Tepatkah Bergantung pada Carbon Capture & Storage untuk Kurangi Emisi Karbon?

Tepatkah Bergantung pada Carbon Capture & Storage untuk Kurangi Emisi Karbon?

Carbon capture and storage (CCS) merupakan teknologi yang dirancang untuk menangkap, mengangkut, dan menyimpan CO2 secara permanen di dalam tanah dari sumber-sumber besar seperti pembangkit listrik dan pabrik industri. Baca Juga: Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG) CCS menjadi inovasi yang penting dalam upaya mencegah penambahan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Karbon atau CO2 yang berhasil diangkut dan disimpan dengan aman di bawah tanah diyakini dapat dimanfaatkan untuk tujuan lain yang lebih bermanfaat. Sesuai namanya, carbon capture and storage (CCS) membantu pengurangan emisi CO2 dengan menangkap dan menyimpannya di tempat lain. Namun, apakah teknologi CCS dapat menjadi solusi tepat dalam hal mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim? Baca Juga: Carbon Capture and Storage For Mitigating the Climate Change Dapatkah dunia bergantung pada inovasi ini? Mari simak penjelasannya! Manfaat Carbon Capture and Storage Menurut seorang peneliti senior di The Center on Clobal Energy Policy di Universitas Columbia, teknologi CCS disebut telah menangkap dan menyimpan lebih dari 30 juta ton CO2 secara global sampai saat ini. Terhitung sejak pertama kali diterapkan pada 1938.  Terciptanya teknologi ini tentu dibarengi dengan tujuan yang diharapkan dapat memberikan manfaat tertentu. Sepanjang perjalanannya, CCS telah memberikan keuntungan bagi lingkungan dan perusahaan, di antaranya: a. Mereduksi Emisi Berdasarkan data oleh Our World in Data, per tahun 2022 terdapat sekitar 37,15 miliar ton emisi CO2e tahunan yang dihasilkan dari bahan bakar fosil dan industri. Angka tersebut terus meningkat pesat terhitung sejak terjadinya Revolusi Industri. Teknologi CCS memiliki tujuan utama untuk membantu mengurangi jumlah CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dari sumber-sumber besar emisi, salah satunya adalah kegiatan industri. Dengan mereduksi emisi, diharapkan dapat membantu mengatasi dampak perubahan iklim.  b. Pemanfaatan Sumber Daya Lokasi penyimpanan CO2 yang digunakan biasanya juga dapat digunakan untuk menyimpan dan mengekstraksi minyak atau gas tambahan, menciptakan manfaat ekonomi tambahan. Melalui fasilitas CCS, perusahaan-perusahaan dapat memanfaatkan enhanced oil recovery, dimana CO2 yang disuntikkan langsung ke dalam cadangan minyak membantu memudahkan ekstraksi minyak. c. Memperpanjang Waktu Transisi Energi Dalam skenario pembangunan berkelanjutan dan transisi energi bersih, The International Energy Agency menyatakan bahwa CCS berperan menyumbang hampir 15 persen dari pengurangan emisi kumulatif.  CCS dapat menjadi solusi sementara untuk mengurangi emisi sambil industri dan masyarakat bertransisi ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.  Saat ini, terdapat lebih dari 43 fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon komersial berskala besar di seluruh dunia. Dengan terus berkembangnya CCS menuju perbaikan, pengurangan emisi diharapkan juga akan meningkat dalam tahun-tahun yang akan datang. Tantangan Penerapan Carbon Capture and Storage Meskipun penerapan CCS secara global diyakini dapat berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, namun terdapat beberapa tantangan yang ditemui untuk memaksimalkan potensinya. a. Biaya yang Tinggi Salah satu hambatan terbesar dalam penerapan teknologi CCS secara luas ialah biaya yang tinggi. Implementasi CCS membutuhkan investasi yang besar, terutama dalam infrastruktur penangkapan, transportasi, dan penyimpanan CO2.  Oleh karena penerapan CCS masih dalam tahap awal, keuntungan finansial dari proyek CCS lebih berisiko dibandingkan operasi normal. Akibatnya, investor mengenakan premi risiko yang lebih tinggi (jumlah minimum pengembalian yang diharapkan untuk menarik investasi), yang selanjutnya meningkatkan biaya investasi swasta. b. Kesiapan Infrastruktur Selain tingginya biaya teknologi penangkapan, kesiapan infrastruktur dalam hal pengangkutan dan penyimpanan CO2 juga perlu dipertanyakan.  Agar dapat membawa CO₂ yang terkondensasi dan bertekanan tinggi dengan aman, saluran pipa harus dirancang khusus. Hal ini untuk memastikan tidak ada risiko kebocoran atau munculnya dampak negatif pada lingkungan. c. Ketersediaan Regulasi Diperlukan kerangka regulasi yang kuat untuk mengatur dan mengawasi implementasi CCS, termasuk masalah izin dan tanggung jawab.  Di Eropa sendiri, pemerintah setempat menetapkan kerangka hukum untuk penyimpanan geologis CO2 yang aman bagi lingkungan. Perusahaan perlu memastikan bahwa transportasi dan penyimpanan CO2 dilakukan dengan metode yang tepat. Jika terjadi kebocoran, terdapat tunjangan yang perlu dibayarkan sebagai bagian dari tanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Lalu tepatkan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) sepenuhnya menjadi solusi mengurangi emisi gas rumah kaca? Meskipun dapat mencegah produksi emisi CO2 lepas ke atmosfer, CCS tidak akan pernah menjadi solusi tanpa emisi. Sebab sumber-sumber penghasil emisi masih akan terus memproduksi emisinya. Oleh karena itu, penting untuk diingat bahwa mengurangi emisi karbon secara menyeluruh memerlukan pendekatan holistik yang mencakup pengurangan emisi primer. Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya seperti mengadopsi energi bersih dan menciptakan teknologi ramah lingkungan.  CCS masih tetap menjadi bagian penting dari portfolio solusi untuk mengatasi emisi karbon, utamanya bagi industri dan sektor yang sulit beralih ke sumber energi bersih secara langsung. Akan tetapi, perlu menjadi perhatian bahwa CCS tidak akan menghadirkan persepsi soal CCS memberikan izin bagi perusahaan dan pihak lainnya untuk memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil dan terus memproduksi emisi. Industri dan entitas penghasil emisi dapat berkontribusi dalam upaya memitigasi perubahan iklim dengan melakukan pengukuran emisi yang dihasilkan dan menciptakan solusi dari data-data tersebut. Miliki pencatatan dan pelacakan yang layak dan komprehensif dengan memanfaatkan platform all-in-one dari Satuplatform. Dapatkan DEMO GRATIS nya di sini! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 5 Daerah di Indonesia dengan Deforestasi Terparah Tahun 2023 Deforestasi menjadi satu dari sekian masalah terkait lingkungan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius. Sebab berdasarkan data terbaru, luas hutan alam di Indonesia terus mengalami penyusutan setiap tahunnya dan mengancam keberlangsungan ekosistem. Dikutip dari data perhitungan Deforestasi Indonesia 2023 oleh Auriga Nusantara, sepanjang tahun 2023, Indonesia telah mengalami kehilangan wilayah hutan seluas 257.384 ha.  Angka deforestasi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni tahun 2022, di mana ada sekitar 230.760 ha luas hutan alam Indonesia yang hilang. Indonesia yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia karena memiliki wilayah hutan yang begitu luas, perlu merasa khawatir dan waspada akan dampak… 3 Perkembangan Teknologi terkait Iklim di Asia Berbagai inovasi teknologi terus dikembangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan efisiensi energi, dan memperkuat adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.  Teknologi memainkan peran penting dan membuka jalan bagi masa depan bumi yang berkelanjutan. Dunia bahkan terus berlomba-lomba dalam menciptakan solusi ramah lingkungan untuk mengatasi krisis iklim yang semakin melanda. Berdasarkan informasi dari Earth, berikut adalah tiga perkembangan teknologi terkait iklim di Asia. 1. Perdagangan Kredit Karbon Penerapan perdagangan …

Sejauh Mana Upaya Indonesia Melawan Krisis Perubahan Iklim?

Building A Greener Tomorrow through Net Zero Emission

In the midst of global warming and climate change, the effort of achieving Net Zero Emission has emerged as a response to the growing recognition of the urgent need to mitigate climate change. Net Zero Emission refers to the condition where the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere and the amount removed from it are balanced. This condition is essential for stabilising global temperatures and mitigating the impacts of climate change. Here, we will go through what are the pathways and commitment to build a greener tomorrow by dealing with emissions: Pathway to Achieve Net Zero Emission For the world to achieve net zero, be aligned with the Paris Agreement goals that limit emission no higher than 2 degrees celsius, here are some common strategies to contribute for the success of this movement:  A gradual transition to the use of renewable energy sources is an effective strategy to achieve net zero. This effort involved some collaborations across all sectors, including energy, transportation, industry, agriculture, buildings, and so on.  Increasing energy efficiency in buildings, appliances, and industrial processes can reduce energy consumption and associated emissions. This includes implementing energy-efficient building codes, retrofitting existing buildings, and promoting energy-efficient technologies and practices. Circular economy is a concept where products and materials are reused, repaired, remanufactured, and recycled to create a closed-loop system, so that it will reduce the need for extracting new resources and minimizing environmental impact.  A transition to a circular economy can help effectively in reducing the emissions since it is oriented in reducing the use of resources and production of waste. Building public awareness and participation are crucial for driving the transition to net zero emissions as a part of global efforts to combat climate change. To build awareness can be done through education, campaign, community engagements, even Celebrity and Influencer Endorsements.  Commitment to Net Zero Emission After all, the strategy of reducing emissions required a commitment from all stakeholders including each person as an individual. Without significant reductions in emissions and the commitment to net zero, the world faces increasingly severe impacts from climate change, including more frequent and intense heatwaves, storms, droughts, and sea-level rise. The commitment also requires supportive policies and regulations. Policy coherence and long-term planning are essential for driving systemic change. With the commitment to net zero, companies and entities need to know the calculation and limit of emissions that they produce and pollute the environment. Satuplatform presents an all-in-one solution that gives reliable ESG reports and calculations for your company. Try the FREE DEMO now! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Building A Greener Tomorrow through Net Zero Emission In the midst of global warming and climate change, the effort of achieving Net Zero Emissions has emerged as a response to the growing recognition of the urgent need to mitigate climate change. Net Zero Emissions refers to the condition where the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere and the amount removed from it are balanced. This condition is essential for stabilising global temperatures and mitigating the impacts of climate change. Here, we will go through what are the pathways and commitment to build a greener tomorrow by dealing with emissions: Pathway to Achieve Net Zero For the… Dekarbonisasi untuk Energi Bersih Urgensi untuk menciptakan transformasi menuju kondisi iklim yang lebih baik merupakan suatu fokus yang penting dan menjadi perhatian seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan bumi dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya agar terhindar dari dampak buruk perubahan iklim. Aksi untuk menciptakan kondisi iklim yang lebih ramah lingkungan juga sejalan dengan Paris Agreement tahun 2015 yang sampai saat ini telah mendorong semangat untuk menciptakan masa depan energi bersih dengan mengurangi jejak karbon. Berkaitan dengan pengurangan jejak karbon, dikenal pula proses dekarbonisasi yang saat ini mulai bertahap diterapkan oleh berbagai negara-negara di dunia.  Apa itu Dekarbonisasi? Dekarbonisasi merupakan suatu… 5 Big Threats of Deforestation Forest covers nearly one-third of the land area on our planet and is home to the majority of terrestrial life. They are also essential to human health, purifying our water and air and serving as our first line of defence against new infectious diseases.  Forests also play a big role in mitigating climate change and maintaining the stability of Earth’s climate system. But unfortunately, the act of deforestation is happening everywhere for commercial purposes, industries and others, without being aware of the impact on the environment that now becomes a threat to the world. Deforestation refers to a process of… Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG) Nowadays, several parts of the world are suffering due to the increase of heat waves. Take example in Jakarta, the excessive heat has become worse during these couple of years. In May 2022, the average air temperature reached 36 degrees celsius according to records from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). This phenomenon is caused by Greenhouse Gases (GHGs), the gases in the Earth’s atmosphere that trap heat and warm the planet’s surface. The GHGs are triggered by industries and human activities such as the use of transportation, commercial and residential, agriculture, land use and forestry. Besides, it is… Tanda-Tanda Perusahaan Lakukan Greenwashing Greenwashing dapat berdampak serius terhadap kepercayaan konsumen, kemajuan berkelanjutan, dan kredibilitas industri secara keseluruhan Keberadaan Gas Metana bagi Lingkungan Keberadaannya gas metana sebagai komponen utama gas alam memiliki implikasi penting terhadap perubahan iklim

Dekarbonisasi untuk Energi Bersih

Dekarbonisasi untuk Energi Bersih

Urgensi untuk menciptakan transformasi menuju kondisi iklim yang lebih baik merupakan suatu fokus yang penting dan menjadi perhatian seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan bumi dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya agar terhindar dari dampak buruk perubahan iklim. Aksi untuk menciptakan kondisi iklim yang lebih ramah lingkungan juga sejalan dengan Paris Agreement tahun 2015 yang sampai saat ini telah mendorong semangat untuk menciptakan masa depan energi bersih dengan mengurangi jejak karbon. Berkaitan dengan pengurangan jejak karbon, dikenal pula proses dekarbonisasi yang saat ini mulai bertahap diterapkan oleh berbagai negara-negara di dunia.  Apa itu Dekarbonisasi? Dekarbonisasi merupakan suatu proses pengurangan atau penghilangan gas-gas Karbon Dioksida (CO2) dan emisi gas rumah kaca (GRK) lainnya dari atmosfer. Aktivitas dekarbonisasi dapat mencakup berbagai tindakan, seperti beralih ke sumber energi bersih dan terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, transportasi berkelanjutan, sampai pada pengelolaan limbah dan penanaman pohon. Baca juga. Berbagai tindakan tersebut bermuara pada tujuan untuk mereduksi jejak karbon yang pada akhirnya akan membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Sebagaimana pada Paris Agreement, di mana hampir 200 negara berkomitmen untuk membatasi emisi karbon di bawah 2°C (3,6°F) di atas tingkat praindustri. Penerapan dekarbonisasi dapat mendukung ke arah komitmen tersebut secara signifikan.  Apa Manfaat Dekarbonisasi? Dengan memahami bahwa dekarbonisasi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang terpapar ke atmosfer, hal ini juga dapat membawa manfaat bagi lingkungan seperti menciptakan udara yang lebih baik karena emisi gas beracun seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang beredar semakin berkurang. Selain itu, dekarbonisasi juga berdampak bagi pemulihan ekosistem dan konservasi sumber daya alam (SDA) yang kerap terganggu oleh aktivitas industri. Di samping itu, dekarbonisasi juga membawa keuntungan dari segi ekonomi. Contohnya dalam kasus Indonesia, menurut laporan World Bank yang berjudul Indonesia’s Low-Carbon Development Pathway yang terbit di 2022 dinyatakan bahwa dekarbonisasi dapat menghasilkan manfaat ekonomi bagi Indonesia senilai RP 7.000 triliun pada 2060. Kemudian dari segi lapangan kerja, World Bank menyatakan bahwa dekarbonisasi di Indonesia berpeluang untuk menciptakan sebanyak 11 juta lapangan kerja baru pada tahun 2060.  Bagaimana Implementasi Dekarbonisasi di Indonesia? Sebagai negara yang ikut menandatangani Paris Agreement 2015 dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Indonesia ikut serta mengimplementasikan praktik dekarbonisasi melalui para pelaku industri. Sebagai contoh, Kementerian BUMN yang melaksanakan Program Dekarbonisasi dan Penyelenggarakan Nilai Ekonomi Karbon melalui pilot project pada 7 perusahaan BUMN yang memenuhi kriteria.  Di samping itu, pada tahun 2021 pemerintah Indonesia telah menetapkan  Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim (Long-Term Strategy for Low Carbon Climate Resilience/LTS-LCCR) di tahun 2050 dan target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.  Pada dasarnya, untuk mendukung terimplementasinya langkah-langkah dekarbonisasi, perlu pula didukung dengan perhitungan karbon yang dihasilkan. Dalam hal ini, Satuplatform hadir sebagai all-in-one sustainability platform yang memberikan FREE DEMO kepada perusahaan dan entitas untuk menghitung simulasi emisi karbon. Cek sekarang juga! /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Building A Greener Tomorrow through Net Zero Emission In the midst of global warming and climate change, the effort of achieving Net Zero Emissions has emerged as a response to the growing recognition of the urgent need to mitigate climate change. Net Zero Emissions refers to the condition where the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere and the amount removed from it are balanced. This condition is essential for stabilising global temperatures and mitigating the impacts of climate change. Here, we will go through what are the pathways and commitment to build a greener tomorrow by dealing with emissions: Pathway to Achieve Net Zero For the… Dekarbonisasi untuk Energi Bersih Urgensi untuk menciptakan transformasi menuju kondisi iklim yang lebih baik merupakan suatu fokus yang penting dan menjadi perhatian seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan bumi dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya agar terhindar dari dampak buruk perubahan iklim. Aksi untuk menciptakan kondisi iklim yang lebih ramah lingkungan juga sejalan dengan Paris Agreement tahun 2015 yang sampai saat ini telah mendorong semangat untuk menciptakan masa depan energi bersih dengan mengurangi jejak karbon. Berkaitan dengan pengurangan jejak karbon, dikenal pula proses dekarbonisasi yang saat ini mulai bertahap diterapkan oleh berbagai negara-negara di dunia.  Apa itu Dekarbonisasi? Dekarbonisasi merupakan suatu… 5 Big Threats of Deforestation Forest covers nearly one-third of the land area on our planet and is home to the majority of terrestrial life. They are also essential to human health, purifying our water and air and serving as our first line of defence against new infectious diseases.  Forests also play a big role in mitigating climate change and maintaining the stability of Earth’s climate system. But unfortunately, the act of deforestation is happening everywhere for commercial purposes, industries and others, without being aware of the impact on the environment that now becomes a threat to the world. Deforestation refers to a process of… Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG) Nowadays, several parts of the world are suffering due to the increase of heat waves. Take example in Jakarta, the excessive heat has become worse during these couple of years. In May 2022, the average air temperature reached 36 degrees celsius according to records from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). This phenomenon is caused by Greenhouse Gases (GHGs), the gases in the Earth’s atmosphere that trap heat and warm the planet’s surface. The GHGs are triggered by industries and human activities such as the use of transportation, commercial and residential, agriculture, land use and forestry. Besides, it is… Tanda-Tanda Perusahaan Lakukan Greenwashing Greenwashing dapat berdampak serius terhadap kepercayaan konsumen, kemajuan berkelanjutan, dan kredibilitas industri secara keseluruhan Keberadaan Gas Metana bagi Lingkungan Keberadaannya gas metana sebagai komponen utama gas alam memiliki implikasi penting terhadap perubahan iklim

5 Big Threats of Deforestation

5 Big Threats of Deforestation

Forest covers nearly one-third of the land area on our planet and is home to the majority of terrestrial life. They are also essential to human health, purifying our water and air and serving as our first line of defence against new infectious diseases.  Forests also play a big role in mitigating climate change and maintaining the stability of Earth’s climate system. But unfortunately, the act of deforestation is happening everywhere for commercial purposes, industries and others, without being aware of the impact on the environment that now becomes a threat to the world. Deforestation refers to a process of clearing or cutting down large areas of forests or trees, leading to the permanent loss of forest cover. Here are several significant threats following the act of deforestation: Tree roots help to stabilize soil and prevent erosion. Deforestation increases the risk of soil erosion, leading to reduced soil fertility, landslides, and desertification.   Deforestation results in the destruction of habitats for countless plant and animal species, leading to a loss of biodiversity. Many species may become endangered or extinct as a result of habitat loss. It estimates that the world is losing 137 species of plants, animals and insects every day to deforestation. Forests play a critical role in regulating the water cycle by absorbing and releasing water through transpiration. Deforestation can disrupt local and regional water cycles, leading to changes in precipitation patterns and water availability. Deforestation often occurs in regions inhabited by indigenous peoples who depend on forests for their culture, livelihoods, and identity. Deforestation can lead to the loss of traditional knowledge, cultural heritage, and land rights for indigenous communities. Trees act as carbon sinks, absorbing carbon dioxide from the atmosphere. When forests are cleared, this stored carbon is released back into the atmosphere, contributing to climate change and global warming. Efforts to reduce deforestation and promote sustainable land management practices are essential for mitigating these threats and preserving the health and integrity of forests and the ecosystems they support. Concerning the effort of combating deforestation, Satuplatform presents an all-in-one solution that gives reliable ESG reports and calculations for your company or entities.  Consult the ESG efforts of your company with Satuplatform FREE DEMO now!  /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Building A Greener Tomorrow through Net Zero Emission In the midst of global warming and climate change, the effort of achieving Net Zero Emissions has emerged as a response to the growing recognition of the urgent need to mitigate climate change. Net Zero Emissions refers to the condition where the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere and the amount removed from it are balanced. This condition is essential for stabilising global temperatures and mitigating the impacts of climate change. Here, we will go through what are the pathways and commitment to build a greener tomorrow by dealing with emissions: Pathway to Achieve Net Zero For the… Dekarbonisasi untuk Masa Depan Energi Bersih Urgensi untuk menciptakan transformasi menuju kondisi iklim yang lebih baik merupakan suatu fokus yang penting dan menjadi perhatian seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan bumi dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya agar terhindar dari dampak buruk perubahan iklim. Aksi untuk menciptakan kondisi iklim yang lebih ramah lingkungan juga sejalan dengan Paris Agreement tahun 2015 yang sampai saat ini telah mendorong semangat untuk menciptakan masa depan energi bersih dengan mengurangi jejak karbon. Berkaitan dengan pengurangan jejak karbon, dikenal pula proses dekarbonisasi yang saat ini mulai bertahap diterapkan oleh berbagai negara-negara di dunia.  Apa itu Dekarbonisasi? Dekarbonisasi merupakan suatu… 5 Big Threats of Deforestation Forest covers nearly one-third of the land area on our planet and is home to the majority of terrestrial life. They are also essential to human health, purifying our water and air and serving as our first line of defence against new infectious diseases.  Forests also play a big role in mitigating climate change and maintaining the stability of Earth’s climate system. But unfortunately, the act of deforestation is happening everywhere for commercial purposes, industries and others, without being aware of the impact on the environment that now becomes a threat to the world. Deforestation refers to a process of… Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG) Nowadays, several parts of the world are suffering due to the increase of heat waves. Take example in Jakarta, the excessive heat has become worse during these couple of years. In May 2022, the average air temperature reached 36 degrees celsius according to records from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). This phenomenon is caused by Greenhouse Gases (GHGs), the gases in the Earth’s atmosphere that trap heat and warm the planet’s surface. The GHGs are triggered by industries and human activities such as the use of transportation, commercial and residential, agriculture, land use and forestry. Besides, it is… Tanda-Tanda Perusahaan Lakukan Greenwashing Greenwashing dapat berdampak serius terhadap kepercayaan konsumen, kemajuan berkelanjutan, dan kredibilitas industri secara keseluruhan Keberadaan Gas Metana bagi Lingkungan Keberadaannya gas metana sebagai komponen utama gas alam memiliki implikasi penting terhadap perubahan iklim

Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG)

Carbon Pricing: An Approach to Reduce Greenhouse Gas (GHG)

Nowadays, several parts of the world are suffering due to the increase of heat waves. Take example in Jakarta, the excessive heat has become worse during these couple of years. In May 2022, the average air temperature reached 36 degrees celsius according to records from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). This phenomenon is caused by Greenhouse Gases (GHGs), the gases in the Earth’s atmosphere that trap heat and warm the planet’s surface. The GHGs are triggered by industries and human activities such as the use of transportation, commercial and residential, agriculture, land use and forestry. Besides, it is also triggered by industrial activities that primarily involve fossil fuels burned on-site at energy facilities.  There are many efforts to reduce GHG emissions, and one of the efforts is to implement a carbon pricing approach that has an environmental-centric design. What Is Carbon Pricing? Carbon pricing is an approach to spur climate action by placing a fee on emitting and/or offering an incentive for emitting less (Source: United Nations Climate Change). The price signal created shifts in consumption and investment patterns, making economic development compatible with climate protection. Currently, 40 national and 25 sub-national jurisdictions put a price on carbon, and the emerging trend across carbon pricing approaches now is a move towards international linkage of carbon markets. The effort to implement jurisdictions on carbon pricing is aligned with Article 6.2 of the Paris Agreement, which “establishes the potential of trading emission reduction credits across borders, between nations or jurisdictions. This can encourage the linking of carbon pricing approaches resulting in the reduction of emissions by a magnitude greater than what is possible solely domestically or nationally.” How Carbon Pricing Works on Reducing the GHGs?  As a market-based mechanism or policy, carbon pricing aims to internalise the cost of carbon pollution into the economy. In order to contribute in reducing the GHGs, carbon pricing works by two main approaches: Carbon tax is implemented by the government to set a specific tax rate per ton of carbon dioxide (CO2) emitted or per unit of fossil fuel with a high carbon content. As the carbon tax has been implemented, the industries, companies or other entities that emit CO2 are required to pay the carbon tax.  The revenue generated from the carbon tax is then used for various environmental purposes by the governments. Such as funding renewable energy projects, or other environmentally-friendly infrastructures. In the long run, this mechanism aimed to encourage behavioural changes in each entity to be more aware in choosing low-carbon alternatives. Cap and Trade that is also known as Emissions Trading System (ETS), is a market-based approach that works by controlling pollution that potentially results in greenhouse gas (GHG) emissions.  In this approach, the government sets an overall limit or cap as the total amount of CO2 emissions allowed from certain sectors or industries. Regulated entities are then allowed to sell, buy,  or trade these permit emissions in a regulated market. Cap and Trade systems provide flexibility for regulated entities to find the most cost-effective ways to reduce emissions. By creating a financial incentive to reduce emissions below their allocated allowances, Cap and Trade can drive innovation, encourage investment in cleaner technologies, and promote emissions reductions across the regulated sectors. Implementing the carbon pricing policy to reduce GHGs in parallel gives these benefits, such as; economic efficiency, revenue generation, and in a wider range can affect the benefits of global cooperation.  The discourse on implementing carbon trading in Indonesia has been under discussion for several years. For instance in 2021, through Presidential Regulation Number 98 Year 2021 on the Carbon Pricing Mechanism. However, Indonesia then chose to postpone the plan until 2025 because it was still taking into account the readiness of the carbon market mechanism. Indonesia itself, according to the Global Carbon Project, is one of the countries with the largest carbon emissions, as evidenced by the carbon value throughout 2022 reaching 700 million tons per year. Therefore, it is important to implement carbon pricing immediately to control the impact of carbon emissions so then it is not getting worse. Get to know more about how your company or organisation can contribute in creating a better environmental future by trying out FREE DEMO from Satuplatform to measure the emissions produced by your company. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article Building A Greener Tomorrow through Net Zero Emission In the midst of global warming and climate change, the effort of achieving Net Zero Emissions has emerged as a response to the growing recognition of the urgent need to mitigate climate change. Net Zero Emissions refers to the condition where the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere and the amount removed from it are balanced. This condition is essential for stabilising global temperatures and mitigating the impacts of climate change. Here, we will go through what are the pathways and commitment to build a greener tomorrow by dealing with emissions: Pathway to Achieve Net Zero For the… Dekarbonisasi untuk Masa Depan Energi Bersih Urgensi untuk menciptakan transformasi menuju kondisi iklim yang lebih baik merupakan suatu fokus yang penting dan menjadi perhatian seluruh dunia. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelangsungan bumi dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya agar terhindar dari dampak buruk perubahan iklim. Aksi untuk menciptakan kondisi iklim yang lebih ramah lingkungan juga sejalan dengan Paris Agreement tahun 2015 yang sampai saat ini telah mendorong semangat untuk menciptakan masa depan energi bersih dengan mengurangi jejak karbon. Berkaitan dengan pengurangan jejak karbon, dikenal pula proses dekarbonisasi yang saat ini mulai bertahap diterapkan oleh berbagai negara-negara di dunia.  Apa itu Dekarbonisasi? Dekarbonisasi merupakan suatu… 5 Big Threats of Deforestation Forest covers nearly one-third of the land area on our planet and is home to the majority of terrestrial life. They are also essential to human health, purifying our water and air and serving as our first line of defence against new infectious diseases.  Forests also play a big role …

5 Perusahaan yang Berkomitmen Kurangi Emisi Karbon

5 Perusahaan yang Berkomitmen Kurangi Emisi Karbon

Banyak perusahaan saat ini telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebagai bagian dari strategi berkelanjutan mereka. Baca Juga: Mengenal Perdagangan Karbon dan Implementasinya di Indonesia Komitmen terhadap keberlanjutan ini menunjukkan kepedulian perusahaan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, mematuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat, dan meningkatkan efisiensi operasional. Tidak hanya itu, dengan mengambil langkah-langkah ini dan terlibat secara aktif dalam pelestarian lingkungan, diharapkan dapat terbentuk citra yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan dan mendorong upaya kolaboratif dari berbagai sektor untuk mengatasi tantangan lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang. Berikut ini adalah perusahaan-perusahaan dunia yang berkomitmen mengurangi jejak emisi karbon dan menghadirkan solusi inovatif dalam mengatasi dampak perubahan iklim. Baca Juga: Pajak Karbon: Pengertian, Manfaat, hingga Contoh Penerapannya 1. Coca-Cola: Pengurangan Emisi Karbon Melalui Sampah Sebagai salah satu produsen minuman ringan terkemuka di dunia, Coca-Cola berinisiatif menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. Dikutip dari laman resminya, Coca-Cola telah sejak 2015 lalu menetapkan target pengurangan jejak karbon mereka sebesar 25% pada 2030. Target ini akan dicapai melalui berbagai cara, seperti berdedikasi pada pertanian berkelanjutan, menyediakan produk berkualitas yang bersumber dari bahan yang dihasilkan secara etis, memaksimalkan gerakan konservasi air, hingga berfokus pada dunia tanpa sampah. World Without Waste oleh Coca-Cola merupakan gerakan yang bertujuan untuk mengumpulkan kembali botol atau kaleng kemasan produk mereka untuk nantinya dapat didaur ulang secara maksimal. Coca-Cola juga menghadirkan kemasan daur ulang sebagai bagian dari upaya mengurangi produksi botol plastik. 2. General Motors: Bahan Bakar Alternatif Untuk Kurangi Emisi Karbon Dikenal juga sebagai GM, salah satu produsen mobil global asal Amerika Serikat ini diketahui sangat berambisius dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan pengurangan emisi. GM pada beberapa waktu lalu mengumumkan komitmennya untuk dapat memimpin masa depan tanpa emisi. GM juga telah berkomitmen lebih dari $35 miliar untuk kendaraan listrik dan bahan bakar alternatif serta menargetkan untuk hanya menjual kendaraan tanpa emisi pada tahun 2035.  Mulai dari teknologi baterai dan daur ulang, pelatihan tenaga kerja dan insentif pemasok, penggunaan air dan energi yang bertanggung jawab, hingga investasi pada infrastruktur pengisian daya, GM melakukan segala upaya untuk menjaga komitmennya untuk hanya memproduksi kendaraan listrik dan AV pada tahun 2035.  Dalam laman resminya, GM menyampaikan visi mereka untuk dapat memajukan masa depan tanpa emisi dan serba listrik. Upaya mereka dalam memerangi perubahan iklim adalah dengan berencana menjadikan produk dan operasi global kami netral karbon pada tahun 2040. Lalu menghilangkan emisi knalpot dari kendaraan ringan baru kami di AS pada tahun 2035. 3. ANA Holdings: Inovasi Teknologi Untuk Menangani Emisi Karbon ANA Holdings dalam sustainable report nya mengungkapkan komitmen mereka untuk mengatasi empat isu penting yang ada di dunia, salah satunya adalah lingkungan hidup. Inisiatif ANA Group untuk mengurangi emisi CO2 dari pesawat dilakukan dengan menggabungkan beberapa pendekatan strategi, termasuk peningkatan operasional dan inovasi teknologi pesawat terbang, penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai pilihan bahan bakar rendah karbon, perdagangan emisi, dan teknolgi emisi negatif. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk pengurangan emisi CO2 sebesar 10% pada penerbangan internasional dan domestik pada 2030 dan mencapai target netralitas karbon pada tahun 2050. Dinobatkan sebagai maskapai penerbangan paling ramah lingkungan di dunia, ANA juga merupakan maskapai penerbangan global pertama yang menerbitkan Obligasi Ramah Lingkungan (Green Bonds) untuk mengimbangi emisi karbon dan mengumpulkan dana untuk program ramah lingkungan.  4. Patagonia Lebih dari sekadar perusahaan pakaian yang ramah lingkungan, Patagonia menerapkan keberlanjutan dalam banyak hal yang mereka lakukan.  Dimulai sejak tahun 1996, Patagonia telah beralih ke penggunaan kapas yang ditanam secara organik sebagai material utama produk mereka. 87% produk Patagonia terbuat dari bahan daur ulang, seperti poliester dari kaleng soda, spandek, katun, wol, dan kasmir dari bahan sisa pabrik, dan pada tahun 2025, Patagonia menargetkan untuk dapat menggunakan 100% poliester daur ulang dalam produknya. Patagonia juga senantiasa memastikan prinsip keberlanjutan berlangsung di setiap proses produksi mereka. Hal ini dibuktikan dengan adanya peringkat transparansi yang menunjukkan bahwa Patagonia menjadi merek mode berperingkat baik dalam hal transparansi informasi keberlanjutan, yakni sebesar 51-60%. Lebih tinggi dari mayoritas perusahaan mode dunia. 5. Microsoft Pada tahun 2020, Microsoft mengumumkan komitmennya untuk menjadi perusahaan dengan karbon negatif, positif air, dan nol limbah pada tahun 2030.Sekaligus juga melindungi ekosistem dan membangun Planetary Computer. Perusahaan ini memiliki tujuan untuk mengurangi jejak karbon sebesar 75% pada tahun 2030 dan memiliki biaya karbon internal yang dibebankan kepada departemen atas emisi karbon guna mendorong mereka menjadi lebih ramah lingkungan. Dalam upaya mencapai pengurangan karbon, Microsoft memiliki misi membangun kapasitas penghilangan karbon dioksida (CDR) yang dibutuhkan dunia untuk membantu mencegah dampak terburuk perubahan iklim. Juga menerapkan pendekatan sirkular dalam pengelolaan material. Untuk memastikan pendekatan Microsoft terhadap keberlanjutan berjalan optimal, mereka menetapkan komitmen, mengembangkan strategi, dan membangun peta jalan operasional—sambil mengukur kemajuan dan memastikan akuntabilitas. Sekarang waktunya giliran Anda bergabung dan menjadikan perusahaan Anda salah satu dari inisiator keberlanjutan dalam upaya mengatasi produksi emisi karbon. Melalui pelacakan dan pendataan emisi karbon yang tepat, Anda dapat memaksimalkan terwujudnya target keberlanjutan yang diharapkan. Satuplatform hadir untuk mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku. Satuplatform adalah platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Mengumpulkan dan menganalisis data ESG secara akurat dan efisien Melacak emisi karbon dan menetapkan target pengurangan emisi Menyusun laporan ESG yang memenuhi standar internasional dan nasional Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang! Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 5 Perusahaan yang Berkomitmen Kurangi Emisi Karbon Banyak perusahaan saat ini telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebagai bagian dari strategi berkelanjutan mereka.  Komitmen terhadap keberlanjutan ini menunjukkan kepedulian perusahaan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, mematuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat, dan meningkatkan efisiensi operasional. Tidak hanya itu, dengan mengambil langkah-langkah ini dan terlibat secara aktif dalam pelestarian lingkungan, diharapkan dapat terbentuk citra yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan dan …

Perjalanan Fenomena Global Warming

Perjalanan Fenomena Global Warming

Global warming atau pemanasan global adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi dan lautan. Pemanasan global telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir dan terus meningkat secara bertahap. Baca Juga: Upaya Uni Eropa Melawan Perubahan Iklim Belakangan ini, terpantau bahwa pemanasan global, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menembus ambang batas 1,5 derajat Celcius pada periode Februari 2023 hingga Januari 2024. Data dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa menunjukkan bahwa suhu global terus meningkat sejak era pra-industri. Hal ini kian mengkhawatirkan. Sejarah Global Warming Istilah global warming pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan bernama Wallace Smith Broecker pada tahun 1975 dalam sebuah makalah ilmiah. Makalah tersebut berjudul “Climate Change: Are We on the Brink of a Pronounced Global Warming?” dan diterbitkan ke situs bernama Science. Makalah oleh Broecker tersebut mengangkat isu-isu penting terkait perubahan iklim dan mencoba memprediksi dampak dari peningkatan suhu global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.  Makalah ini menjadi salah satu kontribusi awal dalam pemahaman ilmiah tentang perubahan iklim dan pemanasan global dan telah menjadi dasar bagi banyak penelitian dan kebijakan lingkungan yang dilakukan sejak saat itu. Peningkatan suhu awalnya sudah dimulai sejak terjadinya Revolusi Industri pertama pada 1712, di mana diperkenalkan pemanfaatan bahan bakar fosil dalam skala industri dan mulai digunakan secara masif. Emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil dan industri pun mencapai satu miliar ton per tahun pada 1927. Namun, pemahaman ilmiah tentang fenomena ini masih terbatas dan belum sebelumnya dipahami Kemudian pada awal abad ke-20, pemahaman tentang peran gas-gas rumah kaca dalam mempengaruhi suhu atmosfer semakin berkembang. Ilmuwan seperti Svante Arrhenius dari Swedia memperkirakan bahwa peningkatan konsentrasi CO2 dapat menyebabkan pemanasan global.  Pada dekade 1950-an dan 1960-an, pemahaman tentang perubahan iklim dan pemanasan global mulai menjadi perhatian utama ilmuwan dan komunitas ilmiah. Beberapa studi ilmiah mengkonfirmasi adanya peningkatan suhu global yang terkait dengan aktivitas manusia. Digunakanlah istilah “global warming” oleh Broecker sebagai kekhawatiran mereka terhadap perubahan iklim.  Lalu, mulai berkembang berbagai teknologi pengamatan dan pemodelan iklim yang semakin memperkuat bukti-bukti pemanasan global. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dibentuk pada tahun 1988 untuk menyelidiki dampak perubahan iklim. Dengan dibentuknya IPCC, semakin banyak laporan-laporan yang menyoroti kontribusi manusia terhadap pemanasan global dan risiko-risiko yang terkait, termasuk peningkatan permukaan air laut, kekeringan, dan perubahan pola cuaca ekstrem. Hingga saat ini, berbagai kesepakatan dan aturan pun terus dibuat sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi dampak perubahan iklim. Ilmuwan terus memantau perubahan suhu global dan dampaknya melalui pengamatan satelit dan stasiun pengukuran di seluruh dunia. Istilah krisis iklim atau darurat iklim pun diperkenalkan untuk membicarakan perubahan iklim dan pemanasan global, yang juga mencakup cuaca ekstrem dan bencana lainnya akibat krisis iklim. Baca Juga: Sejarah Penerapan Pajak Karbon Kondisi Iklim Saat Ini Pemanasan global diyakini semakin memperburuk kondisi bumi dan kian membahayakan makhluk hidup. Terjadinya cuaca ekstrem, serangan panas, kekeringan, dan banjir kini berdampak signifikan bagi banyak orang.  Mencairnya gletser dan salju di titik-titik salju abadi, meningkatnya permukaan air laut, hancurnya hutan dan lahan pertanian, hingga rusaknya ekosistem kehidupan di lautan menjadi dampak dari krisis iklim yang semakin parah. Para ilmuwan juga menyebut bahwa krisis iklim berpotensi menyebabkan kematian lebih banyak orang lagi di dunia pada 2030 jika kondisinya tidak kunjung membaik. Salah satunya disebabkan oleh konsentrasi emisi di atmosfer yang kian memburuk. Diharapkan akan ada upaya kolaboratif dari seluruh dunia untuk memperlambat laju pemanasan global dan mengurangi dampaknya yang merusak lingkungan dan kehidupan manusia. Your All-in-One Sustainability Platform Satuplatform hadir untuk mencapai tujuan keberlanjutan dengan menjadi yang terdepan sesuai regulasi yang berlaku. Satuplatform adalah platform all-in-one yang menyediakan solusi komprehensif untuk ESG Management, Carbon Accounting, dan Sustainability Reporting. Dengan fitur-fitur Satuplatform, Anda dapat: Satuplatform juga didukung oleh tim ahli yang berpengalaman di bidang keberlanjutan bisnis. Tim ahli kami akan membantu memahami kebutuhan Anda dan mengimplementasikan solusi yang tepat. Hubungi Satuplatform dan dapatkan FREE DEMO sekarang! Wujudkan bisnis yang berkelanjutan, berdaya saing, dan bertanggung jawab bersama Satuplatform. /*! elementor – v3.18.0 – 20-12-2023 */ .elementor-heading-title{padding:0;margin:0;line-height:1}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title[class*=elementor-size-]>a{color:inherit;font-size:inherit;line-height:inherit}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-small{font-size:15px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-medium{font-size:19px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-large{font-size:29px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xl{font-size:39px}.elementor-widget-heading .elementor-heading-title.elementor-size-xxl{font-size:59px} Similar Article 5 Perusahaan Di Dunia yang Berkomitmen Kurangi Emisi KarbonKurangi Emisi Karbon Banyak perusahaan saat ini telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebagai bagian dari strategi berkelanjutan mereka.  Komitmen terhadap keberlanjutan ini menunjukkan kepedulian perusahaan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, mematuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat, dan meningkatkan efisiensi operasional. Tidak hanya itu, dengan mengambil langkah-langkah ini dan terlibat secara aktif dalam pelestarian lingkungan, diharapkan dapat terbentuk citra yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan dan mendorong upaya kolaboratif dari berbagai sektor untuk mengatasi tantangan lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang. Berikut ini adalah perusahaan-perusahaan dunia yang berkomitmen mengurangi jejak emisi karbon dan menghadirkan solusi inovatif dalam… Perjalanan Fenomena Global Warming Global warming atau pemanasan global adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi dan lautan. Pemanasan global telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir dan terus meningkat secara bertahap. Belakangan ini, terpantau bahwa pemanasan global, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menembus ambang batas 1,5 derajat Celcius pada periode Februari 2023 hingga Januari 2024. Data dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa menunjukkan bahwa suhu global terus meningkat sejak era pra-industri. Hal ini kian mengkhawatirkan. Sejarah Global Warming Istilah global warming pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan bernama Wallace Smith Broecker pada tahun 1975 dalam sebuah makalah ilmiah. Makalah tersebut berjudul “Climate Change: Are… Memahami Green Computing Green computing atau komputasi hijau memiliki peran yang penting dalam mewujudkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang berkelanjutan. Baca Juga: Memahami Carbon Accounting dan Manfaatnya Meningkatnya tren “Go Green” di tengah masyarakat menjadikan green computing opsi terbaik dan efektif dalam memanfaatkan TIK. Sebab berdasarkan data dari IT Services Oxford University, TIK yang digunakan selama delapan jam dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) setara 70g CO2e yang timbul dari listrik yang dikonsumsi. Green computing pun dianggap menjadi langkah yang tepat untuk mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan TIK. Baca Juga: Mengenal Green Accounting Pengertian dan Tujuan Green Computing Green computing… Mengenal Perdagangan Karbon dan Implementasinya di Indonesia Kondisi lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh berbagai pihak. Upaya menjaga lingkungan dapat ditunjukkan pada berbagai …