hutan kota yang bisa dijangkau dengan mudah dari pusat kota.  Gardens by the Bay adalah contoh ikonik dari integrasi teknologi dan alam, dengan pohon-pohon raksasa buatan yang berfungsi sebagai taman vertikal dan pengumpul energi surya. Selain itu, Singapore Botanic Gardens yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, memiliki kebun anggrek nasional yang terkenal. Sebuah taman tropis yang luas dengan berbagai koleksi tanaman, danau, dan jalur berjalan kaki yang indah. Terdapat juga berbagai vegetasi hijau buatan yang tumbuh sangat subur dan asri, dibangun pemerintah setempat sebagai langkah menciptakan tempat tinggal yang bersih dan hijau, meskipun tidak ada hutan alami yang berdiri di sini. Singapura pun masih terus berinovasi dalam menciptakan dan mengelola ruang terbuka hijau, menjadikannya contoh utama kota hijau yang berkelanjutan di dunia. Alasan Di Balik Terciptanya Banyak Ruang Terbuka Hijau di Singapura Penciptaan ‘kota di dalam taman’ ala Singapura bukan sebuah ide untuk menambah estetika semata. Berdasarkan situs resmi SG 101, ruang terbuka hijau adalah fasilitas yang sangat penting untuk dibangun sebab pohon dan tanaman hijau berperan menghindarkan negara tersebut dari polusi. Selain itu, hal ini merupakan bagian dari upaya Singapura untuk membangun dirinya sebagai negara yang bersih dan hijau. Juga bertujuan untuk mencerminkan tata kelola yang baik dan menarik investor asing. Oleh karena itu, upaya penghijauan diiringi dengan kampanye seperti ‘Jaga Singapura Tetap Bersih’ dan ‘Hari Menanam Pohon’. Sejauh ini, Singapura memiliki kepadatan pohon perkotaan tertinggi di dunia. Sebanyak dua juta pohon berjejer di sepanjang jalan, memberi manfaat bagi lingkungan tempat tinggal dalam berbagai cara. Ini juga merupakan upaya untuk dapat tercipta tempat beristirahat nyaman bagi penduduk kota yang dikelilingi oleh bangunan beton dan kaca. Rancangan Singapore Green Plan 2030 Salah Satunya Ruang Terbuka Hijau Baca juga artikel lainnya : Cara Singapura Menjadi Lebih Hijau Lewat Singapore Green Plan 2030 Pengembangan pembangunan berkelanjutan yang dilakukan Singapura terancang sepenuhnya dalam Singapore Green Plan 2030. Lima strategi utama untuk mengubah Singapura menjadi Kota Bertema Alam, dibuat dan daftarnya ialah: Selain ruang terbuka hijau, pemerintah Singapura juga meningkatkan ruang biru di perkotaan dengan mengubah perairan menjadi biru dan jernih. Pemerintah berupaya memastikan semua limbah rumah tangga dan industri akan mengalir ke saluran pembuangan. Seluruh aksi ‘membersihkan Singapura’ tersebut bertujuan agar kota dapat menampung sebanyak mungkin curah hujan (95 inci per tahun).  Singapore Green Plan 2030 adalah inisiatif ambisius oleh pemerintah Singapura untuk mempercepat agenda pembangunan berkelanjutan di negara tersebut selama dekade berikutnya. Program ini tidak hanya bertujuan untuk mengatasi tantangan lingkungan, tetapi juga untuk menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kualitas hidup warga Singapura melalui pembangunan yang berkelanjutan dan inovatif. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Industri dan Jejak Karbon: Bagaimana Perusahaan Besar Mengelola Emisi Mereka Jejak karbon merupakan jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia pada kurun waktu tertentu. Operasional sebuah bisnis atau industri tidak terlepas dari memproduksi jejak karbon yang berdampak terhadap kondisi iklim saat ini. Dilansir dari Our World in Data, sektor industri telah menjadi penyumbang emisi global terbesar setiap tahunnya sejak era Revolusi Industri dimulai. Kondisi ini tentu berbeda di setiap negara, terutama wilayah yang termasuk penghasil komoditas pertanian. Jejak karbon dari sektor energi, pada tahun lalu, mencapai rekor tertingginya dan meningkat 6 persen dari tahun 2020. Pasca pandemi COVID-19, emisi sektor ini melonjak menjadi 36,3… Pendidikan dan Kesadaran: Mendidik Generasi Muda Tentang Jejak Karbon Generasi muda adalah pemimpin masa depan yang diyakini memiliki kemampuan untuk mengubah dunia melalui pendidikan yang diraihnya. Hal ini jugalah yang perlu dilakukan dalam menangani perubahan iklim dan mengurangi jejak karbon. Selain pengajaran dasar di institusi pendidikan, generasi muda sekarang perlu turut diajarkan tentang edukasi dan kesadaran akan kondisi iklim yang terjadi belakangan ini. Salah satunya ialah terkait upaya mengurangi jejak karbon, emisi gas rumah kaca yang umum dihasilkan dalam aktivitas harian sebagai bagian dalam langkah memerangi perubahan iklim. Pentingnya Edukasi Perubahan Iklim pada Generasi Muda  Pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim dapat mendorong dukungan untuk kebijakan yang mendukung… 10 Tips Efektif untuk Mengurangi Limbah di Tempat Kerja, Praktekin Yuk! Sadar ga sih, bahwa lingkungan kerja sering kali menjadi tempat yang menghasilkan banyak limbah, mulai dari kertas, plastik, elektronik hingga limbah makanan. Untuk itu, kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan perlu juga lho ditingkatkan, dengan demikian memicu perusahaan-perusahaan mulai mencari cara untuk mengurangi jejak limbah mereka. Perlu diingat juga ya, mengurangi limbah itu tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menghemat biaya operasional. Terus harus mulai dari mana ? Nah, upaya dalam mengurangi limbah di tempat kerja ini merupakan langkah penting untuk melindungi dan menjaga lingkungan, dan tidak hanya itu, manfaat lainnya yang dirasakan yaitu dapat menghemat biaya, meningkatkan… Menilik Seberapa Besar Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Singapura ‘Kota di dalam Taman’, telah menjadi julukan Singapura untuk mewakili keterlimpahan ruang terbuka hijau yang tersedia di sana. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang peduli akan pentingnya alam hijau untuk mendukung kehidupan berkelanjutan. Saat ini, Ibu Kota Singapura menjadi salah satu wilayah dengan pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) terbaik di dunia. Kota ini memiliki berbagai taman, kebun, dan ruang hijau yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Seberapa Banyak Ruang Terbuka Hijau …

Cara Singapura Menjadi Lebih Hijau Lewat Singapore Green Plan 2030

Cara Singapura Menjadi Lebih Hijau Lewat Singapore Green Plan 2030

Singapore Green Plan 2030 yang dirancang pemerintah Singapura dalam agenda pembangunan berkelanjutan tampaknya akan membuat Negeri Singa ini semakin hijau di masa depan. Program Rencana Hijau ini merupakan inisiatif yang dijalankan pemerintah Singapura untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, ini juga menjadi langkah yang dijalankan Singapura dalam mengatasi tantangan perubahan iklim dan mengurangi emisi karbon.  Singapore Green Plan 2030 akan memetakan target yang ambisius dan konkret selama 10 tahun ke depan, memperkuat komitmen Singapura di bawah Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030 dan Perjanjian Paris. Melalui kerangka tersebut, pemerintah Singapura berharap dapat mencapai aspirasi emisi nol bersih jangka panjang pada tahun 2050. Baca juga artikel : Bangunan Gedung Hijau, Pengertian, Kriteria, Hingga Manfaatnya Tujuan Utama Singapore Green Plan 2030 Program yang dibentuk sejak 2021 lalu ini, menetapkan sejumlah target dan tujuan utama dalam mencapai rencana hijau yang diharapkan. Seluruhnya menyentuh dimensi kehidupan yang mengarah pada prinsip keberlanjutan, sebagaimana dikutip dari laman Singapore Green Plan 2030. Kota Hijau – Mengubah Singapura menjadi kota yang lebih hijau dengan memperbanyak ruang terbuka hijau dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Gaya Hidup Berkelanjutan – Mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, termasuk dalam hal pengelolaan limbah, konsumsi air, pemanfaatan transportasi umum, dan mengurangi emisi karbon secara individual. Efisiensi Energi dan Sumber Daya – Mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan meningkatkan efisiensi energi dan air. Ini juga termasuk beralih ke kendaraan listrik dan energi terbarukan pada semua sektor serta menerapkan mobilitas bersih dengan mengurangi ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil. Ekonomi Hijau – Mendorong inovasi hijau dan ekonomi sirkular untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Net Zero Emissions – Berkomitmen untuk mencapai emisi net-zero di semua sektor dalam dan luar negeri. Beradaptasi untuk Masa Depan – Meningkatkan persiapan terhadap kemungkinan yang bisa terjadi akibat perubahan iklim, salah satunya adalah meningkatkan kemampuan industri agri-pangan untuk menjaga stabilitas pangan secara berkelanjutan. Dibalik Terciptanya Singapore Green Plan 2030 Singapura tegas akan komitmennya untuk menciptakan iklim negara yang sehat dan hijau. Diketahui, upaya tersebut telah muncul sebelumnya pada tahun 1992, ketika Rencana Hijau pertama dirilis.  Pembangunan berkelanjutan bukanlah hal baru bagi Singapura. Singapura adalah Kota di dalam Taman dan dikenal sebagai salah satu kota terhijau di dunia dengan cagar alam yang luas, sekitar sepertiga pulau di sana ditutupi oleh pepohonan. Saat ini, ketika perubahan iklim telah menjadi tantangan global dengan dampak yang sudah sangat dirasakan, Singapura mengambil tindakan tegas untuk melakukan bagiannya dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Rencana ini pun dirancang dan dipelopori oleh lima kementerian sekaligus, sebagai upaya kolektif seluruh bangsa. Pencapaian Singapore Green Plan 2030 Dilansir dari FHA-Food and Beverage Singapura, Singapore Green Plan 2030 telah menunjukkan kemajuan yang signifikan di berbagai bidang. Salah satu pencapaian yang menonjol adalah peningkatan signifikan dalam kapasitas energi surya. Panel-panel surya mulai dipasang di banyak atap gedung, termasuk gedung komersial, rumah susun pemerintahan, bahkan di permukaan air sebagai PLTS terapung.  Upaya tersebut berkontribusi meningkatkan kapasitas energi surya untuk dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 350.000 rumah tangga setiap tahunnya. Rencana Hijau Singapura juga sukses memperkenalkan zona bebas mobil di berbagai bagian kota. Mempromosikan inisiatif ramah lingkungan di Singapura dalam bidang transportasi, salah satunya Kampong Bugis yang dikembangkan menjadi kawasan bebas kendaraan bermotor. Kemudian, SGP 2030 juga membantu meningkatkan kesadaran tentang gaya hidup ramah lingkungan, mengembangkan ruang terbuka hijau dan kebun komunitas untuk meningkatkan penghijauan perkotaan, serta mendorong Singapura melangkah lebih jauh untuk menjadi pusat keuangan hijau yang terkemuka. Singapore Green Plan 2030 tidak hanya bertujuan untuk mengatasi tantangan lingkungan, tetapi juga untuk menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kualitas hidup warga Singapura melalui pembangunan yang berkelanjutan dan inovatif. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 10 Tips Efektif untuk Mengurangi Limbah di Tempat Kerja, Praktekin Yuk! Sadar ga sih, bahwa lingkungan kerja sering kali menjadi tempat yang menghasilkan banyak limbah, mulai dari kertas, plastik, elektronik hingga limbah makanan. Untuk itu, kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan perlu juga lho ditingkatkan, dengan demikian memicu perusahaan-perusahaan mulai mencari cara untuk mengurangi jejak limbah mereka. Perlu diingat juga ya, mengurangi limbah itu tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menghemat biaya operasional. Terus harus mulai dari mana ? Nah, upaya dalam mengurangi limbah di tempat kerja ini merupakan langkah penting untuk melindungi dan menjaga lingkungan, dan tidak hanya itu, manfaat lainnya yang dirasakan yaitu dapat menghemat biaya, meningkatkan… Menilik Seberapa Besar Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Singapura ‘Kota di dalam Taman’, telah menjadi julukan Singapura untuk mewakili keterlimpahan ruang terbuka hijau yang tersedia di sana. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang peduli akan pentingnya alam hijau untuk mendukung kehidupan berkelanjutan. Saat ini, Ibu Kota Singapura menjadi salah satu wilayah dengan pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) terbaik di dunia. Kota ini memiliki berbagai taman, kebun, dan ruang hijau yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Seberapa Banyak Ruang Terbuka Hijau di Singapura? Dilansir dari City Monitor, hampir lebih dari 47 persen wilayah kota merupakan ruang terbuka hijau. Sementara 30 persen lainnya tertutupi tutupan… Kesadaran Lingkungan di Era Digital Terutama Peran Media Sosial Di era digital yang semakin maju, kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup semakin meningkat. Terlebih kehadiran berbagai platform media sosial semakin banyak bertebaran dan jumlah pengguna yang tinggi, tentu peran media sosial membuka peluang besar untuk menyebarkan informasi. Pentingnya informasi yang disampaikan melalui media sosial mengenai kesadaran lingkungan, tentu membangkitkan kesadaran lingkungan secara lebih luas.  Baca Juga: Ekolabel – Pemahaman dan Pemilihan Produk Ramah Lingkungan Media sosial kini tidak hanya menjadi alat komunikasi dan hiburan saja, akan tetapi juga menjadi sarana edukasi yang efektif dalam menginspirasi perubahan positif dalam masyarakat. Berbagai organisasi lingkungan, aktivis, dan individu yang peduli terhadap lingkungan… Cara Singapura Menjadi Lebih Hijau Lewat Singapore Green Plan 2030 Singapore Green Plan 2030 yang dirancang pemerintah Singapura dalam agenda pembangunan berkelanjutan tampaknya akan membuat Negeri Singa ini semakin hijau di masa depan. Program Rencana Hijau ini merupakan inisiatif yang dijalankan pemerintah Singapura untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, ini juga menjadi langkah yang dijalankan Singapura dalam …