Melihat Potensi Blue Carbon Indonesia dari Kawasan Hutan Mangrove

Melihat Potensi Blue Carbon Indonesia dari Kawasan Hutan Mangrove

Blue carbon menjadi salah satu topik pembahasan menarik saat ini. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim dan kepulauan yang berkomtimen dalam mencapai target penurunan emisi dalam rangka mitigasi perubahan iklim. Tentu, potensi besar ekosistem blue carbon tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebelum lebih jauh, apa itu blue carbon? Berikut ulasan selengkapnya! Apa yang Dimaksud dengan Blue Carbon? Sederhananya, karbon biru atau blue carbon adalah karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir. Ekosistem pesisir seperti mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun menyerap serta menyimpan lebih banyak karbon per satuan luas dibandingkan dengan hutan daratan. Kini keberadaan ekosistem karbon biru makin diakui perannya dalam mengurangi dampak perubahan iklim Jelas, sebab keberadaan ekosistem karbon biru berperan krusial dalam mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyerap emisi karbon yang terperangkap di atmosfer, membantu mencapai target perubahan iklim nasional dan global yang telah ditetapkan. Hutan Mangrove dan Potensi Besar Blue Carbon Indonesia Salah satu ekosistem alami khas pesisir dan memiliki potensi besar penyimpanan karbon yaitu hutan mangrove. Faktanya, hasil penelitian para ahli CIFOR (Center for International Forestry Research) tahun 2003 dalam Rahman (2023), hutan mangrove dikategorikan sebagai ekosistem lahan basah dengan potensi penyimpanan karbon 800-1.200 ton/ha. Hasil penelitian pada hutan bakau di Indonesia diperkirakan menyimpan 0,82 -1,09 PgC (Pentagram Karbon per hektare). “Mangrove sendiri untuk penyimpanan karbon itu hampir 5 kali lipat atau bahkan lebih daripada hutan-hutan tropis lainnya, jadi dibandingkan hutan boreal, ataupun hutan tropis sekalipun, mangrove ini punya potensi penyimpanan karbon yang lebih besar sekitar 5 kalinya dari hutan lain,” jelas Alma Cantika Aristia, Product Manager LindungiHutan. Salah satu alasan mengapa ekosistem ini sangat efektif dalam menghilangkan dan menyimpan karbon adalah karena spesies tumbuhan yang ada di dalamnya cenderung tumbuh dengan cepat, menyerap CO2 dari atmosfer dengan cepat pula. Selain itu, mangrove biasanya tumbuh di tanah yang kekurangan oksigen atau “anaerob”. Hal ini memperlambat proses penguraian bahan tanaman (yang dapat melepaskan C02 kembali ke atmosfer), sehingga karbon dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama (WRI, 2023). Selain kemampuannya yang efektif dalam menyerap karbon, hutan mangrove juga memberikan peran dalam menjaga biodiversitas. Mangrove menjadi habitat bagi berbagai jenis biota, fauna, dan flora yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem pesisir satu ini. Keberadaan makhluk hidup tersebut serta keseimbangan keanekaragaman hayatinya juga berdampak sosial maupun ekonomi bagi masyarakat pesisir. Jadi, semua itu saling berkaitan satu sama lain demi terciptanya lingkungan yang lestari dan berkelanjutan. “Selain carbon stock-nya, jadi ekosistem ini menyerap dan menyimpan emisi karbon dioksida yang ada di udara, kemudian juga penjaga biodiversitas, dia juga mencegah abrasi, dan juga blue carbon ini berpotensi banget untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,”  sambung Alma. Besarnya potensi blue carbon, baik dari sisi mitigasi perubahan iklim, lingkungan, maupun sosial ekonomi, membuat pemerintah Indonesia lebih dalam menginjak gas upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove. Apalagi Indonesia memiliki target NDC (Nationally Determined Contribution) yang salah satunya bisa dicapai melalui sektor kelautan dan karbon biru. Pada akhirnya, upaya konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove memerlukan kolaborasi berbagai stakeholder untuk mengakselerasi pencapaian target yang ada.   Konservasi dan Rehabilitasi Hutan Mangrove, Aksi Nyata Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Ekosistem Karbon Biru Baca juga artikel lainnya : Lautan Sebagai Penyerap Karbon Alami Tahukah kamu, luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,68 juta hektare (Ha) atau 20,37% dari total dunia. Kendati demikian, bukan berarti tidak memerlukan upaya pelestarian lebih lanjut. Mengingat, kawasan pesisir rentan terhadap berbagai bentuk degradasi lingkungan yang mengancam keberlanjutan ekosistem. Mulai dari alih fungsi lahan hingga bentuk aktivitas eksploitasi lainnya. Maka dari itu, perlu upaya pelestarian dan reforestasi kawasan hutan mangrove di Indonesia. Hutan-hutan mangrove yang sudah eksis perlu dijaga kelestariannya sembari kita melakukan rehabilitasi kawasan lain yang rusak. Mengutip dari jurnal Nature Communications, sebuah penelitian menggabungkan hasil pengukuran lapangan langsung lebih dari 370 situs restorasi di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa reboisasi mangrove (menanam kembali mangrove di lokasi yang sebelumnya pernah ditumbuhi mangrove) memiliki potensi penyimpanan karbon per hektare yang lebih besar dibandingkan aforestasi (menanam mangrove di lokasi yang sebelumnya tidak ditumbuhi mangrove). Hal tersebut kemudian bisa memperjelas pandangan kita terhadap urgensi pelestarian kawasan hutan mangrove. Sekaligus, menjadi ajakan bagi berbagai pihak untuk bersama-sama menghadapi perubahan iklim serta mendukung pencapaian target NDC. Utamanya melalui sektor-sektor laut dan pesisir salah satunya hutan mangrove. Referensi: Song, S., Ding, Y., Li, W. et al. Mangrove reforestation provides greater blue carbon benefit than afforestation for mitigating global climate change. Nat Commun 14, 756 (2023). https://doi.org/10.1038/s41467-023-36477-1 Katie Wood dan Oliver Ashford. (2023). How Blue Carbon Can Tackle the Climate, Biodiversity and Development Crisis. WRI. Similar Article Mewujudkan Program CSR Perusahaan yang Berkelanjutan dan Berdampak Program CSR perusahaan kini tidak bisa lagi hanya sebatas memberi atau sesuatu yang sifatnya charity. Namun, poin berdampak dan berkelanjutan dari after program-nya yang juga perlu diperhatikan.  Lantas, bagaimana cara mewujudkan CSR yang berdampak dan berkelanjutan? Simak ulasan selengkapnya! Baca Juga: Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Apa itu Program CSR Perusahaan? Setiap perusahaan memiliki tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang mencakup kewajiban terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam berbagai aspek operasionalnya. Tanggung jawab ini umumnya berhubungan dengan dampak lingkungan, seperti polusi, limbah produksi, keamanan produk, dan kesejahteraan tenaga kerja. Jadi,… Melihat Potensi Blue Carbon Indonesia dari Kawasan Hutan Mangrove Blue carbon menjadi salah satu topik pembahasan menarik saat ini. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim dan kepulauan yang berkomtimen dalam mencapai target penurunan emisi dalam rangka mitigasi perubahan iklim. Tentu, potensi besar ekosistem blue carbon tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebelum lebih jauh, apa itu blue carbon? Berikut ulasan selengkapnya! Apa yang Dimaksud dengan Blue Carbon? Sederhananya, karbon biru atau blue carbon adalah karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir. Ekosistem pesisir seperti mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun menyerap serta menyimpan lebih banyak karbon per satuan luas dibandingkan dengan hutan daratan. Kini keberadaan ekosistem karbon… 5 Langkah untuk Mulai Memahami Perubahan Iklim  Narasi tentang perubahan iklim sudah semakin sering kita temui di banyak saluran informasi. Pembahasan tentang ini juga sudah secara perlahan disisipkan dalam aktivitas dan sekolah di banyak negara. Baca juga artikel lainnya : Urgensi Menciptakan Kesadaran tentang Perubahan Iklim di …

5 Langkah untuk Mulai Memahami Perubahan Iklim 

5 Langkah untuk Mulai Memahami Perubahan Iklim 

Narasi tentang perubahan iklim sudah semakin sering kita temui di banyak saluran informasi. Pembahasan tentang ini juga sudah secara perlahan disisipkan dalam aktivitas dan sekolah di banyak negara. Baca juga artikel lainnya : Urgensi Menciptakan Kesadaran tentang Perubahan Iklim di Masyarakat Salah satunya Italia yang sejak tahun 2019 mulai menjadikan perubahan iklim sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional. Sekolah-sekolah di sana diwajibkan untuk memberi sekitar 33 jam pendidikan setiap tahunnya bagi anak-anak usia 6 sampai 19 tahun. Namun, inisiatif ini belum banyak diterapkan di negara lainnya. Berdasarkan data UNESCO pada tahun 2021, dari 100 kurikulum nasional yang dianalisis, baru setengahnya saja yang memasukkan mata pelajaran terkait. Itu pun hanya pembahasan mendasar. Kondisi yang menunjukkan kurangnya pengajaran terkait perubahan iklim ini juga didukung oleh survei PBB yang menyebut bahwa sekitar 70 persen anak muda tidak memiliki pengetahuan sama sekali terkait hal tersebut. Situasi yang memprihatinkan di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap bumi dan kehidupan. Oleh karena itu, kita perlu berinisiatif belajar dan memahami untuk dapat berkontribusi dalam pencegahan dan turut beradaptasi dengan kondisinya. Berikut adalah lima langkah penting yang bisa dilakukan untuk memahami perubahan iklim. 1. Meningkatkan Literasi dan Pengetahuan Kita dapat mulai dengan mempelajari konsep dasar terkait iklim, atmosfer, siklus karbon, dan gas rumah kaca. Poin tersebut adalah hal-hal penting yang berkaitan dengan perubahan iklim dan sering termasuk dalam pembahasannya. Akses sumber informasi terpercaya. Bisa mengandalkan artikel, buku, dan laporan dari sumber-sumber kredibel seperti lembaga resmi atau universitas untuk memberikan kita informasi yang tepat. Terhindar dari hoaks atau informasi palsu. 2. Memahami Penyebab Perubahan Iklim Sebelum membahas lebih jauh, sudahkah kamu atau kita mengetahui faktor-faktor penyebab dari terjadinya perubahan iklim. Hal ini penting untuk diketahui untuk membantu kita memahami sekaligus menghindarinya. Meskipun sudah berlangsung sejak waktu yang lama, perubahan iklim mulai meningkat lebih cepat sejak Revolusi Industri dimulai, yang artinya aktivitas manusia berkontribusi besar terhadap kondisi sekarang. Pelajari bagaimana kegiatan manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan penggunaan lahan, berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca. 3. Memahami Dampak Perubahan Iklim Pelajari bagaimana krisis iklim ini mempengaruhi ekosistem, keanekaragaman hayati, pola cuaca, kenaikan permukaan laut, dan fenomena cuaca ekstrem. Termasuk juga pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Menurut laporan terbaru IPCC tentang adaptasi iklim, salah satu dampak dari perubahan iklim adalah turut meningkatkan terjadinya bencana dan menjadikannya lebih buruk dari yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya. World Wild Life menyebut, risiko bencana pun diperkirakan akan meningkat pada tahun-tahun mendatang akibat kondisi ini. 4. Mempraktikkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Selanjutnya, kita bisa naik satu tingkat dengan melakukan tindakan kecil seperti mengurangi konsumsi energi, mendaur ulang, dan memilih produk ramah lingkungan. Menerapkannya dalam keseharian. Kita juga bisa terlibat dalam kampanye keberlanjutan yang dapat mendorong masyarakat luas ke arah perubahan. Dengan memahami perubahan iklim secara mendalam, individu dan masyarakat dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat dan efektif dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampaknya. Baca Juga: Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) 5. Turut Serta dalam Keberlanjutan Pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 5 Langkah untuk Mulai Memahami Perubahan Iklim  Narasi tentang perubahan iklim sudah semakin sering kita temui di banyak saluran informasi. Pembahasan tentang ini juga sudah secara perlahan disisipkan dalam aktivitas dan sekolah di banyak negara. Baca juga artikel lainnya : Urgensi Menciptakan Kesadaran tentang Perubahan Iklim di Masyarakat Salah satunya Italia yang sejak tahun 2019 mulai menjadikan perubahan iklim sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional. Sekolah-sekolah di sana diwajibkan untuk memberi sekitar 33 jam pendidikan setiap tahunnya bagi anak-anak usia 6 sampai 19 tahun. Namun, inisiatif ini belum banyak diterapkan di negara lainnya. Berdasarkan data UNESCO pada tahun 2021, dari 100 kurikulum nasional yang dianalisis, baru… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah Industri Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Baca Juga: Persetujuan Teknis Pengelolaan… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : …

Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon

Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon

Limbah Industri Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Baca Juga: Persetujuan Teknis Pengelolaan Limbah B3 Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah industri memiliki wujud dan ciri-ciri yang sangat beragam, tergantung pada industri yang menghasilkan.  Contoh limbah industri bisa berupa potongan logam, serpihan kayu, plastik, kertas sisa produksi, hingga lumpur hasil pengendapan dari proses pengolahan air limbah. Jenis ini tidak memiliki kandungan yang dapat berdampak serius terhadap lingkungan dan manusia.  Kemudian terdapat jenis limbah industri yang termasuk B3, di antaranya bahan kimia, limbah elektronik atau e-waste, pestisida, baterai, dan segala produk yang tercemar senyawa berbahaya. Limbah medis juga termasuk ke dalam hal ini. Limbah jenis ini dapat menimbulkan ancaman langsung dan signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Terdapat juga limbah radioaktif yang diwakili dengan lambang khusus dan bersifat radioaktif. Umumnya berasal dari industri terkait seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, penelitian, dan fasilitas kesehatan. Limbah ini dapat menimbulkan kontaminasi jika tersentuh dan menyebabkan kerusakan yang signifikan pada yang terpapar. Gas buang dari cerobong pabrik, seperti karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), dan gas lainnya, serta limbah organik sisa makanan dan pertanian, juga termasuk ke dalam limbah yang dihasilkan industri. Termasuk partikel halus yang terlepas ke udara dari proses pembakaran. Baca juga artikel lainnya : Upaya Mengurangi Emisi Karbon di Wilayah Perkotaan Sumber Emisi Karbon dari Limbah Industri Suatu industri tidak terlepas dari menghasilkan polusi, salah satunya adalah polusi di udara melalui emisi karbon. Banyak industri menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam untuk energi, yang menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2). Emisi karbon yang tinggi dari industri tidak hanya berkontribusi pada perubahan iklim tetapi juga bisa merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Dilansir dari artikel ilmiah Universitas Airlangga, berdasarkan data World Research Institute (WRI), Indonesia menempati posisi enam besar di dunia sebagai penghasil emisi karbon terbesar. Tingkat emisi yang dihasilkan mencapai 1,981 miliar ton per tahun.  Emisi karbon juga terus meningkat secara signifikan sejak tahun 1990. Jumlah tertinggi ialah 581 MtCO2 pada tahun 2019. Sektor industri menjadi kontributor paling besar yaitu 37 persen, diikuti sektor transportasi 27 persen, serta pembangkit listrik dan panas 27 persen, meskipun limbah bukanlah menjadi penghasil utama emisi karbon dalam hal ini. Hubungan antara limbah industri dan emisi karbon sangat signifikan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat, dapat membantu mengurangi sumber emisi lainnya yang diharapkan akan berdampak pada pengurangan yang lain. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah Industri Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Baca Juga: Persetujuan Teknis Pengelolaan… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaraan program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan… Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Corporate Social Responsibility Sesuai namanya, Program CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan perusahaan, bisnis, dan organisasi untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan, di samping berfokus pada menghasilkan profit. Aktivitas CSR melibatkan berbagai program dan ide yang dilakukan oleh perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Ada banyak sekali contoh program CSR sebagai dari berbagai perusahaan di Indonesia juga dunia, misalnya sumbangan amal, investasi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, dan juga upaya pengurangan jejak karbon. Di antara banyaknya inisiatif …

Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan

Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan

Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya tidak dapat lagi didaur ulang. Contohnya seperti sampah yang kotor, rusak, dan tercemar. Baca juga artikel lainnya : Urgensi Menciptakan Kesadaran tentang Perubahan Iklim di Masyarakat Apa Itu Waste to Energy? Waste to Energy adalah proses yang dilakukan untuk menghasilkan energi dalam bentuk panas, listrik, atau sumber bahan bakar yang dapat digunakan melalui pengolahan sampah. Waste to Energy adalah solusi inovatif untuk pengelolaan limbah dan produksi energi. Kegiatan ini dapat memainkan peran penting dalam transisi menuju ekonomi sirkular dan rendah karbon. Sebab penumpukan sampah di TPA dapat melepaskan sejumlah emisi metana ke atmosfer. Baca Juga: Mengenal Tingkatan Pengelolaan Sampah yang Tepat Proses waste to energy atau mengubah sampah menjadi energi punya beberapa cara yang berbeda. Prosesnya dibagi ke dalam teknologi termal dan non-termal yang terdiri dari beberapa metode: Limbah padat dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas, yang kemudian digunakan untuk menghasilkan uap. Uap ini dapat menggerakkan turbin untuk memproduksi listrik. Sampah organik dipanaskan dalam kondisi kurang oksigen untuk menghasilkan syngas (synthetic gas) yang terdiri dari hidrogen, karbon monoksida, dan metana. Syngas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik atau sebagai bahan baku untuk produksi bahan kimia. Limbah dipanaskan dalam kondisi bebas oksigen, menghasilkan cairan minyak, gas, dan char. Cairan minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar, sementara gas dan cair dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau untuk aplikasi lainnya. Limbah organik didekomposisi oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen), menghasilkan biogas yang kaya metana. Biogas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik dan panas, atau dimurnikan untuk digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Apa Kelebihan Waste to Energy? Pengelolaan sampah waste to energy tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Aktivitas ini juga membantu menyediakan sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Mengubah sampah menjadi energi berarti membantu manusia mengurangi ketergantungan akan energi fosil. Di satu sisi, sampah yang dihasilkan setiap harinya akan menumpuk jika tidak dikelola dengan tepat. Untuk itu, WtE dapat mengurangi volume sampah hingga 90%, memperpanjang umur TPA dan mengurangi kebutuhan akan lahan baru. Penumpukan sampah di TPA secara terbuka juga dapat menghasilkan gas metana. Pelepasan gas metana berlebih adalah hal yang membahayakan.. Gas metana memiliki potensi pemanasan global sampai dengan 21 kali lebih besar dari karbon dioksida. Mengubah limbah menjadi energi mengurangi emisi metana dari TPA. Apa Kekurangan Waste to Energy? Meski ada banyak manfaat dari penerapan waste to energy, penggunaan metode WtE dalam mengelola sampah di Indonesia bisa dibilang masih sangat baru dan belum optimal. Baru beberapa kota saja yang punya teknologi pengelolaan sampah ini. Pembangunan fasilitas WtE memerlukan investasi yang signifikan, yang bisa menjadi kendala bagi pemerintah atau perusahaan yang ingin mengadopsi teknologi ini. Biayanya cenderung mahal, belum lagi saat operasionalnya berjalan. Meskipun WtE mengurangi volume sampah, proses pembakaran masih menghasilkan emisi, seperti dioksin dan furan, yang perlu dikelola dengan ketat untuk mencegah dampak negatif pada lingkungan. Studi Environmental Protection Agency (EPA) mengidentifikasi dioksida sebagai penyebab berbagai jenis kanker. Diperlukan dana lebih untuk dapat mengendalikan polusi dan emisi beracun dari pembakaran sampah. Pada akhirnya, mengurangi produksi sampah dan melakukan daur sampah adalah hal utama yang perlu dilakukan dalam menangani sampah. Waste to Energy adalah solusi inovatif untuk pengelolaan limbah dan produksi energi. Butuh dukungan lebih untuk menjadikannya aman dan optimal. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim …

3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan

3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan

Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. Berlaku baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum. Selain berfokus menghasilkan keuntungan, perusahaan juga dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaraan program CSR. Menunjukkan kepedulian dan akuntabilitas perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan atau CSR dapat diimplementasikan ke dalam berbagai aktivitas dan tujuan, seperti pengurangan emisi karbon dan sebagainya. Berikut ini adalah lima contoh program CSR yang sekaligus merupakan langkah mendukung kelestarian lingkungan. 1. Program Corporate Social Responsibility: Pengelolaan Limbah dan Daur Ulang Masalah limbah dan pengelolaan sampah masih menjadi salah satu isu lingkungan di Indonesia yang sampai saat berupaya untuk ditangani. Sampah kemasan atau segala produk pasca konsumsi yang dibuang oleh konsumen menjadi satu dari sekian banyaknya sampah atau limbah yang masih sering kali mencemari lingkungan.  Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sekitar 17 persen dari total sampah nasional pada tahun 2021 adalah sampah plastik. Jumlahnya sebanyak 11,6 juta ton sampah, dan sayangnya didominasi oleh sampah kemasan dengan merk dari brand atau produk tertentu. Berkaca dari permasalahan ini, perusahaan dapat mengimplementasikan program daur ulang di kantor atau pabrik mereka, serta mendukung proyek-proyek pengelolaan limbah di komunitas sekitar. Bisnis dan pelaku usaha juga bisa mulai beralih ke kemasan alternatif yang lebih aman bagi lingkungan.  Baca Juga: 4 Types of Corporate Social Responsibility (CSR) Program 2. Program Corporate Social Responsibility: Penggunaan Air dan Energi Bertanggung Jawab  Konsumsi air dan energi memang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, terlebih bagi perusahaan, bisnis, dan pelaku usaha. Sayangnya, konsumsi yang berlebih dan tidak bijak dapat membawa bumi menuju kekeringan. Berdasarkan laporan dari World Water Development PBB, selain sektor pertanian, industri dunia menjadi entitas yang paling banyak melakukan pengambilan air tanah paling besar. Besar penarikan air tentu bergantung pada jenis industri dan kebutuhannya. Belum lagi terkait energi yang digunakan. Oleh karena itu, perusahaan dapat berinisiatif mengimplementasikan teknologi dan praktik yang mengurangi konsumsi air, serta mendukung proyek-proyek untuk meningkatkan akses air bersih di masyarakat. Juga meningkatkan efisiensi energi di fasilitas perusahaan serta mengedukasi karyawan tentang praktik hemat energi. 3. Program Corporate Social Responsibility: Penanaman Pohon  Kegiatan CSR yang satu ini menjadi salah satu contoh kegiatan CSR yang sering kali dilakukan perusahaan dalam berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Melalui menanam pohon, perusahaan dapat membantu menghijaukan alam, mendukung terciptanya udara yang bersih dan sehat, menambah kenyamanan area sekitar, dan masih banyak lagi. Kegiatan ini juga menjadi sebuah langkah keberlanjutan di tengah meningkatnya pembangunan di berbagai wilayah. Perusahaan dapat mengorganisir atau mendukung inisiatif penanaman pohon untuk mengurangi emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, dan mendukung reboisasi.  Untuk menunjukkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan, pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka …

Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility)

Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility)

Corporate Social Responsibility Sesuai namanya, Program CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan sebuah inisiatif yang dilakukan perusahaan, bisnis, dan organisasi untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan, di samping berfokus pada menghasilkan profit. Aktivitas CSR melibatkan berbagai program dan ide yang dilakukan oleh perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Ada banyak sekali contoh program CSR sebagai dari berbagai perusahaan di Indonesia juga dunia, misalnya sumbangan amal, investasi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, dan juga upaya pengurangan jejak karbon. Di antara banyaknya inisiatif hijau yang dilakukan, program CSR yang bertujuan memitigasi iklim masih mewakili presentasi yang sangat kecil. Menurut laporan Climate Works, baru 2 persen saja dana dukungan sosial (CSR, filantropis, sumbangan) yang difokuskan untuk mengatasi perubahan iklim. Padahal, jika dilihat kondisinya saat ini perubahan iklim semakin menjadi sebuah isu lingkungan yang butuh pencegahan dan penanganan sejak dini. Lalu, bagaimana program CSR dapat berkontribusi memitigasi perubahan iklim?  Baca Juga: 4 Types of Corporate Social Responsibility (CSR) Program Bisakah Program Corporate Social Responsibility Mengatasi Perubahan Iklim? Baca juga artikel lainnya : 3 Program CSR Dukung Kelestarian Laut Perubahan iklim adalah salah satu tantangan global terbesar saat ini, dan CSR dapat berperan penting dalam upaya menghadapinya. Program CSR dapat memanfaatkan sumber daya yang dipunya dan pengaruhnya untuk mulai turut serta menggerakkan perubahan iklim. Perusahaan memiliki kekuatan untuk mendorong gerakan aksi iklim dengan berbagai cara. Misalnya seperti menyelenggarakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran karyawan dan masyarakat tentang dampak perubahan iklim. Disertai juga dengan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menguranginya.  Atau memberikan dukungan terhadap pengelolaan air yang berkelanjutan untuk mengurangi penggunaan air, serta mengolah dan mendaur ulang air limbah. Juga mendukung atau berpartisipasi dalam proyek reboisasi untuk menanam pohon di hutan yang terdegradasi, yang membantu menyerap CO2 dan mengurangi efek pemanasan global. Perusahaan juga dapat mengarahkan program CSR untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, seperti program penanaman pohon, proyek energi terbarukan, dan penyediaan teknologi ramah lingkungan untuk komunitas yang membutuhkan.  Tantangan dan Peluang dalam Implementasi Corporate Social Responsibility untuk Mitigasi Perubahan Iklim Tidak bisa dipungkiri, bahwa upaya mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam inisiatif CSR membawa tantang dan peluang yang cukup signifikan bagi perusahaan. Selain memerlukan inisiatif yang diharapkan efektif, perusahaan juga perlu mengeluarkan investasi yang besar, utamanya untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan dan menerapkan praktik berkelanjutan. Belum lagi dengan kebutuhan akan sumber daya yang beragam, bisa menjadi beban terutama bagi pelaku usaha skala kecil dan menengah. Perusahaan harus menavigasi regulasi yang sering berubah terkait dengan perubahan iklim dan keberlanjutan, yang dapat menimbulkan tantangan dalam perencanaan jangka panjang.   Meski begitu, perusahaan yang aktif dalam CSR terkait perubahan iklim dapat membangun reputasi yang kuat sebagai pemimpin dalam keberlanjutan. Hal ini dapat menarik pelanggan yang peduli lingkungan dan meningkatkan loyalitas merek. Banyak investor yang juga kini lebih memilih perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Dari hal ini, inisiatif CSR yang terkait dengan perubahan iklim dapat meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor. Contoh Inisiatif Hijau dalam Program Corporate Social Responsibility Perusahaan Bosch merupakan salah satu yang punya program CSR untuk tujuan iklim.  Diketahui bahwa mereka menetapkan sendiri tujuan ambisius untuk melindungi lingkungan, dengan tujuan mengurangi jejak ekologis mereka melalui aksi iklim, penggunaan air, dan ekonomi sirkular. Targetnya adalah mengurangi emisi hulu (barang dan jasa yang dibeli) dan hilir (penggunaan produk) sebesar 15% pada tahun 2030 Namun, Anda sebagai pelaku usaha, bisnis, perusahaan juga dapat turut serta dalam upaya keberlanjutan. Salah satunya dengan melakukan pengukuran dan pemantauan emisi karbon secara teratur serta melaporkannya secara transparan kepada publik untuk dapat membantu perusahaan memahami dampak lingkungan dari operasinya dan menetapkan target-target pengurangan emisi. Agar kegiatan pengukuran dan analisa emisi gas rumah kaca dapat dikerjakan secara lebih efektif, lakukan semua prosesnya bersama Satuplatform! Satuplatform merupakan platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku.  Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang!  Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu …

Fenomena Polar Vortex: Apa yang Terjadi saat Suhu Dingin Ekstrim Melanda?

Fenomena Polar Vortex: Apa yang Terjadi saat Suhu Dingin Ekstrim Melanda?

Polar Vortex – Selain peningkatan suhu rata-rata global, masyarakat dunia sepertinya juga perlu waspada terhadap fenomena cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan musim dingin menjadi lebih dingin dari biasanya. Sebab, suhu dingin ekstrem belakangan ini tidak hanya dialami oleh wilayah dengan salju abadi, seperti Antartika dan sekitarnya. Beberapa kota di dunia juga turut dilanda gelombang dingin yang dapat membekukan dan membuat siang hari berlangsung lebih cepat. Salah satunya suhu dingin yang melanda Swedia dan Finlandia. Dilansir dari Deutsche Welle, Institut Meteorologi dan Hidrologi Swedia telah mencatatkan suhu terdingin di musim dinginnya selama dua hari berturut-turut. Pada bulan Maret lalu, tercatat suhu udara di sana anjlok hingga lebih dari minus 40 derajat Celcius. Ini adalah level terendah yang pernah dicatat sejak tahun 1999. Sementara di Finlandia, suhu dingin juga terus turun mencapai minus 30 derajat Celcius. Dialami oleh banyak wilayah di negara tersebut. Kedua kondisi tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat juga mengganggu transportasi setempat, termasuk lalu lintas kendaraan antar negara-negara Nordik. Baca juga artikel lainnya : 5 Kota dengan Musim Dingin Paling Esktrem di Dunia Meskipun bumi mengalami pemanasan global, ilmuwan menyampaikan bahwa musim dingin dengan suhu yang ekstrem tetap mungkin akan terjadi. Dinamika cuaca, atmosfer dan laut yang kompleks merupakan faktor-faktor yang mendukung terjadinya kondisi ini. Gangguan pada polar vortex adalah salah satunya. Apa Itu Fenomena Polar Vortex? Menurut Biro Prakiraan Cuaca Amerika Serikat, Polar Vortex yang berarti “Pusaran Kutub” adalah aliran udara bertekanan rendah yang sangat dingin yang biasanya terkonsentrasi di sekitar kutub. Pusaran ini selalu ada di dekat kutub, namun dapat melemah dan menguat tergantung musim yang terjadi. Polar vortex bergerak berlawanan arah jarum jam, membantu menjaga udara dingin tetap berada di dekat kutub. Akan tetapi, pusarannya terkadang dapat meluas keluar dari area yang seharusnya. Terjadinya pemanasan Arktik yang lebih cepat atau disebut juga “Arctic Amplification” dapat melemahkan polar vortex. Kondisi ini akan menyebabkan udara dingin yang biasanya berada di kutub menyebar ke selatan, membawa cuaca dingin yang ekstrem ke wilayah yang lebih rendah, termasuk Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Baca Juga: Cuaca Panas Landa Sumatera, Apa Penyebabnya? Bagaimana Polar Vortex Mempengaruhi Cuaca? Badan Iklim Amerika Serikat menyebut bahwa polar vortex atau pusaran kutub tidak selalu mempengaruhi cuaca musim dingin di garis lintang tengah. Akan tetapi, jika hal itu terjadi, efeknya bisa ekstrem. Dalam kondisi normal, polar vortex tetap terkurung di sekitar kutub oleh arus udara yang dikenal sebagai jet stream – aliran udara cepat di atmosfer yang memisahkan massa udara hangat dan dingin. Jet stream ini mengelilingi polar vortex dan menjaga udara dingin tetap terkonsentrasi di daerah kutub. Maka ketika jet stream melemah akibat pemanasan global, pola aliran udara menjadi lebih berombak, memungkinkan massa udara dingin dari kutub untuk merambah ke wilayah yang biasanya lebih hangat selama musim dingin. Dari kondisi tersebut, jet stream pun ikut berperan besar dalam cuaca musim dingin yang dialami negara-negara di garis lintang tengah. Kapan Fenomena Polar Vortex Pernah Terjadi? Salah satu contoh terkenal dari pelemahan polar vortex adalah peristiwa pada musim dingin 2013-2014 di Amerika Utara.  Pada saat itu, gelombang dingin yang parah melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat, menyebabkan suhu yang sangat rendah dan badai salju yang dahsyat dalam 20 tahun terakhir. Menimbulkan gangguan yang cukup masif dan berdampak bagi masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Dilansir dari VOA Indonesia, akibat cuaca yang sangat dingin, sekolah, kantor, hingga bisnis pun terpaksa tutup. Setidaknya 20 orang tewas karena suhu dingin se-Amerika itu. Pakar kesehatan pun menganjurkan orang-orang untuk tidak berada di luar ruangan lebih dari 20 menit untuk menghindari terjadinya frostbite yang membahayakan. Apa Saja Dampak dari Polar Vortex? Pelemahan polar vortex atau pusaran kutub sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem. Dalam hal tersebut kondisinya termasuk gelombang dingin yang parah, badai salju, dan suhu yang sangat rendah di wilayah yang biasanya tidak terkena dampak dingin ekstrem. Peristiwa ini juga dapat menyebabkan musim dingin yang lebih panjang dan intens di wilayah tertentu. Meski begitu, polar vortex tidak memiliki dampak yang sama di wilayah lainnya. VOA Indonesia menyampaikan, jika pusaran udara bergerak menyebar ke wilayah di luar kutub, maka udara dingin yang seharusnya tersimpan di sana menjadi semakin terkikis dan habis. Menyebabkan iklim setempat menjadi lebih hangat. /*! elementor – v3.23.0 – 05-08-2024 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru …

5 Kota dengan Musim Dingin Paling Ekstrem di Dunia

5 Kota dengan Musim Dingin Paling Ekstrem di Dunia

Negara-negara beriklim tropis, salah satunya Indonesia, tentu akan jarang dan mungkin hampir tidak pernah punya pengalaman dengan musim dingin yang suhu udaranya bisa menyentuh di bawah Nol derajat Celcius. Sebaliknya, suhu di sini bisa sangat panas mengingat paparan sinar mataharinya melimpah sepanjang tahun. Peningkatan suhu global sampai dengan musim dingin yang sangat ekstrem telah menjadi fenomena cuaca yang sering terjadi belakangan ini. Baca juga artikel lainnya : Kemitraan Bisnis yang Berkelanjutan: Menghadapi Tantangan dan Peluang di Era Globalisasi Perubahan iklim mengubah sistem iklim bumi. Selain kenaikan suhu, musim dingin ekstrem di beberapa wilayah adalah salah satu aspeknya. Salah satu tempat paling dingin di Bumi ialah Dataran Tinggi Antartika Timur. Dilansir dari Study International, rekor suhu terdingin yang pernah tercatat adalah minus 93.2 derajat Celcius. Sangat tidak memungkinkan untuk dihuni manusia. Sama seperti kenaikan suhu global, para ilmuwan juga mulai memperhatikan bagaimana suhu dingin terus meningkat ekstrem. Kondisinya bahkan meluas sampai menghampiri tempat-tempat di luar Antartika dengan cuaca dan suhu dingin yang sangat ekstrem. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini adalah lima kota di dunia yang mengalami musim dingin paling ekstrem. 1. Yakutsk, Rusia Salah satu kota dengan musim dingin paling dingin di dunia adalah Kota Yakutsk, Rusia. Rekor suhu terdingin yang pernah tercatat di sini mencapai minus 64,4 derajat Celcius. Kota Yakutsk terletak di Siberia Timur. Rata-rata suhu musim dinginnya berada pada minus 20 derajat Celcius sedangkan suhu hangatnya adalah 24 derajat Celcius. Cuaca dingin dapat terjadi selama hampir tujuh bulan dengan suhu di bawah titik beku biasanya berlangsung dari Desember hingga Januari. Dengan suhu dingin ekstrem yang terjadi, kehidupan pun menjadi lebih sulit di sini sehingga para penduduk perlu untuk beradaptasi dan menyesuaikan aktivitas mereka. Misalnya dalam hal berdagang di mana ikan-ikan dijual dalam keadaan beku, termasuk juga sayuran dan bahan pokok lainnya.  Kemudian, para penduduk juga perlu menyimpan mobil menggunakan selimut penghangat khusus serta penggunaan pakaian-pakaian tebal untuk menjaga diri tetap hangat. 2. Barrow (Utqiagvik), Alaska, AS Kota lainnya yang memiliki musim dingin ekstrem adalah Kota Barrow di State Alaska, Amerika Serikat. Di sini, suhu terendah yang pernah tercatat mencapai minus 45 derajat Celcius.  Untuk suhu rata-rata tahunan pada musim dingin di Barrow adalah sekitar minus 12 derajat Celcius. Bulan Februari menjadi bulan yang paling dingin di sana. Siapa pun perlu mengenakan pakaian hangat agar terhindar dari hipotermia saat beraktivitas di luar. Barrow adalah kota paling utara di Amerika Serikat yang juga mengalami polar night. Polar Night merupakan fenomena berupa matahari tidak terbit selama sekitar 65 hari pada musim dingin. 3. Yellowknife, Kanada Kota Yellowknife, Kanada, memiliki kondisi musim dingin yang cukup keras, dengan suhu terendah yang pernah tercatat adalah sekitar minus 51 derajat Celcius, sebagaimana dilansir dari artikel Daan Van Den Broek.  Pada siang hari, suhu di sini tetap jauh di bawah minus 20 derajat Celcius. Berlanjut ke malam, suhunya akan semakin menurun mencapai minus 30 derajat Celcius. Januari menjadi bulan terdingin di Yellowknife. Melihat kondisinya, kota yang terletak di tepi Danau Great Slave ini hanya akan disinari cahaya matahari kurang dari 5 jam selama musim dingin. Meski begitu, Yellowknife dikenal dengan aurora borealis yang sering terlihat selama musim dingin yang panjang dan gelap. 4. Harbin, China Salah satu kota di benua Asia, Harbin, yang terletak di provinsi paling utara Heilongjiang, China, pernah mencatatkan suhu terendah selama musim dingin yaitu minus 37.7 derajat Celcius. Suhu rata-rata tahunan pada musim dingin di sini biasanya adalah sekitar 5.9 derajat Celcius. Bulan Januari menjadi bulan terdingin sepanjang tahun di Harbin.  Selama musim dingin, Kota Harbin menyelenggarakan Festival Es dan Salju Internasional untuk menarik perhatian wisatawan dengan keindahan kotanya. Pameran seni juga menjadi sebuah kesempatan untuk memamerkan kemampuan kota dalam mengubah musim dingin yang keras menjadi perayaan kreativitas dan budaya. 5. Ulaanbaatar, Mongolia Kota Ulaanbaatar yang merupakan ibukota dari Mongolia pernah mengalami suhu di bawah minus 40 derajat Celcius pada musim dingin.  Mongolia beriklim tinggi, dingin, dan kering, terletak di ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata di sebagian besar wilayah Mongolia akan berada di bawah titik beku pada bulan November hingga Maret  Suhu rata-rata tahunan pada musim dingin adalah minus 20 derajat Celcius, turun menjadi minus 40 derajat Celcius pada malam hari. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Apa Saja yang Termasuk Limbah Industri? Limbah… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain …

Cuaca Panas Landa Sumatera, Apa Penyebabnya?

Cuaca Panas Landa Sumatera, Apa Penyebabnya?

Cuaca panas ekstrem melanda pulau Sumatera, khususnya Kota Medan, Sumatera Utara, pada beberapa waktu lalu. Suhunya melebihi suhu rata-rata tahunan yang biasanya berada pada 27 derajat Celcius. Menurut data pengamatan temperatur di beberapa stasiun BMKG, tercatat suhu udara maksimum mencapai 36.2 derajat Celcius pada Maret 2024. Suhu udara kembali meningkat cukup tajam, menyentuh 38 derajat Celcius pada Juli 2024, sebagaimana dilaporkan oleh Sumatra Bisnis. Baca Juga: 3 Tragedi Akibat Gelombang Panas Ekstrem Sebelumnya, beberapa kota dan daerah di benua Asia juga turut mengalami kondisi panas ekstrem dan menyengat. Kondisi ini sampai-sampai menghambat aktivitas masyarakat dan membuat pemerintahan berbagai negara mengeluarkan himbauan dan aturan untuk masyarakat berhati-hati ketika berkegiatan di luar ruangan. Panas ekstrem yang terjadi merupakan akibat dari beberapa faktor yang saling terkait, terutama terkait dengan perubahan iklim global. Mulai dari perubahan pola cuaca, efek pulau panas perkotaan, hingga maraknya deforestasi dan penggundulan hutan, yang berkontribusi pada peningkatan suhu regional. Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Pulau Sumatera Baca juga artikel lainnya : Pemanasan Global dan Suhu Dingin Ekstrim: Memahami Keterkaitannya Selain Sumatera Utara, Provinsi Riau, Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Barat juga dikabarkan mengalami peningkatan suhu panas. Ditemukan adanya sejumlah titik panas yang tersebar di banyak tempat. Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan analisa yang dilakukan BBMKG, terjadinya cuaca panas ekstrem di Pulau Sumatera disebabkan oleh hembusan angin baratan yang cukup kuat dan bersifat divergen (menyebar). Menyulitkan pertumbuhan awan di wilayah tersebut. Kelembaban udara pun tercatat rendah, membuat kandungan uap air cukup kecil. Kondisi ini mengakibatkan suhu siang hari terasa sangat panas. Diperkirakan, hanya beberapa daerah saja yang tidak berada pada situasi tidak ada hujan hingga hanya berpotensi hujan ringan. Ancaman dari Cuaca Panas Ekstrem  Terjadinya panas menyengat dan suhu udara tinggi tentu menimbulkan ancaman yang dapat berdampak bagi banyak hal, termasuk sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu potensi bencana alam yang sangat mungkin dapat terjadi. Panas ekstrem menciptakan kondisi yang ideal untuk terjadinya kebakaran hutan, terlebih ketika dikombinasikan dengan kekeringan berkepanjangan. Seperti karhutla yang melanda sekitar 2 hektar lahan gambut di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau. Dilansir dari MetroTV News, Komandan Manggala Agni Daops Pekanbaru, Chaerul Parsaulian Ginting mengatakan bahwa kebakaran diduga terjadi akibat cuaca panas yang telah berlangsung selama sepekan. Sebab dijumpai adanya puluhan titik panas di Provinsi Riau. Belum lagi ratusan titik panas atau hotspot lainnya yang muncul di Sumatera. Kebakaran hutan dapat menghancurkan lahan pertanian, merusak tanaman, dan membunuh hewan ternak. Ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya sumber pangan, tetapi juga menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi petani dan industri pertanian. Kebakaran hutan dan lahan yang meluas dan terjadi dalam waktu lama dapat menimbulkan kabut asap yang mengganggu pandangan dan aktivitas. Menghambat kegiatan, salah satunya kegiatan pariwisata. Tidak hanya itu, cuaca panas ekstrem juga dapat mengancam kesehatan masyarakat. Berada di bawah suhu udara yang tinggi bisa menyebabkan dehidrasi, sakit kepala, kepanasan, iritasi kulit akibat matahari, hingga heat stroke. Similar Article 5 Istilah Penting yang Berkaitan dengan Perubahan Iklim Isu terkait perubahan iklim semakin menjadi pembahasan yang ramai diperbincangkan saat ini. Di seluruh dunia, masyarakat lintas generasi mulai menunjukkan ketertarikannya akan informasi tentang perubahan iklim. Hasil survei People’s Climate Vote 2024 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen populasi dunia telah menaruh perhatian mereka pada isu ini. Sementara itu, 63 persen pengisi survei sudah mulai mempertimbangkan dampak perubahan iklim terhadap keputusan yang mereka buat. Melalui kondisi ini, bisa digambarkan bahwa perubahan iklim semakin memberikan pengaruhnya terhadap orang-orang di berbagai belahan dunia. Mengganggu mereka dengan beragam cara. Perubahan iklim tidak lagi sebatas konteks khusus bagi beberapa kalangan. Istilah ini perlu diumumkan lebih… Keuntungan Berlangganan Jasa Perhitungan Jejak Karbon bagi Perusahaan di Masa Kini Jejak karbon merupakan sejumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang lepas ke atmosfer dan bersumber dari berbagai kegiatan tertentu. Konsentrasi emisi karbon antropogenik atau yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah sumber yang paling dominan dalam menimbulkan dampak bagi lingkungan. Salah satunya berasal dari sektor industri yang disebut sebagai kontributor utama emisi karbon global.  Menurut laporan emisi CO2 tahun 2022 oleh IEA, emisi karbon dioksida global dari pembakaran energi dan proses industri telah mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni sebesar 36,8 Gt pada 2022. Meskipun produksi emisi karbon dari industri sempat menyusut 5 persen pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19, akan… Pengertian Industri Hijau: Tujuan, Manfaat, dan Contohnya Penerapan industri hijau di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim selayaknya angin segar yang memberikan kesejukan dalam upaya keberlanjutan. Sektor industri sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) global seringkali didorong untuk dapat berkontribusi dalam langkah pengurangan emisi karbon atau dekarbonisasi. Maka dari itu, industri hijau sebagai bagian dari bisnis berkelanjutan dapat menjadi opsi yang bisa dipilih perusahaan dan entitas komersial lainnya dalam mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan keberlanjutan. Namun, apa itu industri hijau beserta tujuan, keuntungan, dan contohnya? Apa Itu Industri Hijau? Dilansir dari Tirto ID, menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI), pengertian industri hijau adalah… Bagaimana Cara Tepat Memilih Carbon Accounting Software untuk Industri? Carbon Accounting – Seiring dengan meningkatnya sustainability awareness di berbagai kalangan, banyak pihak mulai turut serta menerapkan praktik-praktik kebelanjutan melalui berbagai cara.  Peningkatan dampak perubahan iklim seakan menjadi ‘alarm’ yang mendorong masyarakat untuk bergabung dalam upaya mitigasi iklim. Utamanya dari sektor industri sebagai salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) global. Kegiatan industri diketahui menyumbang paling banyak emisi karbon ke atmosfer. Di Indonesia saja, sekitar 70 persen penyumbang emisi karbon adalah industri, sehingga sektor ini diharapkan mampu terlibat untuk mengurangi emisi karbon dan membantu mencapai Net Zero Emission yang direncanakan. Oleh karena itu, untuk dapat berkontribusi dalam upaya… Memahami Istilah Global Stocktake dalam Aksi Iklim Internasional Di berbagai belahan dunia, negara-negara terus berlomba mencapai ambisi iklim sebagai respons terhadap peningkatan dampak perubahan iklim sekaligus komitmen sesuai kesepakatan Paris. Perjanjian Paris menjadi poin penting dalam kebijakan iklim internasional yang mendorong banyak pemerintahan berkontribusi memitigasi kondisi iklim melalui masing-masing rencana aksi iklim. Untuk dapat memastikan setiap rencana dan target terpenuhi sesuai yang disepakati, perlu adanya evaluasi dan pencatatan yang disebut juga sebagai Global Stocktake dalam Perjanjian Paris. Menurut Grantham Research Institute on Climate Change, …

Pemanasan Global dan Suhu Dingin Ekstrem: Memahami Keterkaitannya

Pemanasan Global dan Suhu Dingin Ekstrem: Memahami Keterkaitannya

Suhu Dingin Ekstrem dan Pemanasan Global Pernahkah terpikir dalam benakmu tentang bagaimana suatu wilayah dilanda suhu dingin yang ekstrem di saat bumi sedang mengalami peningkatan suhu atau pemanasan global? Sering kali kita dengar bahwa suhu rata-rata bumi kian meningkat dan menimbulkan sengatan panas yang sangat tinggi. Kondisinya cukup mengganggu manusia dalam beraktivitas, terutama bagi mereka di wilayah tertentu seperti negara tropis. Sementara itu, suhu dingin ekstrem belakangan ini juga terus melanda kota-kota di banyak negara. Beberapa di antaranya bahkan hampir mencapai minus 30 derajat Celcius yang disertai dengan waktu siang hari yang lebih pendek dibandingkan malam. Sebagaimana musim dingin dengan suhu dingin ekstrem yang melanda Swedia, Finlandia, juga wilayah di Amerika Utara. Ada beberapa alasan mengapa bumi menghangat tetapi musim dingin di beberapa wilayah menjadi semakin dingin. Perubahan iklim tidak hanya mencakup pemanasan global, tetapi juga mencakup berbagai perubahan lain yang terjadi di iklim bumi. Salah satunya pendinginan di beberapa area meskipun bumi secara keseluruhan mengalami pemanasan. Fenomena ini dikenal sebagai “paradoks musim dingin” dan terjadi karena kompleksitas perubahan iklim global. Mari kita ketahui lebih lanjut. Apa Itu Paradoks Musim Dingin atau Musim Dingin Ekstrem? Paradoks musim dingin mengacu pada fenomena yang tampaknya bertentangan dengan pemahaman umum tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu yang ramai adalah tentang bagaimana musim dingin menjadi lebih dingin di tengah pemanasan global. Baca juga artikel lainnya : Mampukah Kegiatan Menanam Pohon Membantu Melawan Pemanasan Global? Sebab, menurut Copernicus Climate Change Services, bulan Februari 2024 disebut merupakan Februari terhangat yang pernah tercatat secara global. Namun, Amerika Utara, Asia, dan sebagian Eropa justru mengalami suhu dingin yang memecahkan rekor bahkan mengancam jiwa. Kondisi yang menimbulkan pertanyaan. Berdasarkan sumber referensi berjudul “Paradox of Extreme Cold Events in A Warming World” di situs Science Daily, situasi paradoks ini digambarkan oleh fenomena Warm Arctic-Cold Continent (WACC) atau Arktik Hangat-Benua Dingin, di mana suhu Arktik yang hangat dapat menyebabkan menurunnya es laut dan hembusan angin di sejumlah wilayah lintang tengah tertentu. Bagaimana Suatu Wilayah Mengalami Suhu Dingin Ekstrem? Mengutip penjelasan dari artikel terbitan The Conversation, suhu dingin ekstrem dapat terjadi saat Jet stream kutub turun jauh ke selatan, membawa udara dingin Arktik ke wilayah yang jarang mengalaminya. Kondisi ini turut disebabkan oleh gangguan dalam pola cuaca global, seperti pelemahan Polar Vortex dan Jet Stream, yang dapat menyebabkan udara dingin dari Kutub Utara menyebar luas. Dalam kondisi normal, polar vortex harusnya tetap terkurung di sekitar kutub oleh arus udara yang dikenal sebagai jet stream – aliran udara cepat di atmosfer yang memisahkan massa udara hangat dan dingin. Jet stream ini mengelilingi polar vortex dan menjaga udara dingin tetap terkonsentrasi di daerah kutub. Perlu diketahui bahwa Polar Vortex yang berarti “Pusaran Kutub” adalah aliran udara bertekanan rendah yang sangat dingin yang biasanya terkonsentrasi di sekitar kutub. Pusaran ini selalu ada di dekat kutub, namun dapat melemah dan menguat tergantung pada musim yang terjadi.  Baca Juga: 5 Fakta Gas Metana Sebagai Kontributor Pemanasan Global Apa Faktor Pendukung Suhu Dingin Ekstrem? The Conversation menjelaskan bahwa peristiwa ini sering terjadi bersamaan dengan perubahan aliran udara lain yang bahkan lebih tinggi di atas aliran jet, yaitu stratospheric polar vortex atau pusaran stratosfer.  Jika pusaran stratosfer ini terganggu atau meregang , ia dapat pula mendistorsi aliran jet, mendorongnya ke selatan di beberapa area dan menyebabkan hembusan udara dingin. Selain itu, La Niña dan El Nino, dua fenomena iklim di Samudra Pasifik, juga dapat mempengaruhi pola cuaca global. La Niña, misalnya, dapat menyebabkan musim dingin yang lebih dingin di beberapa bagian Amerika Utara. Meskipun Bumi sedang mengalami pemanasan global, dinamika cuaca dan iklim yang kompleks dapat menyebabkan fenomena seperti musim dingin yang lebih ekstrem di beberapa wilayah. Similar Article ESG: Definisi, Implementasi, dan Pentingnya dalam Bisnis Dalam era di mana kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat, istilah ESG (Environmental, Social, Governance) semakin sering kita dengar. Namun, apa sebenarnya ESG itu? Dan mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia bisnis saat ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ESG, mulai dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam dunia bisnis. Apa Itu ESG? ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, dan Governance. Konsep ini mengacu pada sebuah kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan. Tidak hanya menjadi tren, namun telah menjadi standar baru dalam dunia bisnis yang menggabungkan profitabilitas dengan keberlanjutan. Environmental (Lingkungan): Meliputi kebijakan… Pengelolaan Limbah Industri: Upaya Mengurangi Emisi Karbon Limbah Industri Limbah industri menjadi satu dari sekian jenis limbah yang bisa berupa bahan padat, cair, juga gas. Limbah industri juga mencakup bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3. Seluruhnya memerlukan pengelolaan yang tepat dan aman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 81,87 juta ton limbah B3 dari berbagai sektor. Pertambangan, energi, minyak dan gas, industri manufaktur, agroindustri, sampai dengan medis. Berbeda dari limbah rumah tangga, limbah industri punya karakteristik yang cukup berbeda. Pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan aman sebab beberapa material bisa membahayakan jika mencemari lingkungan dan terkontaminasi manusia. Baca Juga: Persetujuan Teknis Pengelolaan… Waste to Energy : Kelebihan dan Kekurangan Mengubah sampah menjadi energi atau dikenal juga dengan Waste to Energy (WtE) merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Kita tahu bahwa sampah, limbah, dan segala barang sisa penggunaan dari aktivitas manusia seringkali dianggap sebagai produk ‘habis’ yang tidak lagi dibutuhkan. Dibuang begitu saja, masih jarang dipilah, sampai pada akhirnya saling bercampur di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Kondisi ini menjadikan sampah tercemar satu sama lain. Jika kegiatan daur ulang berfungsi untuk mengolah kembali suatu material berharga menjadi produk baru lainnya, kegiatan mengolah sampah menjadi energi adalah pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengolah material yang berdasarkan kondisinya… 3 Contoh Program Corporate Social Responsibility untuk Dukung Kelestarian Lingkungan Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang tidak asing. Ini menjadi sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.  Baca juga artikel lainnya : Memitigasi Perubahan Iklim Melalui Program CSR (Corporate Social Responsibility) Menurut situs Hukum Online, kegiatan CSR menunjukkan komitmen pelaku usaha, bisnis, dan organisasi untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang …